
"De-devan," panggil Keyna yang terkejut karena melihat Devan memukul para remaja pria yang telah mengganggu sang istri.
"Berani sekali kalian mengganggu istriku," ucap Devan.
"Ma-maaf Kak, kita gak tahu kalau Kakak itu sudah menikah," ucap salah satu remaja.
"Kalian tidak lihat perut besarnya hah, istriku lagi hamil harusnya kalian tidak boleh mengganggunya atau mata kalian sudah buat," ucap Devan dengan amarah yang meluap.
"Dev, udah aku gapapa kok," ucap Keyna.
Keyna juga menahan lengan Devan yang akan memukul kembali para remaja yang sudah babak belur itu.
"Gapapa gimana sih Key, kamu lihat kan tadi mereka godain kamu loh," ucap Devan.
Devan pun menghempaskan tangan Keyna dengan cukup kencang hingga tubuh Keyna terhuyung ke belakang.
Nun, Keyna tidak sampai terjatuh karena Devan yang menahan pinggang Keyna dan memeluknya sehingga Keyna tidak sampai terjatuh ke tanah.
"Maaf sayang," ucap Devan dengan mengelus punggung Keyna.
"I-iya, aku gapapa kok. Untung aja gak sampe jatuh tadi," ucap Keyna.
"Huh, aku tadi emosi sampai gak perhatiin kamu, maaf sayang," ucap Devan.
Setelah mengatakan itu, Devan pun membalikkan tubuhnya dan menatap para remaja yang masih terduduk di tanah.
"Untuk kali ini aku maafkan kalian, tapi jika kalian mengganggu istriku lagi maka hidup kalian dan keluarga kalian akan terancam," ucap Devan.
"Terimakasih Kak, kami janji gak akan ganggu istri Kakak lagi," ucap salah satu remaja.
"Hem, sekarang kalian pergi sebelum aku berubah pikiran," ucap Devan.
"I-iya, Kak," ucap mereka.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan Devan dan Keyna yang amish berpelukan seperti tadi.
"Kamu beneran gapapa?" tanya Devan yang melepaskan pelukannya dan melihat keadaan sang istri.
"I-iya, aku gapapa kok," ucap Keyna.
"Yaudah, sekarang kita pulang aja ya," ucap Devan.
"Loh kok pulang," ucap Keyna.
"Iya, aku gak bisa ngeliat kamu di godain sama cowok lain kayak tadi rasanya pengen aku bunuh aja mereka," ucap Devan.
"Hust, kayak bisa aja kamu bunuh orang," ucap Keyna.
Seketika Devan pun tersadar dengan apa yang ia ucapkan dan untung saja Keyna tidak curiga dengan perkataannya.
Devan hanya tersenyum saat mendengar perkataan Keyna, "Pokoknya kita pulang," ucap Devan.
"Ish, kalau tau gini aku tadi jalan-jalan sendirian aja," ucap Keyna dengan kesal.
"Eh, kok marah sih. Yaudah iya kita gak pulang, sekarang kita duduk aja dulu," ucap Devan dan mampu membuat Keyna kembali tersenyum.
"Key," panggil Devan.
__ADS_1
Keyna pun menoleh pada Devan, "Ada apa?" tanya Keyna.
"Hem, kamu mau kembalikan?" tanya Devan.
"Maksudnya?" tanya Keyna.
"Kamu mau kembali ke aku kan? kita balik ke kota dan pulang ke mansion terus kita mulai semuanya dari awal lagi, kamu mau kan?" tanya Devan.
Keyna pun terdiam saat mendengar pertanyaan Devan, cukup lama Keyna diam akhirnya Keyna pun menjawab meskipun dengan gugup.
"A-aku juga gak tahu harus gimana sama pertanyaan kamu, tapi aku gak mau gegabah takutnya keputusan yang aku ambil akan menjadi boomerang niat aku makanya aku belum bisa kasih jawaban sekarang," ucap Keyna.
Devan sendiri tersenyum mendengar jawaban Keyna karena ia tahu jika Keyna akan meminta waktu padanya.
"Aku tahu, aku akan menunggu sampai kapanpun kamu siap," ucap Devan dan diangguki Keyna.
"Kalau kau udah siap, tolong kabarin aku ya. Aku akan selalu datang saat kamu bilang siap untuk kembali padaku," lanjut Devan.
"I-iya," jawab Keyna.
"Kayaknya kita emang harus segera pulang," ucap Devan.
"Ish, kok pulang sih tadi katanya aku boleh di sini dulu," ucap Keyna kesal.
"Iya, aku tahu. Tapi, kita harus segera pulang karena mau hujan tuh kamu lihat awannya," ucap Devan dan menunjuk kearah langit yang memang sudah mendung.
"Kok udah mendung aja sih kayaknya daritadi gak ada tanda-tanda mau hujan deh, tapi ini malah mendung gini," ucap Keyna.
"Kamu mau pulang atau di sini terus?" tanya Devan.
"Ya, pulanglah. Emang kamu mau aku di sini terus kehujanan," ucap Keyna.
"Nah makanya itu, aku mau pulang," ucap Keyna.
"Iya iya," jawab Devan.
Baru saja mereka keluar dari area taman tiba-tiba saja hujan mulai turun, "Dev, hujan!" teriak Keyna.
"Iya, kita cari tempat buat neduh dulu," ucap Devan lalu menarik lembut tangan Keyna.
Mereka berdua saat ini berada di depan toko yang tutup tentunya dengan beberapa orang lainnya karena emang hujan cukup deras sehingga mengharuskan mereka untuk meneduh.
"Harusnya aku tadi langsung pulang kayak yang kamu bilang, eh aku malah milih duduk dan jadinya kayak gini deh," ucap Keyna.
"Kamu gak salah, emang belum beruntung aja kok," ucap Devan.
Devan yang melihat Keyna kedinginan pun segera merapatkan dirinya pada sang istri lalu tanpa ragu ia memeluk Keyna.
Keyna yang awalnya ingin protes dan melepaskan pelukan tersebut pun terhenti lantaran mendengar perkataan Devan.
"Udah biarin kayak gini aja, kamu kedinginan kan. Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-napa sayang," ucap Devan dan semakin mengeratkan pelukannya.
Sudah lebih dari 2 jam mereka di sana karena memang bukannya reda hujan justru semakin kencang dan disertai angin bahkan orang-orang juga masih bertahan di sana.
"Dingin banget ya," ucap Devan.
"Gak kok, aku gapapa," ucap Keyna.
__ADS_1
"Agak kesinian biar gak kedinginan," ucap Devan.
Karena Keyna memang kedinginan, ia lebih memilih untuk mendekatkan dirinya pada Devan dan ikut memeluk Devan.
Akhirnya setelah beberapa saat, hujan pun mulai reda. Akhirnya Devan dan Keyna memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di apartemen, mereka berdua langsung berganti pakaian. Devan memakai kaos milik William tentunya karen memang hany pakaian William yang ada di sana.
"Gila Key, Presdir Devan ganteng banget tuh," ucap Kikan.
Keyna pun melihat Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan merapikan rambutnya yang basah.
"Apa sih Kan, jangan jadi orang ketiga ya," ucap Keyna.
"Loh emangnya kamu masih mau sama Presdir Devan?" tanya Kikan.
"Ya iya lah, orang Devan itu suami aku gimana sih kamu," ucap Keyna.
"Cieee akhirnya diakuin nih," ucap Kikan.
"Ih kamu mah gak asik deh," ucap Keyna.
"Aku itu asik banget orangnya Key," ucap Kikan.
"Kenapa?" tanya Devan saat melihat wajah merah Keyna.
"Keyna lagi malu nih Presdir," ucap Kikan.
"Ku malu kenapa?" tanya Devan yang bingung dengan apa yang terjadi pada Keyna.
"Ya karena...," ucapan Kikan terhenti lantaran Keyna yang menyela perkataannya.
"Aku gak kenapa-napa kok, oh iya kamu gak pulang?" tanya Keyna.
"Kamu ngusir aku?" tanya Devan.
"Eh, gak gitu maksudku. Aku cuma takut aja ada tetangga yang tahu terus bilang yang gak gak ke kita," ucap Keyna.
" Emangnya kenapa kalau tetangga bilang yang gak gak? kan kita ini suami istri," tanya Devan.
"Ya, tapi kan mereka gak tahu kalau aku itu udah nikah," ucap Keyna.
"Nah maka dari itu biar para tetangga tahu kalau kamu udah nikah," ucap Devan.
"Devan," panggil Keyna.
"Kenapa istriku, sayangku, cintaku," jawab Devan yang mampu membuat Keyna semakin malu.
"Aduduh, ada yang udah mulai bucin nih. Kalau gitu aku pergi dulu ya dadah," ucap Kikan.
"Kamu mau kemana, Kan? bukannya toko sekarang tutup ya?" tanya Keyna.
"Iya, aku mau cari udara segar soalnya aku baru aja lihat orang bucin," ucap Kikan dan langsung pergi dari apartemennya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.