
Kurang lebih dua Minggu Devan berada di negara X dan meninggalkan Keyna sendirian di rumah, selama itu pula Devan tidak pernah mengabari Keyna.
Keyna sempat menelpon dan Mike yang mengangkat telepon tersebut lalu Mike hanya mengatakan jika Devan tengah sibuk dan tidak dapat di ganggu.
Keyna saat ini berada rumah Mama Bella, "Kamu kenapa sih kok kayak gak semangat gitu?" tanya Papa Erwin.
"Iyalah, Pa. Gimana mau semangat kalau suaminya aja lagi ke luar negeri, jadi kalau tidur gak ada yang belai, biasalah Pa, manusia butuh belaian," ucap Kak Kelvin.
"Ish Kak Kelvin mah, orang aku lagi badmood doang dan gak ada kaitannya sama Devan juga," ucap Keyna dengan kesal.
"Alah, alasan aja. Mending kamu sekarang pulang deh udah dua hari kamu nginep disini kamu gak kangen rumah kamu apa," ucap Kak Kelvin.
"Ini ceritanya Kakak lagi ngusir Keyna ya," ucap Keyna.
"Nah itu kamu tau, bosen tau gak Kakak liat muka kamu terus," ucap Kak Kelvin.
"Kak Kelvin mah, Kak Anggi, suami Kakak ini loh bikin Keyna kesel aja dari tadi," adu Keyna pada Kak Anggi yang ada disebelahnya.
"Kalian berdua ini ya selalu aja berantem gak bisa apa sehari aja kalau ketemu akur gitu kan enak liatnya," ucap Kak Anggi.
"Gak bisa sayang, ini anak itu emang punya aura buat ngajak berantem," ucap Kak Kelvin.
"Astaga Kak Kelvin ini ya, untung aja Keyna masih waras Keyna ngalah sama Kak Kelvin," ucap Keyna yang benar-benar emosi dengan Kakak kandungnya itu.
"Kamu pulang gih bukannya Devan hari ini pulang juga," ucap Mama Bella.
"Mama beneran, Devan pulang hari ini? tapi kok Keyna gak tau sih," tanya Keyna.
"Yeh, kamu itu istrinya masa gak tau, tadi Devan telpon Papa kamu dan bilang kalau dia pulang hari ini. Udah kamu pulang sana daripada kamu disini uring-uringan terus pusing Mama liatnya," ucap Mama Bella.
"Gak Mama, gak Kak Kelvin sama-sama ngusir Keyna nih ceritanya," ucap Keyna.
"Tuh tau, udah sana pulang," usir Kak Kelvin.
"Iya, iya, Keyna pulang," ucap Keyna.
Setelah bersiap-siap, Keyna pun akhirnya pulang dari rumah Papa Erwin dan menuju mansion mewahnya.
Sesampainya disana ternyata Keyna sudah melihat mobil yang biasa digunakan Devan dan itu artinya Devan sudah ada di rumah, Keyna segera berlari karena tidak sabar ingin bertemu dengan Devan.
Namun langkahnya terhenti lantaran ia terkejut melihat perempuan yang ada di depannya hingga beberapa saat kemudian Keyna merasakan sakit pada perutnya.
Bi Nani yang baru saja dari keluar langsung terkejut melihat Keyna yang berhadapan dengan seorang perempuan dan Bi Nani kembali terkejut melihat darah mengalir dari perut Nyonya nya, "Nyonya!" teriak Bi Nani lalu berlari menuju Keyna.
"Diam!" teriak perempuan tersebut.
"Nyonya," panggil Bi Nani lagi, namun dengan suara pelan.
Bi Nani terus memanggil Keyna merasakan kesakitan bahkan pecahan kaca ditangan perempuan tersebut masih berada di perut Keyna.
"A-apa a-ak-aku punya salah denganmu?" tanya Keyna dengan pelan karena ia merasakan sakit yang teramat pada perutnya.
"Ya, kau salah karena kau sudah ambil orang yang ku incar dari dulu dan kali ini aku tidak akan segan-segan membuatmu hancur," ucapnya.
"S-sakit," lirih Keyna.
Bi Nani yang sudah tidak kuat melihat Keyna langsung menekan tombol yang ada di dekat dapur, tombol tersebut tersambung ke setiap ruangan yang ada di mansion tersebut dan dapat merekam suara yang ada di luar.
"Tolong lepaskan Nyonya! jika Tuan tau anda tidak akan selamat!" teriak Bi Nani.
"Gue gak peduli! yang gue peduli sekarang adalah perempuan ini harus mati saat ini juga. Gara-gara perempuan ini, gue kehilangan semuanya mulai dari keluarga, harta dan juga Devan!" teriak perempuan tersebut.
"Ta-tapi aku gak salah i-ini semua udah takdir," lirih Keyna dan perempuan tersebut semakin menekan pecahan kaca tersebut.
***
__ADS_1
Disisi lain, Devan yang baru saja dari negara X pun langsung menuju ke ruang kerjanya karena saat ia berada di negara X, ia mendapat kabar jika salah satu tawanan yang ada di ruang bawah tanah kabur, namun sebelum ke mansion Devan tadi sempat ke markas dan benar saja jika salah satu tawanannya berhasil kabur.
Devan memutuskan untuk kembali ke mansion untuk merencanakan strategi menangkap tawanan tersebut, Devan bukan lupa mengabari Keyna, tapi Devan merasa malas dan memilih untuk mengabari Papa Erwin.
"Bagaimana bisa dia kabur?" tanya Devan.
"Menurut informasi salah satu anak buah kita ada yang membebaskannya Tuan," ucap Mike.
"Sialan, sepertinya masih banyak anggota kelompok yang ingin bermain-main denganku," ucap Devan dengan penuh penekanan.
Saat Devan dan Mike tengah merencanakan strategi tiba-tiba suara terdengar melalui sebuah speaker yang ada di dalam ruangan tersebut, karena ruangan tersebut kedap suara sehingga tidak akan terdengar apapun dari luar sebab itu Devan memasang speaker di ruangan tersebut, bukan hanya di ruangan tersebut, tetapi di semua ruangan supaya jika ada bahaya Devan langsung tau.
Devan semakin terkejut mendengar suara tersebut yang menyebutkan nama sang istri, Devan langsung keluar dengan diikuti Mike, "Apa-apaan ini?" tanya Devan dengan meninggikan suaranya ketika melihat ruang tamunya hancur.
"Tuan," panggil Bi Nani dengan suara sesenggukan.
Devan pun akhirnya melihat ke arah Bi Nani dan tentunya melihat Keyna yang sedang ditikam oleh Aurel.
Ya, Aurel adalah tawanan yang berhasil kabur dari markas ruang bawah tanahnya. Mata Devan langsung berubah menjadi merah terutama saat melihat darah keluar dari perut Keyna.
Devan saat ini sangat emosi dan tanpa banyak bicara Devan langsung menendang kepala Aurel hingga Aurel terjatuh dan diikuti Keyna karena Aurel mencengkram pundak Keyna dengan kuat.
Namun, sebelum itu. Devan terlebih dahulu menarik Keyna agar ia tidak terjatuh bersama dengan Aurel.
Keyna sudah lepas dari Aurel dan ia pun langsung beranjak pergi dari tempat tersebut karena yang ia butuhkan saat ini adalah dokter, belum sempat berdiri tiba-tiba Aurel menendang perut Keyna tepat di tempat ia di tikam.
"Oh ****!" umpat Devan dan menarik kerah Aurel.
"Mike bawa dia ke gudang," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike dan membawa Aurel keluar dari mansion tersebut.
Devan segera berlari ke arah Keyna yang mulai kehilangan kesadaran.
Beberapa saat ini, Keyna mulai membuka matanya secara perlahan dan melihat ruangan serba putih dan berbau obat-obatan, 'Apa aku di rumah sakit?' tanya Keyna dalam hati.
"Astaga, sayang akhirnya kamu sadar juga Mama udah khawatir banget sama kamu hiks hiks hiks," ucap Mama Vanka dengan menangis sesenggukan.
"Ma, Keyna gapapa kok," ucap Keyna.
"Mama, gak bisa liat kamu kayak gini sayang, kalau kamu kayak gini dunia Mama serasa hancur," ucap Mama Vanka.
"Hehehe," Keyna hanya terkekeh melihat kelakuan mertuanya yang terlihat berlebihan.
"Devan, mana, Ma?" tanya Keyna.
"Kenapa, ada yang sakit atau perlu sesuatu?" tanya Devan yang baru saja masuk kedalam kamar inap tersebut.
Bukannya menjawab, Keyna hanya menggelengkan kepalanya.
Ini adalah pertama kalinya Keyna melihat Devan setelah dia pulang dari negara X, "Bisa lembut gak sih tanyanya, istri kamu ini lagi sakit loh masih aja dingin dan datar ngomong sama istrinya," omel Mama Vanka.
"Iya, Ma, Devan kelepasan tadi," ucap Devan.
"Ma," panggil Keyna.
"Iya, sayang ada apa?" tanya Mama Vanka.
"Ehm, Mama Bella tau kalau Keyna di rumah sakit?" tanya Keyna.
"Iya, Mama Bella tau, tadi Mama udah ngasih tau. Kemarin Mama Bella udah datang jenguk kamu mungkin bentar lagi Mama Bella datang," ucap Mama Vanka.
"Kemarin? emangnya Keyna udah berapa hari gak sadar?" tanya Keyna.
"Kamu itu udah 3 hari gak sadar sayang makanya Mama itu takut banget kalau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Mama Vanka.
__ADS_1
"Hah! 3 hari, berarti Keyna gak sadarnya lama juga ya, Ma," ucap Keyna.
"Iya, sayang? Tapi, kamu beneran udah gapapa kan atau kamu masih ada yang sakit?" tanya Mama Vanka.
"Gak, kok Ma. Keyna udah baikan," ucap Keyna.
"Sayang, astaga Mama kira kamu gak bakal bangun padahal Mama udah suruh Devan buat cium kamu loh biar kamu bangun eh kamu nya gak bangun-bangun," ucap Mama Bella dan menghampiri Keyna lalu memeluk Keyna.
"Mama," panggil Keyna.
"Iya, sayang. Udah jangan cemberut gitu kamu mau cium Devan lagi ya. Boleh kok, tapi nanti ya kalau semua orang yang ada disini keluar jangan sekarang kayaknya udah gak tahan banget nih anak perempuan Mama," goda Mama Bella saat melihat pipi Keyna yang merah merona akibat salah tingkah dengan ucapan Mama Bella.
"Apa Sih Mama kok gak jelas," ucap Keyna.
"Gak usah malu sayang, wajarlah kalau suami istri ciuman gitu lagian Devan gak segan-segan kok buat cium kamu meskipun didepan Mama," ucap Mama Vanka yang semakin membuat Keyna tersipu malu.
"Udah jeng, kasihan tuh mantunya mukanya Uda merah gitu pipinya," ucap Mama Bella dan membuat Mama Vanka tertawa.
Disisi lain, para pria sedang membicarakan sesuatu entahlah mereka membicarakan apa yang jelas Keyna tidak ingin tau.
'Mama, gak akan biarkan siapapun melukai kamu sayang, siapapun itu. Mama akan balas dendam ke dia, enak aja udah buat menantu kesayangan Mama luma,' ucap Mama Vanka dalam hati.
# Flashback On #
"Pa, kok perasaan Mama gak tenang ya," ucap Mama Vanka.
"Mungkin cuma perasaan Mama aja udah gak usah khawatir," ucap Papa Alex.
"Gak bisa Pa, Mama khawatir banget, tapi gak tau khawatir kenapa," ucap Mama Vanka.
"Mama, mau kemana?" tanya Papa Alex saat melihat Mama Vanka beranjak pergi dari ruang tamu.
"Mama, ada urusan. Papa lanjut aja," ucap Mama Vanka dan diangguki Papa Alex.
Mama Vanka menuju salah satu ruangan yang ada di kediaman keluarga Erland dan langsung melihat kondisi mansion Devan dan benar saja Mama Vanka melihat Keyna yang ditikam dengan Aurel mantan resepsionis di kantor Papa Alex.
Mama Vanka yang melihat Keyna sudah tidak berdaya dengan cepat Mama Vanka langsung keluar dengan menangis.
"Mama, kenapa?" tanya Papa Alex yang melihat Mama Vanka keluar dari rumah.
"Ma," panggil Papa Alex.
"Pa, kita harus ke mansion nya Devan sekarang menantu kesayangan Mama baru aja ditikam hiks hiks hiks," ucap Mama Vanka.
"Apa!" Papa Alex pun langsung menuju ke mansion Devan dengan diikuti Mama Vanka.
# Flashback Off #
"Ma, kenapa perempuan itu pengen bunuh Keyna? Keyna takut," tanya Keyna.
"Udah ya sayang kamu jangan takut masih ada Mama disini," ucap Mama Vanka.
"Van, kamu harus segera bertindak liat istri kamu dia sangat ketakutan," ucap Papa Alex.
"Papa tidak perlu khawatir Devan akan membuat perhitungan ke perempuan itu," ucap Devan.
"Perhitungan seperti apa?" tanya Papa Alex.
"Perhitungan yang tentunya tidak pernah Devan lakukan ke siapapun dan karena dia sudah berani menyakiti istri Devan maka dia yang akan menjadi percobaan pertama dalam perhitungan Devan kali ini," ucap Devan.
"Bagus, buat dia kesakitan secara perlahan," ucap Papa Alex dan diangguki Devan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.