
Keesokan harinya, Keyna sudah berada di rumah sakit. Saat ini di kamar inap Mama Vanka sudah ada keluarga lainnya mulai dari Papa Alex, Kak Acha, Kak Jeffry, Vio dan jangan lupakan Devan yang sejak tadi menatap tajam Keyna.
Keyna yang mendapat tatapan tajam dari sang suami pun hanya pura-pura tidak tahu saja.
'Devan kenapa sih lihatin aku terus?' tanya Keyna dalam hati.
"Ma, Devan sama Keyna keluar dulu ya," ucap Devan.
"Kam mau bawa menantu Mama kemana?" tanya Mama Vanka.
"Ada hal yang harus Devan bicarain sama Keyna," ucap Devan.
"Yaudah, tapi jangan lama-lama loh ya. Lagipula istri kamu lagi hamil, jadi gak boleh capek-capek," ucap Mama Vanka.
"Iya, Ma. Devan juga gak nyuruh Keyna lari keliling rumah sakit, jadi Keyna gak bakal capek," ucap Devan.
Devan dan Keyna pun keluar dari kamar inap Mama Vanka, "Kenapa?" tanya Keyna saat mereka sudah di luar.
"Kenapa gak diobati?" tanya Devan.
"Diobati? apanya yang diobati? Mama? Mama udah diobati kok," tanya Keyna.
"Ck, bukan Mama," ucap Devan.
"Terus kalau bukan Mama siapa yang diobati?" tanya Keyna.
"Ini," ucap Devan dan membuka lengan baju yang di kenakan Keyna hingga terlihatlah memar yang sejak kemarin Keyna tahan rasa sakitnya.
"O-oh, ini gapapa kok. Aku juga gak ngerasa sakit," ucap Keyna.
"Huh, kita ke Dokter sekarang dan obati ini," ucap Devan.
"Aku gapapa, gak perlu sampe ke Dokter. kalau kayak gini nanti juga sembuh," ucap Keyna.
"Aku tidak mau penolakan," ucap Devan dan menarik lembut tangan Keyna yang tidak terdapat memar.
Beberapa saat kemudian, tangan Keyna sudah diobati dan tentunya dengan Devan yang berada di dekatnya.
Selama pengobatan tadi, Keyna menahan agar tidak terlihat kesakitan. Tapi, ternyata gagal karena Keyna benar-benar tidak kuat saat Dokter menekan memar tersebut hingga Keyna pun menggenggam erat tangan Devan dan selama pengobatan berlangsung Keyna terus menggenggam tangan Devan dan begitupun Devan yang membalas genggaman erat sang istri.
"Kalian darimana aja kok lama banget? Loh Sanya itu tangan kamu kenapa kok ada di perban?" tanya Mama Vanka yang heboh sendiri bahkan Mama Vanka sampai turun dari brankar.
"Ma, jangan banyak gerak dulu. Mama harus istirahat," ucap Papa Alex.
"Iya, Mama tahu. Tapi, ini mendesak, Papa gak lihat apa kalau tangan menantu Mama di perban kayak gitu," ucap Mama Vanka.
"Keyna gapapa kok, Ma. Ini cuma diobati yang bekas kemarin," ucap Keyna.
"Aduh, harusnya kamu di rawat juga biar gak sakit," ucap Mama Vanka.
"Gak usah, Ma. Orang Keyna baik-baik aja kok," ucap Keyna.
"Dev, bisa Mama bicara sebentar?" tanya Papa Alex.
"Iya, Pa," ucap Devan.
Mereka berdua pun keluar dari kamar inap Mama Vanka, "Gimana sama orang-orang yang udah nyelakain Mama sama istri kamu?" tanya Papa Alex.
"Mereka masih belum mau buka suara," ucap Devan.
"Kamu bunuh saja mereka," ucap Papa Alex.
"Maksud Papa apa? Devan belum tahu siapa dalang dibalik semua ini dan Papa justru suruh Devan buat bunuh mereka," tanya Devan yan tidak percaya dengan apa yang baru saja Papa Alex katakan.
__ADS_1
"Papa tahu, tapi Papa sudah tahu semuanya termasuk dalang dibalik semua ini," ucap Papa Alex.
"Maksud Papa?" tanya Devan.
"Orang yang udah neror Keyna," ucap Papa Alex.
"Tunggu! maksud Papa dalang dibalik semua ini itu orang yang udah neror Keyna waktu itu?" tanya Devan.
"Iya," jawab Papa Alex.
"Papa tahu darimana? apa Papa punya bukti?" tanya Devan.
"Papa sudah kirim semuanya ke email kamu," ucap Papa Alex.
Setelah itu, Devan pun memeriksa email yang sudah Papa Alex kirimkan padanya dan benar saja apa yang dikatakan oleh Papa Alex jika dalang dari semua yang terjadi pada Keyna dan Mama Vanka adalah orang sama dengan kasus teror yang pernah terjadi pada Keyna.
"Ternyata dia lagi," gumam Devan.
"Kau harus cepat bertindak, Dev. Sebelum dia melakukan hal yang lebih berbahaya," ucap Papa Alex.
"Iya, Pa. Devan akan segera melakukannya," ucap Devan.
"Apa Sammy tahu?" tanya Papa Alex.
"Tidak, Sammy tidak tahu dan mungkin dia tidak akan menyangka," ucap Devan.
"Lakukanlah apapun selama semua itu tidak membahayakan untuk menantu Papa," ucap Papa Alex dan diangguki Devan.
"Devan, Papa!" panggil Keyna.
Papa Alex dan Devan pun menoleh pada Keyna, "Loh sayang kamu kok keluar, ada apa memangnya?" tanya Papa Alex.
"Tiba-tiba Key pengen makan di kantin rumah sakit, Pa," ucap Keyna.
"Yaudah, kalau gitu biar Devan yang temenin kamu," ucap Papa Alex.
"Kalau gitu Devan sama Keyna ke kantin dulu, Pa," ucap Devan.
"Iya, jaga menantu dan cucu Papa ya," ucap Papa Alex.
"Iya, Pa," ucap Devan.
"Padahal aku bisa sendiri loh, harusnya kamu jangan nurutin apa yang tadi Papa bilang," ucap Keyna.
"Aku gak nurutin apa yang dibilang Papa," ucap Devan.
"Hah!" Entahlah Keyna merasa ada yang ang aneh dengan perkataan Devan.
"Sudah lupakan," ucap Devan.
'Kenapa sih Devan ini dikit-dikit suruh lupain padahal kan aku udah penasaran tingkat akhir,' ucap Keyna dalam hati.
"Aku bilang lupakan ya lupakan," ucap Devan.
"Eh, aku gak bilang apa-apa ya," ucap Keyna.
"Tapi, ekspresi kamu udah nunjukin semuanya," ucap Devan.
"Hehehe, aku gak tahu itu," ucap Keyna.
Devan dan Keyna pun sudah sampai di kantin rumah sakit dan mereka duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Mau pesen apa?" tanya Devan.
__ADS_1
"Bubur," ucap Keyna.
"Kenapa bubur?" tanya Devan.
"Aku denger bubur rumah sakit itu enak selama kamu gak sakit, tapi kalau kamu sakit bubur itu jadi gak enak. Nah! makanya aku jadi pengen nyoba," ucap Keyna dan diangguki Devan.
Keyna pun memesan bubur dan Devan hanya membeli air mineral, tak berapa lama pesanan Keyna pun datang dan Keyna langsung memakan bubur yang sejak tadi ia inginkan.
"Ternyata emang enak bibir rumah sakit kalau lagi gak sakit," ucap Keyna setelah menghabiskan buburnya.
"Mau lagi?" tanya Devan.
"Gak deh, udah kenyang. Kayaknya jus alpukat enak deh," ucap Keyna.
"Kamu kan gak suka alpukat," ucap Devan.
"Iya ya, tapi kok aku tiba-tiba pengen buah alpukat," ucap Keyna.
"Kamu ngidam?" tanya Devan.
"Masa iya, kayaknya sih iya," ucap Keyna.
"Bentar aku beliin dulu," ucap Devan.
"Eh, gak usah biar aku beli sendiri aja," ucap Keyna.
Nun, Devan terus berjalan menuju penjual jus alpukat yang sejak tadi dilihat Keyna dan beberapa saat kemudian, Devan datang dengan membawa jus alpukat yang Keyna inginkan.
"Makasih," ucap Keyna dan menerima jus alpukat tersebut.
Keyna pun mencoba jus alpukat tersebut, "Ish, kok gak enak sih. Rasanya aneh apalagi baunya bikin mual aja, gak suka aku sama jusnya," ucap Keyna.
"Itu salahmu kenapa pengen jus alpukat," ucap Devan.
"Aku juga gak tahu, aku tiba-tiba aja pengen jus alpukat," ucap Keyna.
"Yaudah, sekarang habiskan," ucap Devan.
"Gak mau, rasa sama baunya gak enak pengen muntah," ucap Keyna.
"Yaudah, kalau gitu buang aja," ucap Devan.
"Sayang banget kalau di buang," ucap Keyna.
"Ya, gak ada yang mau habisin juga sayang, jadi dibuang aja sini biar aku yang buang," ucap Devan dan langsung membuang jus alpukat tersebut.
Sedangkan. Keyna, Masih terpaku dengan apa yang baru saj ia dengar, "Kamu tadi panggil aku apa? sayang?" tanya Keyna.
"Kamu salah denger kali," ucap Devan.
Baru saja Keyna akan berusaha tiba-tiba suara perempuan membuatnya mengurungkan niatnya.
"Kak Devan," panggil Riana dan Devan hanya menaikkan alis kanannya.
"Kak Devan lupa sama aku, aku Riana Kak. Anaknya Papa Arik, Papa dulu pengacara keluarga Erland bahkan kita pernah bertemu di taman rumah sakit," ucap Riana.
"Ayo kita pergi," ajak Devan lalu menggenggam tangan Keyna dan meninggalkan Riana.
"Kak Devan tunggu!" ucap Riana dan menahan tangan Devan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.