
Maaf ya kakak² reader'sku semuanya... Sudah dua hari author nggak update episode ya...Lagi repot ngurus lamaran adik... Insyaallah hari ini author up episode ya....
_________________________________________________
" Mama..."
" Boby...." Bu Vera langsung memeluk anaknya sambil menangis tersedu-sedu.
" Ada apa ma? Bibi bilang anak Boby udah lahir kan ma? Terus kenapa mama nangis? " tanya Boby di sela-sela pelukan mamanya.
Bu Vera melepas pelukannya. Beliau menyeka air matanya.
" Iya anakmu udah lahir. Tapi mama belum tahu keadaannya bagaimana. Dan istri kamu...Mama juga belum tahu kondisinya. Yang mama tahu, tadi habis anak kamu lahir, Novia tidak sadarkan diri. Dan dia juga mengalami pendarahan. " Jelas Bu Vera.
Setelah mendengar kabar itu dari mamanya, tubuh Boby tiba-tiba melemas.
" Kita sama-sama berdoa ya nak...Semoga anak dan istrimu baik-baik saja. "
Boby hanya mengangguk untuk menjawab.
" Suami nyonya Novia..." panggil salah seorang suster.
" Iya dok. Saya suaminya. Bagaimana keadaan anak dan istri saya? " tanya Boby sambil mendekat ke arah suster.
" Kalau istri anda, kami belum bisa memastikan. Dokter masih memeriksanya. Tapi untuk anak bapak, bapak bisa ikut saya untuk mengadzani anak bapak. "
" Iya sus. "
Boby berjalan mengikuti suster. Mereka menuju ke ruang bayi. Di sana Boby melihat anak seorang bayi merah yang di taruh di inkubator. Boby bertanya-tanya apakah itu anaknya? Karena terlihat hanya bayi itu yang baru lahir.
" Yang mana bayi saya sus?"
" Mari pak. Anak bapak kami taruh di dalam inkubator. Saya hanya bisa mengeluarkan anak bapak sebentar saja ya pak. "
Suster kemudian mengeluarkan bayi yang ada di dalam inkubator. Suster membuka baju bayi.
__ADS_1
" Bapak perhatikan ya. Anak bapak laki-laki. Ini jari-jari tangannya. Lengkap ya pak. Kemudian ini jari-jari kakinya, lengkap juga ya. Hidungnya berlubang. Telinganya juga sempurna. Matanya ini. Bayi bapak lengkap semuanya ya. " jelas suster dan Boby hanya menjawab dengan mengangguk.
Kemudian suster memakaikan baju ke bayi tersebut kembali setelah memperlihatkan semua anggota badannya ke Boby. Boby tidak bisa berkata apa-apa melihat bayinya. Bayi yang tidak pernah di perhatikannya selama masih dalam kandungan istrinya. Air mata Boby tidak bisa di tahannya lagi.
" Bapak silahkan di adzani. "
Boby mengangguk dan memposisikan diri untuk mengadzani anaknya. Dia mendekatkan wajahnya ke bayinya, kemudian menyuarakan adzan di telinga si kecil sambil tetap berlinang air mata. Boby merasa bersyukur sekaligus bersedih melihat anaknya. Bersyukur karena Allah masih memberinya kesempatan untuk melihat dan mengadzani anaknya. Dan bersedih karena dia merasa pernah menyia-nyiakan anaknya.
Setelah menyuarakan adzan di kecupnya pelan kening dan pipi anaknya. Kemudian suster segera mengembalikan bayi itu ke dalam inkubator.
" Sus, kenapa anak saya harus di inkubator?" tanya Boby ketika bayinya sudah di dalam inkubator.
" Anak bapak lahir belum genap sembilan bulan dalam kandungan. Jadi paru-parunya belum sempurna. Itu yang pertama. Yang kedua, asupan makanan ketika masih dalam kandungan kurang. Jadi berat badannya kurang. Jadi intinya, perkembangan organ dalam anak bapak belum benar-benar sempurna. Di tambah lagi, sebelum lahir anak bapak sempat meminum air ketuban. "
jelas suster.
" Anakku... Maafkan ayahmu ini nak..." ucap Boby sambil mengelus inkubator seolah-olah dia mengelus bayinya.
Di dalam inkubator, bayinya juga di pasang infus di tangan. Juga di pasang selang oksigen dan beberapa alat yang lain. Boby tidak tega melihat kondisi bayinya.
" Iya ma. Ada apa? " tanya Boby sambil menyeka air matanya.
" Istri kamu. Cepat ayo. Dokter mencarimu. "
Mendengar jawaban mamanya Boby segera meninggalkan ruang bayi, diikuti mamanya.
" Dimana dokternya ma? Ya Tuhan...ada apa dengan istri hamba? " tanya Boby dalam langkahnya menuju ke kamar persalinan.
" Dokter ada di ruang yang tadi. " Jawab Bu Vera.
Boby mempercepat langkahnya. Dia berjalan setengah berlari. Sampai di depan ruang bersalin tampak dokter sedang menunggunya sambil berbicara serius dengan seorang suster.
" Dokter... dokter...ada apa dengan istri saya dok? "
" Anda suaminya ibu Novia? "
__ADS_1
" Iya dok... "
" Jadi begini pak, Bu Novia mengalami pendarahan yang lumayan. Dia kekurangan banyak darah. Tadi kami sudah mentranfusi, tapi stok kami tinggal 2 ampul. Masih kurang satu lagi pak. Kalau bisa bapak carikan donor secepatnya. "
" Ambil darah saya saja dok. Golongan darah saya sama dengannya. "
" Baik kalau begitu. Nanti anda bisa ikut saya untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu. Kalau memang sesuai, maka anda bisa langsung memberikan darah anda langsung ke istri. Karena darah yang masih benar-benar segar itu lebih bagus. Dan untuk kondisi ibu Novia saat ini, kami belum bisa memastikan. Saat ini, ibu Novia masih belum sadarkan diri. Kondisinya begitu lemah. Fisik juga psikologisnya. Tadi denyut nadinya sempat menghilang. Tapi setelah kami melakukan pacu jantung, alhamdulilah, denyutnya kembali. Tapi denyutnya masih lemah. Masih di bawah standar. " jelas dokter.
Tubuh Boby seketika melemas seperti tak bertulang. Hatinya begitu sakit mendengar penjelasan dokter. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Karena kesalahan dialah istri dan anaknya mengalami hal ini.
Tubuh Boby meluruh ke lantai. Air matanya sudah tidak terbendung. Hatinya bagai di sayat dengan belati.
" Maafkan aku, sayang... Maafkan Aku... Seharusnya aku saja yang mengalami ini... Jangan kalian...Hu..hu..hu..." ucap Boby dalam tangisnya.
Dokter memahami perasaan Boby. Kemudian dokter berpesan sama Bu Vera, " Bu, nanti kalau suami nyonya Novia sudah membaik, tolong segera menghubungi suster ya Bu. Biar bisa cepat di cek darahnya. Karena kami juga tidak bisa menunggu lama. "
" Iya dok."
Dokter itu meninggalkan mereka dan kembali ke ruang bersalin tadi.
Bu Vera berjalan menghampiri Boby.
" Nak, kamu harus kuat sayang. Demi istri dan anakmu. Mereka butuh kamu sekarang. " ucap Bu Vera menenangkan anaknya.
" Semua ini salah Boby ma. Boby yang bikin anak sama istri Boby jadi kayak gini. Kenapa Tuhan menghukum Boby dengan cara ini ma?? Kenapa bukan Boby aja yang sakit? " racau Boby dalam tangisnya.
" Kamu harus kuat nak. Istri kamu lagi butuh kamu sekarang. Tuhan memberikan kamu kesempatan kepada kamu untuk membayar kesalahanmu. Jangan kau sia-siakan. "
" Gimana kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka ma? "
" Sayang...Kamu nggak boleh bicara seperti itu. Kita tidak boleh berpikiran buruk nak. Kita harus berdoa yang terbaik untuk mereka. Sekarang, kamu harus tenang. Kuatkan dirimu. Dokter nungguin buat ngecek darah kamu. Istri kamu membutuhkannya. Ayo sekarang kamu berdiri. Temui suster di sana itu. Dia yang akan mengecek darah kamu. "
Mendengar penjelasan mamanya, Boby mengusap air matanya dan bangkit dari duduknya. Dia segera menemui suster tanpa berkata apa-apa lagi.
***
__ADS_1
bersambung