Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Baikan


__ADS_3

Setelah mendengar kabar mengenai Devan yang sudah sadarkan diri, Keyna pun langsung kembali ke rumah sakit padahal ia sudah dalam perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah sakit, Keyna langsung menuju kamar inap Devan dan benar saja saat ia masuk ke dalam kamar inap Devan, Devan sudah sadarkan diri dengan Mama Vanka dan Mama Bella yang ada di kamar inap tersebut.


"Sayang, sini Devan udah bangun," ucap Mama Vanka.


Keyna pun menghampiri Mama Vanka dan Devan, "Gimana keadaan kamu? apa masih ada yang sakit?" tanya Keyna.


"Aku gapapa kok, sekarang udah mendingan juga," ucap Devan dan diangguki Keyna.


"Mama tinggal dulu ya, kalian selesaikan masalah kalian," ucap Mama Bella dan diangguki Mama Vanka.


Setelah itu, Mama Bella dan Mama Vanka pun keluar dari kamar inap Devan, di dalam kamar tersebut hanya tinggal Devan dan Keyna. Suasana ruangan itu menjadi aneh bahkan terkesan canggung.


"Key," panggil Devan yang akhirnya bersuara terlebih dahulu.


"Iya, kenapa? kamu butuh sesuatu? atau ada yang sakit?" tanya Keyna yang terlihat jelas jika ia khawatir pada Devan.


"Bukan itu," ucap Devan.


"Terus?" tanya Keyna.


"Apa kamu sudah mengajukannya ke pengadilan?" tanya Devan.


"Mengajukan ke pengadilan?" tanya Keyna.


"Iya, kamu sudah mengajukan gugatan perceraian kita ke pengadilan, aku kan sudah kasih stempelku ke kamu atau masih proses?" tanya Devan.


Keyna yang mendengarnya pun terkejut lalu menatap Devan kecewa, "Jadi, kamu berharap kita pisah?" tanya Keyna.


"Aku bukan berharap, tapi kamu kan yang ingin pisah dariku karena aku seorang mafia. Jadi, aku hanya mempermudah apa yang kamu inginkan yaitu berpisah dariku," ucap Devan.


"Kalau aku tidak mau pisah bagaimana?" tanya Keyna.


"Hahahaha, kamu lucu ya Key. Mana mungkin kamu gak mau pisah sama mafia kayak aku, aku ini udah bunuh puluhan orang kayaknya lebih deh, lihat aku aja lupa udah berapa orang yang aku bunuh. Kamu harus bisa dapat laki-laki yang lebih baik dari aku, aku akan coba relakan kamu dengan laki-laki lain, tapi aku harap kamu masih memperbolehkan aku bertemu dengan Arsen karena bagaimanapun aku adalah Papa nya Arsen," ucap Devan.


"Kenapa kamu jadi kayak gini? katanya kamu mau bertahan sama aku, tapi sekarang kamu malah minta pisah sama aku disaat aku udah mau menerima kamu," tanya Keyna.


"Aku hanya merasa sadar diri, aku tidak pantas dengan perempuan yang begitu baik. Aku yakin banyak laki-laki yang lebih mampu membahagiakan kamu dan juga Arsen...," ucapan Devan terhenti karena perlakuan Keyna padanya.


Ya, Keyna menghentikan ocehan Devan dengan mencium bibir Devan, bibir yang sudah lama tidak ia rasakan karena amarahnya yang ingin pisah dari Devan.


Ciuman tersebut semakin intens dengan Keyna yang memimpin, Devan awalnya tidak ingin membalas ciuman tersebut pun akhirnya tergoda dan membalas ciuman sang istri bahkan Devan saja kewalahan dengan ciuman yang diberikan Keyna.


Beberapa saat kemudian, Keyna pun mengakhiri ciuman, "Apa kamu masih mau pisah? apa kamu belum percaya dengan apa yang aku katakan tadi jika aku tidak ingin pisah dari kamu, asal kamu tahu kalau itu tadi serius?" tanya Keyna.


"Tapi, kenapa kamu berubah cepat sekali, Key?" tanya Devan.


"Setelah kamu pergi tanpa kabar waktu itu, aku langsung berpikir untuk menerima kamu kembali dan baru empat hari yang lalu aku tahu kalau kamu koma selama satu bulan lebih, kamu pikir aku berubah cepat," ucap Keyna.

__ADS_1


"Maaf sayang," ucap Devan dan mengecup leher Keyna.


"Aku yang minta maaf karena aku kamu jadi kayak gini, aku yang terlalu egois dan mementingkan perasaanku," ucap Keyna.


"Kamu gak salah apa-apa sayang," ucap Devan dan menarik Keyna lalu memeluk erat sang istri.


Cukup lama mereka berpelukan tiba-tiba saja pintu kamar tersebut terbuka dan menampilkan Mama Vanka, Mama Bella dan juga baby Arsen yang berada di gendongan Mama Vanka.


"Cieee, Mama sama Papa nya baby Arsen udah baikan nih," ucap Mama Vanka pada baby Arsen.


Baby Arsen sendiri langsung heboh dengan berceloteh, tertawa dan juga menggerakkan tubuhnya seolah-olah ingin menghampiri Devan dan Keyna.


Mama Vanka pun memberikan baby Arsen pada Keyna, "Aduh, sayangnya Mama," ucap Keyna dengan mengecup pipi baby Arsen.


Namun, baby Arsen tidak mau diam dan menggerakkan tangannya ke arah Devan, "Baby mau sama Papa ya," ucap Devan.


"Eh, sama Mama dulu ya sayang soalnya Papa masih sakit loh," ucap Keyna.


"Aku udah gapapa kok, mana biar baby Arsen aku aja yang gendong. Lihat baby Arsen udah kayak cacing kepanasan gitu," ucap Devan.


"Ish, anaknya sendiri juga di bilang kayak cacing kepanasan," ucap Keyna dan ruangan tersebut pun di penuhi gelak tawa.


Malam harinya, Keyna masih sibuk dengan baby Arsen yang tidak mau diam karena teman-temannya sudah pergi.


Ya, kabar mengenai Devan yang sudah sadarkan diri membuat orang-orang terdekatnya terkejut pasalnya tidak ada yang tahu jika Devan sakit, namun setelah penjelasan Mama Vanka dan Mama Bella akhirnya mereka pun mengerti.


Beberapa keluarga sudah ada yang datang menjenguk Devan begitupun dengan keluarga Celine, Kak Acha dan juga Kak Kelvin tentunya membawa anak-anak mereka sehingga baby Arsen pun bermain dengan anak-anak yang lain, tapi setelah mereka pulang baby Arsen justru rewel.


Karena baby Arsen terus saja menangis, Keyna pun berniat membawa baby Arsen keluar kamar inap Devan agar Devan dapat tidur dengan nyenyak.


Baru saja Keyna akan berjalan menuju pintu tiba-tiba saja suara Devan mengejutkannya, "Mau kemana?" tanya Devan.


Keyna pun membalikkan tubuhnya dan menatap Devan dengan tersenyum, "Mau bawa baby Arsen keluar sebentar ya soalnya daritadi baby Arsen rewel, kamu istirahat aja gapapa. Aku sama baby Arsen gak bakal ganggu kamu kok," ucap Keyna dengan hati-hati karena takut Devan marah.


Namu,n Keyna tidak tahu saja jika perkataannya justru membuat Devan marah dan menatap tajam sang istri, "Sini," perintah Devan.


"Kenapa?" tanya Keyna dan menghampiri Devan.


"Tidur di sini," ucap Devan.


"Eh, aku masih belum ngantuk," ucap Keyna saya Devan menarik lengannya agar tidur di ranjang tersebut.


Ranjang tempat Devan memang cukup luas karena Devan menggunakan kamar VIP sehingga tentunya fasilitas yang didapatkan Devan tidak kaleng-kaleng.


"Sini," ucap Devan lagi dan entah karena apa Keyna merasa takut pada Devan.


Akhirnya Keyna pun naik ke ranjang dan duduk di samping Devan, "Mana baby Arsen nya," ucap Devan.


"Tapi, kamu daritadi udah gendong dan jaga baby Arsen loh padahal kamu masih sakit," ucap Keyna.

__ADS_1


"Sayang, mana baby Arsen," ucap Devan lagi dan akhirnya Keyna pun memberikan baby Arsen yang sejak tadi rewel pada Devan.


Keyna akui jika baby Arsen adalah gen dari Devan karena baru saja di gendong Devan, baby Arsen sudah diam dan berhenti rewel.


"Kok gak rewel sama Papa sih, kalau sama Mama aja rewel daritadi," ucap Keyna dan mengecup pipi baby Arsen.


"Baby pinter ya," ucap Devan.


Tak lama setelah itu, Devan pun berhasil menidurkan baby Arsen dan Devan menaruh baby Arsen pada box bayi yang sudah ia mintakan sebelumnya ada rumah sakit.


Setelah baby Arsen yang terlelap di box bayi, Devan pun menghadap pada sang istri yang masih menatap baby Arsen.


Saat Keyna tengah fokus pada baby Arsen, Devan pun langsung memberikan ciuman ganas pada Keyna dan tak lupa Devan juga merebahkan tubuh mereka di ranjang rumah sakit.


"Sayang, kita belum pernah coba di ranjang rumah sakit loh," bisik Devan setelah melepaskan ciumannya.


"Jangan macam-macam ya, ini masih di rumah sakit," ucap Keyna.


"Gak macam-macam kok, mungkin cuma satu macam aja," ucap Devan.


"Ish, jangan gitu aja. Nanti aja kalau di rumah," ucap Keyna.


"Berarti aku udah izin ya kalau di rumah," goda Devan.


"Kamu mah," ucap Keyna dengan suara yang cukup keras.


"Hust, jangan keras-keras nanti baby Arsen nya bangun loh sayang," bisik Devan.


"Eh, iya lupa. Kamu jangan godain aku terus nanti aku lempar kamu pake bantal mau apa," ucap Keyna.


"Kamu lupa aku siapa, aku ini Devan loh," ucap Devan.


"Kenapa emangnya? kamu mau lempar aku pakai panah atau pakai senjata tajam lainnya?" tanya Keyna.


Bukannya menjawab, Devan justru kembali mengecup bibir yang sudah menjadi candunya itu.


"Aku gak mau bahas itu lagi oke, aku sayang, cinta dan gak mau kehilanganmu ku. Asal kamu tahu aja aku rela mati buat kamu, jadi jangan bicara yang kayak gitu," bisik Devina yang terkesan menakutkan bagi Keyna.


"I-iya," jawab Keyna gugup.


"Aku gak nakutin kamu sayang, jadi kamu jangan takut sama aku ya," ucap Devan dan diangguki Keyna.


Setelah itu, mereka berdua pun tidur dengan berpelukan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2