
"Kamu mau kemana?" tanya Keyna saat melihat Devan yang sudah rapi.
"Aku mau pergi sebentar ya soalnya ada yang harus aku urus di luar rumah, aku bakal pulang cepet kok," ucap Devan.
"Beneran kamu bakal pulang cepet?" tanya Keyna.
"Iya, sayang, aku janji," ucap Devan.
"Yaudah iya, tapi awas aja kalau kamu gak pulang-pulang," ucap Keyna.
"Iya sayang, aku bakal pulang kok," ucap Devan dan mengecup kening, pipi serta bibir Keyna.
Tak lupa Devan juga menyamakan tinggi badannya dengan perut Keyna, "Cintanya Papa, Papa pergi dulu ya, tolong jaga Mama untuk papa," ucap Devan kalau mencium perut besar Keyna.
"Iya, Papa. Papa gak usah khawatir Mama aman kok," ucap Keyna dengan menirukan suara anak kecil.
Devan pun tersenyum pada Keyna dan berdiri, "Aku pergi dulu ya kalau ada apa-apa kamu kabari aku," ucap Devan dan diangguki Keyna.
Devan pun keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya yang sudah ada Mike di sana, "Bagaimana?" tanya Devan.
"Tebakan Tuan benar jika Dika akan datang ke markas," ucap Mike.
"Kau sudah siapkan ruangannya bukan?" tanya Devan.
"Iya Tuan, sudah," ucap Mike.
Beberapa saat kemudian, Devan pun sampai di markas dan ia langsung menuju ruangan yang ia sediakan khusus untuk Dika.
Devan pun masuk ke dalam, "Untuk apa kau ke sini?" tanya Devan.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Tuan Devan, tapi sayang sekali tadi Tuan Devan tidak ada," ucap Dika.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Devan.
"Saya hanya ingin berterimakasih pada Tuan Devan karena Tuan Devan membebaskan saya dan keluarga saya," ucap Dika.
"Aku bukan orang baik asal kau tahu, jadi bukan aku yang membebaskan mu," ucap Devan.
"Maksud Tuan Devan?" tanya Dika.
"Kau tidak perlu memikirkannya, yang jelas bukan aku yang membebaskan mu dan yang pasti kau tidak akan bisa bertemu dengan orang yang ingin kau bebas," ucap Devan.
"Apa Acha yang melakukannya?" tanya Dika.
"Diam! bahkan kau tidak bisa menyebut nama Kakakku dengan mulut kotor mu itu," ucap Devan.
Melihat reaksi Devan maka dapat Dika pastikan jika memang Kak Acha yang membebaskannya. Dika berjanji akan menjauh dari Kak Acha dan ia tidak akan mengganggu hidup Kak Acha, tapi jika suatu saat nanti Kak Acha atau keluarga Erland butuh bantuan maka Dika akan dengan senang hati membantu.
Meskipun Dion sudah meninggal karena Devan, tapi Dika tidak ingin menyalahkan Devan karena bagaimanapun semua ini karena kesalahan Dion yang menganggap remeh Devan dan keluarganya dan juga karena sikap kekanak-kanakan Dion.
Lagipula, Dika juga tidak ingin keluarganya dalam bahaya karena kebodohannya dengan membenci Devan.
"Kalau begitu, saya permisi," ucap Dika dan setelah itu Dika pun pergi meninggalkan markas.
"Ada apa, Mike?" tanya Devan saat ia keluar dari ruangan tersebut.
"Tuan, Tuan Sammy meninggal dunia," ucap Mike.
Tentu saja hal itu membuat Devan terkejut, "Bagaimana bisa? apa Dokter di sana tidak bisa merawat Sammy?" tanya Devan.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya juga kurang tahu pasti. Tapi, beberapa team sudah saya kirim ke negara X," ucap Mike.
"Bawa jasadnya ke sini, aku tidak bisa ke sana karena Keyna akan segera melahirkan," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
"Lalu bagaimana dengan adiknya?" tanya Devan.
"Adiknya sampai sekarang masih belum di ketahui keberadaannya Tuan," ucap Mike.
"Belum diketahui? apa maksudmu?" tanya Devan.
"Maaf Tuan, semua ini karena kecerobohan saya. Sebenarnya saat akan di bawa ke bandara, Salma berhasil kabur dari mobil dan sampai sekarang dia belum di ketahui keberadaannya," ucap Mike.
Devan yang mendengar hal itu tentu saja marah, bagaimana bisa hal seperti ini tidak ada yang mengatakannya pada Devan.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Devan dengan emosi.
"Maaf Tuan," ucap Mike yang benar-benar takut dengan amarah Devan saat ini.
"Aaaargh!" teriak Devan.
"Pergi kau dari sini dan cari perempuan itu!" teriak Devan.
"Ba-baik, Tuan," ucap Mike dan pergi dari markas untuk mencari Salma.
"Aku tidak akan biarkan adikmu menggangguku dan keluargaku, Sam," gumam Devan dengan amarah yang semakin meluap.
Devan memilih untuk ke penjara bawah tanah dan membawa salah satu tahanannya untuk dibunuh tentunya karena Devan benar-benar tidak dapat menahan emosinya.
Devan membawa orang tersebut ke salah satu ruangan eksekusi yang ada di markas tersebut.
Setelah Devan luas membunuh orang tersebut ia pun menatap lekat tubuh tidak berdaya itu, namun belum sempat ia keluar dari ruangan tersebut.
"Saya juga senang bisa bertemu dengan Tuan Devan," ucap orang tersebut.
.
Disisi lain, Keyna yang tengah asik tiduran di kasur dengan memainkan ponselnya pun terkejut saat nomor yang tidak dikenal menelponnya.
"Siapa ini?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
Keyna tidak mengangkat sambungan telepon tersebut karena ia takut, namun hingga beberapa kali nomor telepon tersebut menelponnya akhirnya Keyna memberanikan diri untuk mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Bisa jadi ini penting kan," gumam Keyna dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
^^^Halo.^^^
Keyna.
^^^Iya, hem ini dengan siapa ya?^^^
Aku orang yang kau kenal.
^^^Iya, siapa?^^^
Kau akan tahu nanti, untuk sekarang datang ke jalan Dermaga 2 nomor 143.
'Tunggu, bukankah itu alamat yang sama dengan yang dikatakan penculik waktu itu,' ucap Keyna dalam hati.
__ADS_1
^^^Aku sudah mencari alamat itu, tapi tidak ada.^^^
Ya, kau tidak akan menemukannya karena alamatnya sudah berubah dan yang tahu hanya suamimu.
^^^Hanya Devan? maksudnya?^^^
Iya, kalau kau ingin tahu dimana alamat itu. Lebih baik sekarang kamu buka laptop suamimu dan cari keberadaannya dengan menggunakan alat pelacak di ponselnya.
^^^Darimana kau tahu semua itu?^^^
Kau tidak perlu bertanya mengenai itu, yang kau perlu lakukan hanya melakukan apa yang ku katakan itupun jika kau ingin tahu semua kebenarannya. Dengarkan aku baik, untuk masuk ke dalam tempat itu sangat sulit, jadi nanti kau masuk melalui belakang dan jangan memperlihatkan dirimu pada siapapun yang ada di sana. Password nya 124178, gunakan nomor itu untuk membuka pintu agar kau bisa lewat tangga dan nanti tangga akan membawamu ke lapangan dan setelah itu kau masuk ke dalam pintu warna biru. Ingat jangan sampai menginjak garis putih dan tetap berjalan di pinggir tembok agar kau tidak katahuan.
Belum sempat Keyna menjawabnya, orang tersebut terlebih dahulu memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa benar yang dikatakan orang tadi ya," gumam Keyna.
Keyna berusaha untuk melupakan apa yang dikatakan orang yang tadi menelponnya, tapi karena Keyna terlalu penasaran akhirnya Keyna pun melakukan apa yang dikatakan orang tersebut.
Keyna membuka laptop Devan yang ada di atas meja lalu Keyna mulai melihat alat pelacak yang dikatakan orang tersebut dan benar saja di sana dapat terlihat keberadaan Devan.
"Ini dimana kok nama jalannya aneh," gumam Keyna.
Keyna terus mencari jalan yang familiar dengannya, takut sayang tidak ada nama jalan yang familiar di sana.
"Jalan suicide nomor 7," gumam Keyna dengan mencatat alamat yang ada di alat pelacak laptop tersebut.
Setelah itu, Keyna pun bersiap-siap dan tentunya ia tidak memberitahukannya pada Devan karena ia takut Devan akan melarangnya padahal Keyna sudah sangat penasaran.
Keyna berhasil keluar tanpa ada pelayan serta pengawal yang tahu, Keyna sendiri memang sudah ahli dalam kabur hal itu terjadi karena dulu Mama Bella yang mengatur kencan buta untuknya sehingga Keyna memiliki banyak cara untuk kabur.
Keyna menaiki taksi dan menyuruh taksi tersebut menuju alamat yang ia catat di kertas, "Anda yakin ini alamatnya?" tanya sang supir.
"Iya yakin," ucap Keyna.
"Tapi, kok gelap sekali mana suaranya aneh gini bikin merinding aja," ucap sang supir.
"Iya ya, saya juga ngerasa kayak gitu. Tapi, mau gimana lagi, di alamatnya suami saya ada di sana," ucap Keyna.
Beberapa saat kemudian, Keyna pun sampai di alamat tersebut.
"Yang ini kah?" tanya Keyna.
"Iya, kalau sesuai alamatnya memang yang ini, tapi beneran yang ini kok kayak rumah gak ada penghuninya gitu ya mana temboknya tinggi banget kayak benteng," ucap sang supir.
"Saya juga gak tahu, tapi di coba aja. Kalau begitu terimakasih ya Pak," ucap Keyna.
"Iya, saya permisi kalau begitu," pamit sang supir.
Keyna pun melangkahkan kakinya menuju rumah tinggi nan gelap tersebut, namun saat ia melihat ada penjaga di sana maka dugaannya benar jika tempat tersebut berpenghuni karena tidak mungkin jika bangunan kosong memiliki panjang di setiap sudutnya.
"Aku kalau ke sana pasti gak boleh masuk, Gianna caranya aku masuk ya?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
Keyna pun teringat ucapan orang yang meneleponnya tadi dimana Keyna harus turun melalui tangga yang ada di belakang karena tangga tersebut akan membawanya masuk melalui lapangan lalu Keyna bisa masuk ke dalam pintu berwarna biru.
Sekian itu juga, orang tersebut memberitahukan pada Keyna password pintu agar ia bisa lewat melalui tangga.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.