
" Ehm!" tiba-tiba seseorang berdehem di dekat mereka tanpa mereka tahu sejak kapan orang tersebut berada di dekat mereka.
Spontan Novia dan dokter Sigit melihat ke arah suara.
" Mas...??" Novia terkejut melihat kehadiran Boby di sana.
Bagaimana bisa? Bukannya kemarin suaminya itu bilang masih belum tahu bisa kembali ke Jakarta kapan. Klien yang mau di temuinya kan masih sibuk.
Flash back on
" Assalamualaikum....Novia... Athar...." panggil Boby ketika masuk ke dalam rumah.
" Waalaikum salam...Boby, kok udah pulang? "
" Iya ma. Tadi pagi Boby sudah bisa ketemu Mr. Ken klien Boby yang baru itu. Habis itu Boby terus beli tiket ke Jakarta. "
" Gimana, sukses pertemuannya sama klien kamu? "
" Alhamdulillah ma. Mr. Ken langsung suka sama presentasi Boby. "
" Alhamdulillah..."
" Berkat doa mama dan istri Boby tentu saja. Hehehe..."
" Pastilah kita doain kamu nak. "
" Ngomong-ngomong, Novia sama gantengnya Boby kemana ma? Apa di kamar? "
" Oh, istri sama anak kamu pergi ke mall. Di temani Lani. Baru aja perginya. "
" Hah? Kok mama nggak bilang dari tadi? Di mall mana ma? " tanya Boby sedikit kecewa karena yang sangat dia rindukan tidak ada di rumah semua.
" Ya ampun Boby... Boby...ntar juga pulang anak sama istri kamu. "
" Mereka ke mall mana ma? Boby mau susulin. "
" Ke mall kita lah. "
Tanpa menjawab apa-apa Boby balik badan dan berjalan menuju ke pintu utama.
" Kamu nggak istirahat dulu? " teriak Bu Vera.
" Ntar aja ma. Ketemu istri sama anak lebih penting. " jawab Boby sambil teriak pula.
" Dasar.." Bu Vera geleng-geleng kepala melihat sepertinya anaknya sudah jadi bucin sekarang.
Flash back off
" Halo, sayang. " sapa Boby sambil memberikan sebuah kecupan di kening Novia dan melingkarkan tangan kanannya di bahu.
Novia ingin menghindar, tapi lengan Boby menggandengnya erat. Sepertinya Boby sengaja mau memanas-manasi dokter itu.
Tapi yang di panas-panasi malah tersenyum geli dalam hati. Dasar! Sudah tua masih kekanak-kanakan. batin dokter Sigit.
__ADS_1
" Halo, pak Boby. " sapa dokter Sigit mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Dan di sambut oleh Boby. Yang otomatis Boby melepas rangkulannya di bahu Novia. Dokter Sigit kembali terkekeh dalam hati. Lepas juga kan? batinnya.
Novia menggunakan kesempatan itu untuk menjauhkan badannya dari Boby. Boby hanya meliriknya sambil tersenyum kecut. Kemudian Boby mengambil Athar dari gendongan dokter Sigit.
" Halo anak papa?" sapa Boby pada Athar yang kini telah berpindah dalam gendongannya. " Kangen nggak nih sama papa? Kalau papa kangen banget lho. " tambahnya sambil menciumi pipi dan kening Athar. Membuat si Athar tertawa.
" Novia, sudah ada suamimu. Saya permisi dulu. " pamit dokter Sigit.
" Oh, iya mas. Sampai jumpa lagi. " jawab Novia.
Mendengar sang istri memanggil dokter itu dengan panggilan 'mas' membuat Boby spontan memandang Novia dan dokter Sigit bergantian.
" Sampai ketemu lagi. Mari, pak Boby.. Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. " jawab Boby dan Novia bersamaan.
" Lani, kamu bisa kembali dulu sama mang Diman. Biar saya yang nemenin nona jalan-jalan. "
Lani yang semenjak tadi menyaksikan semuanya hanya diam saja.
" Baik, tuan. "
Lani segera berlalu dari hadapan Boby dan Novia. Kini tinggallah Novia dan Boby juga Athar.
" Sudah dapat yang kamu cari? " tanya Boby ke Novia.
" Kamu mau cari apa? "
" Cari baju buat Athar. Bajunya udah pada kekecilan. " jawab Novia sambil berlalu untuk memilih baju buat Athar.
Boby segera mengikuti Novia, tangan kiri menggendong Athar, dan tangan kanan mendorong stroller Athar.
Karena Boby juga ingin memilihkan baju buat Athar, dia segera mendudukkan Athar di atas stroller.
Kemudian mereka memilih baju buat Athar. Banyak sekali drama antara Boby dan Novia ketika berbelanja untuk Athar. Boby mengambil semua baju yang tadi sudah di pegang oleh Novia. Sedangkan Novia tidak menyukai baju-baju itu. Maklum lah, hal ini adalah pengalaman pertama mereka berbelanja untuk keperluan si kecil.
Setelah membeli baju, kini mereka menuju ke store perlengkapan baby. Mereka membeli bedak, minyak telon, pampers, sabun,sampo, dan masih banyak lagi.
Dari store perlengkapan baby, Boby mengajak Novia ke toko mainan. Di sana Boby seperti gelap mata. Hampir semua jenis mainan anak laki-laki yang ada di situ, di beli semuanya. Novia hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkomentar sedikit pun. Karena kalau dia memprotes, maka akan ada drama lagi.
" Kita mau kemana lagi sekarang? " tanya Boby.
" Aku mau beli baju yang resletingnya di depan. Biar gampang kalau mau menyusui. " jawab Novia sambil berjalan.
Boby mengangguk. Si kecil Athar rupanya sudah tertidur pulas dalam strollernya.
Novia masuk ke salah satu toko baju muslim yang ada di mall itu. Dia memilih-milih beberapa baju di sana. Setelah mendapatkannya, dia segera ke kasir untuk membayar. Setelah membayar, Novia menuju tempat duduk di mana tadi Boby bilang mau menunggunya.
Ketika bertemu, Novia terkejut Boby membawa beberapa paper bag.
" Beli baju juga mas?"
__ADS_1
" Nggak. Baju buat kamu."
" Hah? Kan aku udah beli. "
" Iya aku tahu. Tapi aku pengen beliin baju buat kamu. Kalau aku bilang mau bayarin belanjaan kamu pasti kamu nggak mau. "
" Tapi aku udah beli. Belum tentu juga aku suka sama yang kamu beli. " jawab Novia semaunya.
Sabar, Boby. Istri kamu mulutnya lumayan pedes. Ups!!
Boby hanya bisa menghela nafas berat mendengar jawaban dari istrinya.
" Nggak pa-pa kalau memang kamu nggak suka. Setidaknya, kamu terima pemberianku. Semenjak menikah, kamu tidak pernah menerima pemberianku. Bahkan gold card yang aku kasih ke kamu dulu, isinya masih utuh. " jawab Boby dengan nada memelas.
" Hmm. " jawab singkat Novia.
Sebenarnya Novia tidak bermaksud menjawab seperti itu. Tapi kalau dia teringat kelakuan Boby dulu, mulutnya sungguh tidak bisa di rem.
" Mau beli apalagi sekarang? "
" Udah. Kita pulang aja. "
" Kita makan malam dulu di sini sekalian. "
Novia mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju food court yang ada di mall itu. Mereka makan di Chinese restourant.
Sampai di restoran, Athar terbangun. Sepertinya si gembul itu lapar. Novia menggendongnya sambil menimang-nimang. Tapi si kecil tetap saja menangis. Akhirnya Novia menyusui Athar di situ. Meskipun mereka berada di private room, tapi Novia masih agak canggung kalau harus menyusui di depan Boby. Untung saja dia memakai Khimar panjang. Jadi dia bisa menutupi bagian depan tubuhnya ketika menyusui Athar
" Sejak kapan kamu panggil di dokter itu dengan mas? "
" Hah?" Novia terkejut dengan pertanyaan Boby.
" Sejak kapan kamu panggil dokter Sigit dengan panggilan mas? "
" Oh, sejak di rumah sakit. Dia sendiri yang minta untuk nggak di panggil dokter kalau kita ketemu di luar. "
" Kamu tahu kan, aku nggak suka sama dia. Dia tuh suka sama kamu. "
" Mau diperpanjang lagi masalah ini? Kita udah pernah bahas ini. "
Boby mengelus tengkuknya dan menghela nafas berat. Dia ingat waktu di rumah sakit dulu. Masalah yang sama yang membuat dia mati kutu. Dan membuat Novia tidak mau bicara dengannya selama berhari-hari.
Kemudian dia menggeleng. Menandakan kalau dia tidak akan membahas masalah ini lagi.
" Aku cuma pengen kamu tahu. Aku cemburu. Karena aku sangat mencintai dan menyayangi kamu. "
" Hm " jawab Novia singkat sambil menghela nafas berat.
Sebenarnya Novia juga sudah capek merasakan ini semua. Dia ingin bisa berpikir jernih. Dia ingin permasalahan di hidupnya ini selesai. Dia ingin menyelesaikan semuanya.
***
bersambung
__ADS_1