
Disisi lain, Devan saat ini berada di bar milik Rangga, ia ingin meminta penjelasan dari Rangga tentang obat yang ia masukkan.
Rangga yang mendapat tatapan tajam dari Devan hanya bisa menelan ludahnya kasar karena jujur saja ia takut jika Devan sudah mengeluarkan tatapan mengerikan seperti itu.
"De-Dev, gu-gue.....," belum sempat Rangga melanjutkan perkataannya, Devan terlebih dahulu menyelanya.
"Kenapa kau gugup? apa kau punya niat yang buruk?" tanya Devan dengan nada dingin bahkan terkesan datar.
"Se-sebenarnya gu-gue," Devan kembali menyela perkataan Rangga.
"Lo bisa gak sih kalau mau jelasin jangan gugup kayak gitu, lo jangan buat mood gue hancur!" bentak Devan dan membuat nyali Rangga menciut.
"Gue disuruh Tante Vanka," ucap Rangga dengan sekali tarikan napas.
Devan mengerutkan keningnya, "Mama, kenapa Mama nyuruh lo ngelakuin itu?" tanya Devan.
"Gak tau juga gue, pokoknya Tante Vanka nelpon gue dan suruh ngasih obat itu kedalam minuman lo kalau lo ke sini," ucap Rangga.
"Terus lo tau darimana kalau Keyna ada di hotel itu?" tanya Devan.
"Dari Tante Vanka juga," ucap Rangga.
"Kok Mama bisa tau?" tanya Devan.
"Ya, gue juga gak tau pokoknya tiba-tiba Tante Vanka nyuruh gue dateng ke rumahnya dan nyuruh gue ngasih obat itu ke lo hari itu juga terus pas banget lo dateng ke bar gue malam harinya ya langsung aja gue kasih itu ke lo dan Mama Vanka juga bilang kalau lo udah terpengaruh obat itu gue harus ke hotel H nomor 11," ucap Rangga.
"Tetep aja lo salah jadi lo harus gue hukum," ucap Devan yang menatap tajam Rangga.
"Astaga, Dev. Kan semua ini rencananya Tante Vanka, gue gak tau apa-apa, lo hukum Tante Vanka dong kenapa harus gue sih, gue ini cuma ngejalanin semuanya sesuai perintah," ucap Rangga.
"Gue gak peduli yang jelas lo salah," ucap Devan lalu mengambil botol wine dan memukulkannya ke kepala Rangga.
Rangga pun terjatuh karena terkejut dengan tindakan Devan, Rangga menyeka darah yang ada di kepalanya.
"Ini hukuman buat lo yang udah berani kasih obat laknat itu ke minuman gue," ucap Devan lalu pergi meninggalkan Rangga yang mengerang kesakitan di kepalanya.
"Dev, kapan lo berubah, gue pikir setelah lo punya istri semuanya akan kembali normal seperti 6 tahun lalu," gumam Rangga yang melihat Devan keluar dari dalam bar miliknya.
Setelah Devan keluar dari tempat Rangga, ia pun memutuskan untuk ke mansion nya, Devan harus menanyakannya secara langsung kepada Mama Vanka, sesampainya di mansion ia melihat Mama Vanka yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu dan Mama Vanka tidak menyadari jika kedatangan Devan.
"Sepertinya Mama senang sekali hari ini," ucap Devan lalu duduk di sofa depan Mama Vanka.
"Eh, kamu Dev, hehehe, iya nih, Mama seneng banget hari ini, ehm sebenarnya bukan hari ini sih, tapi mulai malam lusa Mama seneng banget rasanya mau undang semua teman arisan Mama," ucap Mama Vanka dengan senyuman yang tak pernah luntur.
"Kenapa Mama nyuruh Rangga masukin obat itu kedalam minuman Devan?" tanya Devan.
"Minuman apa Mama gak ngerti?" tanya Mama Vanka.
__ADS_1
"Mama gak pinter buat bohong, lebih baik Mama kasih tau ke Devan kenapa Mama ngelakuin hal kayak gitu?" tanya Devan lagi.
"Ih, kamu nih ya Dev, Mama gak paham apa yang lagi kamu bicarain jadi Mama gak akan jawab paham," ucap Mama Vanka.
"Ma, udah Devan bilang Mama gak pinter bohong, asal Mama tau akting Mama itu buruk sangat buruk malahan," ucap Devan.
"Enak aja kamu ini," ucap Mama Vanka.
"Ini yang terakhir kali Devan tanya ke Mama kalau memang Mama masih gak mua jawab oke Devan akan ngelakuin hal diluar batas," ucap Devan.
"Kenapa Mama nyuruh Rangga buat masukin obat itu kedalam minuman Devan?" tanya Devan lagi.
"Ih, kamu ini masa gak tau sih, Dev. Mama ini pengen cepet punya cucu makanya Mama suruh Rangga buat kasih obat itu kedalam minuman kamu," ucap Mama Vanka.
"Terus darimana Mama tau kalau Keyna ada di hotel itu?" tanya Devan.
"Hehehe, Mama suruh anak buah Papamu buat ngikutin menantu Mama," ucap Mama Vanka.
"Ma, kenapa Mama lakuin itu sih, Devan sama Keyna masih butuh waktu buat ngasih Mama cucu, tapi Mama malah ngelakuin hal yang kayak gini, asal Mama tau, Devan itu ingin melakukan itu saat Devan dalam kondisi sadar bukan karena Devan dalam kondisi terpengaruh sama obat," ucap Devan.
"Mama tau Dev, tapi harus berapa lama lagi Mama nunggunya, kamu sama Keyna masih belum ke tahap suami istri padahal kalian udah beberapa bulan menikah," ucap Mama Vanka.
"Ma, tapi Devan sama Keyna juga butuh waktu untuk ngasih Mama cucu lagian Kak Acha kan juga lagi hamil jadi Mama bakal punya cucu dari Kak Acha," ucap Devan.
"Sampai kapan waktu yang kamu butuhkan sama Keyna untuk ngasih Mama cucu, untuk Kakakmu Acha Mama malahan senang banget karena itu cucu pertama Mama, tapi kita semua tau kalau Acha dan Jeffry memang saling mencintai, mereka menikah karena cinta. Sedangkan kamu dan Keyna beda, kalian menikah karena saling membutuhkan jadi Mama harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengawasi pernikahan kalian," ucap Mama Vanka.
"Devan sama Keyna bukan anak kecil lagi jadi Mama tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga kita lagi, Devan dan Keyna bisa mengurus semuanya sendiri," ucap Devan.
"Itu urusan Devan, Mama gak perlu tau dan ikut campur dalam masalah rumah tangga Devan!" bentak Devan lalu keluar dari kediaman keluarga Erland tanpa melihat Mama Vanka sedikitpun.
Mama Vanka tertegun mendengar bentakan Devan, setelah Devan pergi Mama Vanka lebih banyak didalam kamar dan mulai mendiamkan diri karena tindakannya disalahkan oleh Devan.
Padahal Mama Vanka hanya ingin membuat anak dan menantunya bersama selayaknya suami istri pada umumnya.
Ya, Mama Vanka tau jika Devan belum pernah berhubungan intim dengan Keyna dari para pelayan dan beberapa mata-mata yang Mama Vanka suruh.
Disisi lain, Devan pulang dengan amarah yang meluap-luap, ia tidak habis pikir dengan tindakan bodoh Mama Vanka, setelah hal ini terjadi hanya satu yang Devan takutkan yakni Devan takut rencana awalnya gagal dan semua ini karena Mama Vanka.
Ketakutan Devan itu benar-benar membuat Devan serba salah dan merasa menjadi manusia terbodoh yang pernah ada.
"Aaaargh!" teriak Devan dalam mobil.
Sesampainya di rumah Devan melihat Keyna dan sahabatnya Kikan di ruang tamu, "Presdir Devan," sapa Kikan.
Devan tetaplah Devan, dingin, cuek, datar dan sangat sulit untuk diluluhkan, Devan hanya melirik ke arah Keyna lalu menuju kamarnya tanpa merespon sapaan Kikan.
"Serem banget Presdir Devan kalau di rumah," ucap Kikan.
__ADS_1
"Ya, begitulah, aku mah udah biasa kali," ucap Keyna.
"Masa Presdir Devan gak pernah gitu ngajak kamu ngomong?" tanya Kikan.
"Ya, pernah lah, tapi dikit banget, Devan kalau ngomong mah irit banget," ucap Keyna.
Beberapa saat kemudian, setelah Kikan pergi Keyna menuju kamarnya dan tidak melihat Devan di kamar lalu pandangannya tertuju pada bayangan Devan di balkon kamarnya.
"Kamu kenapa disini? kamu gak takut dingin apa?" tanya Keyna.
"Bukan urusanmu, lebih baik kau diam, saat ini aku tidak ingin berbicara dengan siapapun," ucap Devan.
key aku pun menghela napasnya kasar dan kembali masuk kedalam kamar, lalu berbaring kasur empuknya.
Saat sedang memejamkan matanya Keyna merasa seseorang memeluk dan mengendus leher jenjangnya, Keyna pun membuka matanya dan mendapati Devan yang sedang memeluknya.
Entah keberanian darimana Keyna pun mengusap lengan kekar suaminya itu, saat mereka sedang santai-santai seperti itu, tiba-tiba suara ketukan pintu pun terdengar, "Dev, ada yang ketuk pintu, aku buka dulu ya," ucap Keyna.
"Hem," jawab Devan tanpa melepaskan pelukannya.
"Lepasin dulu," ucap Keyna, Devan pun melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Keyna.
Meskipun terkejut dengan tindakan Devan, tapi Keyna tetap bersikap tenang ia tidak ingin terlihat gugup di depan Devan.
Keyna pun membuka pintu kamarnya dan terlihatlah Mike disana.
"Ada apa Mike, ada urusan sama Devan ya?" tanya Keyna.
"Maaf, Nyonya, dibawah ada Tuan besar yang ingin bertemu Tuan Devan," ucap Mike.
"Oh, yaudah aku bilang ke Devan dulu," ucap Keyna.
"Baik, Nyonya, kalau begitu permisi," ucap Mike dan diangguki Keyna.
"Dev, ada Papa dibawah katanya mau ketemu kamu," ucap Keyna.
Devan yang awalnya menutup mata pun langsung membuka matanya lebar-lebar saat mendengar perkataan Keyna, dengan cepat Devan pun melangkah meninggalkan Keyna didalam kamar.
"Devan kenapa sih kok aneh?" tanya Keyna lalu mengikuti langkah Devan menuju ruang tamu.
Devan yang sudah sampai ruang tamu pun langsung melihat Papa Alex yang duduk di sofa, "Ada apa Papa malam-malam datang kesini? apa ada hal yang penting banget sampai Papa rela secara langsung ke mansion Devan?" tanya Devan dengan santai.
Bugh...
.
.
__ADS_1
.
Tbc.