Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Namanya Juga Pengen


__ADS_3

Hari ini Devan sudah di perbolehkan pulang setelah beberapa Minggu berada di rumah sakit, "Baby Arsen nya rewel lagi, jadi aku gak bawa ke rumah sakit buat jemput kamu," ucap Keyna.


"Gapapa sayang," ucap Devan.


akhirnya Devan dan Keyna pun meninggalkan area rumah sakit dan mereka kembali ke mansion yang Devan beli untuk keluarga kecilnya.


Sesampainya di mansion tersebut, Devan dan Keyna dapat melihat banyak pelayan dan pengawal serta anak buah Devan lainnya yang menyambut mereka di depan mansion.


Merek bersuka cita atas kembalinya Tuan mereka yang sudah lama tidak mereka temui, Devan hanya melirik tanpa berekspresi seperti biasanya dan hal itu sudah tidak asing lagi bagi mereka. Sedangkan, Keyna tersenyum ramah pada mereka.


Devan dan Keyna pun masuk ke dalam mansion dan langsung di sambut oleh keluarga dan orang-orang terdekat dari Devan dan juga Keyna.


"Akhirnya anak Mama sehat dan bisa pulang ya," ucap Mama Vanka.


"Terimakasih, Ma," ucap Devan.


"Papa kira kamu gak bisa bertahan karena tembakan itu," ucap Papa Alex.


"Papa tahu?" tanya Devan.


"Tentu, apa yang Papa tidak tahu, Van," ucap Papa Alex.


"Terus apa yang Papa lakukan?" tanya Devan.


"Ke siapa? Yassa?" tanya Papa Alex.


"Iya, ke Yassa," ucap Devan.


"Ya, Papa cuma kasih pelajaran dikit kok," ucap Papa Alex.


"Papa gak bunuh dia kan?" tanya Keyna.


Ya, Keyna sudah tahu semua jika bukan hanya Devan yang seorang mafia, yakin juga seluruh keluarga besar Erland.


Keyna tentu saja tidak percaya, tapi ia sudah menerima kenyataan tersebut dan mau memperbaiki semuanya.


Keyna memang membencinya, tapi Keyna terlalu takut untuk kehilangan Devan seperti sebelumnya.


"Kamu tidak perlu khawatir sayang, Papa tidak akan membunuhnya. Dengan tangan Papa maksudnya," ucap Papa Alex dan diikuti gelak tawa dari semua orang.


"Papa beneran bunuh dia?" tanya Keyna.


"Gak sayang, Papa gak bunuh dia," ucap Devan.


"Beneran?" tanya Keyna.


"Iya, sayang," ucap Devan.


"Papa emang gak bunuh dia, tapi Papa sekap dia?" tanya Keyna.


"Menantu Papa ini kenapa berpikir yang gak-gak sih, Papa gak akan apa-apain dia, tapi jika menantu Papa ini ingin dia disekap maka akan Papa laksanakan," ucap Papa Alex.


"Jangan! Keyna gak mau dia kenapa-napa, biarin aja dia hidup dengan tenang," ucap Keyna.


"Gimana, Dev?" tanya Papa Alex.

__ADS_1


"Devan ikut Keyna aja, Pa," ucap Devan dan diangguki Papa Alex.


"Sayang, ini Mama baru aja bikin puding kesukaan kamu," ucap Mama Vanka.


"Wah beneran, Ma. Pas banget lagi Keyna lagi pengen puding," ucap Keyna.


Mending perkataan Keyna, sontak saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan menatap Keyna dengan tatapan bertanya-tanya.


"Kamu pengen puding?" tanya Mama Vanka.


"Iya, Ma," ucap Keyna yang asik menyantap puding buatan Mama Vanka.


"Sejak kapan kamu pengen puding?" tanya Mama Vanka.


"Sejak tadi pagi waktu di rumah sakit," ucap Keyna.


"Jangan bilang kalau Arsen bakal...," ucapan Mama Vanka terhenti karena Devan yang tiba-tiba saja bersuara.


"Gak ada, Keyna gak hamil orang Devan belum apa-apain," ucap Devan yang mengerti arah pikiran semua orang yang ada di sana.


"Tapi, kok Keyna pengen puding?" tanya Kak Jeffry.


"Astaga Kak, namanya juga pengen. Masa setiap Keyna pengen sesuatu dianggap hamil sih," ucap Devan.


"Keyna gak hamil beneran deh, Key itu cuma pengen puding aja lagian baby Arsen masih kecil dan masih butuh perhatian Keyna," ucap Keyna yang masih setia dengan pudingnya.


Devan sendiri yang melihatnya pun merasa gemas dengan sang istri, "Mau lagi?" tanya Devan saat puding Keyna sudah habis.


"Gak deh, kasihan yang lain belum ngerasain puding buatan Mama Vanka yang super duper enak banget," ucap Keyna dan diangguki Devan.


"Kak, ini baby Arsen rewel lagi," ucap Vio dengan baby Arsen yang ada di gendongan nya.


"Ganteng banget sih jagoannya Mama," ucap Keyna.


Baby Arsen yang awalnya begitu rewel tiba-tiba saja menjadi senang dan tidak seperti tadi yang terus menangis saya di gendongan Vio.


"Ish, baby Arsen mah emang gak asik sama Kakak Vio, masa sama Kakak Vio daritadi nangis eh s giliran sama Mama nya langsung diem ya," ucap Vio dan menggelitiki baby Arsen.


Baby Arsen pun tertawaan riang dengan apa yang dilakukan Vio bahkan Keyna sampai kewalahan menahan tubuh mungil yang aktif tersebut.


Untung saja Devan dengan siap siaga menhana tubuh Keyna yang hampir saja terjatuh karena gerakan aktif baby Arsen.


"Vi, jangan kayak gitu kasihan Kakak kamu yang hampir aja jatuh," ucap Devan.


"Hehehe, iya kak. Maaf ya Kak Key," ucap Vio.


"Iya, gapapa kok yang penting baby Arsen seneng lagi," ucap Keyna.


"Dadah baby Arsen, Kakak Vio mau makan dulu ya," pamit Vio dan pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Kenapa hem?" tanya Keyna saat melihat baby Arsen yang membuka mulutnya dan mengarahkannya pada dada Keyna.


"Dev, aku ke kamar dulu ya," ucap Keyna.


"Kenapa? kamu capek ya? yaudah kalau gitu ayo kita ke kamar," tanya Devan.

__ADS_1


"Eh, bukan gitu. Aku ke kamar bukan karena mau istirahat, tapi baby Arsen yang mau isi ulang tenaga," ucap Keyna.


"Hah isi ulang tenaga? maksudnya?" tanya Devan.


"Ish , maksudnya itu baby Arsen mau minum dulu," ucap Keyna.


"Oh, jadi jagoannya Papa haus ya, yaudah kamu ke alamat aja biar aku bilang ke Mama sama Papa," ucap Devan dan diangguki Keyna.


Ya, memang Devan dan Keyna berada di ruang televisi dan para orangtua lainnya di ruang tamu.


Keyna pun masuk ke dalam kamar dan mulai memberikan apa yang baby Arsen inginkan sejak tadi, saat tengah memberikan asi pada baby Arsen tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sang suami yang begitu tampan hanya dengan kaos berwarna navy dan celana kain.


"Kenapa?" tanya Devan yang melihat Keyna tengah menatapnya.


"Eh gak kenapa-napa," ucap Keyna gugup.


Devan yang melihat hal itu tersenyum lalu menghampiri sang istri dan mencium bibir candu Keyna, "Kenapa kamu gemes banget sih rasanya aku pengen kurung kamu di sini," ucap Devan.


"Ish, apaan sih kamu ini ya main cium seenak aja, kamu gak lihat apa kalau ada baby Arsen di sini," ucap Keyna.


"Baby Arsen nya juga lagi anteng minum," ucap Devan dan menatap baby Arsen.


Sebenarnya Devan bukan hanya menatap baby Arsen, yaitu juga menatap dada Keyna yang Devan rasa semakin besar semenjak hamil dan melahirkan.


"Jangan lihat kayak gitu, kamu serem tahu gak," ucap Keyna.


"Hehehe, aku lagi ngelihatin baby Arsen yang kayaknya anteng banget gitu," ucap Devan.


"Iyalah, bayi manapun kalau udah kayak gini pasti anteng," ucap Keyna.


"Aku juga," ucap Devan secara tiba-tiba.


"Maksudnya?" tanya Keyna.


"Aku juga kalau minum itu bakal anteng," ucap Devan.


"Jangan bercanda lagi, udah kamu keluar aja temenin yang lain. Nanti aku nyusul kalau baby Arsen udah selesai," ucap Keyna.


"Jahat banget sih sama suaminya sendiri," ucap Devan dengan tampang melasnya.


"Itu salah kamu sendiri makanya jangan mikir yang gak-gak," ucap Keyna.


"Iya iya sayangnya Devan, aku keluar dulu ya. Jagoan nya Papa Devan tolong jangan Mama nya ya, takutnya nanti Mama nya langsung berubah jadi harimau lagi setelah Papa pergi, dah sayang," ucap Devan dan mengecup kening Keyna lalu pergi dari kamar tersebut sebelum Keyna benar-benar berubah menjadi harimau yang siap menerkamnya kapan saja.


Tak berapa lama setelah itu, Keyna pun keluar dari kamar dengan baby Arsen yang berceloteh ria, Keyna sendiri tentu saja tidak tahu apa yang dikatakan baby Arsen.


"Baby Arsen nya udah selesai sayang?" tanya Mama Vanka.


"Iya, Ma. Udah," ucap Keyna.


"Siniin baby Arsen," ucap Mama Vanka lalu Keyna pun memberikan baby Arsen pada Mama Vanka.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2