
Keyna saat ini berada di mansion nya dengan Mama Vanka, tadi saat Keyna pulang ia melihat Mama Vanka yang berada di ruang tamu dan sontak Mama Vanka terkejut dengan penampakan Keyna yang terlihat sembab.
Keyna memberitahukan semuanya mulai saat di kantor, Keyna tadi ke toilet kantor dan menangis disana sebelum pulang, ia pikir Devan pergi dari rumah sebab Devan tidak mengatakan apapun ke Keyna, bahkan saat Keyna tanya Pak Nardy dan Gita, mereka tidak tau kemana perginya Devan.
Keyna tadi juga sempat menghubungi Devan, tapi tidak dijawab dan saat Mama Bella yang mencoba menghubunginya, Devan mengangkat sebenarnya ada rasa iri di hati Keyna, karena Keyna tau jika ia bukan prioritas bagi Devan.
Selama jadi istri Devan, Keyna selalu hidup berkecukupan dan Keyna juga merasa bahwa Keyna seperti seorang putri tidak melakukan apapun karena semuanya dilakukan oleh pelayan bahkan Keyna pun dijaga, tapi Devan lupa satu hal jika yang Keyna butuhkan ialah perhatian darinya.
"Sayang, maafin anak Mama ya, dia itu emang kayak kulkas, dia itu gak peka anaknya," ucap Mama Vanka.
"Iya, Ma, gapapa kok," ucap Keyna.
"Yaudah kalau begitu sekarang Mama temenin kamu ya di rumah sampai Devan pulang," ucap Mama Vanka.
"Tapi, Ma, nanti Papa gimana? Keyna gapapa kok di mansion aja, lagian Keyna kan gak sendirian ada Bi Nani, Ganish, terus juga sama pelayan dan penjaga lainnya," ucap Keyna.
"Gapapa, Mama temenin kamu aja lagian Papa kamu udah tua juga gak harus ditemenin sama Mama terus," ucap Mama Vanka, akhirnya Keyna pun menganggukkan kepalanya.
Keyna dan Mama Vanka saat ini berada di kamar Devan dan bersiap untuk istirahat, "Ma, Devan itu orangnya misterius ya?" tanya Keyna.
"Sayang, kamu mau janji sama,
Mama gak?" tanya Mama Vanka.
kenapa pun mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Mama Vanka, "Janji apa memangnya, Ma?" tanya Keyna.
"Kamu mau janji gak sama Mama, kalau seandainya suatu saat nanti kamu tau sesuatu soal Devan, kamu gak bakal ninggalin Devan, Mama, Papa dan yang lainnya?" tanya Mama Vanka.
"Pastilah Ma, saat kena sama Devan udah terikat pernikahan maka bagi Keyna, Devan itu segalanya buat Keyna, Keyna harus terima segala kekurangan dan juga kelebihannya Devan, jadi Keyna pasti tetap ada disamping Devan tanpa harus Mama suruh," ucap Keyna dengan tersenyum meskipun ia masih mempertanyakan mengenai pertanyaan Mama Vanka, tapi ia tidak mau ambil pusing soal itu.
Sedangkan, Mama Vanka juga ikut tersenyum melihat senyuman tulus dari sang menantu, ia bersyukur karena Devan mendapatkan perempuan yang tulus seperti Keyna dan Mama Vanka juga melihat jika Keyna mulai menyukai Devan.
Mama Vanka tau jika Keyna dan Devan menikah bukan karena cinta, Mama juga bingung apa alasan Devan menikahi Keyna jika bukan karena cinta, apa Devan masih menyukai perempuan dimasa lalunya.
***
Devan sendiri saat ini sudah berada di negara X, ia menuju tempat Rangga lebih tepatnya mansion nya yang ditempati Rangga.
"Lama banget sih lo, Van," omel Rangga.
"Berisik," ucap Devan.
Mereka pun akhirnya pergi menuju tempat yang ingin dikunjungi Rangga, hingga beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah rumah mewah bahkan lebih mewah dari kantor pemerintahan, "Sammy, beneran ada didalam?" tanya Rangga.
"Hem," jawab Devan.
Rangga pun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah tersebut, "Ingat! setelah bertemu Sammy, maka kau akan ku buat seperti, Sammy," ucap Devan dan Rangga hanya mengacungkan jempolnya.
Rangga sedikit iri dengan Sammy karena ia bisa tinggal di rumah mewah ini, Rangga berfikir jika Sammy hidup dengan mewah di negara X kalau begini pun Rangga tentunya juga ingin tinggal di negara X.
"Dikamar itu," ucap Devan dengan menunjuk sebuah pintu dengan dagunya.
Rangga pun melangkahkan kakinya menuju kamar tersebut dan dengan perlahan membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi sahabatnya Sammy yang sangat mengenaskan.
Tangga langsung melihat bergantian ke arah Devan dan juga Sammy, "Dia, Sammy?" tanya Rangga.
"Hem," jawab Devan.
"Sam," panggil Rangga.
Sammy yang awalnya memejamkan matanya pun langsung membuka matanya dan melihat keberadaan Rangga, "Rangga," panggil lirih Sammy.
Rangga pun mendekat dan tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar, "Gimana keadaan lo? ada yang sakit gak?" tanya Rangga yang mulai meneteskan air matanya.
Rangga menyadari pertanyaan b*dohnya, jelas-jelas kondisi Sammy sudah sangat jelas dan ia masih bertanya apa Sammy sakit atau tidak.
__ADS_1
"Kau lihat sendiri bukan, beginilah kondisiku," jawab Sammy.
"Lama tidak bertemu ya, aku sangat rindu saat kita berempat jalan-jalan keliling dunia," ucap Rangga.
"Aku juga, nanti kalau aku udah bisa sembuh kita jalan-jalan berempat ya," ucap Sammy.
"Pasti itu," ucap Rangga.
"Zayn gak ikut?" tanya Sammy.
Rangga pun melihat ke arah Devan, sedangkan Devan hanya menaikkan alis kanannya, "Kenapa?" tanya Devan dan Rangga pun menggelengkan kepalanya.
"Zayn lagi sibuk, dia pasti bakal kesini nanti buat jengukin lo, terus kita bisa jalan-jalan kayak dulu," ucap Rangga.
"Tapi, agak sulit dengan kondisi gue yang kayak gini, gue udah cacat, gue ga bisa kayak dulu lagi, gue sekarang udah gak berguna," ucap Sammy.
"Emang gak berguna dari dulu kali," gumam Devan yang masih dapat didengar Rangga dan Sammy.
"Kalian reuni dulu males gue disini," ucap Devan lalu pergi dari kamar tersebut.
"Selama ini Devan yang ngelakuin ini ke lo?" tanya Rangga.
"Kalau gue bilang bukan Devan, lo percaya gak, Ga?" tanya Sammy.
"Gak lah, pasti Devan, gue tau gimana sifat kejamnya Devan kayak gimana, Sam," ucap Rangga.
"Itu lo udah tau jawabannya jadi gue gak harus jawab bukan," ucap Sammy.
Mereka pun larut dalam obrolan mereka, maklum sudah hampir 6 tahun mereka tidak bertemu.
"Jujur sama gue, Ga. Lo tau keberadaan Zayn gak?" tanya Sammy.
"Oke, sebenarnya gue gak tau dimana Zayn dan yang gue tau cuma Zayn sekarang ada sama Devan, tapi gue gak tau dimana, setelah kejadian waktu itu Zayn hilang dan tiba-tiba lo juga hilang gak ada kabar dan ini pertama kali gue lihat lo, tapi kondisi lo kayak gini," ucap Rangga.
"Wajar kalau lo belain Zayn karena dia kan sahabat kita, tapi mungkin ada hal yang harusnya lo diem aja, lo tau kan gimana Devan, dia kalau marah gak peduli siapa yang bakal dia hukum," ucap Rangga.
"Lo beruntung saat itu lo ada acara ke negara C, kalau gak lo pasti udah kayak gue, Ga," ucap Sammy.
"Sekarang lo gak usah khawatir, gue selalu dukung lo dan gue gak tau gue bisa minta Devan buat lepasin lo apa gak, tapi gue akan usahain ya," ucap Rangga.
"Selama Zayn belum meninggal maka Devan gak bakal bunuh atau ngeluarin gue Ga, percaya sama gue," ucap Sammy.
"Maksud lo artinya Zayn belum meninggal? dia masih hidup?" tanya Rangga.
"Iya, itu yang gue pikirin, gue yakin sejahat apapun Devan dia masih mikirin sahabatnya cuma kadang kekejamannya yang menggeser rasa peduli itu," ucap Sammy.
"Gue harus cari tau dimana Devan sembunyiin Zayn," ucap Rangga.
"Tapi, lo bakal kesusahan Ga, lo tau Devan bukan," ucap Sammy.
"Gue tahu karena itu kita butuh bantuan orang lain," ucap Rangga.
"Bantuan orang lain? siapa?" tanya Sammy.
"Istrinya, Devan," ucap Rangga.
"Apa Lo yakin? sedangkan Devan aja berniat buat bunuh istrinya gimana bisa istrinya bisa bantuin lo?" tanya Sammy.
"Gue tau itu, oleh karena itu gue bakal buat Devan suka sama istrinya, kalau Devan suka sama istrinya maka kita akan mendapatkan dua keuntungan yang pertama istrinya akan terhindar dari kekejaman Devan dan yang kedua yang paling penting kita bisa cari tau mengenai keberadaan Zayn dari istrinya Devan," ucap Rangga.
"Lo yakin sama rencana o, Ga?" tanya Sammy.
"Gue gak yakin sih, tapi gue harus coba, gue gak mau kita musuhan kayak gini, gue mau kita kayak dulu sebelum keb*dohan Zayn menghancurkan persahabatan kita," ucap Rangga.
"Gue juga berharap kayak gitu," ucap Sammy.
__ADS_1
"Lama banget ngobrolnya, Ga lo katanya mau kayak Sammy kan sekarang lo ke ruang bawah tanah, gue bakal buat lo kayak Sammy," ucap Devan.
"Van, tadi gue bercanda kali, gue kirain Sammy sehat-sehat aja, gak ada apa-apa ternyata kondisi memprihatinkan kayak gini," ucap Rangga.
"Emang gue terlihat peduli," ucap Devan dengan santai.
"Van, kasihanilah sahabatmu ini, gue punya bisnis yang harus gue jalanin, gue juga belum ketemu pasangan gue, gue pengen nikmati malam pertama gue sekali aja," ucap Rangga.
"Kali inilah gue anggap lo gak bicara apa-apa ke gue tadi, tapi kalau sampai lo bicara yang bisa mancing emosi gue maka jangan harap lo bisa lari dari cengkraman gue," ancam Devan.
"Siap, Tuan Devan Radya Erland," ucap Rangga.
"5 menit lagi gue tunggu diluar, kalau sampai lo belum keluar juga dalam waktu 5 menit jangan salahin gue kalau anak buah gue bakal buat lo kayak orang itu," ucap Devan lalu pergi.
"Iya, Van," jawab Rangga.
"Sam, doain semoga rencana gue berhasil ya dan lo harus tetap semangat pokoknya lo harus bertahan tunggu gue, gue bakal berusaha bawa lo keluar dari tempat mewah, tapi mengerikan ini," ucap Rangga.
"Gue usahain buat tetap bertahan, gue seneng banget bisa ketemu sama lo Ga, setelah 6 tahun," ucap Sammy sambil tersenyum dan Rangga pun membalas senyum Sammy.
"Gue, pamit ya, kapan-kapan gue bakal kesini lagi," pamit Rangga.
Rangga pun keluar dari kamar tersebut, "Ayo Van, gue udah selesai nih," ajak Rangga.
"Lo pulang duluan gue males pulang," ucap Devan.
"Lah! tadi lo nyuruh gue buat cepet keluar, tapi kok malah gue doang yang lo suruh pulang sih," rengek Rangga.
"Lo mau bantah gue?" tanya Devan yang penuh dengan penekanan di setiap katanya.
"Hehehe, enggaklah, bercanda kali, Van. Yaudah kalau gitu sahabatmu ini pamit pulang dulu, oh iya gue pulang besok aja ya, gue malam ini mau menikmati suasana malam negara X," ucap Rangga.
"Terserah lo, gak peduli juga gue," ucap Devan dengan cuek.
"Sabar, Ga. Sahabat lo ini omongannya emang kayak cabe level seribu," ucap Rangga.
"Mending lo pergi, lo berisik banget disini," ucap Devan lalu meninggalkan Rangga.
Setelah Rangga pergi Devan pun masuk kedalam kamar Sammy, "Hai, teman lama, apa kabar?" tanya Devan.
Sammy hanya menatap Devan, meskipun kondisinya saat ini sangat mengenaskan, tapi Sammy tidak pernah membenci Devan, ia merasa jika Devan hanya mencari pelampiasan terhadap masalah yang ia hadapi.
"Kau bisa menilai sendiri bagaimana kondisiku saat ini," ucap Sammy.
"Ya, sangat baik-baik saja, ah satu lagi aku rasa rencana Rangga sangat bagus ya, buat aku suka sama Keyna, hahaha," ucap Devan lalu tertawa lepas.
Sammy pun langsung menatap tajam Devan, bagaimana Devan tau mengenai rencana Rangga.
"Kau tidak perlu terkejut begitu, kau lupa ini mansion termewah di negara X, aku awalnya penasaran apa sih yang kalian bicarakan ternyata sangat menarik, apa kau yakin Rangga bisa mengeluarkan mu dan juga bertemu Zayn?" tanya Devan.
"Sangat mustahil, kalau bertemu, pasti Rangga yang akan menemanimu atau Zayn," ucap Devan.
"Van, kenapa kau se benci itu denganku dan Zayn? apa kau lupa kalau kita ini bersahabat?" tanya Sammy.
"Aku sangat ingat, tapi aku benci jika mengingat itu, bagaimana bisa aku mengenal pengkhianat dan orang munafik seperti kalian berdua," ucap Devan.
"Aku sedang tidak ingin membahas b*jingan itu," ucap Devan lalu keluar dari kamar tersebut dengan mood yang mulai buruk.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1