
Detik selanjutnya pun terjadilah peristiwa yang membuat pertahanan Dika runtuh seketika, ia menangis sejadi-jadinya saat melihat tubuh Dion menjadi santapan hewan kesayangan Devan.
Dion dengan kondisi yang mengenaskan dimana tubuhnya sudah tidak berbentuk akibat terjangan dari Leon, siapapun yang melihatnya akan merasa kasihan begitupun dengan anak buah Devan yang merasa kasihan pada Dion.
Mereka lebih memilih memberikan Leon daging manusia, tapi dalam bentuk daging saja bukan dalam bentuk manusia seutuhnya.
Sedangkan Devan, ia biasa aja tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada dirinya bahkan ia senang karena musuhnya telah tiada.
"Bagaimana pertunjukannya bagus bukan? apa kau menikmatinya? aku harap kau menikmatinya," tanya Devan.
"Kau seharusnya sudah tau bagaimana sakitnya aku Dev, aku ingin sekali membalaskan dendam padamu, tapi aku tidak bisa apa-apa, aku harus memikirkan anak dan istriku," ucap Dika.
"Kau dan saudara bodoh mu itu memang ditakdirkan untuk kalah," ucap Devan lalu memutuskan sambungan tersebut.
"Biarkan dia disana, jangan ambil tulangnya," ucap Devan dan diangguki anak buahnya.
Devan pun melangkah meninggalkan markas dan menuju kediaman keluarga Erland, ia harus melihat kondisi Keyna yang saat ini Devan pastikan Keyna tengah ketakutan bahkan bisa saja akan menjadi trauma bagi sang istri.
Sesampainya di kediaman keluarga Erland, Devan langsung masuk kedalam mansion dan melihat Keyna yang tidur dengan kepala yang berada di paha Mama Vanka.
"Ma, biar Keyna, Devan pindahin ke kamar," ucap Devan.
Mama Vanka mengisyaratkan Devan untuk diam agar tidak berbicara, "Hush, jangan bicara keras-keras Keyna baru aja tidur, udah gapapa Keyna disini aja dulu daritadi dia nangis terus soalnya," bisik Mama Vanka dan diangguki Devan.
"Dev, ikut Papa ke ruang kerja," ucap Papa Alex.
Devan dan Papa Alex pun saat ini berada di ruang kerja Papa Alex, "Papa denger kamu bunuh Dion dengan menjadikan dia santapan Leon itu bener?" tanya Papa Alex.
"Iya, Pa," ucap Papa Alex.
"Papa kira kau akan memenggalnya dan menjual organnya, tapi kenapa kau malah memasukkan dia ke kandangnya Leon?" tanya Papa Alex.
"Kalau Devan memenggal kepalanya maka dia hanya merasakan sakit beberapa saat saja dan tubuhnya tetap utuh, tapi kalau aku memasukkan dia ke kandang Leon dan membuat dia menjadi santapan untuk Leon maka dia akan kesakitan karena Leon bukan, dan itu akan menyenangkan untukku, lagi pula aku tidak berniat untuk menjual organnya, organnya tidak pantas ada ditubuh manusia manapun yang ada di bumi," ucap Devan.
"Lalu Dika bagaimana?" tanya Papa Alex.
"Aku tidak akan membunuh Dika kecuali Kak Jeffry atau Kak Acha yang menginginkannya, untuk masalah Dika, aku serahkan semuanya ke Kak Jeffry dan Kak Acha, aku hanya menjadi pengawas saja karena yang paling berhak untuk memutuskan hidup dan matinya Dika itu hanya Kak Jeffry dan juga Kak Acha," ucap Devan.
"Papa mengerti jadi kau bicaralah dengan Kakakmu atau tidak bicara dengan Jeffry saja, Papa yakin Kakakmu pasti nantinya kepikiran jika membahas mengenai Dika," ucap Papa Alex dan diangguki Devan.
"Oh iya, kau harus mencoba membuka hatimu untuk Keyna, Keyna sekarang itu istrimu dia adalah prioritasmu, dulu kau memang suka bekerja hingga lupa waktu, tapi setelah kau menikah usahakanlah untuk tetap mengatur waktumu agar kau dan Keyna semakin dekat," ucap Papa Alex.
"Akan Devan usahakan untuk itu, kalau begitu Devan pergi," pamit Devan lalu keluar dari ruang kerja Papa Alex dan menuju ruang tamu yang masih ada Mama Vanka dan Keyna dengan posisi yang sama.
"Mama pasti capek sini biar Devan pindahin Keyna," ucap Devan dengan nada yang sangat pelan agar tidak membangunkan Keyna.
"Tapi, nanti kalau Keyna keganggu terus bangun gimana, gak ah biar kayak gini dulu kasihan Keyna-nya," ucap Mama Vanka dengan nada yang tak kalah pelan.
__ADS_1
"Tapi, nanti Mama yang kecapean," ucap Devan.
"Gapapa," jawab Mama Vanka.
Beberapa saat kemudian, Devan tidak tega melihat Mama Vanka yang seperti mulai kecapean, Devan pun menghampiri Mama Vanka dan menggendong Keyna, "Mama capek, lebih baik Mama istirahat, Devan bawa Keyna ke kamar dulu," ucap Devan lalu membawa Keyna ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Devan langsung merebahkan tubuh Keyna ke ranjang king size-nya dan untung saja Keyna tidak terganggu sama sekali dan tetap tidur.
Devan ikut merebahkan tubuhnya di samping Keyna dan memeluk erat sang istri hingga matanya pun mulai terpejam menuju alam mimpi seperti Keyna.
.
Keyna merasa tidurnya terganggu karena merasakan hembusan napas di leher jenjangnya, ia pun perlahan membuka matanya dan betapa terkejutnya saat Keyna melihat ke sekelilingnya yang ternyata saat ini ia berada didalam kamar.
Seingat Keyna tadi, ia tidur di ruang tamu dengan paha Mama Vanka sebagai bantalannya sebab Keyna tadi menangis tersedu-sedu setelah mengganti bajunya dan menceritakan semua kejadiannya kepada Mama Vanka dan Papa Alex.
Tapi, Keyna bingung karena saat bangun ia berada di dalam kamar. Keyna kembali tersadar saat merasakan sebuah pergerakan pada perut dan juga lehernya, Keyna pun melihat ke sampingnya dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tenang sang suami.
Keyna akui jika Devan sangat tampan dan damai dalam waktu bersamaan selama ia tidak membuka mata maksudnya Devan tetap tampan saat membuka matanya, tapi menakutkan bagi Keyna.
Maka dari itu inilah kesempatan bagi Keyna agar ia dapat melihat wajah damai Devan yang membuat Keyna nyaman jika berada didekatnya.
"Apa kau sudah puas menatap wajahku?" tanya Devan dengan suara khas bangun tidurnya, namun Devan tetap memejamkan matanya.
Sedangkan, Keyna sendiri yang kepergok telah menatap Devan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar dan mencoba menahan detak jantungnya yang berdetak cukup kencang, Keyna takut jika Devan dapat mendengar detak jantungnya.
Sehingga Devan berbicara pun dengan bibir yang masih berada di pipi kiri Keyna, sedangkan Keyna tidak berani melihat ke arah Devan karena Keyna pastikan jika ia menengok ke arah Devan maka bibir mereka akan bersentuhan.
"Apa jantungmu bermasalah?" tanya Devan.
"Hem, jan-jantungku baik-baik aja kok," ucap Keyna yang sangat kentara jika ia saat ini gugup.
"Hehehe, jika kau memang baik-baik saja, kenapa bicaramu gugup seperti itu?" tanya Devan tanpa merubah posisinya.
"Gapapa, kalau begitu aku mau mandi dulu terus makan," ucap Keyna.
"Keyna," panggil Devan saat Keyna mencoba melepaskan pelukan Devan.
"Ke-kenapa?" tanya Keyna yang menghentikan aksinya.
"Apa kau punya penyakit jantung? kenapa setiap kau berada di dekatku, aku bisa mendengar detak jantungmu yang tidak beraturan?" tanya Devan.
"Gak kok, udah aku mau pergi," ucap Keyna.
"Ada hal yang ingin kukatakan padamu," ucap Devan yang mulai serius.
"Apa?" tanya Keyna.
__ADS_1
"Nanti akan aku katakan, sekarang kamu mandi dan makan saja lagipula hari juga mulai gelap," ucap Devan dan diangguki Keyna.
"Dev," panggil Keyna.
"Kenapa katanya mau mandi terus makan? tapi kenapa kau tidak ke kamar mandi?" tanya Devan.
"Huh, bagaimana aku ke kamar mandi kalau kamu masih meluk aku kayak gini," ucap Keyna.
"Hem, kamu bisa pergi," ucap Devan yang dengan cepat melepaskan pelukannya, Devan pun merutuki kebodohannya yang tanpa sadar memeluk pinggang Keyna.
Setelah ritual mandinya, Keyna pun turun dan menuju meja makan yang ternyata disana sudah ada Kak Acha dan Kak Jeffry, "Astaga Keyna, Kakak kangen banget loh sama kamu!" teriak Kak Acha saat melihat Keyna berjalan menuju meja makan.
"Acha kamu lagi hamil jangan lari-lari," ucap Kak Jeffry.
"Hehehe, lupa," ucap Kak Acha.
"Devan mana sayang?" tanya Mama Vanka.
"Devan lagi mandi Ma, mungkin sebentar lagi dia turun," ucap Keyna.
"Keyna kamu gapapa kan?" tanya Kak Acha.
"Keyna gapapa kok Kak," jawab Keyna dengan memperlihatkan senyum manisnya.
"Asal kamu tau ya, tadi waktu Kakak denger kabar kalau kamu hampir di lecehkan itu Kakak marah banget tau, pengen Kakak hajar aja tuh orang terus masukin dia ke kebun binatang kalau bisa ke kandangnya singa sekalian," ucap Kak Acha.
Keyna yang mendengar ucapan Kak Acha pun tertawa apalagi Kak Acha mengatakannya dengan semangat, "Kakak ini bisa aja nanti biar aku bantu bawa dia ke kebun binatangnya kalau gitu," ucap Keyna.
"Oke, nanti bakal Kakak kabarin kamu ya, hehehehe," ucap Kak Acha yang semakin membuat Keyna tertawa.
Mama Vanka yang melihat sang menantu tertawa pun ikut senang karena sedari tadi Keyna hanya melamun dan menangis, hal itu tentunya membuat Mama Vanka sedih dan bingung harus bagaimana.
"Kenapa ini ramai sekali?" tanya Devan yang baru saja datang dengan wajah yang lebih segar.
"Bukan apa-apa kok, ini urusan cewek," ucap Kak Acha.
Devan pun merasa jengah dengan sikap Kak Acha karena jika ada Keyna, maka Kak Acha pasti akan mengacuhkan Devan sama halnya dengan Mama Vanka yang jika ada Keyna juga akan mengacuhkannya.
'Pasti nanti kalian akan membenciku jika tau yang sebenarnya,' ucap Devan dalam hati.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1