
" Sayang, apa kamu tidak ingin melihat anak kita? Anak kamu sayang..." ucap Boby sembari duduk di kursi sebelah ranjang Novia dan sembari menggenggam tangan Novia.
" Kasihan dia. Belum pernah merasakan pelukan dan ciuman mamanya. Kamu tahu Sayang, anak kita sekarang gemuk sekali. Pipinya gembul. Dia sudah mulai bisa menghafal wajah seseorang. Kalau lihat neneknya, dia pasti akan menangis minta gendong. " cerita Boby sambil menerawang mengingat cerita Bu Vera.
" Apa kamu tidak ingin dia juga menangis minta di gendong jika melihatmu? Sayang, anak kita belum punya nama. Kita semua nunggu kamu yang kasih nama. Kalau kamu tidak cepat bangun, maka anak kita tidak akan punya nama. Bahkan sampai besarpun dia tidak akan punya nama. "
Boby mulai merasa matanya memanas. Bulir air mata mulai menggenang di sudut matanya. Di kecupnya lama punggung tangan Novia.
" Novia, aku mohon... jangan kamu hukum aku seperti ini. Jangan diamkan kami semua seperti ini. Kalau kamu mau marah, marahlah hanya kepadaku. Kalau kamu diam, diamlah hanya kepadaku, sayang. Tapi jangan kau diamkan juga yang lain. Hiks...hiks...hiks..."
__ADS_1
Boby mulai menangis tersedu-sedu.
" Sayang... maafkan aku...Aku memang bersalah sama kamu. Ijinkan aku menebus dosaku. Ijinkan aku memperbaiki semuanya. Aku tahu, sudah terlalu sering aku meminta maaf. Tapi tetap akan aku lakukan setiap hari untuk meminta maaf padamu. Aku memang bodoh, Novia. Aku bodoh karena tidak menyadari jika aku sangat mencintaimu sejak dulu. Aku bodoh baru menyadari ketika kamu pergi ninggalin aku. Novia sayang, Aku mencintaimu...I love you my wife..You are my life... you are my destiny... Please... just wake up dear..."
Boby seperti sudah kehabisan kata-kata untuk membangunkan Novia.
" Novia...aku mohon... bangunlah sayang... Jangan kau hukum aku seperti ini. Jangan kamu diamkan kami semua seperti ini. Hanya aku yang bersalah Novia. Kalau kamu mau marah, marahlah hanya kepadaku. Kalau kamu mau diam, diamlah hanya denganku. Jangan mendiamkan semua orang bahkan anak kamu seperti ini. Novia, aku berjanji akan menuruti semua mau kamu jika kamu bangun secepatnya. Apapun itu akan aku turuti. Meskipun setelah kamu bangun kamu memutuskan untuk meninggalkan aku, aku tidak akan menghalangi. Meskipun kamu kembali dengan Candra, akupun tidak akan marah. Meskipun kamu meninggalkan aku dan membawa anak kita, aku...aku pun tidak akan menghalangi... Asalkan kamu bangun, Sayang. Asalkan aku bisa melihat senyum kamu lagi...Aku rela...aku ikhlas...aku ridho, sayang..."
Tapi sepertinya percuma...Novia masih tetap terdiam. Hanya ada sebulir air mata di sudut matanya. Tapi Boby tidak melihatnya karena suasana kamar itu sudah agak gelap. Hanya di terangi lampu tidur kecil. Karena memang hari sudah larut.
__ADS_1
Sedangkan di dunia sebelah, Novia seperti berada di sebuah hamparan bunga yang luas. Dia duduk termenung sendiri di bawah pohon yang rindang. Udara di sana begitu sejuk, dan pemandangannya sangat indah.
Di saat Novia sedang asyik merenung, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara yang memilukan. Suara seorang laki-laki yang seperti di kenalnya. Laki-laki itu seolah-olah sedang memanggilnya dan menyerukan kata maaf dan cinta bersamaan.
Novia mengedarkan pandangannya ke sekeliling berusaha mencari keberadaan laki-laki yang sedang bersedih itu. Tapi tidak di temukannya. Hanya suara saja yang semakin jelas di dengarnya. Mendengar ucapan laki-laki itu tiba-tiba Novia merasa sangat sedih. Dan tak di sangkanya, air matanya menetes.
Suara laki-laki itu terdengar begitu memilukan. Novia merasa laki-laki itu sedang berbicara dengannya. Di saat itu, Novia tiba-tiba terbayang seorang bayi mungil yang juga sedang menangis.
****
__ADS_1
bersambung