
Setelah di tinggal menikah oleh Novia, hidup Candra seakan-akan kosong. Hidupnya hampa. Perempuan yang telah di cintainya semenjak pertama kali dia mengenal cinta, kini telah menjadi milik laki-laki lain.
Kini, hari-hari dia lalui dengan penyesalan karena telah berkali-kali menolak Novia untuk merajut cinta kembali.
Tapi di sisi lain, dia juga merasa di khianati dan di tipu oleh Novia. Karena baru selang beberapa beberapa hari setelah mengajaknya balikan, gadis itu menikah dengan laki-laki lain. Candra tidak habis pikir dengan Novia. Dua kali dia di khianati oleh gadis yang sama.
Termenung, menangis, menyendiri, itulah yang sering dia lakukan sekarang. Dia yang memang seorang pendiam, kini menjadi lebih pendiam lagi. Usaha yang telah ia rintis lebih dari satu tahun yang lalu, kini ia biarkan begitu saja. Usaha yang ia bangun dengan harapan jika dia menikah dengan Novia kelak, dia akan membesarkan usaha itu bersama Novia.
Usaha yang dia rintis adalah sebuah cafe. Yah, dia memilih usaha itu semata karena impian Novia. Sudah sejak lama Novia selalu bilang kalau dia ingin memiliki sebuah cafe dengan konsep anak remaja. Dan Candra menjadikan mimpi Novia menjadi kenyataan.
Akan tetapi, belum sempat dia memperlihatkan cafe itu kepada Novia, kini Novia telah memilih orang lain.
Siang itu, dengan penampilan yang agak berantakan, dia singgah ke cafe. Entah sudah berapa Minggu dia tidak mengunjungi cafenya.
" Mas Candra...!" panggil seseorang.
Candra mencari asal panggilan. Dedi. Batin Candra.
Candra mendekati Dedi.
" Sendirian aja Ded?"
" Nggak. Tadi sama temen. Tapi tiba-tiba dia di telepon sama atasannya suruh kembali ke kantor secepatnya. Mas Candra sendiri, lagi istirahat makan siang?"
" Aku udah resign. " Candra duduk di kursi yang ada di hadapan Dedi.
" Kok resign? Dapet kerjaan yang lebih bagus?"
Candra menggeleng.
Kenapa Candra sekarang berantakan sekali? Bulu-bulu tipis tumbuh di pipi dan dagunya. Padahal biasanya dia selalu tampil rapi. Rambutnya juga agak gondrong. Padahal biasanya dia selalu memotong pendek rambutnya. Berbagai pertanyaan muncul di benak Dedi melihat penampilan Candra sekarang.
" Novia apa kabar?"
" Aku juga lama nggak ketemu dia mas. Semenjak dia tinggal di rumah suaminya. "
__ADS_1
Candra nampak terdiam.
" Kamu tahu kan kalau mbak Novia udah nikah?"
Candra tersenyum sinis.
" Iya. Aku nggak nyangka Novia tega ngelakuin hal ini lagi ke aku. "
" Ngelakuin apa?"
" Dia mengkhianatiku. Dua kali. Dan yang ini lebih menyakitkan. Dia memilih menjadi milik orang lain. "
" Tunggu.. tunggu. Aku mau tanya sama kamu. Pernah nggak sebelum mbak Novia menikah, dia ketemu kamu?"
" Iya. " jawab Candra dengan suara yang tak semangat.
" Apa yang mbak Novia bicarakan?"
" Dia bertanya kepadaku. Aku bisa menerima dia kembali atau nggak. "
" Aku bilang aku tidak bisa." Candra menunduk.
Dedi menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara.
" Jangan salahkan mbak Novia lagi mas. Kalau hidupmu jadi seperti ini. "
" Gimana aku nggak menyalahkannya. Kalau memang kenyataannya seperti itu. Dia bilang mencintaiku. Tapi dia menikah dengan orang lain. Aku merasa seperti orang bod*h yang selalu mencintai dia. "
" Kamu salah. Mbak Novia juga sangat mencintaimu. Sangat mas. "
" Kalau dia mencintaiku, kenapa dia menikah dengan orang lain?" ucap Candra dengan nada suara agak tinggi.
" Karena kamu tidak bisa menerima dia. Kamu tidak bersedia menikahi dia. Jadi terpaksa dia menerima lamaran pria itu. "
Candra sangat terkejut mendengar kata-kata Dedi.
__ADS_1
" Kamu nggak tahu bagaimana keadaan mbak Novia saat itu. Dia menemuimu, untuk memintamu membantunya keluar dari kondisinya saat itu. Tapi kamu menolaknya. Tanpa memikirkan perasaannya."
Candra masih tampak kebingungan mencerna omongan Dedi. Kemudian Dedi menceritakan detail masalah yang di hadapi Novia. Mulai dari Novia yang cemarkan nama baiknya dengan di bilang perempuan murahan, kemudian para tetangga yang selalu memojokkannya, ibunya yang sering di teror dengan berbagai pertanyaan dari para tetangga, sampai Novia yang di kejar-kejar oleh muridnya.
" Saat itu, kamulah harapan dia satu-satunya. Tapi dengan mudahnya kamu menepis harapan itu. Akhirnya dia menerima lamaran dari seorang pria yang bahkan baru dua bulan di kenalnya. Pria itu tahu semua permasalahan yang dihadapi mbak Novia. Dengan suka rela dia menawarkan bantuan kepada mbak Novia. " tambah Dedi.
" Seharusnya jika kamu memang mencintai dia, kamulah yang seharusnya ada di sisinya saat itu mas. "
Tanpa sepatah kata, Candra bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dedi sendirian.
Dengan pikiran kacau, Candra mengendarai motornya menuju ke danau. Danau dimana dulu dia sering menghabiskan waktu dengan Novia.
Sampai di danau, dia memarkirkan motornya sembarangan. Kemudian dia berlari dan berlari.
" Aaaaaaaaaaaaaaaa........" Candra berteriak sekeras-kerasnya.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Diapun menangis sejadi-jadinya.
" Maafkan aku, Novia....." teriaknya kembali.
" Maafkan aku. Aku yang begitu bod*h telah meninggalkanmu. Maafkan aku.... huuuuu" Candra menangis tanpa henti.
Penyesalan yang Candra rasakan melebihi rasa sakit yang dia rasakan selama ini.
Apa mungkin dia bisa membawa Novia kembali ke sisinya?
****
bersambung
________________________________________________
Kasih komentarnya ya para reader...
Biar author bisa memperbaiki novel ini di episode-episode selanjutnya. Mungkin dari segi cerita, bahasa, penulisan, alurnya, ato apapun...🙏🙏🙏🙏
__ADS_1