Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
74. Tidak Peduli


__ADS_3

" Bi, apa mas Boby tidak pernah menanyakanku selama aku tidak di rumah? " tanya Novia ke bi Susi


" Mas Boby... tidak pernah pulang semenjak bertengkar dengan mbak kemarin dulu itu. "


" Dia benar-benar tidak peduli sama Novia bi. " Novia mulai menitikkan air mata.


" Mas Boby....Mas Boby.... punya perempuan lain bi...hiks...hiks..."


" Mbak Novia jangan berpikiran yang tidak-tidak. "


Tangis Novia semakin menjadi. " Nov lihat sendiri bi...Novia lihat sendiri..." ucap Novia sambil menangis.


" Novia lihat mas Boby gandengan dengan perempuan lain di mall bi. Mas Boby terlihat bahagia..." lanjutnya.


Bi Susi langsung memeluk Novia. Dia juga ikut menangis. Bibi tidak habis pikir dengan majikannya. Kenapa Boby bisa sampai berselingkuh. Padahal istrinya juga cantik, baik, pintar. Apalagi yang di cari oleh Boby. Bi Susi berpikir, dia harus menceritakan semua ini ke nyonya besarnya.


" Perempuan itu bergelayut manja sama mas Boby bi. Dan mas Boby sama sekali tidak keberatan. " Novia kembali menangis.


" Apa salah Novia bi? Apa salah anak ini bi? Kenapa ayahnya lebih memilih perempuan lain daripada istri dan anaknya??"


" Mbak Novia yang sabar ya..." ucap bi Susi menenangkan sambil mengusap punggung Novia.


" Kalau begini terus, Novia tidak akan kuat bi.... Lebih baik Novia pergi dari rumah ini. "


" Mbak Novia jangan berbicara seperti itu. Mbak Nov tidak boleh pergi. Mbak Nov harus kuat. Paling tidak demi jabang bayi ini. " bi Susi mengelus perut Novia.


Novia berhenti menangis mengingat bayi yang ada di kandungannya. Dia teringat pesan Candra. Anaknya butuh dia. Dia harus kuat demi anaknya. Yah...Dia tidak boleh bersedih lagi.


Novia menyeka air matanya. " Nov akan berusaha kuat bi. Demi dia. " ucap Novia sambil mengelus perutnya.


" Sekarang mbak Novia lebih baik istirahat dulu. Biar bibi siapin makanan ya. "


Novia mengangguk dan berjalan menuju ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia berusaha menutup matanya. Tapi lagi-lagi bayangan Boby bergandengan mesra dengan perempuan lain muncul.


Novia kembali meneteskan air mata. Pilu. Hancur. Hatinya tersayat. Di saat dia mulai merasakan cinta untuk sang suami dan di saat dia merasa bahagia dengan kehadiran seorang anak dalam rahimnya, dia harus menerima kenyataan pahit. Kenyataan yang memilukan. Suaminya memilih perempuan lain.


Novia merasa menyesal telah memberikan hatinya, memberikan segalanya untuk Boby. Tapi ternyata Boby seorang b**Ng***. Kini Novia merasa dirinya hanya di peralat. Boby sama sekali tidak pernah menyukainya. Apalagi mencintainya. Boby hanya menginginkan tubuhnya. Setelah dia mendapatkannya, dia di buang begitu saja.


Novia menangis, meraung sejadi-jadinya. Baru kali ini dia merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Baru kali ini dia merasa membenci dan mencintai seseorang dalam satu waktu.

__ADS_1


Tiba-tiba dia merasa perutnya sakit. Perut bawahnya kram. Dia meringis menahan sakit. Dia tidak boleh mengeluh. Karena memang dia tidak bisa mengeluh kepada siapapun.


" Bu...ibu...perut Novia sakit bu.." ucap Novia meracau memanggil ibunya.


Sebenarnya Novia ingin sekali memeluk ibunya. Menangis dalam pelukan ibunya. Menceritakan segalanya. Tapi dia tidak sanggup. Dia tidak sanggup melihat orang tuanya bersedih memikirkannya. Sudah bertahun-tahun lamanya orang tuanya selalu memikirkannya. Sekarang dia tidak ingin menjadi beban lagi.


" Anakku, kamu yang kuat ya nak. Temani ibumu ini. Kamu harus baik-baik saja. " ucap Novia sambil mengelus perutnya.


Berangsur-angsur, rasa sakit itu hilang. Novia tertidur setelah rasa sakit itu menghilang.


••••


Hari terus berganti. Boby hanya sesekali pulang ke rumah. Itupun dia selalu berusaha menghindar dari Novia. Novia juga merasa enggan untuk menyapa suaminya.


Walaupun hampir di setiap malam dia menangis karena mengingat perlakuan Boby selama ini. Tapi di saat yang bersamaan, dia juga merindukan suaminya. Dia rindu saat-saat bahagia yang mereka miliki dahulu. Dia rindu tertidur dalam pelukan suaminya.


Bahkan sudah beberapa malam ini dia tidak bisa tidur nyenyak. Karena dia sangat ingin mencium aroma badan suaminya. Mungkin itu adalah keinginan si jabang bayi yang juga merindukan sosok ayahnya.


Malam itu, dia tahu kalau suaminya pulang ke rumah. Ingin sekali dia menemui suaminya. Novia berjalan keluar dari kamarnya. Dia mencari suaminya di setiap sudut rumah. Tapi dia tidak menemukan Boby.


Akhirnya kakinya berjalan menuju kamar Boby. Dia berhenti di depan pintu kamar Boby. Novia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Tapi tanganmya terasa berat untuk digerakkan untuk mengetuk. Dia tidak bisa dan tidak berani mengetuk pintu itu.


Novia meremas bajunya dengan sebelah tangannya dan menunduk sambil meneteskan air mata. Sedangkan tangan yang sebelah lagi meraba pintu kamar Boby. Seolah dengan meraba pintu itu, dia bisa merasakan keberadaan suaminya.


Dia beranjak bangun dari tidurnya. Mengusap wajahnya kasar. Kemudian berdiri berjalan mendekati pintu. Sampai di depan pintu, dia berhenti.


Boby kembali bimbang. Jika dia menemui Novia sekarang, dia pastinya akan memberikan harapan pada Novia. Dan itu pasti akan lebih menyakitkan lagi bagi Novia. Sedangkan Boby tidak ingin menambah sakit hati istrinya itu.


Selain itu, dia juga tidak bisa membiarkan Karell. Perempuan yang selama bertahun-tahun dia tunggu kedatangannya.


Boby hanya bisa meremas gagang pintu dan menempelkan dahinya ke daun pintu yang masih tertutup. Menahan gejolak hatinya untuk tidak menemui istrinya.


Di luar pintu, Novia berangsur-angsur merubah posisi tubuhnya untuk balik badan. Novia memutuskan untuk tidak menemui suaminya. Dia berjalan ke rumah belakang. Mencari bi Susi.


Tok...tok...tok.. Novia mengetuk pintu rumah belakang.


Bi Susi membuka pintu. Bibi agak kaget, ada apa Novia malam-malam begini datang ke kamarnya.


" Mbak, tumben malam-malam..."

__ADS_1


" Bi, mas Boby tadi kan pulang. Apa baju yang dipakainya tadi sudah di berikan ke bibi? "


" Iya, sudah mbak. Itu sudah bibi taruh di keranjang. "


" Belum di cuci kan bi?"


Bibi menggeleng.


" Bisa tolong ambilkan yang kemejanya bi? "


" Buat apa mbak? Kan masih kotor. " tanya bibi bingung.


" Novia hanya ingin membawanya tidur bi. Nov nggak bisa tidur beberapa malam ini. Mungkin si kecil merindukan ayahnya. Mungkin kalau Novia mencium aroma mas Boby, Novia bisa tidur bi. Mungkin si kecil mau Novia ajak tidur. "


Tes...tanpa sengaja air mata bi Susi menetes. Tidak tega dengan apa yang di alami Novia. Tapi cepat-cepat diusapnya sebelum Novia melihatnya.


" Sebentar ya mbak, saya ambilkan. "


Bi Susi berjalan masuk ke ruang cuci. Bibi mengambil kemeja kotor Boby sambil menangis. Sebelum dia keluar, di hapusnya air mata dari mata dan pipinya.


" Ini mbak. " bibi menyerahkan kemeja itu ke Novia.


" Terimakasih bi. " Novia beranjak balik badan.


" Mbak..." panggil bibi.


Novia menoleh.


" Mbak Novia sudah beberapa hari tidak makan nasi. Mbak Nov hanya ngemil sama minum susu. Mmm... mumpung mas Boby di rumah, apa mbak Nov tidak ingin makan sesuatu? Dulu mbak Novia akan makan lahap jika mas Boby yang suapi. "


Novia menggeleng sambil tersenyum penuh dengan kepahitan.


" Biar bibi yang bilang sama mas Boby ya. "


Novia menggeleng dengan cepat. " Jangan bi. Tidak usah. Novia tidak mau mendengar ucapan kasar dari mulut mas Boby lagi. Kalau mulut Novia mau makan, Nov pasti makan bi. "


Novia melanjutkan langkahnya kembali ke kamar. Dia mengunci pintu kamarnya. Kemudian naik ke tempat tidur. Air mata kembali menetes sambil memeluk dan mencium kemeja Boby yang tadi di mintanya dari bibi. Novia akhirnya tertidur meringkuk sambil memeluk kemeja itu sepanjang malam.


Berkat kemeja itu, Novia bisa tidur malam itu.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2