
Malam harinya, Keyna sudah bersiap untuk menyambut Devan, ia masih takut jika Devan salah paham karena Jordan tadi memeluknya.
"Dev," panggil Keyna saat melihat Devan sudah masuk ke dalam kamar.
Devan tidak merespon panggilan Keyna, ia justru berjalan menuju kamar mandi. Saat melihat Devan yang menjauh darinya Lea hanya bisa pasrah karena ia tahu jika Devan tengah marah padanya.
Keyna akhirnya memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa, entahlah Keyna hanya merasa Devan tidak akan mau tidur dengannya untuk malam ini.
Sedangkan, Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak melihat keberadaan Keyna, Devan tidak mau ambil pusing dan lebih memilih untuk memakai bajunya dan setelah itu ia keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.
"Apa Keyna sedang ada di ruang makan?" tanya Devan pada Bi Nani yang berada di ruang tamu untuk membersihkan sisa makanan yang ada di meja tersebut.
"Tidak, Tuan. Nyonya belum keluar kamar sejak tadi," ucap Bi Nani.
Devan yang mendengarnya pun sedikit terkejut sekaligus penasaran dimana Keyna berada, kenapa tidak ada di dalam kamar. Beberapa saat kemudian, Devan pun berjalan kembali ke kamar setelah pekerjaannya selesai.
Devan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Namun, ia tetap tidak melihat Keyna hingga saat Devan akan duduk di sofa, ia melihat Keyna yang tengah tertidur dengan tenang di sofa.
"Apa dia lupa kalau dia ini hamil, bagaimana bisa dia tidur di sofa," gumam Devan lalu menggendong Keyna ala bridal style ke ranjangnya dan Devan pun merebahkan tubuhnya di samping Keyna.
.
Keyna pun terbangun dan melihat dada bidang Devan lalu ia mendongak dan menatap wajah damai suaminya itu.
Melihat Devan yang sangat tampan saat tidur membuat Keyna gemas dengan cepat Keyna mengecup seluruh wajah tampan Devan.
Devan yang merasa tidurnya terganggu pun mulai membuka matanya dan melihat Keyna yang tengah tersenyum ke arahnya, "Kenapa senyum-senyum?" tanya Devan dengan suara khas bangun tidurnya.
"Kamu marah ya?" tanya Keyna.
"Gak," jawab Devan lalu menyibakkan selimut.
Namun, saat akan berdiri tiba-tiba Keyna menahan lengan kekar Devan dan menindih tubuh Devan. Devan sendiri kaget dengan tindakan Keyna, Devan bisa saja menyingkirkan Keyna dari tubuhnya, tapi ia ingat jika Keyna saat ini tengah hamil anaknya jadi Devan hanya diam dan menatap ke arah Keyna yang menurutnya semakin bertingkah aneh.
"Apa yang mau kamu lakukan?' tanya Devan dengan suara beratnya seperti menahan sesuatu.
"Gak tahu tiba-tiba aja aku kayak gini," ucap Keyna dengan polos.
"Huh, apa kamu ingin sesuatu?" tanya Devan.
"Gak tahu," ucap Keyna.
"Terus apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Devan.
"Apa boleh?" tanya Keyna.
__ADS_1
"Boleh apa?" tanya Devan.
"Aku melakukannya," ucap Keyna.
"Melakukan apa?" tanya Devan dengan menaikkan alis kanannya.
"Melakukan apa yang saat ini aku inginkan," ucap Keyna.
"Hem," jawab Devan walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa yang ke inginkan saat ini.
Keyna tiba-tiba saja memeluk Devan, "Key, jangan kayak gini," ucap Devan.
Sejujurnya Devan takut karena posisi Keyna berada di atasnya dan nantinya akan berdampak pada calon anaknya.
Mendengar perkataan Devan, Keyna pun mendongak dan menatap Devan dengan berkaca-kaca, Devan semakin bingung padahal niatnya baik, tapi Keyna justru ingin menangis.
"Eh, jangan nangis. Aku cuma gak mau baby-nya keteken," ucap Devan.
"Tapi, aku pengen posisi kayak gini," ucap Keyna.
"Iya tahu, tapi posisi kayak gini itu gak baik banget loh buat si baby," ucap Devan.
Akhirnya Keyna pun turun dari atas tubuh Devan dan membaringkan tubuhnya di samping Devan, lalu Keyna menghadap kearah Devan dan menaruh wajahnya di leher Devan.
"Ini maunya si baby Dev," ucap Keyna.
Beberapa saat kemudian, Keyna pun akhirnya terlelap, Devan sendiri merasa tangannya kesemutan dan mulai melepaskan tangannya yang menjadi bantalan Keyna.
"Masih di kandungan aja udah nyusahin apalagi kalau udah lahir," gumam Devan.
Setelah memastikan Keyna tidur dan tidak terganggu, Devan pun beranjak dari kasur dan menuju ruang kerjanya, "Tuan Devan," panggil Bi Nani.
"Ada apa, Bi?" tanya Devan.
"Ini tadi saya menemukan sebuah kotak di depan rumah, saya ingin membukanya. Tapi, di ada tulisan kalau yang boleh buka kotak ini hanya Tuan Devan," ucap Bi Nani dan diangguki Devan.
"Bibi bisa pergi sekarang," ucap Devan dan diangguki Bi Nani.
Devan pun membawa kotak tersebut ke ruang kerjanya, selama di ruang kerjanya Devan menatap tajam kotak tersebut, "Siapa yang ngirim kotak ini dan kenapa hanya aku yang boleh buka?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
Setelah bertanya-tanya pada dirinya sendiri akhirnya Devan membuka kotak tersebut dan ia menaikkan alis sebelah kanannya karena melihat isi di dalam kotak tersebut yang ternyata sebuah foto.
"Kenapa ada foto si br*ngsek itu," gumam Devan.
Ternyata di dalam kotak tersebut hanya ada foto Dika, Devan kembali menaruh foto tersebut dan saat akan menutup kotak tersebut, Devan justru melihat sebuah foto perempuan yang tengah tersenyum manis.
__ADS_1
Di foto tersebut terdapat sebuah tulisan *target* yang membuat Devan marah adalah karena tulisan tersebut bukan menggunakan pulpen melainkan menggunakan darah.
"Mereka mau menargetkan Kak Acha," ucap Devan dan tersenyum smirk.
"Mereka harusnya menargetkan Keyna bukannya Kak Acha yang jelas-jelas memiliki kemampuan bela diri yang bisa dibilang kuat daripada para wanita lainnya. Kalau mereka menargetkan Keyna, aku yakin pasti Keyna hanya akan menangis karena ia tidak bisa melawan," gumam Devan.
"Tuan," panggil Mike, dari luar ruang kerja.
"Masuk," ucap Devan.
Setelah diperbolehkan masuk, Mike pun masuk ke dalam ruang kerja Devan dan Devan sendiri segera menyembunyikan kotak tersebut.
"Ada apa?" tanya Devan.
"Tuan, Temmy Grup meminta besok untuk bertemu dengan Tuan Devan," ucap Mike.
Pertemuan yang tadi dibuat oleh Temmy Grup memang batal karena pihak Temmy Grup yang mengatakan jika proposal yang mereka ajukan berada di tangan Rommy, putra dari pemilik Temmy Grup grup yaitu Temmy.
Mau tidak mau akhirnya pertemuan tadi pun batal, Devan sendiri marah karena menganggap bahwa pihak Temmy Grup tidak becus dalam kerjasama kali ini.
"Suruh mereka datang seminggu lagi, aku malas bertemu dengan orang-orang yang tidak kompeten seperti mereka," ucap Devan yang membuat Mike merinding seketika.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
"Apa ada lagi?" tanya Devan.
"Tidak ada, Tuan," ucap Mike.
"Kau boleh pergi, ah dan satu lagi besok aku tidak akan ke kantor. Besok aku akan ke negara C," ucap Devan.
"Kalau boleh tahu ada urusan apa Tuan ke negara C? bukannya semua perusahaan yang ada di luar negeri tidak ada masalah apapun?" tanya Mike.
"Aku hanya ingin mengunjungi Dika saja, aku rasa dia perlu dijenguk. Kalau bukan kita yang jenguk dia, siapa lagi. Kau tahu kan kalau sudaranya baru saja meninggalkan dia. Dia pasti terpukul dan karena aku orangnya baik dan tidak suka melihat orang yang berduka makanya aku berniat untuk belasungkawa langsung ke Dika," ucap Devan.
"Kalau begitu saya akan pesankan tiket," ucap Mike.
"No! tidak perlu, kau tinggal menyiapkan pesawat pribadiku saja," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike lalu keluar dari ruang kerja tersebut.
"Mari kita mulai permainan sampahmu ini, bagaimana jika besok aku bersenang-senang sedikit denganmu," gumam Devan dan mengeluarkan smirk nya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.