
"Gapapa, Van," ucap Keyna.
Panggilan Keyna tentunya membuat Devan terkejut, biasanya Keyna memanggilnya, Dev. Tapi, baru saja tadi Keyna memanggilnya, Van, dimana bagi dunia mafia dan bisnis nama Devan terkenal dengan panggilan, Dev.
"Kita masuk kedalam jangan diluar," ucap Devan dan diangguki Keyna.
Keyna pun melepaskan pelukan tersebut dan masuk kedalam mansion. Keyna saat ini berada di kamarnya, sedangkan, Devan sedang berada di kamar mandi.
"Aku harus bilang ke Devan," gumam Keyna dan beberapa saat kemudian, Devan pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian lengkapnya.
"Van, ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Keyna.
"Apa?" tanya Devan.
"Hem, sini bentar deh," ucap Keyna.
Devan pun akhirnya berdiri didepan Keyna yang sedang duduk di sofa.
"Ini," ucap Keyna lalu memberikan Devan hasil testpack yang tadi ia gunakan.
"Maksudnya ini apa? kau hamil?" tanya Devan dengan raut wajah yang dibuat terkejut, Devan sudah tahu semuanya karena Dokter sudah mengatakan jika Keyna kemungkinan sedang hamil.
"Iya, maaf," lirih Keyna sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa minta maaf?" tanya Devan lalu duduk disamping Keyna.
"Karena aku telah mengecewakanmu dengan mengandung anak yang tidak kamu inginkan," lirih Keyna.
Devan tidak habis pikir dengan pikiran Keyna, meskipun memang benar apa yang Keyna pikirkan, Devan memang tidak menginginkan anak yang dikandung Keyna, tapi Devan tidak tega bahkan tidak ingin menghilangkan nyawa anaknya sendiri.
Entah karena apa, Devan pun memeluk Keyna dengan erat, "Kamu tidak perlu meminta maaf bagaimanapun semuanya karena aku, aku tidak akan menyalahkanmu apalagi menyalahkan anak yang sedang kamu kandung karena bagaimanapun dia juga anakku, sekarang kamu harus fokus dengan kesehatanmu, jangan terlalu memforsir tubuhmu, ingat kamu tidak sendirian sekarang," ucap Devan.
Keyna merasa ada hal yang berbeda dari Devan, ia tersenyum dan menatap Devan, "Terima kasih," ucap Keyna lalu memeluk Devan.
"Kalian ini mentang-mentang udah nikah jadi peluk-pelukkan sampai gak denger Mama panggil," ucap Mama Vanka.
"Mama kok disini?" tanya Devan.
"Memangnya kenapa kalau Mama disini? gak boleh apa?" tanya Mama Vanka.
"Devan gak bilang Mama gak boleh disini loh, Devan cuma bilang kok Mama ada disini," ucap Devan.
"Terserah, Mama kesini cuma mau ngelihat menantu Mama, Mama gak tahu kenapa kok tiba-tiba kangen banget sama Keyna, ayo sayang kita keluar kita tinggalin suami kamu ini," ajak Mama Vanka lalu menghampiri Keyna dan memegang tangan Keyna.
Saat memegang tangan Keyna, Mama Vanka melihat sesuatu yang sedang dipegang Devan, dimana hal itu sangat mencolok dimatanya, "Ini apa?" tanya Mama Vanka lalu merampas sesuatu yang dipegang Devan.
"Aaaa!" teriak Mama Vanka saat melihat barang tersebut.
__ADS_1
"Sayang ini beneran? Mama kena prank kan, kamu hamil kan?" tanya Mama Vanka dengan histeris.
"I-iya, Ma," jawab Keyna.
"Aduh, Mama seneng banget akhirnya Mama bakal punya cucu kedua," ucap Mama Vanka lalu memeluk tubuh Keyna.
"Ma, jangan kenceng-kenceng nanti anak Devan kegencet," ucap Devan dan memisahkan pelukan Mama Vanka dan Keyna.
"Mana ada anak kamu kegencet," omel Mama Vanka.
"Kamu udah periksa ke Dokter kandungan belum?" tanya Mama Vanka.
"Sebenarnya kemarin Keyna udah ke rumah sakit dan disuruh ke dokter kandungan, tapi Keyna mau mastiin dulu pake testpack dan ternyata hasilnya positif," ucap Keyna.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang buat periksa cucu Mama," ucap Mama Vanka.
"Ma, besok aja ya, hari ini Keyna biar istirahat," ucap Devan.
"Sekarang Devano Radya Erland," ucap Mama Vanka.
"Tapi, Ma...," ucapan Devan terhenti lantaran Mama Vanka menyelanya.
"Gak ada tapi-tapian, kamu mau kan sayang?" tanya Mama Vanka.
"Keyna sebenarnya mau sih, Ma. Tapi, ini udah mulai sore, Keyna juga lumayan capek hari ini, Ma, jadi gimana kalau besok aja," ucap Keyna.
"Ma," rengek Devan, ini pertama kalinya Keyna melihat Devan merengek.
"Apa!" sentak Mama Vanka.
"Gimana sayang kamu mau kan?" tanya Mama Vanka dengan lembut ke Keyna.
"Iya, Ma, Keyna mau kok hari ini tidur sama Mama," ucap Keyna.
"Keyna, kok malah milih tidur sama Mama sih," ucap Devan dengan kesal, entahlah apa yang ada dipikiran Devan, ia seolah tidak rela jika ditinggal Keyna barang sedetik saja.
"Dev, kamu tidur di kamar tamu biar Mama dan Keyna tidur disini," ucap Mama Vanka.
"Mama tega nyuruh Devan buat tidur di kamar tamu," ucap Devan.
"Tegalah, udah jangan banyak drama mending kamu pergi," ucap Mama Vanka lalu menarik tangan Devan hingga keluar dari kamarnya sendiri lalu Mama bela dengan teganya mengunci kamar tersebut agar Devan tidak mengganggu mereka.
.
"Tuan," panggil Mike.
"Hem," jawab Devan.
__ADS_1
"Maaf Tuan, dibawah ada Tuan Joseph," ucap Mike.
"Mau apa dia kesini? apa dia sudah gila masuk kedalam kandang musuhnya," ucap Devan lalu keluar mansion dan menuju taman yang cukup jauh dari mansion.
"Mau apa kau kesini?" tanya Devan.
"Sangat tidak cerdik, itulah Tuan Devan," ucap Joseph.
"Kau tahu, aku tidak suka berbicara panjang lebar dengan orang yang tidak penting jadi lebih baik kau katakan apa tujuanmu datang kesini?" tanya Devan.
"Baron," ucap Gerald.
"Kenapa memangnya dengannya? kenapa kau menyebut nama busuknya?" tanya Devan.
"Ck, aku sudah tahu semuanya Tuan Devan yang terhormat, kau menyuruh Baron untuk memata-matai keluargaku bukan, tapi aku rasa kau sangat ceroboh," ucap Joseph dan Devan hanya mengangkat alis kanannya.
"Kau tidak perlu bertele-tele lagi cepat katakan apa yang ingin kau katakan, tapi jika memang tidak ada lebih baik kau pergi dari mansion ku atau aku bisa panggilkan anak buahku untuk mengusirmu," ucap Devan.
"Padahal niatku baik kesini, tapi sepertinya Tuan Devan tidak senang aku disini, baiklah aku akan pergi dari mansion mewah milik Tuan Devan," ucap Joseph.
"Ah, satu lagi, lebih baik Tuan Devan segeralah selamatkan mata-mata Tuan itu, takutnya nanti Tuan terkejut karena mendengar kabar mengenai kepergiannya," ucap Joseph.
"Apa aku terlihat peduli dengan ucapanmu, tidak. Terserah kau mau lakukan apapun pada mata-mataku yang bodoh itu karena aku tidak pernah menganggapnya sebagai mata-mata kepercayaanku," ucap Devan.
"Sepertinya Tuan Devan melakukan pengkhianatan, aku tidak tahu bagaimana reaksi mata-mata itu saat tahu Tuan Devan tidak peduli dengannya," ucap Joseph yang sengaja memancing amarah Devan.
Tapi, Joseph lupa akan satu hal dimana ia lupa jika Devan adalah pria yang sangat mudah menebak bagaimana sikap dan tindakan yang akan dilakukan oleh musuhnya.
"Kau lupa, aku itu bukan orang yang mudah ditipu, untuk apa aku mengirimkan mata-mata yang akhirnya pun aku tahu dia bakal mengkhianatiku, apa kau sedang ingin bermain-main denganku, aku hanya menyarankan agar kau tidak mendekat ke arahku karena aku sudah mendapatkan semuanya yang aku butuh darimu dan itupun tanpa bantuan dari orang yang sedang kau sekap itu," ucap Devan.
Kalah, itulah yang Joseph rasakan padahal ia berada disini untuk memanas-manasi Devan lalu memintanya untuk bekerjasama dengan perusahaannya tapi ternyata gagal, ia tidak tahu jika Devan mengetahui rencananya bahkan Devan tahu jika saat ini Joseph sedang menyekap Baron.
"Aku akui Tuan Devan memang sangat pandai dalam menaklukkan lawan, bahkan aku pun mengakui jika aku kalah telak dari Tuan Devan," ucap Joseph.
"Sekarang aku berikan kau pilihan, kau mau disini terus atau kau pergi dari sini, kesempatan ini tidak akan ada dua kali," ucap Devan.
"Baik aku akan pergi, terima kasih atas kejutannya Tuan Devan," ucap Joseph lalu pergi dari mansion mewah Devan.
"Mike, cari tahu apa yang pria bodoh itu lakukan pada Baron!" perintah Devan.
"Baik Tuan," ucap Mike.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.