
Saat ini Devan dan Keyna audah berada di mansion Devan, sejak tadi Keyna belum berbicara dengan Devan sama sekali dan hal itu membuat Devan bertanya-tanya apakah Keyna marah karena perkataannya tadi.
"Ish, kenapa kayak gini sih," gumam Devan dengan kesal.
Devan beranjak dari ruang kerjanya dan menuju ruang tamu, dimana Keyna berada di sana ditemani beberapa pelayan.
"Kenapa?" tanya Devan saat ia sudah berada di samping sang istri.
"Gapapa kok," ucap Keyna.
"Ya sudah," ucap Devan dan ia pun beranjak pergi dari tempat tersebut.
"Harusnya itu kamu bujuk aku gitu," ucap Keyna.
"Tadi kan aku tanya kenapa dan kamu bilang gapapa yaudah selesaikan," ucap Devan.
"Kamu ya bener-bener," ucap Keyna dan mulai meneteskan air mata.
Devan yang melihat hal itupun terkejut padahal bukan hal serius sampai Keyna harus menangis, dengan perasaan khawatir Devan pun menghampiri sang istri dan memeluknya.
"Kenapa sih kok daritadi kamu sensitif gini? apa aku punya salah? kalau aku punya salah bilang ya karena aku gak tahu," tanya Devan.
"Gak tahu, aku rasanya marah aja kalau lihat kamu," ucap Keyna.
"Hah! kenapa?" tanya Devan.
"Gak tahu," ucap Keyna yang sedikit menaikkan suaranya.
Devan yang tidak terima pun langsung melepaskan pelukan tersebut dan berniat untuk membentak Keyna, tapi sebelum itu terjadi Mike yang memang sejak tadi di sana dengan beberapa pelayan pun langsung mengeluarkan suara dan membuat Devan mengurungkan niatnya.
"Hal ini wajar terjadi pada ibu hamil, Tuan. Apalagi Nyonya Keyna saat ini masih dalam trisemester pertama, jadi sangat wajar jika Nyonya Keyna sangat sensitif terhadap sesuatu," ucap Mike.
Devan pun menatap tajam Mike, "Bagaimana bisa kau tahu padahal kan kau tidak memiliki pasangan?" tanya Devan.
"Saya tahu karena taha... maksud saya seseorang yang saya kenal juga pernah hamil," ucap Mike.
"Untung kamu hamil kalau tidak siap-siap saja nasib buruk akan ada di hidupmu," ucap Devan dan setelah itu pergi dari hadapan Keyna.
'Bener kata orang-orang kalau aku gak pantes sama Devan, buktinya sampai sekarang Devan gak pernah suka sama aku. Devan benci aku bahkan dia mendoakan keburukan untukku,' ucap Keyna dalam hati.
"Nyonya," panggil Ganish.
"Iya, ada apa, Nish?" tanya Keyna.
"Nyonya tidak apa?" tanya Ganish.
__ADS_1
"Aku gapapa kok, kalau gitu sekarang aku mau ke kamar dulu ya," ucap Keyna dan diangguki Ganish.
Keyna pun memilih untuk mengistirahatkan tubuh serta mentalnya yang benar-benar lemah saat ini.
Tanpa terasa Keyna tidur cukup lama hingga hari sudah gelap, "Wah, udah malam aja ya ternyata," ucap Keyna dan ia pun mulai membersihkan tubuhnya.
Setelah itu, Keyna memilih turun dari kamar dan menuju meja makan. Sesampainya di meja makan Keyna tidak hanya melihat Devan saja, tapi ia juga melihat Riana dan Pak Arik yang juga tengah duduk di meja makan bersama Devan.
"Nyonya," panggil Pak Arik dan menghampiri Keyna.
Keyna hanya mampu tersenyum kaku dan menghindari Pak Arik lalu ia pun mengambil air.
"Nanti kalau udah selesai kamu bilang aku ya," bisik Keyna pada Ganish.
"Iya, Nyonya," ucap Ganish.
Setelah itu, Keyna kembali beranjak dari tempatnya dan memilih pergi meninggalkan ketiga orang yang tengah berada di meja makan itu.
Namun, langkahnya terhenti karena suara Riana, "Nyonya mau kemana? bukannya Nyonya Keyna harus menyambut tamu karena kan Nyonya juga termasuk Tuan rumah," tanya Riana.
Keyna pun membalikkan tubuhnya, "Selamat datang, maaf karena saya tidak bisa menyambut kalian berdua karena saya rasa saya tidak berkepentingan dengan kalian, jadi serahkan semuanya kepada suami saya. Kalau begitu saya permisi," ucap Keyna dan pergi.
"Kak Devan kenapa mau sama perempuan itu sih? harusnya Kak Devan itu sama Riana, gara-gara perempuan itu perjodohan Kak Devan sama Riana batal," tanya Riana dengan kesal.
"Diam, kau tidak pantas mengucapkan itu. Itu hanya perjodohan b*doh yang dilakukan orangtuaku dan aku tidak pernah setuju dengan perjodohan itu. Kalau kau tidak terima, kau bisa mengatakannya pada orangtuaku ah maksudku kau bisa menikah dengan orangtuaku karena aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu dan keluargamu. Lebih baik kalian berdua pergi karena kalian tidak dianggap tamu di sini, kalian berdua hanya pengganggu yang mengganggu waktu makan malamku dengan istriku," ucap Devan.
"Tapi, Tuan. Niat kami baik datang ke sini," ucap Pak Arik.
"Niat baik juga percuma kalau Tuan rumahnya tidak menganggapnya lagipula aku tidak menerima tamu siapapun di rumah ini kecuali keluarga dan orang terdekat. Kalian berdua tidak termasuk ke dalam keduanya, kalian sendiri yang datang dan entah siapa yang mengizinkan kalian, kalian berdua sudah duduk di sofa ruang tamuku bukankah itu tidak sopan," ucap Devan.
"Tapi, Tuan...," ucapan Pak Arik terhenti karena Devan menyelanya.
"Lebih baik kalian berdua pergi karena aku tidak menginginkan tamu hari ini," ucap Devan.
"Kak Devan jangan gitu, bagaimanapun juga kan Papa pernah jadi pengacara keluarga Erland," ucap Riana.
"Karena dia pernah bekerja dengan keluarga Erland harusnya dia tahu bagaimana keluarga Erland memperlakukan orang yang tidak bisa diberitahu bukan," ucap Devan.
Pak Arik pun terkejut dan berubah gugup, ia harusnya tidak mencari gara-gara dengan Devan.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya dan anak saya permisi," pamit Pak Arik.
"Loh Pa, kok pergi sih kan kita belum ngobrol panjang sama Kak Devan," ucap Riana yang tidak terima saat Papanya menarik tangannya untuk keluar dari kediaman Devan.
"Udah, sekarang kita pergi aja," ucap Pak Arik dan mereka berdua pun pergi.
__ADS_1
"Panggil Keyna," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Ganish lalu memanggil Keyna.
Selang beberapa saat kemudian, Keyna lun turun dan langsung duduk di kursi yang biasanya ia duduki.
Makan malam berjalan dengan lancar tanpa ada yang bersuara bahkan setelah makan malam Devan langsung pergi dengan keluar rumah dan Keyna tentu saja tidak tahu Devan pergi kemana karena Devan tidak mengatakan apapun pada Keyna.
Keyna pun menghela napas panjang dengan sikap Devan yang tidak mengganggap Keyna, "Ada apa Nyonya? apa Nyonya sakit?" tanya Ganish.
"Gapapa kok," ucap Keyna.
"Nyonya mau kemana?" tanya Ganish.
"Aku ke kamar aja," ucap Keyna.
"Tapi, Nyonya tidak ingin menonton serial kesukaan Nyonya?" tanya Ganish.
"Gak deh, lagi gak pengen," ucap Keyna dan ia pun menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Keyna pun kembali menghela napas. "Huh, sampai kapan aku kayak gini terus, aku kayak orang b*doh aja," gumam Keyna.
Sudah dini hari dan Keyna tidak melihat tanda-tanda jika Devan akan pulang, "Ini udah jam 3 apa Devan gak pulang? atau Devan gak mau pulang karena ada aku ya?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
"Huh, aku udah gak bisa sama Devan terus. Mentalku bisa-bisa hancur kalau kayak gini, aku harus pergi dari kehidupan Devan," gumam Keyna.
"Tapi, anak aku. Gapapa, Devan juga gak akan suka sama anaknya karena anaknya lahir dari perempuan yang gak pernah dia sukai yaitu aku, lebih baik aku pergi karena takutnya anak aku juga akan jadi aib bagi Devan," lanjut Keyna dan menyiapkan beberapa baran yang akan ia butuhkan nantinya.
Keyna hanya mengemasnya menggunakan tas yang tidak terlalu besar agar ia bisa membawanya dan tentunya agar tidak mengganggu orang-orang rumah saat ia pergi nanti.
Tak lupa Keyna juga mengambil uang yang ada di laci, "Dev, aku pinjam uangnya ya nanti kalau aku udah punya uang banyak bakal aku ganti kok, tapi gak tahu kapan soalnya honor model ku belum keluar sampai sekarang biasalah kan aku bukan model kelas atas," gumam Devan.
Dengan yakin Keyna pun keluar dari kamar dan berjalan secara perlahan sampai ia berhasil keluar dari rumah mewah tersebut dan Keyna segera pergi dari rumah tersebut, Keyna memilih untuk berjalan kaki.
"Aduh kakiku sakit banget gila. Model macam apa yang kabur jalan kaki kayak gini," gumam Keyna.
Keyna terus berjalan hingga sampai di terminal dan ia pun menaiki bus secara acak, "Semoga keputusanku benar," gumam Keyna.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1