Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Tidur


__ADS_3

Setelah kepergian Devan, Nenek Aurel pun memandangi foto anak dan keluarganya, semua anaknya telah meninggal dan hanya dirinya dan Ayah dari Aurel saja yang masih hidup, tapi sekarang Ayah Aurel juga meninggalkannya.


Hingga beberapa saat kemudian asap mulai keluar dan tanpa Nenek Aurel sadari asap tersebut semakin banyak, Nenek Aurel mulai merasakan sesak dan segera berlari menuju pintu, tapi ia tidak bisa membuka pintu tersebut dan beberapa saat kemudian api pun muncul yang membuat Nenek Aurel semakin takut.


"Astaga, ada apa ini?" tanya lirih Nenek Aurel karena dadanya sudah mulai sesak.


Api mulai menghanguskan seluruh rumahnya dan Nenek Aurel juga masih terjebak disana, "Kemana orang-orang ini apa mereka tidak tau kalau rumahku terbakar?" tanya Nenek Aurel pada dirinya sendiri.


Tanpa Nenek Aurel sadari kayu penyangga rumahnya mulai hangus dan beberapa saat kemudian jatuh tepat di tubuhnya, "To-tolong," lirih Nenek Aurel.


Nenek Aurel merasakan sakit terutama di kakinya karena saat ini kakinya sudah mulai terbakar, ia menepuk-nepuk kakinya agar api menghilang, namun bukannya menghilang api tersebut semakin besar dan tiba-tiba pintu di dobrak menampakkan seorang pria dengan baju serba hitam dan tato tengkorak pada lengannya.


Nenek Farah bersyukur karena ada orang yang membantunya, "Nak, to-long Nenek," ucap Nenek Aurel.


"Ck, anda tidak pantas untuk di tolong," ucap pria tersebut lalu menarik Nenek Aurel dan membawanya menuju kamar dan menguncinya.


"Tolong saya hiks-hiks," ucap Nenek Aurel dari dalam kamar.


Pria tersebut menghiraukan Nenek Aurel dan berjalan keluar dengan angkuhnya lalu pergi dari rumah tersebut dan beberapa saat kemudian api pun sudah menjalar ke semua rumah, Nenek Aurel pun meninggal saat itu juga karena tubuhnya terbakar.


Disisi lain, Devan yang saat ini berada di markas pun hanya mendengarkan penjelasan Mike mengenai kondisi Nenek Aurel, "Bagus, oh iya Mike ambil jasad wanita tua itu!" perintah Devan.


"Baik Tuan, tapi untuk apa Tuan?" tanya Mike.


Mike tau jika Devan tidak terlalu suka jasad yang hangus biasanya jika jasad itu hangus Devan akan membiarkannya begitu saja.


"Bersihkan tubuhnya dan potong dagingnya lalu berikan ke kelompok Eater," ucap Devan.


Eater adalah salah satu kelompok mafia yang dikenal dengan pemakan segala jenis daging dan kelompok Eater sendiri bekerjasama dengan kelompok Eternal.


"Baik, Tuan," ucap Mike lalu pergi dan melakukan perintah Devan.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai keluargaku, sepertinya tanganku memang benar-benar tidak bisa diajak kerjasama," ucap Devan lalu menuju penjara bawah tanah dan menghampiri tahanan yang ada disana.


"Buka aku ingin membunuh dia," ucap Devan.


Anak buah Devan pun membukanya, "Hai, kau sepertinya sudah cukup lama disini sampai aku lupa kesalahan apa yang kau perbuat," ucap Devan lalu mengarahkan pistol ke kepala pria botak tersebut.


Dor...


Entah alasan Devan membunuh pria tersebut, ia rasa hari ini tangannya benar-benar ingin membunuh, sudah dua nyawa yang harus hilang hari ini.


Devan sedang menikmati jasad yang baru saja ia tembak, itulah kebiasaan Devan ia akan melihat jasad tersebut dan melihat itulah yang memilikinya kenikmatan sendiri bagi Devan.


Bahkan Devan pernah melihat jasadnya sampai berbau entah berapa hari Devan melihatnya.

__ADS_1


Memang Devan terkenal bukan hanya sebagai mafia, tapi juga psikopat yang sangat mengerikan.


***


Malam harinya, Keyna sudah merasa bosan di rumah sakit, Vio sendiri saat ini sedang ke kantin untuk makan karena seharian menjaga Keyna.


Baru saja akan memejamkan matanya tiba-tiba terdengar pintu terbuka, 'Padahal Vio baru aja keluar masa dia udah selesai makan sih? apa ada yang ketinggalan kali ya?' tanya Keyna dalam hati lalu membuka matanya.


Saat membuka matanya, Keyna terkejut melihat Devan yang sudah berada di samping brankarnya, "A-ada apa, Dev?" tanya Keyna yang mulai gugup karena Devan menatapnya intens.


"Sudah makan?" tanya Devan, singkat padat dan jelas itulah Devan. Keyna sudah tidak terkejut lagi mendengar semua yang Devan katakan atau tanyakan padanya.


"Udah kok," ucap Keyna.


"Siapa yang menjagamu? kenapa kamu sendirian?" tanya Devan dengan mempertahankan wajah datarnya.


"Vio, tapi Vio lagi makan di kantin soalnya seharian ini dia udah jagain aku," ucap Keyna dan diangguki Devan.


Devan mendekat ke arah Keyna lalu naik ke brankar, "Ka-kamu ngapain naik, Dev?" tanya Keyna saat melihat Devan sudah berbaring di sampingnya.


"Tidur," ucap Devan lalu menutup matanya menggunakan lengan kanannya.


Keyna sendiri hanya menatap atap karena jaraknya begitu dekat dengan Devan, meskipun ini bukan pertama bagi Keyna, tapi tetap saja ia merasa gugup, Keyna takut kepergok seperti tadi pagi.


"Tidur, Key," ucap Devan yang masih setia dengan posisinya.


"Ada apa?" tanya Devan.


"Tidak, saya kira Nyonya Keyna sendirian sebab itu saya kesini untuk menjaganya," ucap perawat perempuan yang baru saja masuk, ia terkejut melihat Devan juga disana.


"Keluar!" ucap Devan dan langsung dimengerti oleh perawat tersebut.


"Kenapa disuruh keluar?" tanya Keyna.


"Tidur!" bukannya menjawab pertanyaan Keyna, Devan justru menyuruh Keyna untuk tidur dan dengan bodohnya Keyna menurutinya.


Keyna merasakan Devan menariknya kedalam pelukannya, Keyna tidak menolak juga tidak membalasnya karena saat ini Keyna sangat gugup ingin berteriak dan baru juga berpelukan pintu kamar inap Keyna kembali terbuka.


"Yeh, malah pelukan," ucap Vio.


"Udah kenyang?" tanya Devan yang masih memeluk Keyna.


Keyna tidak membuka matanya justru Keyna menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan.


"Kenyang dong," ucap Vio.

__ADS_1


"Habis berapa porsi?" tanya Devan.


"Astaga, Kak Devan, Kakak nanyanya kayak aku rakus gitu," ucap Vio.


"Berapa porsi?" tanya Devan.


"Ck, cuma 2 porsi kok Kak, gak banyak kayak biasanya," ucap Vio.


Keyna yang mendengarnya pun sontak terkejut dan membuka matanya baru saja akan duduk Devan menariknya kembali ke pelukannya dan memposisikan Keyna seperti sebelumnya.


"Kamu gak pulang?" Devan dengan nada santai, namun terkesan mengusir.


"Iya, iya, mana," ucap Vio dan mengulurkan tangannya.


"Mau salim, nih," ucap Devan dan mengulurkan tangannya untuk Vio.


"Ih, ogah banget deh Kak, mana uangnya kan Vio gak bawa mobil kesini, tadi pagi juga ke sini nya bareng sama Mama," ucap Vio.


"Ck, menyusahkan," ucap Devan dan memberikan beberapa lembar uang pada Vio.


"Makasih Kakakku yang paling ganteng kalau begitu selamat berpelukan, si pengganggu ini akan pergi, dadah," ucap Vio lalu keluar dari kamar inap Keyna.


Hening, itulah yang dirasakan Keyna yang masih setia berada di pelukan Devan.


"Key," panggil Devan, tapi tidak ada respon dari Keyna.


"Apa kamu menginginkan anak?" tanya Devan.


Keyna sendiri yang pura-pura tidak mendengarnya dan melanjutkan tidurnya, namun perkataan Devan membuatnya membuka mata dan mendongak.


"Kenapa?" tanya Devan yang melihat Keyna menatapnya intens.


"Kamu kenapa? kenapa tiba-tiba tanya masalah itu bukannya sebelumnya kamu tidak menginginkan anak?" tanya Keyna.


"Aku hanya tanya," ucap Devan lalu memejamkan matanya.


'Dia kenapa sih kayak orang datang bulan aja, gak jelas gitu?' tanya Keyna dalam hati dan menyusul Devan ke alam mimpi.


"Tapi, kalau nanti kita punya anak kamu bagaimana?" tanya Devan yang masih memejamkan matanya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2