Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Maaf, Aku Salah.


__ADS_3

Sudah 3 hari Devan mencari Keyna dan tetap saja tidak menemukan keberadaan Keyna, "Kemana dia sebenarnya?" tanya Devan pada dirinya sendiri.


Devan merasa ada yang berbeda dengan dirinya, tapi entahlah Devan masih belum yakin dengan apa yang dia rasakan saat ini.


"Devan!" panggil Mama Vanka.


"Mama," panggil Devan dengan raut wajah terkejut melihat Mama Vanka.


"Kamu apa-apain menantu Mama?" tanya Mama Vanka.


"Devan gak apa-apain Keyna," ucap Devan.


"Mama gak percaya, kalau emang kamu gak apa-apain menantu Mama terus kenapa menantu Mama pergi?" tanya Mama Vanka dan menangis sambil memukul dada bidang Devan.


"Devan juga gak tahu, Ma," ucap Devan.


"Kamu pasti udah ngelakuin kesalahan sampai menantu Mama memilih pergi dari kamu hiks hiks," ucap Mama Vanka.


Hal itu juga yang dipikirkan Devan, tapi Devan merasa tidak melakukan kesalahan pada Keyna.


"Devan juga gak tahu, Ma. Seingat Devan, Devan gak pernah melakukan kesalahan," Tapi Devan.


"Gak mungkin menantu Mama pergi tanpa ada alasan, Van. Apa kamu sudah memperlakukan menantu Mama dengan baik?" tanya Mama Vanka.


"Iya, Ma. Devan udah memperlakukan Keyna dengan baik, semua yang Keyna butuhkan pasti Devan penuhi," ucap Devan.


"Ku memang memenuhi semua kebutuhan ekonomi menantu Mama, tapi kamu lupa jika Keyna itu seorang istri yang butuh perhatian dan kasih sayang kamu. Jangan anggap Mama gak tahu semuanya, Van," ucap Mama Vanka.


"Maksud Mama?" tanya Devan.


"Menantu Mama pasti merasa tertekan sama kamu dan juga keluarga Erland," ucap Mama Vanka.


"Hah! untuk apa Keyna tertekan padahal Devan tidak pernah menekan Keyna?" tanya Devan.


"Kamu tidak pernah menekan menantu Mama, itu hanya omong kosong. Mama sudah tahu semuanya Devan, kamu menikah dengan Keyna karena kamu tidak ingin dijodohkan kan," ucap Mama Vanka.


"Hah! ya gak lah, Ma. Untuk apa juga Devan kayak gitu," ucap Devan.


"Keyna pasti kurang percaya diri," ucap Papa Alex.


"Kurang percaya diri?" tanya Devan.


"Iya, sebenarnya Papa beberapa kali memerhatikan Keyna dan setelah Papa cari tahu, Papa melihat ketidakpercayaan diri Keyna selama dia menjadi istri kamu dan menantu keluarga Erland," ucap Papa Alex.


"Tapi, untuk apa Keyna tidak percaya diri? dia juga dari keluarga yang berkecukupan," tanya Devan.


"Keluarga Keyna tidak masuk dalam keluarga terkaya di negara A, jadi wajar jika Keyna merasa kurang percaya diri apalagi pandangan orang lain yang bukan keluarga Erland," ucap Papa Alex.


"Tapi, Mama gak pernah memikirkan itu, Pa. Mama sayang sama Keyna seperti anak sendiri hiks hiks," ucap Mama Vanka.


"Papa tahu, tapi ini juga diluar kendali kita. Keyna pasti merasa bimbang dengan pilihannya dan hasil akhirnya Keyna memutuskan untuk pergi meninggalkan semua rasa bimbang nya," ucap Papa Alex.


"Apa yang harus Devan lakukan sekarang?" tanya Devan.


"Ya kamu harus cari menantu Mama lah!" teriak Mama Vanka.

__ADS_1


"Ma, udah jangan kayak gitu. Keyna pasti ketemu kok," ucap Mama Vanka.


"Pa, tapi ini udah 3 hari dan Mama belum melihat menantu Mama bahkan Devan gak ngasih tahu kita kalau menantu Mama pergi hiks hiks," ucap Mama Vanka.


"Iya, sabar Ma. Devan pasti punya alasan tersendiri," ucap Papa Alex.


"Alasan apapun tidak membenarkan apa yang udah dilakukan Devan," ucap Mama Vanka.


"Iya, Papa tahu itu. Sekarang kita pulang ya, kita juga cari Keyna," ucap Papa Alex dan diangguki Mama Vanka.


"Ingat, Van. Kalau kamu gak serius dengan hubungan kamu dan menantu Mama, kamu bisa bilang ke Mama atau Papa kamu nanti biar kita yang sampaikan ke orangtua Keyna atau kalau kamu berani, kamu bisa langsung ke orangtua Keyna dan mengembalikan Keyna secara baik-baik," ucap Mama Vanka dan pergi meninggalkan Devan.


Devan benar-benar frustasi dengan apa yang ia hadapi sekarang bahkan selama jadi mafia Devan tidak pernah se-frustasi ini.


"Aaaargh!" teriak Devan.


Teriakan Devan tentunya membuat semua orang yang ada di rumah tersebut takut bukan main, mereka tentunya takut jika Devan melampiaskan amarahnya pada mereka.


Devan sendiri memilih pergi ke kamar dan mengurung dirinya disana.


"Apa yang harus aku lakukan, Key?" tanya Devan dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.


"Maaf, aku salah. Harusnya aku memperlakukan kamu seperti seorang istri yang sesungguhnya, aku sayang kamu, Key. Kau gak mau kehilangan kamu, aku gak akan kembalikan kamu ke orangtua kamu, aku akan berubah. Masa bodoh dengan balas dendam, aku tidak ingin kehilanganmu," gumam Devan.


"Rangga," lanjut Devan dan langsung menghubungi Rangga.


Namun, tidak ada jawaban dari Rangga dan hal itu membuat amarah Devan meluap, "Kemana dia? apa dia sedang bermain dengan j*langnya?" tanya Devan dan terus menghubungi Rangga.


Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Rangga, karena terlalu kesal. Devan sampai melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan hal itu membuat ponselnya rusak seketika.


Namun, Devan tidak dapat fokus pada pekerjaannya karena yang ia pikirkan saat ini hanya Keyna.


"Ish, sebenarnya apa yang dilakukan Keyna? kenapa aku jadi kayak gini? kenapa aku seolah-olah aku lemah karena tidak ada dia?" tanya Devan pada dirinya sendiri.


"Mike," panggil Devan.


"Iya, Tuan," jawab Mike.


"Kita ke tempat Rangga," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap Mike.


Akhirnya Devan pun menuju ke bar milik Rangga dan sesampainya di sana Devan langsung aja masuk ke dalam bar tersebut.


"Kenapa, Van?" tanya Rangga.


Tanya basa basi, Devan langsung saja memukul Rangga hingga minuman yang di bawa Rangga jatuh dan gelasnya pun pecah.


"Lo kenapa, Van? kok tiba-tiba mukul gue? gue ada salah ya?" tanya Rangga.


"Lo kemana aja? kenapa lo gak angkat telepon gue b*ngsat?" tanya Devan yang terkesan membentak Rangga.


"Eh, lo nelpon gue. Ya, maaf soalnya gue lagi sibuk ngurus bangunan gue yang mau buka hotel juga di atas bar," ucap Rangga.


"Btw, kenapa emangnya?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Cari Keyna," ucap Devan.


"Cari Keyna? maksudnya gue cari Keyna gitu?" tanya Rangga.


"Hem," jawab Devan.


"Kalau itu mah gampang, kan ketan ada di rumah lo gimana sih," ucap Rangga.


"Gak ada," ucap Devan.


"Gak ada maksudnya?" tanya Rangga.


"Keyna kabur," ucap Devan.


"Hah! kabur! kok bisa?" tanya Rangga.


"Mana gue tahu, makanya gue nelpon lo dan nyuruh lo nyari Keyna," ucap Devan.


"Oke oke, gue bakal segera cari tahu dia, mungkin aja Keyna ada di rumahnya Celine," ucap Rangga.


"Gak ada, tadi gue udah tanyain ke cewek lo dan gak ada. Cewek lo juga gak tahu apa-apa," ucap Devan.


"Temen satunya mungkin," ucap Rangga.


"Gak ada, tadi gue udah hubungi semua kenalannya Keyna dan gak ada yang tahu," Tapi Devan.


"Keyna kan punya perhiasan yang ada pelacak nya kenapa gak lo periksa aja," ucap Rangga.


"Semuanya udah di taruh Keyna di meja bahkan beberapa barang yang ada penyadap dan pelacak nya juga di taruh di meja kamar," ucap Devan.


"Kok Keyna bisa pergi ya?" tanya Rangga.


"Mana gue tahu," ucap Devan.


"Pasti ada yang salah sama lo, Van. Lo harusnya perlakukan Keyna seperti orang yang lo sayang pasti Keyna gak akan pergi dari lo," ucap Rangga.


"Gue ke sini gak mau denger ceramah lo soal cinta-cintaan, tapi gue nyuruh lo buat cari Keyna," ucap Devan.


"Astaga, iya-iya gue gak ceramah lagi. Gue bakal cari Keyna kalau gitu," ucap Rangga.


"Satu lagi, lo jangan kasih tahu ini ke temennya Keyna," ucap Devan.


"Kenapa gue gak boleh ngasih tahu?" tata Rangga.


"Temennya Keyna gak tahu kalau Keyna pergi, temennya bakal marah karena dia gak tahu. Jadi, lebih baik lo diem aja daripada persahabatan mereka rusak karena lo," ucap Devan.


"Lah, kok karena gue sih. Tapi, apa yang lo bilang tadi itu ada bener nya juga," ucap Rangga.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2