Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
29. Malam pengantin


__ADS_3

Acara pernikahan telah usai. Tampak para saudara Novia telah kembali ke rumah masing-masing. Sekarang rumah Novia nampak sepi.


Haripun sudah larut. Boby sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Dia masuk ke rumah, berniat mencari sang istri untuk di tunjukkan kamarnya. Sampai di ruang belakang, dia masih tidak menemukannya. Ingin dia masuk ke kamar, tapi tidak tahu yang mana kamar Novia.


" Mas Bob, nyari apa?" tanya Sari mengagetkannya. Malam itu Sari memang menginap di rumah budenya.


" Ini... nyari Novia. "


" Oooh... mbak Nov tadi kayaknya ada di kamarnya. "


" Di kamar? Iya, kamarnya yang sebelah mana ya?" tanya Boby sambil mengedarkan pandangannya menebak-nebak kamar istrinya yang mana.


" Itu... yang pintunya terlihat dari ruang tengah. "


" Oh, iya makasih. Aku mau nyusul Novia dulu. " ucap Boby ke Sari dan kemudian dia berjalan menuju pintu yang tadi di beritahukan Sari.


Tok...tok..tok... Boby mengetuk pelan pintu kamar Novia. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. Kemudian dia memutuskan untuk membukanya.


Di bukanya pelan pintu kamar Novia. Terdengar suara berderit dari pintu. Boby mengedarkan matanya mencari sang istri. Oh, ternyata Novia telah terlelap.


Boby berjalan mendekat ke ranjang. Di lihatnya, sang istri telah tertidur pulas. Masih dengan mengenakan atasan panjay, celana, juga jilbabnya.


Muncul berbagai macam pertanyaan di otak Boby. Kenapa Novia tertidur masih memakai jilbab? Apakah tidak sengaja tertidur sebelum melepas jilbabnya? Atau apakah dia sengaja berpakaian lengkap karena takut akan ada malam pertama?


Boby menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha membuang spekulasi yang ada di otaknya.


Boby menyampirkan jasnya di kursi dekat ranjang. Melipat lengan kemejanya sampai ke siku. Ya, saat ini Boby masih mengenakan pakaian yang ia pakai tadi siang untuk resepsi.


Kemudian dia mendekat ke ranjang kembali. Dia duduk di tepi ranjang yang kosong. Oh, Novia masih menyisakan tempat untuknya. Walaupun diantara mereka akan terhalang guling dan bantal yang tertata rapi di tengah. Rupanya Novia juga telah mempersiapkannya. Mempersiapkan pembatas antara mereka.


Boby menghela nafas berat. Benar apa yang di pikirannya selama ini. Novia benar-benar belum siap menjadi istrinya. Dia hanya memberikan status suami untuknya. Tidak dengan yang lain. Boby menunduk sesaat, memikirkan apakah langkah yang telah diambilnya ini benar atau salah.


Tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya, dia beranjak dari ranjang, berjalan ke kamar mandi. Membasuh muka mungkin akan membuat pikirannya agak segar. Di kamar mandi, tampak telah tersedia sikat gigi dan handuk untuknya. Entah Novia atau entah siapa yang menyiapkannya.


Setelah menggosok gigi dan membasuh muka, dia kembali ke ranjang. Menaikkan kedua kakinya, kemudian merebahkan tubuhnya dengan tangan kanan berada di bawah kepala.


Sesaat, dia menengok ke arah Novia. Ingin melihat bagaimana wajah perempuan yang telah sah menjadi istrinya ini ketika tidur. Apakah tetap secantik ketika bangun? Tapi sayang, dia tidak mempunyai kesempatan itu. Novia telah beralih posisi membelakanginya.


Lagi-lagi Boby mendesah. Kemudian dia menutup matanya dengan satu tangan yang lainnya. Berusaha untuk tidur. Malam ini, adalah pertama kalinya ia tidur satu ranjang dengan seorang lawan jenis selain mamanya. Itupun sudah berapa tahun silam. Mungkin ketika dia masih duduk di sekolah dasar.

__ADS_1


Terasa aneh. Satu ranjang dengan seorang perempuan. Bukan adik. Bukan pula kakak. Tapi istri. Dia juga laki-laki normal. Satu ranjang dengan sang istri untuk pertama kalinya telah membangunkan sesuatu di bawah sana.


Boby menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Berusaha menenangkan kembali yang telah terbangun. Kemudian dia merubah posisi tidurnya miring. Sekarang dia dan Novia tertidur dengan saling membelakangi.


Karena capek seharian, akhirnya Boby pun terlelap juga. Begitu juga dengan yang di bawah. Akhirnya sudah tidak meronta lagi.


••••


Fajar menyingsing. Seperti biasa, Novia akan terbangun ketika jam menunjukkan pukul setengah lima.


Kebiasaan sebelum bangun, Novia menggeliat sambil menguap.


" Aaakkhhhh...!" teriak Novia sesaat. Kemudian dia menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.


Novia terkejut ketika bangun, dia mendapati seorang laki-laki tidur di sebelahnya. Tentu saja dia terkejut karena semalam dia telah tertidur duluan gara-gara di malam sebelumnya dia tidak bisa tidur.


Bodohnya dia yang tidak cepat mengingat kalau dia telah menikah. Tentu saja sang suami yang tertidur di sebelahnya.


Tidak mau membangunkan laki-laki itu, Novia turun dari ranjang dengan sangat pelan. Dia masuk ke kamar mandi, menggosok gigi, kemudian mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.


Setelah sholat, dia keluar dari kamar. Lari keliling kampung adalah kebiasaannya ketika pagi kalau tidak terlambat bangun. Tapi karena dia baru menikah kemarin, dia memutuskan untuk berlari mengelilingi pekarangan rumah.


Setelah pukul enam, Novia kembali ke dalam rumah. Terlihat Bu Arum dan beberapa saudaranya tengah sibuk menyiapkan sarapan.


( Suamimu belum bangun, nak?)


" Belum bulek. Mungkin masih capek."


" Kamu bangunkan. Suruh mandi, terus sarapan bareng-bareng. " titah sang ibu.


" Iya Bu. Bentar lagi. Novia masih capek habis lari."


" Masih kuat lari mbak? Wuihhh... hebat..." ucap Sari sambil mengacungkan kedua jempolnya.


" Hiss, anak kecil tahu apa sih! Sini aku kasih keringet aja kamu." kemudian terjadilah acara kejar-kejaran.


Setelah capek dengan kejar mengejar, mereka duduk di kursi makan. Meminum segelas air putih. Kemudian Novia beranjak dan berjalan ke kamarnya.


Oh, ternyata sang suami masih tertidur. Buru-buru dia mengambil baju ganti dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Mandi dibawah shower membuat tubuhnya menjadi lebih segar. Setelah ritual mandinya selesai, dia memakai bajunya dan tak lupa dia memakai kerudungnya. Karena dia masih belum siap untuk bertelanjang kepala di depan suaminya.


Dia membuka pintu kamar mandi. Dan jleb ! Matanya beradu pandang dengan mata sang suami yang rupanya telah bangun dari tidurnya. Hal itu membuat Novia jadi salah tingkah.


" Sudah bangun mas? " tanya Novia menghilangkan kegugupannya.


" Hm. " jawab Boby singkat masih dengan menatap Novia.


" Mandi dulu mas. Udah di tunggu buat sarapan. "


Boby menjawabnya dengan anggukan dan masih tetap menatap Novia. Novia menjadi tambah salah tingkah.


" Mau mandi air hangat, apa air dingin aja? Kalau mau air hangat, aku siapkan dulu. Kamu tunggu di sini sebentar. Aku ambilkan air hangatnya. " Novia bergegas hendak keluar dari kamar.


" Nggak usah. Aku mandi air dingin aja. " jawab Boby kemudian beranjak dari duduknya dan menuju kamar mandi.


Oh, Novia belum menyiapkan handuk untuk Boby. Segera dia menuju lemari dan mengambil handuk yang baru.


" Handuknya mas. " ucap Novia sambil menyerahkan handuk ke Boby ketika Boby hendak membuka pintu kamar mandi.


Setelah menerima handuk dari Novia, Boby masuk ke kamar mandi.


Ada apa dengan tatapan mas Boby tadi. Kenapa dia menatapku seperti itu? tanya hati kecil Novia.


Kemudian dia keluar dari kamar untuk menemui kakak iparnya.


Ketika Novia kembali ke kamar, Boby rupanya juga telah menyelesaikan acara mandinya.


" Mas, pakai ini dulu. Dari kemarin mas belum ganti baju. " ucap Novia sambil menyodorkan baju yang ada di tangannya. Boby melihatnya dengan penuh tanda tanya.


" Ini tadi aku pinjam dari kakak ipar ku. Pakai aja. Mas Riyan bilang, baju ini masih baru. Belum pernah di pakai. "


Boby menerima baju itu. Kemudian dia membuka kancing kemejanya. Dan ketika akan melepasnya " Mas mau ngapain?"


" Katanya suruh ganti baju. Ya mau ganti baju lah. " Jawab Boby sambil meneruskan membuka kemejanya. Sepontan aja Novia langsung menutup matanya.


" Ihhh, mas Boby mesum. Gantinya sana di kamar mandi. " ucap Novia masih sambil menutup mata.


" Ngapain harus di kamar mandi. Orang udah selesai kok. " jawab Boby enteng dan tersenyum melihat Novia menutup matanya. Sebelum Novia membuka mata, Boby keluar dari kamar.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2