Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
106. Seratus enam


__ADS_3

" Dokter, bagaimana dengan istri saya dok? "


" Syukur Alhamdulillah pak Boby... Istri anda menunjukkan perkembangan yang sangat drastis. Sepertinya metode kita kali ini membuahkan hasil. " jawab dokter Ryan dengan seulas senyum di bibirnya.


" Berarti istri saya sudah sadar dok? "


" Untuk kesadaran total belum. Tapi semua alat vital di tubuh istri anda sudah normal semuanya. "


" Begitu juga dengan syaraf sensorik dan motoriknya. Syarafnya sudah memberikan respon terhadap rangsangan. Jadi kami yakin, tidak akan lama lagi, istri anda pasti akan bangun. " tambah dokter Sigit.


" Alhamdulillah..." ucap Boby, Bu Vera, dan bibi bersamaan.


" Jika nanti Bu Novia memperlihatkan tanda-tanda kesadarannya, tolong bapak langsung hubungi kami. " tambah dokter Ryan.


" Iya dok... pasti... Terimakasih banyak dokter. " ucap Boby kemudian dia menyalami kedua dokter tersebut.


Sesudah dokter Ryan dan dokter Sigit berpamitan, Boby dan yang lain langsung masuk ke kamar kembali.


Boby mengambil si kecil dari gendongan bibi, dan menggendongnya.


" Sayang, kamu emang the best nya papa. Kamu bisa mengajak mamamu kembali sayang. Sebentar lagi kamu bisa merasakan pelukan mama. Kamu juga sebentar lagi punya nama. " ucap Boby ke si kecil sambil tak henti-hentinya mencium pipi gembulnya membuat si kecil menggeliat dalam tidurnya.


Kemudian boby menghampiri Novia, menidurkan si kecil di samping Novia dan mengecup kening Novia cukup lama. Seolah-olah ingin menyalurkan kerinduannya terhadap sosok Novia.


Boby merasa senang mendengar kabar baik dari dokter tadi.


Bu Vera juga segera memberi kabar baik ini ke besannya.


" Halo, assalamualaikum.."


" Waalaikum salam, nek. Nenek, Oma punya berita bagus hari ini. " rupanya Bu Vera sedang menelepon Bu Arum.


" Kabar bagus apa Oma? "


Setelah ada si kecil, panggilan mereka sudah berubah. Bu Arum sekarang di panggil nenek, dan Bu Vera di panggil Oma.


" Novia kita sudah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Dokter bilang, sebentar lagi dia akan sadar. Ternyata metode yang di berikan dokter kemarin membuahkan hasil nek."


" Alhamdulillahirobbil alamin....." ucap syukur Bu Arum. " Saya akan segera menyusul kakek ke kebun. Mau kasih tahu. Besok mau saya ajak ke Jakarta. "

__ADS_1


" Iya nenek..."


" Oma, kalau ada berita lagi, jangan lupa terus kasih tahu saya ya. " ucap Bu Arum dengan suara riangnya.


" Pasti itu nek. Baiklah, saya tunggu kedatangan kakek sama nenek besok di rumah ya. Si kecil pasti seneng banget ketemu kakek sama nenek."


Panggilan segera di akhiri setelah mereka saling mengucapkan salam.


" Telepon siapa ma? "


" Ibu mertua kamu. " jawab Bu Vera sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Kemudian mereka bercakap-cakap. Bibi banyak bercerita tentang kebiasaan si kecil dan kelucuan si kecil. Boby begitu bahagia mendengarnya. Selama satu bulan lebih si kecil di bawa pulang dari rumah sakit, memang hanya bibi dan mamanyalah yang Boby beri kepercayaan merawat si kecil.


Tak terasa sore hari telah menjelang.


" Bob, mama bawa anak kamu pulang sekarang ya. Udah sore. Kasihan si kecil belum mandi."


" Iya ma. Dia juga dari tadi udah kelihatan nggak nyaman gitu. " jawab Boby sambil tersenyum melihat anaknya yang sedang bermain ludahnya sendiri dalam stroller.


" Si kecil itu emang gitu den. Nggak tahan kotor. Pengennya selalu bersih. Pampers nya basah dikit aja pasti udah rewel. "


Kemudian mereka berpamitan kepada Novia. Boby mengantar mereka hanya sampai depan pintu kamar rawat Novia.


Setelah mereka pulang, Boby segera masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Setelah beberapa menit, Boby kembali ke kamar sudah mengenakan sarung dan kemeja kokonya.


" Kita sholat ashar dulu ya. " ajak Boby ke Novia.


Kemudian Boby mengimami Novia untuk sholat ashar.


Setelah selesai melaksanakan sholat ashar, Boby segera mengganti pakaiannya dengan baju santai. Kemudian dia mengunci pintu kamar. Karena dia akan membersihkan tubuh Novia.


Boby menyiapkan baju ganti Novia, kemudian menyiapkan air di ember kecil dan washlap. Dengan telaten, Boby mulai membersihkan tubuh Novia dari atas sampai bawah. Kemudian memakaikan baju ke Novia dan menyemprotkan parfum supaya Novia tetap segar walaupun dia selalu tertidur. Setelah selesai semua, Boby membuka kunci pintu kamar itu lagi.


Ketika Boby sedang di dalam kamar mandi untuk menaruh ember, terdengar bunyi yang aneh dari monitor Novia.


Boby segera kembali ke kamar dan di lihatnya, grafik di monitor itu kembali seperti tadi siang. Kemudian Boby memencet tombol untuk memanggil perawat sambil sebelah tangannya memegang tangan Novia.


" Ada yang bisa kami bantu? "

__ADS_1


" Suster, tolong cepat kesini. Ada yang aneh dengan istri saya. " ucap Boby dengan kepanikannya.


Kemudian Boby kembali memandang Novia.


" Kamu kenapa sayang? Bukankah tadi dokter bilang kamu baik-baik aja? " ucap Boby di sela-sela kepanikannya. Tanpa sadar, bulir air mata jatuh dari pelupuk mata Boby.


Ketika dia sedang menyeka air matanya, dia merasa ada yang bergerak di tangannya yang memegang tangan Novia tadi. Dilihatnya tangannya itu. Ternyata jari-jari Novia bergerak sangat pelan.


" Sayang...kamu bangun? " tanya Boby dengan wajah berbinar.


Bersamaan dengan itu, dua orang suster masuk.


" Sus, tadi saya melihat Novia menggerakkan jari tangannya." jelas Boby.


Suster melihat ke layar monitor. Terlihat, jantung Novia berpacu cepat. Suster yang satunya melihat tangan Novia. Dan benar sekali, Novia menggerakkan jari tangannya walaupun pelan sekali.


Suster segera memanggil dokter Sigit yang kebetulan hari itu sedang berjaga.


Tak lama, dokter Sigit datang. Dia mengecek seluruh alat vital Novia dan juga syaraf-syarafnya. Kornea mata Novia juga sudah merespon terhadap cahaya. Sungguh berita yang membahagiakan.


Kemudian mulut Novia mulai bergerak.


" A....a....a..ir..." ucap Novia lirih.


" Aaaaiir. " ucapnya lagi.


Dokter segera menyuruh suster untuk memberikan air minum ke Novia. Sedikit demi sedikit suster memasukkan air ke mulut Novia dengan sendok.


" Bu....ibu Novia...." panggil dokter.


" Bisa ibu mendengar saya? " tanyanya.


Boby yang berada di pojok kamar menunggu dengan cemas. Cemas karena berharap istrinya benar-benar sadar, dan cemas karena takut istrinya akan menolak kehadirannya.


" Ibu Novia...bisa ibu mendengar saya? Kalau bisa, ibu remas tangan saya. " dokter Sigit kembali bertanya dengan memegang tangan kanan Novia.


****


bersambung

__ADS_1


Pagi banget udah author up nih kak... semoga sudah tidak terlalu penasaran ya...🙏🙏🙏


__ADS_2