
"Kan, Celine udah sampe belum?" tanya Keyna.
"Belum deh kayaknya soalnya aku belum liat dia di ruangannya tadi," ucap Kikan.
"Oh yaudah," jawab Keyna.
"Nanti kita ke cafe ya," ucap Kikan.
"Loh kenapa kita kesana?" tanya Keyna.
"Soalnya kan kita bahas iklannya disana," ucap Kikan.
"Bukannya di ruang rapat kok jadi di cafe?" tanya Keyna.
"Gak tau juga, tapi tadi pihak sana bilang di cafe aja biar leluasa gitu bahas nya," ucap Kikan dan diangguki Keyna.
.
Keyna dan Kikan Namara saat ini berada di cafe tempat mereka untuk membahas mengenai iklan yang akan dilakukan Keyna, setelah membahasnya Keyna dan Kikan tidak kembali ke agensi karena mereka memilih untuk istirahat dan santai-santai dulu disana karena mereka berdua jarang ada waktu untuk mengobrol dan duduk santai di cafe seperti ini.
"Kan, aku ke toilet bentar ya," ucap Keyna.
"Mau aku anter atau gimana?" tanya Kikan.
"Aku bisa sendiri kok gak perlu kamu anter," ucap Keyna dan diangguki Kikan.
Keyna pun berjalan menuju toilet dan saat Keyna membersihkan tangannya, ia melihat seorang perempuan yang baru saja selesai bercermin lalu keluar dari toilet, Keyna merasa pernah bertemu dengan perempuan tersebut karena menurut Keyna perempuan tersebut tidak asing.
"Kok aku kayak gak asing gitu ya sama perempuan tadi, kayaknya aku pernah ketemu sama dia deh, tapi dimana?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
"Udahlah mungkin cuma pikiranku aja kali," gumam Keyna lalu keluar dari toilet dan menuju tempat Kikan.
Namun belum juga Keyna sampai di tempat duduknya dengan Kikan, pandangan mata Keyna tertuju pada pria dan wanita yang sedang berbicara entahlah apa yang mereka bicarakan dan Keyna baru ingat jika perempuan itu ialah perempuan yang tadi ia temui.
"Ah itu kan perempuan yang tadi di toilet, jadi mereka bertemu disini," gumam Keyna lalu pergi.
"Mau kemana kamu, Key?" tanya Kikan saat melihat keynay yang baru saja dari toilet dan mengambil tasnya.
"Aku mau nginep di apartemennya Celine, kamu mau ikut gak?" tanya Keyna.
"Kok tumben kamu nginep di apartemennya Celine, ada apa emangnya?" tanya Kikan.
"Gak ada apa-apa, aku cuma pengen aja," ucap Keyna.
"Gimana kamu ikut apa gak?" tanya Keyna lagi.
__ADS_1
"Gak deh, kapan-kapan aja aku nginep di apartemennya Celine," ucap Kikan dan diangguki Keyna.
"Yaudah, kalau gitu aku pergi dulu," ucap Keyna.
Bohong. Ya, itulah yang Keyna lakukan sebenarnya Keyna tidak menginap ke apartemen Celine dan untuk mengelabuhi Dennis, Keyna memang menyuruh Dennis untuk mengantarkannya ke apartemen Celine.
Dennis yang awalnya menolak pun akhirnya menurut setelah Keyna menelpon Devan, tapi setelah Dennis pergi, Keyna menaiki sebuah taxi dan ia justru menginap di salah satu hotel, ia tidak ingin pulang ke mansion dan melihat Devan.
"Aku akan disini untuk beberapa waktu, lagian Devan juga gak peduli sama aku, jadi ngapain aku pulang," gumam Keyna.
.
Malam harinya, Devan yang sudah pulang pun langsung menuju kamar dan merasakan ada yang aneh karena lampu kamar mati bahkan AC pun tidak dinyalakan.
"Apa Keyna belum pulang dari tadi, tapi bukannya hari ini dia cuma sampai siang dan langsung pulang seharusnya? atau mungkin dia masih di rumah temennya itu?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
Devan tidak ingin memikirkannya dan memilih untuk membersihkan dirinya lalu turun kebawah bertanya pada para pelayan, "Keyna dimana? apa dia di kamar tamu lagi?" tanya Devan.
"Maaf, Tuan, tapi Nyonya sampai hari ini memang belum pulang," ucap Bi Nani.
"Belum pulang, tapi kerjaan dia seharusnya sudah selesai," ucap Devan dengan mengerutkan keningnya.
"Dennis," panggil Devan.
"Iya, Tuan," ucap Dennis.
"Nyonya, tidak mengatakan apapun Tuan, Nyonya hanya minta diantar saja," ucap Dennis dan diangguki Devan.
Devan pun akhirnya memutuskan untuk menghubungkan Keyna, tapi sialnya Keyna justru memblokir nomornya, "Apa-apaan ini, Keyna memblokir nomorku," ucap Devan yang mulai dipenuhi amarah.
Sesampainya didepan apartemen Celine, Devan langsung mengetuk pintu apartemen dengan kasar dan membuat sang empunya apartment terganggu, "Ada ap...eh, Presdir Devan ada apa ya kesini malam-malam?" tanya Celine.
"Dimana Keyna?" tanya Devan.
"Keyna, saya tidak tau Presdir," ucap Celine.
"Bukannya Keyna tadi ke apartemenmu bagaimana bisa kau tidak tau," ucap Devan.
"Hah! Keyna ke apartemen saya, Keyna tidak ke apartemen saya sama sekali," ucap Celine.
Devan pun mengerutkan keningnya, "Bukannya ada hal yang ingin kau bicarakan dengan Keyna makanya kau menyuruh Keyna ke apartemenmu bahkan kau mengirimkan pesan padanya, tapi kenapa kau bilang Keyna tidak denganmu?" tanya Devan.
"Oh, kalau masalah pesan memang tadi Keyna suruh saya kirim pesan kayak gitu, tapi Keyna tidak ke apartemen saya sama sekali," ucap Celine.
Celine yang melihat amarah Devan sangat takut, dalam hati ia merutuki Keyna yang menyuruhnya untuk mengirimkan pesan tersebut, tanpa mengucap apapun Devan pergi dari apartemen Celine menuju mobilnya.
__ADS_1
"Mike, cari tau keberadaan Keyna, berani sekali dia membohongiku," ucap Devan dan diangguki Mike.
"Ke tempat Rangga," ucap Devan.
Sesampainya di bar milik Rangga, Devan pun duduk di sofa mewah khusus yang ada disana, hingga tiba-tiba Rangga datang dan memberikannya segelas wine, "Sepertinya kau sangat kacau, ada apa lagi sekarang?" tanya Rangga.
"Bukan urusanmu," ucap Devan dan meneguk habis minuman yang diberikan Rangga.
Beberapa saat kemudian, Devan merasa ada yang aneh dari tubuhnya, "****! kau masukkan apa kedalam minumanku?" tanya Devan.
"Aku tidak tau, aku hanya memberikan minuman saja padamu, untuk isi yang ada didalamnya aku tidak tau, aku pergi dulu ya, oh iya, Mike bawa saja Devan ke hotel H nomor 11," ucap Rangga lalu pergi dari tempat tersebut.
Devan merasa seluruh tubuhnya panas, Devan tidak bodoh ia tau apa yang ada didalam minuman tersebut 'Obat Perangsang'.
Ya, Devan sadar jika ia meminum minuman yang didalamnya terdapat obat tersebut dan saat ini yang Devan butuhkan adalah b*rc*nt* dan hanya Keyna yang harus menuntaskannya.
Devan sendiri tidak pernah b*rc*nt* dengan siapapun dan yang pantas hanya Keyna karena Keyna adalah istrinya.
"Kalian cepat cari keberadaan Keyna sekarang juga!" perintah Devan.
Anak buah Devan yang bingung pun akhirnya mencari keberadaan Keyna dan Mike tetap membawa Devan ke hotel H nomor 11 sesuai dengan ucapan Rangga.
Sesampainya di depan kamar hotel tersebut, Mike mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian keluarlah orang yang sedari tadi dicari oleh Devan dan anak buah Devan.
"Nyonya," panggil Mike yang sangat bahagia saat melihat Keyna.
"Mike, ada apa dengan Devan? kenapa dia seperti ini?" tanya Keyna yang terkejut dengan keberadaan Devan.
"Nyonya, Tuan Devan saat ini masih dalam kendali obat perangsang dan yang dibutuhkan Tuan saat ini b*rc*nt* dan hanya Nyonya yang harus melakukannya," ucap Mike lalu menyerahkan Devan pada Keyna.
"Aku, tapi Mike, aku...," ucapan Keyna terhenti lantaran Mike menyelanya.
"Maaf, Nyonya, saya tidak bisa berbuat apa-apa karena ini di luar kendali saya, saya serahkan sepenuhnya Tuan Devan pada Nyonya, kalau begitu saya permisi," ucap Mike lalu pergi meninggalkanku Keyna dan Devan.
Devan sendiri yang merasakan sentuhan pada kulitnya mulai mengerjapkan matanya dan langsung menatap tajam Keyna, "A...ada apa?" tanya Keyna dengan gugup dan merasa nyawanya sat ini sedang terancam.
"Kau harus bertanggungjawab," bisik Devan tepat ditelinga Keyna dengan suara seraknya.
"Tanggungjawab a-apa?" tanya Keyna, Keyna tidak bodoh dia mengerti maksud Devan, tapi ia berharap dapat lepas dari cengkraman Devan hari ini.
"Kau sangat pintar sekali menarik ulur," bisik Devan dengan m*nj*l*t telinga Keyna.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.