Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
58. Nggak Doyan Nasi


__ADS_3

Hari berganti. Hari ini, Novia bersikap sama dengan kemarin. Malas ngapa-ngapain. Tapi dia punya tanggung jawab. Dia harus tetap bekerja. Mau tidak mau, diapun berangkat kerja dengan malas-malasan.


Sama seperti semalam, Novia mau sarapan kalau di suapi sama suaminya. Akhirnya Boby mengalah. Sebelum dia menghabiskan sarapannya, dia menyuapi istrinya terlebih dahulu.


Setelah sarapan, mereka berangkat bekerja. Boby mengantar Novia terlebih dahulu karena lagi-lagi Novia malas untuk membawa mobil sendiri.


" Nanti pulangnya di jemput Remon, oke."


Mendengarnya, Novia langsung cemberut. Karena dia sangat ingin di jemput suaminya.


Boby terkekeh melihat wajah Novia yang mendung. Entah kenapa istrinya beberapa hari ini sangat menggemaskan. Mudah sekali marah. Bahkan untuk hal-hal yang terkecil sekalipun.


Boby menangkup wajah Novia. Cup. Kecupan kecil dia berikan ke bibir Novia. Novia tersenyum. Kekesalannya telah menguap hanya karena sebuah kecupan dari Boby.


" Gitu dong senyum. Kalau cemberut, mukanya di tekuk, jelek tahu. Jangan lupa makan siang. " Novia mengangguk, mencium punggung tangan Boby, kemudian keluar dari mobil, dan masuk ke dalam area sekolahan.


Hari itu Novia jalani dengan bermalas-malasan. Bahkan untuk mengajarpun dia malas. Tapi dia harus tetap profesional. Dia memaksakan tubuh dan pikirannya untuk tetap bekerja dengan baik.


I love it when you call me senorita


Ponsel Novia berbunyi.


" Assalamualaikum mas. "


" Waalaikum salam. Kamu udah makan siang?"


" Belum. "


" Kok belum. Udah jam berapa ini?"


" Males makan. "


" Sayang, kalau kamu males makan terus-terusan, kamu bisa sakit. "


" Mau makan. Tapi di suapi sama kamu. "


Boby menghela nafas berat sebelum menjawab keinginan Novia.


" Jam berapa kamu pulang?"


" Ini udah mau pulang. "


" Ya udah, tunggu bentar. Biar Remon jemput kamu terus ajakin kamu kesini. Nanti makan siang di sini. Aku suapi. "


Wajah Novia berubah sumringah mendengar penawaran suaminya. " Horeee...." ucap Novia yang sudah seperti anak kecil yang telah mendapatkan mainan yang sangat diinginkannya.


Lagi-lagi Boby menggelengkan kepalanya. Hanya dengan hal sepele seperti itu, membuat istrinya bahagia.


" Kamu ingin makan apa? Biar sekalian di belikan Remon. "


" Mmm... pempek Palembang kayaknya enak. "


" Sayang, pempek nggak enak kalau di makan pakai nasi. "


" Kan aku nggak pengen makan nasi. Pengennya pempek aja. "


" Kamu dari pagi belum makan nasi. Dari kemarin malah."

__ADS_1


" Ya udah deh. Nggak jadi makan aja. " wajah Novia kembali cemberut.


Boby sudah bisa menebak kalau raut wajah istrinya pasti mendung lagi.


" Oke...oke...siang ini, boleh makan pempek aja. Tapi nanti malam harus makan nasi. " ucap Boby penuh dengan penekanan.


" Yes. Iya...pak bos, siap!" ucap Novia menirukan gaya bicara Remon.


" Ya udah aku tutup teleponnya. Aku akan kasih tahu Remon untuk segera jemput kamu. " panggilan di akhiri.


Setengah jam kemudian, Remon telah sampai di depan gerbang sekolah. Novia segera keluar dan masuk ke dalam mobil.


" Sudah jadi beli pempek Palembang?" tanya Novia antusias.


" Beres, Bu bos. "


" Yang pedes kan?"


" Sambal di pisahkan. Biar bisa pedes, bisa nggak."


" oke. Ya udah yuk, cepetan ke kantor pak bos. "


Remon pun heran dengan sikap Novia. Benar apa kata si bos. Kalau Bu bos agak aneh tidak seperti biasanya.


Remon tidak mau ambil pusing dengan urusan bosnya. Dia segera melajukan mobilnya ke kantor Boby.


Sampai di kantor Boby, Novia segera turun dari mobil dan berjalan menuju ruangan Boby sambil berlari-lari kecil.


Tanpa mengetuk pintu Novia langsung masuk ke ruangan Boby. Boby yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumen, kini terlihat tersenyum melihat sang istri sudah tiba.


Boby bangkit dari duduknya dan mengambil kantung plastik tersebut. Dia berjalan ke sofa dengan sebelah tangannya menggandeng tangan Novia.


" Duduk dulu. Aku ambilkan piring. " Boby berjalan keluar dari ruangannya dan pergi ke pantry.


Setelah mendapat piring dan sendok, dia kembali ke ruangan. Dia melihat Novia yang tiduran dengan di sofa panjang.


" Ayo makan dulu. Habis itu, baru tidur. "


Novia bangun dari tidurannya. Boby mulai menyuapinya. Satu persatu pempek meluncur ke mulut Novia. Novia begitu menikmatinya.


" Enak?" tanya Boby.


" Banget. " Novia mengambil sendok yang ada di tangan Boby. Kemudian menyendok pempek yang ada di piring dan di arahkan ke mulut Boby.


" Aa...Cobain."


" Aku kenyang. Udah makan tadi. "


Novia menarik kembali sendok dari depan mulut Boby sambil cemberut. Melihat wajah istrinya yang di tekuk, akhirnya Boby mengalah.


" Aa..." Boby membuka mulutnya.


Raut wajah Novia berubah seketika. Senyum girang hadir di bibirnya. Di arahkannya kembali sendok ke mulut Boby.


Dan....


" Hah....hah..." Boby kepedesan.

__ADS_1


" Pedes banget yang. " Boby berdiri, mengambil air minum di dispenser dan meneguknya sampai habis.


Novia tertawa terbahak-bahak melihat suaminya kepedesan. Terlihat mata Boby berair karena kepedesan.


" Masak pedes sih mas? Biasa aja deh."


" Pedes banget, sumpah. Udah, jangan di makan lagi. Entar perut kamu sakit. " Boby mengambil piring yang masih terisi pempek dari meja untuk di buang ke tempat sampah.


" Mas, mau di bawa kemana pempeknya? Aku masih mau makan. "


" Ini pedes yang. Mau aku buang. Kamu dari kemarin nggak makan nasi, entar perutmu sakit kalau makan ini. "


" Ihh, tapi aku masih mau. " Novia bangkit dari duduknya dan menyambar piring yang ada di tangan Boby.


" Novia, aku bilang nggak boleh ya nggak boleh. " Boby mengambil kembali piring itu.


" Aku masih lapar mas. " kini mata Novia sudah berkaca-kaca.


" Kita beli makanan yang lain. Yang nggak pedes kayak gini. Kita beli pempek yang baru lagi. "


" Nggak mau..Hiks...hiks..." ucap Novia agak keras dan kini air mata Novia sudah mulai mengalir. " Aku mau makan yang itu. Hiks...hiks...hiks..."


Boby menjadi serba salah melihat istrinya menangis seperti itu. Baru pertama kali ini dia melihat Novia menangis. Dan itu hanya karena makanan.


Remon dan Alvin pegawai Boby yang sedang lewat di depan pintu ruangan Boby terkejut mendengar Novia marah-marah sambil menangis. Karena penasaran, mereka melongok ke dalam ruangan Boby yang tidak tertutup pintunya.


" Bos, kenapa Bu bos menangis?" tanya Remon.


" Gara-gara kamu ini. " bentak Boby.


" Kok, gara-gara saya bos?" Remon seperti orang linglung aja di bentak oleh bosnya. Padahal dia tidak tahu permasalahannya apa.


" Iya, gara-gara kamu beliin makanan kayak gini. "


" Lho, bukannya tadi bos sendiri yang menyuruh saya membeli pempek Palembang?"


" Iya. Tapi nggak pedes kayak gini juga kali. "


" Tadi sambalnya sudah saya suruh misah lho bos. " ucap Remon membela diri.


" Berisiiiikkk!" teriak Novia. Semua yang ada di situ otomatis terdiam oleh teriakan dari Novia.


Novia bermaksud mengambil piring dari tangan Boby. Tapi Boby memegangnya dengan erat. Tidak membiarkan Novia mengambilnya.


Novia semakin marah. Dia membuang sendok yang sedari tadi di pegangnya sembarangan. Mengambil tasnya yang ada di sofa. Kemudian berjalan keluar dari ruangan Boby. Karena Remon ada di pintu, Novia menabraknya.


" Wah, bos gawat. Bu bos marah. "


Boby mengusap wajahnya kasar.


" Mengalah saja bos. Masak iya cuma gara-gara makanan gini pak bos sama Bu bos jadi berantem."


Boby meletakkan piring di atas meja, kemudian dia dengan setengah berlari menyusul Novia yang sudah entah sampai di mana.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2