Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Cerita Bi Nani


__ADS_3

"Saya itu berasal dari keluarga yang tidak mampu Nyonya, dulu saya harus banting tulang untuk membiayai kebutuhan saya dan keluarga saya sampai akhirnya saya memutuskan untuk menjadi wanita malam...," ucap Bi Nani.


"Maksud Bibi, Bibi jadi pl*cur?" tanya Keyna yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Bu Nani.


"Iya, Nyonya," jawab Bi Nani.


"Gimana ceritanya?" tanya Keyna yang semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Bi Nani.


"Dulu ada temen yang nawarin saya buat kerja yang dalam semalam langsung bisa dapet 7 juta, karena itu saya berminat dan pas tau ternyata kerja itu harus melayani para b*jingan akhirnya saya menolak, tapi karena saat itu keluarga saya membutuhkan uang akhirnya saya mau dan malam itu menjadi malam terburuk bagi saya, setelah mendapatkan uangnya saya langsung pergi dari kamar hotel dan berlari sejauh mungkin, tapi anak buah pria itu bisa menangkap saya dan membawa saya kembali ke hotel karena teman mereka belum puas dengan tubuh saya, hingga akhirnya di lorong rumah sakit saya melihat Tuan Alex dan saya meminta bantuannya, akhirnya Tuan Alex membantu saya sampai saat ini, saya sangat berhutang budi kepada Tuan Alex dan Nyonya Vanka karena mau menampung saya selama ini," ucap Bi Nani dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan akhirnya menangis mengingat semua yang pernah ia alami.


Keyna yang mendengarnya pun langsung memeluk Bi Nani, "Bibi itu wanita yang hebat, Keyna gak tau kalau seandainya Keyna yang ada di posisi Bi Nani," ucap Keyna.


"Terus laki-laki itu bagaimana, Bi?" tanya Keyna.


"Dia sekarang sudah menjadi suami dari Bibi, Nyonya bahkan tau siapa orangnya," ucap Bi Nani.


"Hah! siapa?" tanya Keyna.


"Orangnya ada di halaman depan, Nyonya pasti tau," ucap Bi Nani.


Keyna pun berlari menuju halaman depan dan melihat seorang pria yang membelakanginya, "Tunggu apa maksud Bibi laki-laki itu?" tanya Keyna dengan suara pelan.


Keyna kembali menuju Bi Nani, "Maksud Bi Nani itu Pak Nardy?" tanya Keyna.


Bi Nani pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Jadi...?" tanya Keyna dengan menutup mulutnya seketika sadar maksud dari Bi Nani.


"Iya, Nyonya Pak Nardy adalah laki-laki yang sudah melakukannya dulu, Pak Nardy dulu seorang pengusaha, tapi karena Tuan Alex tau kelakuannya makanya Tuan Alex menghancurkan perusahaan Pak Nardy dan saya yang sudah bekerja dengan Tuan pun tidak terlalu memikirkannya, Pak Nardy dulu sering meminta maaf ke saya dan meminta untuk saya mau menjadi istrinya, tapi saya menolak karena saya trauma dengan sikap Pak Nardy meskipun hanya semalam, setelah saya hamil barulah saya menerima Pak Nardy, itu juga karena saya memikirkan nasib anak saya," ucap Bi Nani.


"Terus anak Bi Nani sekarang dimana kok Keyna gak pernah lihat?" tanya Keyna.


"Anak saya sekarang tinggal dengan Kakak saya, dia keras kepala ingin tinggal dengan Kakak saya dan saya tidak bisa berbuat apa-apa jika anak saya menginginkannya," ucap Bi Nani.


Saat mereka tengah mengobrol tiba-tiba Pak Nardy datang, "Kenapa Nyonya ada di taman? apa tidak dingin?" tanya Pak Nardy.


Keyna yang mendengarnya pun langsung menatap tajam Pak Nardy dan berdiri mendekati Pak Nardy.


Plak...


"Nyonya," panggil Bi Nani karena terkejut dengan tindakan Keyna yang tiba-tiba saja menampar sang suami.


"Nyo-nyonya apa ada masalah?" tanya Pak Nardy dengan raut tidak percaya.


"Ya, sangat! bagaimana bisa Pak Nardy melakukan tindakan bodoh ke Bi Nani hiks hiks," ucap Keyna dan tanpa dapat di cegah ka menangis karena sedari tadi ia mencoba menahan air matanya agar tidak keluar, tapi saat melihat Pak Nardy air matanya tidak bisa untuk tidak keluar.


"Nyonya, sudah tau cerita kita," ucap Bi Nani.


"Huh, maaf kalau tindakan saya membuat Nyonya tidak suka," ucap Pak Nardy.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Devan yang baru saja datang entah darimana Keyna pun tidak tau.


"Kenapa?" tanya Devan sekali lagi ke arah Keyna yang terus saja menangis di pelukan Bi Nani.


"Nyonya, sudah tau cerita saya dengan Bi Nani, Tuan," ucap Pak Nardy.


"Oh, dasar cengeng, gitu aja nangis," ucap Devan lalu menarik Keyna yang berada di pelukannya Bi Nani hingga menabrak dada bidangnya.


"Sedih tau, aku gak bisa bayangin gimana Bi Nani dulu, untung ada Papa Alex kalau gak pasti hidup Bi Nani semakin susah hiks hiks," ucap Keyna.


"Iya, udah gak usah nangis gitu," ucap Devan yang mencoba menenangkan Keyna yang masih sesenggukan.


"Pokoknya aku masih marah sama Pak Nardy, Pak Nardy jahat banget sama Bi Nani," ucap Keyna.


"Tapi, Nyonya kan sudah menampar saya, apa Nyonya masih marah dengan saya?" tanya Pak Nardy.


"Kamu menampar Pak Nardy?" tanya Devan dan diangguki Keyna.


"Kenapa?" tanya Devan.


"Ya, karena aku marah sama Pak Nardy yang udah nyakitin Bi Nani," ucap Keyna.


"Nyonya, sekarang saya sudah memaafkan Pak Nardy jadi Nyonya juga harus memaafkan Pak Nardy bahkan sekarang kan Pak Nardy udah jadi suami saya," ucap Bi Nani.


"Hem, pokoknya kalau sampai Pak Nardy masih nyakitin Bi Nani, Bi Nani harus kasih tau saya biar nanti saya suruh Papa Alex atau Devan buat kasih hukuman ke Pak Nardy," ucap Keyna.


"Udah marah-marahnya?" tanya Devan.


"Hem, udah kok. Oh iya kamu habis darimana aku kok gak ngeliat kamu dari tadi?" tanya Keyna.


"Aku ada urusan bentar tadi, habis ini ke rumah Mama mau?" tanya Devan.


"Mama siapa?" tanya Keyna.


"Kamu mau ke Mama Bella atau Mama Vanka?" tanya Devan.


"Mama Vanka aja, kalau aku ke rumah Mama Bella pasti ujung-ujungnya aku bakal di marahin karena jarang ke sana, tapi kalau aku ke rumah Mama Vanka aku pasti gak di marahin, sekalian ketemu sama Clara," ucap Keyna.


"Yaudah, kalau gitu sekarang siap-siap dulu," ucap Devan lalu menggandeng tangan Keyna menuju kamar mereka.


Beberapa saat kemudian, merekam pun selesai bersiap-siap lalu mereka menuju rumah keluarga Erland, "Van, kok aku tadi ngerasa bau aneh gitu ya dari pakaian kamu," ucap Keyna.


"Maksudnya?" tanya Devan.


"Tadi kan aku masukin baju kamu ke keranjang dan aku itu kayak nyium bau gimana gitu hem kayak bau bahan kimia, tapi gak enak gitu gak tau apa, kamu habis dari laboratorium atau darimana tadi?" tanya Keyna.


"Hidung kamu aja kali yang salah mana mungkin aku bau bahan kimia gak jelas kayak gitu buat apa," ucap Devan dengan tetap santai meskipun ia tau apa yang dimaksud Keyna.

__ADS_1


"Iya, juga sih, tapi aku sering banget loh nyium bau aneh dari baju kamu masa aku juga pernah nyium bau amis gitu di baju kamu itu," ucap Keyna.


"Udah gak usah banyak bicara, itu semua masalah hidungmu," ucap Devan.


"Mike benar kata Devan tadi?" tanya Keyna.


"Iya, Nyonya, saya seharian bersama Tuan Devan dan tidak mencium bau aneh yang seperti Nyonya bilang tadi," ucap Mike.


"Iya sih, mungkin emang hidungku aja yang terlalu sensitif," ucap Keyna.


"Gimana fashion show-nya?" tanya Devan.


"Yang kerjasama sama Marva Grup?" tanya Keyna.


"Hem," jawab Devan.


"Gak tau," ucap Keyna jujur.


Devan pun langsung menatap Keyna, "Maksudnya?" tanya Devan dengan mengerutkan keningnya.


"Ya gak tau karena Miss Kelly gak pernah ngasih tau aku soal kerjasama itu bahkan aku denger katanya hanya beberapa model yang bisa ikut itu," ucap Keyna.


"Kau ingin ikut di fashion show itu?" tanya Devan.


"Kalau kamu tanya gitu, ya aku jawab iya, bagi seorang model fashion show itu termasuk jiwanya rasanya seminggu gak ikut acara fashion show gitu kayak boring percuma gitu jadi model," ucap Keyna.


"Kalau gitu kau tidak perlu khawatir biar aku urus semuanya, Mike," ucap Devan.


Mike yang paham pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Maksudku bukan itu," ucap Keyna.


"Terus?" tanya Devan.


"Aku mau dipilih sesuai dengan kemampuan aku sendiri bukan karena kamu, kalau aku dipilih karena kamu percuma dong aku kerja selama ini jadi model, kalau tau gitu aku langsung bilang ke kamu aja, aku harap kamu menghargai kerja kerasku selama ini, aku bukan satu atau dua hari udah jadi model, kamu paham maksudku kan?" tanya Keyna.


"Hem, kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tahu aku atau Mike," ucap Devan.


"Iya," ucap Keyna dengan tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2