
"Oh, terus kamu suka gak sama perempuan itu?" tanya Keyna.
"Hem," jawab Devan.
"Kamu suka sama dia?" tanya Keyna yang tidak percaya setelah mendengar jawaban Devan.
"Pertanyaan gak penting jadi tidak harus ku jawab," ucap Devan.
"Aku cuma memastikan apa kamu menyukai perempuan tadi atau tidak," ucap Keyna.
"Kalau aku menyukainya memang ada masalah denganmu?" tanya Devan.
"Kita kan suami istri lalu untuk apa kamu nikah sama aku kalau kamu sukanya sama perempuan lain?" tanya Keyna.
"Aku sudah mengatakannya tadi jadi aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Devan.
"Tunggu, kenapa kamu sangat ingin tau tentang itu? apa jangan-jangan kamu menyukaiku?" tanya Devan.
"Aku gak mau munafik, aku ini istri kamu. Aku akan berusaha untuk menyukaimu meskipun aku gak suka sama kamu karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup," ucap Keyna.
"Jadi?" tanya Devan.
"Jadi, aku menyukaimu karena kamu itu suamiku," ucap Keyna.
"Hahaha, aku rasa kamu sudah terlalu banyak bermimpi apa karena aku menjadikanmu ratu di istanaku maka kamu bisa seenaknya menyukaiku, aku sarankan agar kamu berhenti menyukaiku sebelum rasa sukamu menjadi benci," ucap Devan.
"Maksud kamu apa?" tanya Keyna.
"Kamu tidak perlu tau yang jelas kamu tidak boleh menyukaiku meskipun kamu istriku, ingat Key, aku menikahimu itu karena desakan dari orangtuaku bukan keinginanku kalau aku disuruh memilih sebenarnya aku tidak ingin menikah dengan siapapun," ucap Devan.
"Apa kamu pernah menyukai seseorang?" tanya Keyna.
"Pernah," ucap Devan.
"Lalu kenapa kamu tidak menikahinya saja jika kamu menyukainya?" tanya Keyna.
"Aku juga berharap menikahinya bukan menikahimu," ucap Devan.
Setelah mendengar hal tersebut, Keyna pun memilih keluar menuju balkon dan menutupnya, ia tidak ingin bertemu dengan Devan untuk saat ini.
Saat melihat Keyna pergi bukannya Devan menghampirinya, ia justru keluar dari kamar, "Mike, kita ke wanita j*lang tadi," ucap Devan.
"Baik, Tuan, tapi Nona bagaimana Tuan?" tanya Mike.
"Lupakan saja, kita pergi sekarang," ucap Devan dan diangguki Mike.
Namun, sebelum pergi Devan berhenti tepat di depan Bi Nani, "Nanti suruh Keyna makan malam jangan sampai dia lupa," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Bi Nani dengan menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Devan pun keluar dari rumah mewahnya dan menuju markasnya, sesampainya disana terdapat beberapa penjaga, "Tuan, Tuan besar sudah ada didalam," ucap Tommy salah satu anak buahnya.
Devan pun memasuki markas, "Papa dari tadi disini?" tanya Devan.
"Papa, kira kamu gak kesini, tapi kenapa kamu kesini seharusnya kamu temani istrimu dia pasti sakit," ucap Papa Alex.
"Keyna udah baikan makanya Devan ke sini," ucap Devan.
__ADS_1
"Bagus, kamu harus beri dia pelajaran karena sudah melukai menantu Papa. Kamu tau kan bukan hanya Papa yang marah, tapi Mama kamu juga marah dengan perempuan tadi," ucap Papa Alex.
"Iya, Pa. Devan tau kok," ucap Devan.
"Papa, mau masuk ke ruang bawah tanah atau mau disini?" tanya Devan.
"Ya, masuklah orang Mama kamu tadi nitip," ucap Papa Alex dengan seringai yang menakutkan.
Devan dan Papa Alex pun masuk kedalam ruang bawah tanah, "Tuan, maafkan saya. Saya janji, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah saya lakukan," ucap Aurel dengan udak tangis yang memilukan.
"Memang kamu lihat saya peduli dengan itu, tidak kan," ucap Papa Alex.
"Dev, kenapa kamu gak bunuh dia aja?" tanya Papa Alex dengan menunjuk salah satu orang yang berada di penjara ruang bawah tanah tersebut dengan dagunya.
"Devan, masih mau main-main sama dia Pa, dia harus melihat orang yang dicintainya mati terlebih dahulu baru Devan akan membunuhnya," ucap Devan dengan menatap lekat orang yang berada di penjara tersebut.
"Sebegitu dendamnya kamu sama dia," ucap Papa Alex.
"Sangat Pa, kalau bisa saat ini Devan ingin bawa orang yang dia cintai ke hadapannya," ucap Devan.
"Yaudah, kenapa gak kamu bawa aja?" tanya Papa Alex.
"Belum saatnya, Pa," ucap Devan dan diangguki Papa Alex.
Papa Alex tau jika Devan sangat merencanakan semua ini sehingga Papa Alex hanya menunggu sampai Devan bertindak.
"Karena dia, Papa sampai lupa disini ada perempuan yang masih menunggu ajalnya," ucap Papa Alex dengan senyum mengerikannya.
"Tuan, maafkan saya. Saya tau saya salah, saya janji, saya akan menerima segala hukuman saya, tapi tolong jangan bunuh saya, saya masih memiliki keluarga yang harus saya hidupi Tuan hiks hiks hiks," ucap Aurel yang sudah tidak dapat menghentikan tangisannya.
"Ma-maksud Tuan?" tanya Aurel.
"Mike," panggil Devan.
Mike pun langsung keluar dan beberapa saat kemudian ia membawa 2 peti dan membukanya tepat dihadapan Aurel.
"Aaaaaa! Mama! Papa!" teriak Aurel saat melihat keluarganya yang berada di peti tersebut.
"Sekarang kau tinggal pilih mau mati seperti apa, seperti Ayahmu yang mati karena keracunan atau seperti Ibumu yang mati karena ditembak. Sekarang kau bisa memilih mau mati seperti apa atau kau mau mati dengan cara yang baru?" tanya Devan.
"Tuan Devan, maafkan saya," Aurel terus memohon, tapi tidak Devan tidak mempedulikannya.
"Kau berani mengganggu istriku dan bahkan kau mengatakan menyukaiku secara langsung di depan istriku kau punya otak tidak," ucap Devan yang sudah tidak dapat menahan emosinya.
Setiap mengingat Keyna, Devan selalu merasakan aneh dalam dirinya terutama karena kejadian tadi saat di rumah.
"Van, kamu mau apain dia?" tanya Papa Alex.
"Yang jelas Devan akan melakukan segala cara untuk membunuhnya secara perlahan, tapi tidak sekarang," ucap Devan.
"Mike, potong mereka dan seperti biasa dagingnya kasih ke Leon, dia pasti sangat senang akhirnya mendapat makanannya," ucap Devan.
"Tuan, tolong jangan lakukan itu hiks hiks hiks," ucap Aurel.
"Aku tidak membutuhkan permohonanmu, ah Mike kemarin ada orang yang ingin membeli mata dan ginjal bukan, nanti akan ku suruh dia menghubungimu," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
__ADS_1
"Kau tau, di dunia ini tidak boleh ada yang menyakiti istriku," ucap Devan lalu keluar dari ruang bawah tanah tersebut dengan Papa Alex tentunya.
Sedangkan, Aurel tangannya diikat dan ditaruh di penjara yang ada di ruang bawah tanah tersebut.
***
Keyna sudah merasa baikan, saat ini Keyna masih berada di balkon kamarnya. Sedangkan, Devan entah pergi kemana karena sedari tadi Keyna langsung pergi setelah Devan mengatakan hal tersebut.
"Apa tadi aku kelewatan ya? karena aku langsung pergi gitu aja, tapi Devan juga sih bilang kayak gitu," gumam Keyna.
"Nyonya," panggil Bi Nani.
"Ada apa, Bi?" tanya Keyna.
"Tuan Devan meminta saya memanggil Nyonya untuk makan malam karena dari tadi Nyonya belum makan setelah pulang dari kantor," ucap Bi Nani.
"Hem, yaudah makasih ya Bi. Bi Nani duluan aja, aku mau mandi dulu baru turun," ucap Keyna.
"Baik, Nyonya," ucap Bi Nani lalu keluar dari kamar tersebut.
Keyna pun akhirnya membersihkan dirinya karena sedari tadi pikirannya terus mengingat ucapan Devan.
"Bi, Devan mana?" tanya Keyna saat berada di meja makan.
"Tuan Devan, sedang keluar Nyonya," ucap Bi Nani.
"Keluar? kemana?" tanya Keyna.
"Maaf, Nyonya. Saya juga kurang tau kemana perginya Tuan Devan," ucap Bi Nani.
"Emang udah dari tadi Devan keluarnya, Bi?" tanya Keyna.
"Tuan Devan, keluar sejak siang tadi Nyonya," ucap Bi Nani dan diangguki Keyna.
key aku pun memakan makanannya dengan tenang dan selesai makan, Keyna langsung menuju kamarnya hari ini ia merasa moodnya sangat buruk.
"Udah mau jam 10 dan Devan belum pulang, dia kemana sih? apa Devan masih marah ya sama aku, eh tunggu seharusnya kan aku yang marah sama dia, tapi kenapa dia yang marah?" tanya Keyna.
Keyna mencoba untuk memejamkan matanya karena besok ia ada pemotretan dengan salah satu produk, Keyna terkejut mendengar ketukan pintu kamarnya, "Siapa ya? " tanya Keyna lalu menuju ke arah pintu dan membukanya.
Namun, Keyna tidak melihat siapapun, "Loh kok gak ada orang jangan-jangan tadi yang ngetuk pintu hantu," gumam Keyna yang mulai ketakutan.
Matanya tidak sengaja melihat sebuah koper yang ada di sebelah pintu.
"Hah! kopernya siapa ini? apa ini koperku eh, tapi kayaknya aku gak punya koper ini deh, mungkin koper Devan kali ya," tanya Keyna.
Keyna pun membawa koper tersebut masuk kedalam kamarnya, "Wah berat banget isinya apa sih?" tanya Keyna.
Secara perlahan Keyna membuka koper tersebut dan betapa terkejutnya saat melihat isi dari koper tersebut.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1