
Devan pun langsung menghempaskan tangan Riana yang berada di lengannya, "Tangan kotor milikmu tidak pantas menyentuhku," ucap Devan.
"Kenapa Kak Devan berubah?" tanya Riana dengan wajah sedihnya.
"Saya tidak pernah berubah," ucap Devan dan menarik lembut tangan Keyna.
Riana yang melihat hal itu pun emosi dan tanpa memikirkan akibatnya, Rian pun menarik kasar tangan Keyna hingga genggaman tangan Devan terlepas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Devan.
"Apa karena perempuan ini Kak Devan mengacuhkanku?" tanya Riana.
"Saya tidak perna mempedulikanmu, jadi wajar jika saya mengacuhkanmu dan perempuan ini tidak ada sangkut pautnya dengan itu," ucap Devan.
"Gak! Kak Devan pasti gak mau perempuan ini salah paham kan makanya Kak Devan kayak gini ke aku," ucap Riana.
"Kalau iya, apa ada masalah denganmu?" tanya Devan.
"Iya, aku suka sama Kak Devan," ucap Riana.
"Tapi, saya tidak pernah suka denganmu. Perempuan ini adalah istri saya dan hanya dia yang berhak mendapatkan cinta saya," ucap Devan lalu pergi dari tempat tersebut tentunya dengan menggenggam tangan Keyna.
Keyna yang melihat pembicaraan Devan dan Riana pun mulai mengerti jika selama ini Riana menyukai Devan dan Devan tidak menyukai Riana yang artinya cinta Riana bertepuk sebelah tangan.
'Oh, jadi ternyata perempuan itu suka sama Devan, yakin Devan gak suka sama dia. Hahaha! kasihan banget,' ucap Keyna dalam hati.
Keyna sendiri sangat bahagia saat tahu tentang Devan tidak memiliki hubungan apapun dengan Riana, perempuan yang selama ini ia curigai memiliki hubungan dengan Devan.
"Loh, kita mau kemana kok keluar dari rumah sakit? nanti kalau Mama nyariin gimana?" tanya Keyna.
"Aku udah bilang Mama kalau kita pulang karena kamu harus istirahat," ucap Devan.
"Loh, tapi aku gapapa," ucap Keyna.
"Ya, tapi aku gak kenapa-napa," ucap Devan.
"Maksudnya?" tanya Keyna.
"Tuan," panggil Mike.
"Ada apa?" tanya Devan.
"Markas di serang," bisik Mike.
"Apa! kita ke markas sekarang!" perintah Devan.
"Terus aku gimana?" tanya Keyna.
"Aku akan mengantarkanmu pulang dulu," ucap Devan.
Setelah itu, Devan pun mengantarkan Keyna pulang ke mansionnya dan setelah Keyna masuk ke dalam mansion barulah Devan pergi ke markas.
"Selamat datang, Tuan Devan!" sapa Joseph.
"Aku sudah tahu jika semua ini ulahmu," ucap Devan.
"Wah, senang sekali jika Tuan Devan sudah tahu," ucap Joseph.
"Ya, untung saja mata-mataku melakukan hal yang benar," ucap Devan.
"Mata-mata b*doh seperti itu kau bilang melakukan hal yang benar, hahaha," Tapi Joseph.
"Ya, mata-mata ku melakukan hal yang benar," ucap Devan.
"Kau pikir aku akan percaya," ucap Joseph.
"Aku sedang tidak membual agar kau percaya padaku," ucap Devan dan membuat amarah Joseph meledak.
"Saya sudah pernah ingatkan kau untuk tidak mengganggu hidupku, tapi apa ternyata peringatanku tidak kau pedulikan karena kau justru mengirim Baron untuk memata-mataiku," ucap Joseph.
"Apa aku pernah takut dengan ancamanmu itu, jawabannya adalah tidak. Lebih baik kau pergi sebelum kau bernasib sama seperti sahabatmu itu," ucap Devan.
"Maksudmu Dion, aku sudah tidak peduli lagi apakah aku akan bernasib sama dengan sahabat b*dohku itu atau tidak," ucap Joseph.
"Kau yakin, kalau begitu kita persingkat saja hidupmu di dunia ini," ucap Devan dan mengambil pistol dari celana belakangnya.
"Oke-oke aku akan pergi, kalau begitu sampai jumpa di lain waktu," ucap Joseph dan pergi.
"Bagaimana dengan Baron?" tanya Devan.
"Baron saat ini sudah berada di villa keluarga Erland yang ada di negara C Tuan," ucap Mike.
"Apa semuanya sudah di dapatkan oleh Baron?" tanya Devan.
"Sudah Tuan," ucap Mike.
"Kau akan lihat bagaimana kejamnya Devano Radya Erland yang sesungguhnya," gumam Devan.
.
__ADS_1
Satu Minggu berlalu dan Mama Vanka pun saat ini sudah berada di rumah karena kondisinya yang semakin membaik.
Seperti saat ini dimana Mama Vanka mengobrol santai dengan teman-temannya di ruang tamu padahal Papa Alex menyuruh Mama Vanka tetap di kamar dan teman-teman Mama Vanka bisa mengobrol disana, tapi Mama Vanka tidak mau dan memilih untuk di ruang tamu.
"Itu menantumu jeng?" tanya Bu Rini dengan melihat Keyna yang tengah mengobrol bersama keluarga lainnya.
"Iya dong, gimana cantik kan," ucap Mama Vanka.
"Iya, cantik banget menantumu jeng. Devan gak salah pilih sih," ucap Bu Rini.
"Kerja dimana, jeng?" tanya Bu Rini.
"Dia model," ucap Mama Vanka.
"Model, tapi kok sedikit buncit gitu ya, harusnya kan kalau model gak boleh kayak gitu," ucap Bi Ambar.
"Iya lah, orang menantu saya itu lagi hamil, jadi wajar dong kalau perutnya buncit," ucap Mama Vanka.
"Masa sih, tapi kok gak kelihatan kalau lagi hamil ya," ucap Bu Ambar.
"Jeng Ambar ini ya selalu aja kayak gitu," ucap Bu Rini.
"Kayak gitu gimana jeng?" tanya Bu Ambar.
"Selalu ngomongin tubuh orang, maksudnya tuh kayak body shaming," ucap Bu Giselle.
"Ish, saya ini gak body shaming ya. Saya itu cuma bicara yang sebenarnya aja kok, kalau menurut saya pasti menantu jeng Vanka ini gak bisa jadi model kelas atas di agensinya deh. Apalagi menantu jeng Vanka itu kayak gak pantes gitu sama Devan dan pasti menantu jeng Vanka dari keluarga yang bisanya aja makanya dia mau nikah sama Devan yang dari keluarga Erland," ucap Bu Ambar.
"Bukan urusan jeng Ambar ya, lagian menantu saya gak harus jadi model karena suaminya itu Devano Radya Erland, pewaris All grup dan yang terpenting pernikahan Devan dan menantu saya tidak mengganggu jeng Ambar," ucap Mama Vanka.
"Aduh, biasa aja dong jeng. Saya kan cuma bercanda aja," ucap Bu Ambar.
"Saya ketawa gak sama candaannya jeng Ambar. Gak kan, itu artinya bukan candaan bagi saya," ucap Mama Vanka.
"Astaga jeng Vanka, maaf kalau candaan saya gak lucu," ucap Bu Ambar.
"Lebih baik jeng Ambar pulang deh, saya jadi males ngelihat muka jeng Ambar ini," ucap Mama Vanka.
"Yaudah iya saya pulang, tapi saya bawa cemilan ini ya," ucap Bu Ambar lalu membawa cemilan yang ada di atas meja dan setelah itu pergi.
"Dasar gak tahu malu," ucap Bi Rini.
"Iya, bener banget. Kayaknya dari dulu jeng Ambar kayak gitu deh orangnya gak pernah ngaca padahal anaknya kan gemuk banget bahkan kena diabetes, tapi ngehina orang lain. Lagipula menantunya jeng Vanka mah masih kurus dan wajar kalau buncit kan lagi hamil," ucap Bu Giselle.
"Iya, tapi kok jeng Ambar bisa ada di masuk grup kita ya," ucap Bu Rini.
"Iya lah lupa sama jeng Susi dulu yang masukin jeng jeng. Eh, taunya jeng Susi pergi baw ayang arisan," ucap Bu Giselle.
"Gimana jeng?" tanya Bu Giselle.
"Gampang itu, nanti biar saya yang urus," ucap Mama Vanka.
Disisi lain, Keyna yang sejak tadi mengobrol dengan keluarga lainnya tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama Vanka dan teman-temannya.
"Bener kata Bu Ambar kalau aku gak bisa jadi model kelas atas di agensi," gumam Keyna.
"Kenapa Kak?" tanya Clara.
"Eh, gak kenapa-napa kok," ucap Keyna.
Keyna memilih untuk pergi ke dapur mengambil air mineral, "Jadi kenapa kamu gak bilang kalau Riana datang dan mendekatimu?" tanya Kak Jeffry.
"Kenapa Devan harus bilang? lagipula semua itu tidak ada hubungannya dengan Devan," tanya Devan.
"Tapi, bukannya Tante Vanka dulu mau jodohin Kak Devan sama Riana anaknya Om Arik ya. Bahkan Kak Devan dan Riana akan menikah setelah Riana lulus kuliah," ucap Aldy.
"Iya, tapi kan Devan sudah menikah, jadi perjodohan itu juga batal," ucap Kak Jeffry.
"Kalau Kak Devan gak nikah sama Kak Keyna pasti Kak Devan bakal sama Riana," ucap Andra.
"Apa maksudmu?" tanya Devan yang mulai emosi dengan perkataan Andra.
"Kakak pasti tahu maksudku," ucap Andra.
"Maksudmu harusnya aku tidak menikah dengan Keyna?" tanya Devan.
"Ya, harusnya memang begitu bukan karena Keyna bukan dari keluarga terpandang," yfap Andra.
Keyna tidak kuat mendengarkan pembicaraan tersebut dan ia lebih memilih pergi dari tempat tersebut.
Disisi lain, Devan yang mendengar perkataan Andra pun tidak terima.
"Kau diam b*doh atau tidak aku akan merobek mulut sampahmu itu," ucap Devan.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Kak Jeffry.
"Aku hanya asal bicara saja," ucap Andra.
Devan yang terlanjur tersulut emosi pun langsung membawa Andra keluar dapur dan memukul wajah Andra hingga darah keluar dari mulut Andra.
__ADS_1
"Sekali lagi aku dengar ocehanmu itu maka akan ku pastikan kau akan berada di penjara bawah tanah ku dan aku tidak peduli siapa kau," ucap Devan dan meninggalkan Andra.
Malam harinya, Keyna memilih untuk pergi ke kamar, "Aduh, kenapa aku jadi kepikiran sama perkataan temennya Mama ya, apa iya aku gak bisa jadi model kelas atas di agensi dan apa iya aku gak cocok sama Devan karena aku gak bisa sepadan dengan Devan dan keluarga Papa Alex," gumam Keyna.
"Ternyata berat ya jadi istri dari seorang Devan yang merupakan pewaris keluarga Erland, aku kayaknya gak bisa berada di sisi Devan kalau kayak gini terus. Apalagi banyak orang yang gak suka aku ada di sini dan sepertinya Devan pun sama, dia gak suka sama aku. Astaga Keyna, kenapa jadi mikir kayak gini sih harusnya kamu itu kuat dan bisa hadapin semuanya. Ingat Key, kamu lagi hamil jadi jangan mikir yang gak-gak deh," lanjut Keyna.
Keyna pun merebahkan tubuhnya di kasur, namun cukup lama ia tidak mencoba untuk tidur. Tapi, ia tetap tidak dapat tidur dan rasanya ia ingin tidur di peluk Devan.
"Pasti kamu pengen tidur sama Papa ya," ucap Keyna dengan mengusap perutnya.
"Yaudah, kalau gitu kita ke Papa ya," lanjut Keyna dan ia pun keluar dari kamar.
.
"Loh, Van. Mana Keyna?" tanya Mama Vanka.
"Dia ke kamar, Ma. Katanya ngantuk," ucap Devan.
"Kamu gak temenin istri kamu, dia kan lagi hamil pengennya kalau mau tidur itu dimanja gitu sama suami," ucap Mama Vanka.
"Devan lagi ada urusan sama Kak Jeffry, Ma. Jadi kapan-kapan aja ya Devan manjain Keyna," ucap Devan.
"Ish, kamu ini kenapa kayak gitu sih. Kasihan tahu istri kamu sendirian di kamar, cepet gih kamu temenin," ucap Mama Vanka.
"Gak usah, Ma. Dia bisa sendiri kok, udah ya, Ma. Devan masih ada beberapa urusan yang penting ini," ucap Devan.
"Udah, Van. Kamu temenin istri kamu aja, orang hamil emang pengen di manja sama kayak Acha," ucap Kak Jeffry.
"Gak kok, Kak. Keyna beda, dia bisa sendiri," ucap Devan.
Tanpa Devan sadari Keyna mendengar semuanya, 'Padahal aku mau manggil Devan karena aku pengen di peluk, tapi ternyata keinginanku ketinggian ya. Harusnya aku sadar sama posisiku di sini,' ucap Keyna dalam hati dan kembali ke kamar.
Keyna kali ke kamar dengan perasaan campur aduk, "Aku harus tidur dan melupakan semua ini," ucap Keyna.
Akhirnya setelah beberapa saat, Keyna pun tertidur tanpa pelukan Devan.
Devan yang selesai dengan urusannya pun langsung kembali ke kamar, baru saja ia membuka pintu kamarnya dan Devan sudah melihat Keyna yang terlelap.
"Jangan buat aku goyah," bisik Devan tepat di telinga Keyna.
Devan pun membersihkan tubuhnya dan setelah itu, ia langsung merebahkan tubuhnya di samping Keyna dan tak lupa Devan juga menarik Keyna ke dalam pelukannya.
Pagi harinya, Devan terbangun dan tidak melihat Keyna di sampingnya.
"Dia kemana? kenapa tidak ada di kamar?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
Devan pun melihat jam dan ternyata masih jam 5 pagi, Devan pun segera keluar kamar untuk mencari keberadaan sang istri.
"Tuan Devan," panggil Bi Risa.
"Bibi lihat Keyna?" tanya Devan.
"Nyonya Keyna sedang berada di taman belakang Tuan," ucap Bi Risa.
"Taman belakang? kenapa dia ada di taman belakang pagi hari kayak gini?" tanya Devan.
"Nyonya Keyna tadi ingin makan bubur Tuan, jadi para koki langsung memasakkannya," ucap Bi Risa.
"Kenapa tidak makan di meja makan dan justru makan di taman belakang?" tanya Devan.
"Nyonya sendiri yang minta Tuan," ucap Bi Risa yang mulai takut dengan aura mencekam yang dikeluarkan Devan.
"Hem," jawab Devan dan berlalu meninggalkan Bi Risa.
Benar saja, saat Devan sampai di taman belakang. Ia dapat melihat Keyna yang tengah ad k memakan bubur yang tadi dibuatkan oleh koki.
"Kenapa makan di sini?" tanya Devan.
Keyna pun menoleh pada Devan.
"Eh, I-itu soalnya lagi pengen aja," ucap Keyna.
"Tapi, disini dingin. Ayo ke dalam aja," ajak Devan.
"Gak mau, kalau di dalam gak bisa nikmatin udara sejuk pagi," ucap Keyna.
"Kamu lagi hamil, jadi kamu harus mikirin anak aku juga," ucap Devan.
"Ish, ini anak aku juga ya. Lagian aku gapapa kok dan aku juga bisa jaga anak aku sendiri," ucap Keyna yang merasa kesal pada Devan.
Karena terlanjur kesal, Keyna pun mengambil piring buburnya dan pergi meninggalkan Devan lalu ia pun masuk ke dalam rumah.
"Dia marah?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.