
Saat ini Devan dan Keyna tengah beristirahat setelah seharian lelah mengurus baby Arsen yang semakin aktif, namun di tengah istirahatnya tiba-tiba ponsel Devan berdering.
Devan pun bangun dan melihat siapa yang menelpon dini hari, setelah melihatnya Devan pun memutuskan untuk menuju balkon lalu ia mengangkat sambungan telepon tersebut.
^^^Ada apa?^^^
Begini, Tuan. Beberapa tahanan tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
^^^Kenapa mereka bisa tidak sadarkan diri?^^^
Sepertinya ada yang sengaja meracuni mereka bahkan ada tahanan yang meninggal dunia.
^^^Apa tahanan nomor satu baik-baik saja?^^^
Untuk tahanan nomor satu baik-baik saja Tuan, hanya saja dia muntah-muntah dan juga mengigau.
^^^Aku akan segera ke markas, kau cari tahu semuanya.^^^
Baik, Tuan.
Setelah itu, Devan pun memutuskan sambungan telepon tersebut. Devan masuk ke dalam kamar dan melihat Keyna dan juga baby Arsen yang masih terlelap.
Devan bersiap-siap untuk ke markas saat ini juga, baru saja ia menggunakan jaketnya tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakangnya dan Devan yakini adalah Keyna.
Devan membalikkan tubuhnya dan benar saja Keyna yang memeluknya, Keyna memeluknya begitu erat dan menyembunyikan wajahnya tepat di dada bidang Devan.
"Kenapa hem?" tanya Devan.
"Kamu mau kemana?" tanya Keyna.
"Aku ada urusan sebentar aja ya, aku pulang cepet kok," ucap Devan.
Keyna mendongak dan menatap wajah tampan sang suami, "Ikut," ucap Keyna.
"Gak bisa sayang, aku ada urusan bentar kok gak sampe satu jam. Kamu lanjut istirahat aja ya kan kamu capek banget seharian ngurus baby Arsen," ucap Devan.
"Kamu mau ke markas kan, aku ikut pokoknya," ucap Keyna yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan ya sayang, kamu di rumah aja," ucap Devan.
"Kenapa aku gak boleh ikut? kamu mau bunuh orang ya?" tanya Keyna.
"Astaga sayang, untuk apa aku bunuh orang. Aku gak bunuh orang, aku emang ada urusan yang penting dan kamu gak boleh ikut, kamu harus di rumah nanti kalau baby Arsen tiba-tiba nangis gimana," ucap Devan yang mencoba bersabar dengan sikap Keyna.
"Gak mau, pokoknya aku mau ikut," ucap Keyna.
"Gak bisa sayang, kamu lebih baik di rumah aja ya," ucap Devan.
Devan sendiri mulai tersulut emosi dengan sikap Keyna, tapi Devan tetap tenang dan tidak ingin membentak Keyna karena ia tahu Keyna pasti berpikir yang gak-gak tentangnya.
"Aku ikut!" ucap Keyna.
__ADS_1
"Key, bisa nurut gak sih. Aku beneran ada urusan dan kamu gak boleh ikut," ucap Devan yang akhirnya bersikap tegas pada Keyna dan terkesan membentak.
Keyna yang mendengar Devan memanggilnya dengan namanya dan bukan panggilan sayang seperti biasanya pun tersadar jika Devan tengah marah.
'Devan marah ke aku, dia gak bakal bunuh aku kan,' ucap Keyna dalam hati.
Entahlah pikiran Keyna masih buruk tentang Devan, ia takut membuat Devan marah dan akhirnya ia yang akan menjadi korban.
Keyna pun melepaskan pelukannya, "I-iya, aku di rumah aja. Ka-kamu hati-hati ya," ucap Keyna dan berjalan menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Devan yang sadar akan ucapannya pun langsung menghampiri sang istri, "Sayang, aku gak bermaksud bentak kamu tadi," ucap Devan.
"I-iya, aku tahu kok. Kamu pergi aja gapapa, lagian bener kata kamu nanti kalau baby Arsen nya kebangun gimana," ucap Keyna.
"Sayan, maaf," sesal Devan.
"Iya, gapapa," ucap Keyna.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya, aku pasti pulang cepet kok," ucap Devan dan mengecup kening Keyna.
Lalu setelah itu, Devan keluar dari kamar tersebut dan ia pergi menuju markas.
Keyna yang melihat hal itupun tidak dapat menahan tangisnya, "Kenapa juga aku nangis sih, aku kok aneh gini dikit-dikit nangis. Kayaknya aku jadi sensitif banget deh akhir-akhir, ini," gumam Keyna dan akhirnya ia kembali terlelap.
Disisi lain, Devan yang sampai di markas pun langsung menghampiri Wilson, "Bagaimana?" tanya Devan.
"Sepertinya Erika yang melakukannya Tuan," ucap Wilson.
"Iya, Tuan," ucap Wilson.
"Dimana dia sekarang?" tanya Devan.
"Erika sudah meninggal Tuan," ucap Wilson.
"Apa maksudmu? dia sudah meninggal?" tanya Devan.
"Iya, Tuan. Sebelum Erika meninggal, dia bilang dia sudah mengirimkan pesan pada Tuan," ucap Wilson.
"Lalu bagaimana keadaan para tahanan?" tanya Devan.
"Untuk tahanan semuanya baik-baik saja Tuan, hanya ada dua yang meninggal yaitu tahanan nomor 12 dan tahanan nomor 3," ucap Wilson.
"Kenapa tidak semuanya saja yang meninggal dengan begitu aku tidak perlu membunuh banyak orang bukan," ucap Devan dengan senyum devil nya.
"Aku akan memeriksa para tahanan," ucap Devan dan menuju penjara bawah tanah.
Sesampainya di penjara bawah tanah tersebut, Devan melihat tempat tersebut yang sudah cukup bersih tidak seperti sebelumnya.
Devan menghampiri tahanan nomor satu, "Selamat malam Zyan, apa kau sudah bertemu dengan istriku? bagaimana dia? dia cangik bukan," tanya Devan.
Ya, Zayn adalah tahanan nomor satu yang merupakan sahabat Devan dan orang yang disukai Hilya yaitu perempuan yang disukai Devan dulu, tapi Hilya memilih untuk bunuh diri karena cintanya di tolak oleh Zyan dan Zayn justru menyukai perempuan lain dan berniat untuk menikahinya.
__ADS_1
Zayn juga yang menjadi penyebab Devan menikah dengan Keyna, Zayn begitu menyukai Keyna dan hampir saja melamar Keyna pada Mama Bella dan Papa Erwin secara langsung.
Tapi, Devan terlebih dahulu mengurungnya di penjara bawah tanah ini dan berakhirlah Zayn di sini sampai sekarang.
"Selamat atas pernikahanmu dan aku rasa istrimu sudah melahirkan karena saat bertemu dengannya waktu itu, perutnya sudah besar," ucap Zayn yang begitu ramah pada Devan.
"Ya, dia sudah melahirkan, aku sekarang seorang Ayah," ucap Devan.
"Apa dia laki-laki?" tanya Zayn.
"Ya, kau benar. Dia laki-laki," ucap Devan.
"Pasti dia tampan sepertimu," ucap Zayn.
"Tentu, aku memilih gen yang kuat sehingga anakku dan Keyna mirip sepertiku," ucap Devan.
"Kau terlihat bahagia bersama Keyna," ucap Zayn.
"Tentu, aku bahagia dengan Keyna. Dia istriku dan juga belahan jiwaku," ucap Devan.
"Apa kau masih dendam dengan Keyna?" tanya Zayn.
"Hem, sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan balas dendam ku karena Keyna sudah berhasil merubah mafia kejam ini hingga jatuh cinta sedalam-dalamnya dengan dia," ucap Devan.
"Aku senang mendengarnya," ucap Zayn.
"Ya, kau harus senang karena melihat Keyna bahagia denganku," ucap Devan.
"Ya, aku sangat senang melihat Keyna bahagia denganmu, Van. Selamat ya karena kau berhasil membuat Keyna bahagia meskipun pada akhirnya bukan aku yang membahagiakannya," ucap Zayn dan tersenyum tulus pada Devan.
"Apa kau ingin menyusul Hilya?" tanya Devan.
"Tidak, aku tidak ingin menyusul Hilya karena aku belum menemukan kebahagiaan di dunia ini," ucap Zayn.
"Kau akan bahagia dengan Hilya nantinya jadi aku akan segera mengirim mu dengan Hilya," ucap Devan dan memutuskan untuk pergi dari penjara bawah tanah.
Devan tidak langsung pulang, ia terlebih dahulu menuju ruangannya dan memeriksa video yang di maksud Wilson diaman Erika yang sengaja mengirim pesan padanya.
Devan menyaksikan dengan seksama video terlebih dimana ia baru tahu ternyata dia menjadi anak buah Devan karena ia menyukai Devan dan ingin mendapatkan pengakuan dari Devan, tapi karena Devan yang tidak pernah melihat ke arahnya membuat Erika frustasi dan akhirnya meracuni semua tahanan agar ia tidak meninggal sendirian dan juga ia tidak tega melihat para tahanan yang kesakitan.
"Dasar perempuan tidak tahu diri," gumam Keyna dan mematikan ipad-nya.
Setelah itu, Devan pun memilih untuk pulang karena ia tidak tega meninggalkan Keyna sendirian di rumah lagipula Devan juga mengatakan jika ia hanya sebentar.
Sesampainya di rumah, Devan langsung membersihkan tubuhnya dan setelah itu Devan memilih tidur di samping Keyna tak lupa Devan juga mengecup kening sang istri dan juga memeluknya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.