
" Halo, ma."
" Tumben anak mama telepon mama. Biasanya kalau bukan mamanya yang telepon nggak pernah inget sama mama."
" Mama kok gitu ngomongnya. Boby selalu inget sama mama kok."
" Iya deh iya..Ada apa nih malem-malem telepon mama? Kangen sama mama?"
" Ya kangen lah ma. "
" Hmm! Buruan ada apa ? Mama udah ngantuk ini."
" Boby cuma mau kasih kabar... Tugas mama udah terselesaikan. "
" Tugas yang mana ini ?" tanya sang mama penasaran.
" Boby udah dapet calon istri."
" Syukur alhamdulilah...Jadi sama yang kemarin kamu sempat cerita ke mama? "
" Iya."
" Sekarang kamu kasih tahu mama. Namanya siapa, dia cewek yang kayak gimana, pokoknya apa aja deh."
" Namanya Novia ma. Umurnya 25 tahun. Dia gadis desa. Dia berjilbab, cantik pastinya. "
" Kamu kenal dimana? "
" Jadi gini ma. Boby dapet proyek pembangunan gedung sekolah di sini. Nah, Novia ini di tugaskan sama pihak sekolah untuk mewakili sekolah mengurus proyek itu. Otomatis, Boby sering lah ketemu dia, ngobrol, bertukar pengalaman. Anaknya asyik diajak ngobrol. Ngobrol apa aja nyambung."
" Wait...wait..." potong sang mama.
" Gadis itu kerja ? Di sekolah ? Jadi guru maksudnya ?"
" Yes."
" What ?" tanya mama tidak percaya.
" Iya ma. Dia seorang guru. Multitalenta. Ngajar matematika, bahasa Inggris. Dia juga dipercaya sama pihak sekolah megang keuangan sekolah. Ngurus duitnya pinter ma."
" Wow.. Great.. Cuman yang mama nggak yakin, ini kamunya. Kamu yakin, mau punya istri seorang guru ?"
" Yakinlah ma. Kok mama nanyaknya gitu?"
" Mama keinget aja omongan kamu waktu masih senior high school. Kamu paling anti sama kerjaan yang namanya guru. Kamu bilang guru itu nggak asyik. Kolot. Omongannya sok pinter sendiri. Bahkan kamu pernah punya teman yang nerusin kuliah jadi guru, kamu terus males temenan sama dia."
" Aiss mama. Itu kan dulu. Awas aja kalau entar ketemu Novia terus bahas itu."
" Mama juga inget nih. Kamu pernah tanya ke mama gini kenapa ya ma, guru itu mukanya selalu serius, tua-tua lagi ma. Gitu. Inget nggak kamu? "
" Ma...itu kan dulu. Udah jangan di bahas lagi. "
" Mama jadi penasaran, kayak apa sih wajahnya guru kesayangan anak mama ini. Kok bisa menaklukkan gunung esnya mama. Kapan kamu bawa dia ke rumah?"
" Nah, ini masalahnya ma. Dia nggak mungkin mau Boby ajak ke Jakarta kalau belum ada ikatan apa-apa. "
" Terus gimana? Ya udah mama yang kesana." ucap mama antusias.
" Great, ma. Kapan mama kesini?"
" Kamu pengennya mama kesitu kapan ?"
" Secepatnya aja. Sekalian langsung mama lamarin ke orang tuanya. Pokoknya lebih cepat lebih baik. "
" Wuihhh...anak mama kayaknya udah ngebet banget pengen kawin nih. "
__ADS_1
" Kalau nggak cepet- cepet, takutnya dia berubah pikiran ma. Membuat dia mau nerima Boby aja susahnya minta ampun."
" Perjuangan itu perlu, son. Jadi kedepannya kamu lebih bisa menghargainya."
" Iya ma. "
" Ya udah. Besok mama atur jadwal di kantor dulu. Kalau udah fix, mama kabarin kamu. "
Panggilan terputus. Malam ini sepertinya Boby bisa tidur nyenyak. Setelah kemarin malam dia tidak bisa tidur.
Dia merebahkan tubuhnya telentang di atas kasur. Kemudian membuka layar hpnya. Mengetik sesuatu di sana.
** Udah tidur, Nov?
Tik...tok...tik...tok...bunyi jarum jam dinding di kamar Boby. Malam telah larut, jadi suasana sudah sepi. Denting jampun terdengar.
Novia sudah tidak online semenjak satu jam yang lalu. Pesan dari Boby pun belum di baca. Ah, mungkin Novia sudah tidur. Boby mengetik kembali.
** Sepertinya udah tidur. Met tidur. Semoga mimpi indah, calon istriku 💕
Setelah menulis pesan yang terakhir, tak lama kemudian Boby juga larut dalam mimpi yang indah.
••••
Pagi menjelang. Masih cukup pagi sekali, Boby sudah siap berangkat menjemput sang kekasih. Rupanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu kembali. Jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah 6 lebih 5 menit. Tapi Boby sudah berada di dalam mobil untuk berangkat.
Dua puluh menit kemudian, Boby sudah sampai di rumah Novia.
Tok..tok..tok.. Suara pintu di ketuk.
" Assalamualaikum..." Boby mengucap salam.
" Waalaikum salam. Eh, nak Boby..Pagi bener. " jawab Bu Arum yang tiba-tiba datang dari belakang Boby.
" Itu.. dari rumah bulek di sebelah. Oh iya, kamu pasti belum tahu ya. Sini ibu kasih tahu. " Bu Arum menggandeng tangan Boby.
" Ini, rumah yang masih satu pekarangan sama rumah ini, itu rumah saudaranya Novia semua. Yang itu, rumah omnya. Namanya om Hendra. Terus yang itu rumah omnya juga, namanya om Yanto. " tunjuk Bu Arum sambil menjelaskan. Boby hanya manggut-manggut.
" Besok biar di kenalin sama Novia. Eh, ngomong- ngomong, nak Boby kok pagi bener udah sampai sini? Udah kangen aja sama anak ibu. Baru semalem ketemu. " goda Bu Arum
" Eh...ibu bisa aja. " jawab Boby sambil tersenyum malu-malu. " Saya mau jemput Novia Bu. Mau nganterin kerja. Motornya kan masih di kantor saya."
" Oh iya. Ya udah, yuk masuk. Biar ibu kasih tahu Novia. Kayaknya dia belum keluar dari kamar. "
" Saya di sini aja bu. Suasananya enak. Adem. "
" Oh, ya uwis. Nak Boby, ibu buatin kopi. Biar lebih enak suasananya. "
Boby mengangguk.
Bu Arum masuk ke rumah dan Boby duduk di bangku teras. Beberapa ibu-ibu lewat di depan rumah Novia . Kelihatannya mereka habis belanja. Melihat Boby duduk di teras rumah Novia, mereka mulai kasak kusuk. Boby yang mendengar sedikit selentingan tersenyum ke arah ibu-ibu itu.
Dasar emak-emak. Pagi-pagi udah bikin gosip aja. Lihat aja ntar kalau Novia udah nikah sama gue. batin Boby.
Setelah menghabiskan kopi setengah cangkir, Novia baru keluar dari dalam rumah.
" Mas Boby kok pagi banget kesininya. Novia kan bilang jam setengah tujuh sampai sini. Tadi ibu bilang jam enam kamu udah nyampe."
" Ya... daripada telat. Mending kan lebih awal. Kamu udah siap? Ini udah mau setengah tujuh lho. " ujar Boby sambil melihat jam tangannya.
" Bentar. Ambil tas sama sepatu dulu."
••••
Sampai di depan gerbang sekolah, sekolah sudah tampak ramai. Novia buru-buru keluar dari mobil. Boby membuka kaca mobil sisi Novia.
__ADS_1
" Mas Boby langsung ke kantor?" tanya Novia. Boby mengangguk.
" Jangan lupa, motorku yah."
" Iya, bawel."
Yang dibilang bawel langsung cemberut. Boby tersenyum gemas melihat ekspresi Novia.
" Udah sana masuk. Entar keburu telat. " ucap Boby masih dengan tersenyum.
" Ya udah, hati-hati nyetirnya. Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. " saat Boby menjawab salam, Novia udah ngacir duluan.
Didekat pos satpam, Boby melihat ada seseorang yang terus memperhatikan mereka mulai dari mereka baru tiba. Boby tersenyum menyeringai. Kemudian dia menjalankan lagi mobilnya.
Hari itu Novia menjalani harinya seperti biasa. Mengajar, mengurus keuangan sekolah. Seperti hari-hari biasanya.
Hari sudah semakin siang, Novia terus menunggu motornya di antarkan. Beberapa kali dia bertanya ke pos satpam. Tapi si satpam selalu menjawab sama ' belum '.
Akhirnya, ketika jam sekolah usai, dia menelepon Boby.
" Halo, mas."
" Hmm. Ada apa? "
" Motorku mana?"
" Udah di rumah kan. Tadi security kantor udah aku kasih alamat rumah kamu. Aku suruh anter kesana. "
" Loh, kok dianter ke rumah ? Tadi kan aku minta dianterin ke sekolah. Terus sekarang aku pulangnya gimana coba? "
" Udah, nggak usah sewot. Kalau kerjaan kamu udah selesai semua, buruan keluar. "
Tut...Tut...Tut... telepon di matikan sepihak. Boby hanya geleng-geleng kepala.
Tak berselang lama, seseorang yang ditunggu Boby tampak keluar dari gerbang. Boby menyambutnya dengan senyuman. Terlihat di samping pos satpam, seseorang lagi-lagi memperhatikan mereka. Siapa lagi kalau bukan Dennis.
Rupanya setelah tadi pagi Boby melihat Dennis memperhatikan mereka, Boby jadi ingin menjemput Novia. Dia ingin menunjukkan ke bocah itu kalau Novia sudah miliknya. Jadi dia sengaja menyuruh security kantornya untuk mengantar motor Novia ke rumah.
Boby menyender di badan mobilnya sambil menunggu Novia mendekat.
" See... Nggak perlu khawatir masalah pulang kan ? "
" Ck. Ya udah ayo pulang. " Ucap Novia sambil menuju ke mobil hendak membuka pintunya. Tapi pintu sudah di buka Boby terlebih dahulu. Kemudian Boby mempersilahkan Novia masuk seperti mempersilahkan seorang putri.
Novia masuk ke dalam mobil. Kemudian Boby mengitari mobil menuju pintu sopir. Dia juga duduk di jok mobil.
" Kamu kenapa sih dari kemarin bawaannya sewot mulu sama aku. Lagi PMS?"
" Hisss...siapa yang PMS. Kamunya aja yang nyebelin. " jawab Novia pelan setengah berbisik. Tapi karena mereka di dalam mobil, Boby mendengarnya.
" Sorry. Kalau aku udah bikin kamu marah terus. Apa kamu nyesel nerima aku? "
Mendengar kata-kata Boby, Novia kaget. Kemudian hatinya melunak. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.
" Nggak gitu mas. Aku tu cuman sebel, dari semalem kamu nggak dengerin mau aku. "
" Maaf ya. Aku cuma mau bantu kamu. Nggak ada maksud lain. "
Novia tersenyum mendengarnya. Kemarahannya pun menguap begitu saja.
****
bersambung
__ADS_1