
Keesokan harinya, Devan sudah berangkat menuju negara X dan hal itu tentunya tidak diketahui oleh Keyna karena saat Keyna membuka matanya ia tidak melihat keberadaan Devan.
"Devan kemana? kok gak ada di kamar? padahal ini masih pagi loh, apa jangan-jangan Devan udah berangkat ke kantor duluan ya?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
"Nyonya," panggil Bi Nani.
"Kenapa, Bi?" tanya Keyna.
"Seharusnya Bibi yang tanya pada Nyonya, kenapa Nyonya di dapur sepagi ini? Apa Nyonya ingin sesuatu?" tanya Bi Nani.
"Karena Key laper Bi pengen sup," ucap Keyna
"Harusnya Nyonya panggil Bibi atau gak panggil pelayan lain," ucap Bi Nani.
"Tapi, Key lagi pengen bikin sendiri," ucap Keyna.
"Maaf Nyonya, tapi Nyonya tidak boleh memasak sendiri karena nanti yang ada malah Bibi di marahin sama Tuan Devan," ucap Bi Nani.
"Bibi gak kasihan sama anaknya Keyna apa, nanti kalau anaknya Keyna waktu udah lahir air liuran terus berarti itu salahnya Bi Nani ya," ucap Keyna dan berhasil membuat Bi Nani bungkam dan menatap Keyna dalam-dalam.
"Ya sudah, tapi Nyonya harus hati-hati dan akan ditemani Bibi serta pelayan lainnya," ucap Bi Nani.
"Makasih ya Bibiku sayang," ucap Keyna dan mulai mengambil bahan-bahan yang ada di kulkas.
"Kenapa Nyonya hanya mengambil wortel saja?" tanya Bi Nani.
"Aku sukanya cuma wortel aja Bi, makanya aku cuma ngambil wortel," ucap Keyna.
"Mau Bibi bantuin Nyonya?" tanya Bi Nani.
"No! aku mau bikin sendiri, Bi Nani tunggu aja di sana oke, nanti setelah supnya jad Bi Nani cobain enak gak supnya," ucap Keyna.
"Iya Nyonya," ucap Bi Nani.
Kurang lebih 20 menit, akhirnya Keyna pun selesai memasak sup pertama buatannya, "Wah! kayaknya enak nih," ucap Keyna dengan bangga.
Keyna pun mencoba supnya, namun ternyata apa yang ia bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan karena ternyata rasa sup buatannya sangat tidak enak.
"Kok kayak gini rasanya," ucap Keyna.
"Biar Bibi coba Nyonya," ucap Bi Nani lalu mencoba sup buatan sang Nyonya.
"Sepertinya Nyonya terlalu banyak memasukkan penyedap rasa," ucap Bi Nani.
"Bukannya kalau penyedap rasa banyak itu artinya rasanya makin enak ya," ucap Keyna.
"Tidak Nyonya, semuanya harus sesuai takaran yang pas," ucap Bi Nani.
"Yahh, padahal lagi pengen sup," ucap Keyna.
"Kalau begitu biar koki saja yang buatkan untuk Nyonya," ucap Bi Nani.
"Yaudah," ucap Keyna.
.
Malam harinya, Keyna dibuat bingung karena sejak tadi ia tidak melihat Devan di rumah. Seharian ini Keyna memang istirahat di rumah karena tubuhnya yang sangat lelah dan malas untuk keluar rumah.
Keyna memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju lantai bawah, "Ganish, kamu tahu dimana Devan gak? kok aku daritadi gak lihat Devan ya?" tanya Keyna.
__ADS_1
"Loh Nyonya belum tahu kalau Tuan Devan hari ini pergi ke negara X," ucap Ganish.
"O-oh ya tau lah aku," ucap Keyna.
Bohong, tentunya karena ia sebenarnya memang tidak tau kalau Devan pergi ke negara X saat ini bahkan Keyna baru tahu setelah Ganish mengatakannya.
'Kenapa Devan gak kasih tau aku sih kalau dia pergi ke negara X?' tanya Keyna dalam hati.
.
Disisi lain, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Devan sampai di negara X.
Devan pun segera menuju tempat Dika di sekap, sesampainya di tempat tersebut. Devan langsung menarik kerah baju Dika.
Devan tidak peduli meski saat ini di tempat tersebut terdapat istri dan anak Dika.
"Ke-kenapa?" tanya Dika.
Terlihat jelas jika Dika takut akan aura yang ada pada Devan, aura menakutkan yang membuat ia merinding.
"Harusnya sudah ku bunuh kau dari dulu," ucap Devan dan memukul Dika tepat pada wajahnya.
Istri dan anak Dika pun berteriak saat melihat Devan memukul Dika, "Tu-tuan tolong maafkan suami saya," ucap istri Dika yang bernama Rista.
"Siapa kau bisa memerintahku b*doh!" teriak Devan dan mendorong Rista.
"Uncle," panggil lembut anak Dika yang bernama Norin.
"Hust, diam. Aku tidak ingin mendengar suara kalian," ucap Devan.
"Kenapa Tuan Devan memukul saya? apa saya melakukan kesalahan?" tanya Dika.
Dika pun mengambil foto dan surat tersebut, "Aku bersumpah kalau bukan aku yang melakukannya, aku sudah punya istri dan anak dan aku tidak akan melakukan hal b*doh seperti ini yang nantinya akan melukai istri dan anakku," ucap Dika.
"Kau pikir aku percaya, aku tau kalau kau sudah menyuruh anak buah Kakakmu itu untuk memata-mataiku," ucap Devan.
"Tidak! aku tidak pernah melakukannya," ucap Dika.
"Aku mengatakan ini pastinya sudah memiliki bukti bukan," ucap Devan.
"Maksudnya?" tanya Dika.
"Mike," panggil Devan.
"Iya, Tuan," ucap Mike dan masuk ke dalam gua tersebut.
"Tunjukkan buktinya pada si b*doh ini," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
"Mike pun memperlihatkan sebuah video di ipad-nya, dimana video tersebut terdapat Dika yang tengah mengobrol dengan seseorang yang merupakan anak buah Dion melalui sambungan telepon.
"Maaf, Tuan. Saya salah, saya hanya ingin mengetahui apa yang Kakak saya inginkan," ucap Dika.
"Kakakmu ingin hartaku b*doh!" teriak Devan.
"Uncle," panggil Norin.
"Diam!" teriak Devan.
__ADS_1
Norin pun takut dan langsung berlindung pada Rista, "Norin tidak tau apa-apa, tolong jangan libatkan dia," ucap Dika.
"Kau pikir istriku tau apa-apa, tidak. Tidak tidak tau apa-apa, tapi kau dan anak buah Kakak b*dohmu itu melibatkannya," ucap Devan.
"Maafkan aku, aku akan melakukan apapun agar Tuan Devan mau memaafkanku," ucap Dika.
"Hem, kalau begitu kau harus membayar perbuatanmu dengan nyawa," ucap Devan.
"Tuan Devan, tolong biarkan suami saya hidup. Saya tidak tau harus bagaimana jika suami saya pergi meninggalkan saya dan anak kami," ucap Rista yang tidak dapat menahan tangisannya.
"Ck, kalian ini sangat merepotkan. Aku akan membunuh kalian juga," ucap Devan.
"Tuan Devan, tolong jangan lakukan itu. Saya akan melakukan apapun, tapi jangan ambil nyawa saya, istri dan anak saya Tuan," ucap Dika.
"Lalu apa yang harus aku lakukan padamu kalau tidak membunuhmu?" tanya Devan.
"Tuan Devan bisa manfaatkan saya," ucap Dika.
"Memanfaatkanmu?" tanya Devan.
"Iya, Tuan," ucap Dika.
Baru saja Devan akan menjawab tiba-tiba saja ponselnya berdering yang menandakan seseorang menelponnya.
^^^Halo^^^
Devan, tolong aku. Kau takut!
^^^Kamu kenapa? tenang dulu ya.^^^
Aku gak bisa tenang, aku sekarang lagi di rumah sakit.
^^^Kamu kenapa di rumah sakit?^^^
Tadi aku sama Mama lagi jalan-jalan terus ada orang yang tiba-tiba datang dan langsung mukul aku sama Mama, sekarang Mama, hiks hiks. Aku takut banget, aku gak berani bilang siapa-siapa.
^^^Oke, sekarang kamu tenang dulu, aku akan pulang sekarang.^^^
Setelah itu, Devan pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Untuk kali ini aku akan memaafkan kau, tapi lain kali aku tidak akan berbaik hati lagi," ucap Devan dan meninggalkan gua tersebut bersama dengan Mike.
"Apa yang terjadi?" tanya Devan.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya sedang mengabari pengawal di sana, tapi sepertinya ada yang tidak beres Tuan," ucap Mike.
"Maksudmu?" tanya Devan.
"Saya juga kurang tahu pasti," ucap Mike.
"Ck, kau sangat tidak bisa diandalkan," ucap Devan.
"Maaf Tuan," ucap Mike.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.