
Devan senantiasa mendampingi Keyna, "Kamu kuat sayang," gumam Devan dengan menggenggam tangan Keyna.
"Sa-sakit," lirih Keyna.
Devan semakin panik mendengar rintihan sang istri, "Dokter tolong istri saya," ucap Devan dengan putus asa.
Ini adalah pertama kalinya Dokter Vega mendengar kata tolong dan melihat bagaimana putus asanya Devan.
"Saya akan melakukan yang terbaik agar Nyonya selamat," ucap Dokter Vega.
"Sayang jangan tutup mata kamu," ucap Devan.
"Kita mulai sekarang," ucap Dokter Vega.
Tak terasa sudah satu jam dan Devan masih menemani Keyna di dalam ruang operasi, saat tengah menatap lekat wajah cantik sang istri, Devan pun mendengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring dari dalam ruangan tersebut.
Devan menatap bayi yang di bawa Dokter Vega, ini adalah pertama kali Devan melihat bayi yang menangis saat baru lahir.
Devan merasakan sebuah perasaan yang berbeda dengan sebelumnya, Devan tersenyum hangat melihat anaknya.
"Selamat, Tuan. Jagoan anda lahir dengan sehat," ucap Dokter Vega.
Devan tidak menjawab karena ia masih sibuk melihat bayi mungil yang akan di bersihkan tersebut.
Setelah bayi tersebut di bawa perawat, Devan pun melihat keadaan sang istri yang ternyata sudah tidak sadarkan diri dan hal itu tentu saja membuat Devan semakin panik.
Devan sudah berpikir yang tidak-tidak saat melihat Keyna yang tidak sadarkan diri dengan wajah pucat nya.
"Sayang, bangun. Dokter ini istri saya kenapa? dia tidak sadarkan diri," tanya Devan panik.
"Tuan, Devan tenang dulu, saya akan periksa keadaan Nyonya Keyna," ucap Dokter Vega.
Dokter Vega pun memeriksa keadaan Keyna, "Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Devan.
"Maaf, Tuan Devan bisa keluar sebentar karena saya harus memeriksa dengan tenang keadaan Nyonya Keyna," ucap Dokter Vega.
"Tidak bisa! saya suaminya, jadi saya harus melihat keadaan istri saya sampai di sadarkan diri," ucap Devan.
"Maaf Tuan, tapi kali ini keadaan ruang harus steril dari orang luar dan itupun cara terbaik agar saya bisa maksimal dalam menangani Nyonya Keyna," ucap Dokter Vega.
Mau tidak mau, Devan pun keluar dari ruangan tersebut tentunya dengan berat hati karena Devan tidak tenang jika ia tidak melihat keadaan Keyna secara langsung.
"Kamu pasti kuat sayang, tolong jangan tinggalin aku dan anak kita," gumam Devan dan keluar dari ruangan tersebut.
"Devan!" panggil Mama Vanka.
Devan tidak meresponnya, ia terus menatap kosong pada pintu ruangan Keyna di periksa, "Van," panggil Mama Vanka lagi.
Tapi, tetap skaa tidak ada sahutan dari Devan, "Van," panggil Papa Alex.
"Sadar, Van," ucap Papa Alex.
Devan pun menatap Papa Alex dan Mama Vanka, "Gimana keadaan menantu Mama?" tanya Mama Vanka.
Lagi-lagi Devan tidak menjawab, ia justru menghampiri Mama Vanka dan memeluk sang Mama bahkan Devan sampai menangis di pelukan Mama Vanka dan hal itu mengejutkan bagi Papa Alex dan Mama Vanka.
Karena ini adalah pertama kalinya Devan menunjukkan tangisannya pada Papa Alex dan Mama Vanka.
"Sayang," panggil Mama Vanka.
"Semua ini salah Devan, Ma. Harusnya Devan gak balas dendam ke Keyna," ucap Devan.
"Maksud kamu apa? kamu dendam ke Keyna?" tanya Mama Vanka dengan Devan yang masih ada dalam pelukannya.
Devan pun melepaskan pelukan tersebut dan menatap lekat Mama Vanka, "Maafin Devan, Ma. Devan sudah melakukan kesalahan, seharusnya Devan tidak melakukan hal bodoh itu," ucap Devan.
"Kamu melakukan apa?" tanya Papa Alex.
"Sebenarnya Devan menikahi Keyna hanya untuk balas dendam karena Zayn menyukai Keyna dan menolak Hilya dan akhirnya Hilya bunuh diri, tapi Devan...," Belum sempat Devan melanjutkan perkataannya tiba-tiba saja Kak Kelvin datang dan memukul wajah tampan Devan.
Bugh bugh bugh
Devan yang merasa tidak terima pun berniat untuk membalas pukulan tersebut, tapi saat ia melihat Kak Kelvin yang memukulnya, ia pun mengurungkan niatnya dan membiarkan Kak Kelvin memukulnya hingga puas.
Sedangkan, Papa Alex dan Mama Vanka diam saja, mereka tidak ingin ikut campur dengan pa Yangs udah devan lakukan pada Keyna.
Sebenarnya Papa Alex dan Mama Vanka marah mendengar ucapan Devan, yaitu mereka berdua memang sudah curiga dari awal Devan ingin menikahi Keyna dan akhirnya kecurigaan mereka terbukti.
Tapi, Papa Alex dan Mama Vanka melupakan kecurigaan mereka karena nyatanya Devan sudah menerima Keyna dan mencintaimu Keyna.
"Apa maksud lo nikahin adik gue cuma karena balas dendam!" bentak Kak Kelvin.
"Vin, sabar dulu," ucap Mama Bella.
"Orang kayak gini gak bisa di sabarin, Ma. Mama tadi denger sendiri bukan kalau dia menikah dengan Keyna karena balas dendam," ucap Kak Kelvin yang masih emosi.
"Ma, Devan gak bermaksud menyakiti Keyna...," Lagi-lagi ucapan Devan terhenti lantaran Mama Bella yang menamparnya.
"Bagaimana keadaan Keyna?" tanya Mama Bella.
__ADS_1
Devan pun menjelaskan semuanya pada Mama Bella, Devan bukannya tidak berani melawan Mama Bella. Hanya saja ia sangat menyayangi Keyna sehingga ia rela melakukan hal yang menjatuhkan harga dirinya yaitu menunduk di depan orang lain.
"Vin, jangan sampai Papa kamu tahu masalah ini," ucap Mama Bella.
"Kenapa, Ma? harusnya Papa tahu kalau menantunya ini adalah menantu brengsek!" tanya Kak Kelvin.
"Kamu tahu gimana Papa kamu kan, lagipula Keyna baru saja melahirkan dan Mama gak mau keadaan Keyna semakin parah jika Papa kamu tahu," ucap Mama Bella.
Devan berat hati, Kak Kelvin pun setuju karena apa yang dikatakan Mama Bella memang benar.
"Kamu duduk dulu, kamu tenangin diri kamu. Keyna pasti baik-baik saja, dia kuat, dia akan bertahan," ucap Mama Bella.
"Iya, Ma," ucap Devan.
Setelah beberapa saat, akhirnya Dokter Vega pun keluar dari ruangan tersebut.
Sontak saja semua keluarga yang ada di sana menghampiri Dokter Vega, "Bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Mama Vanka.
"Nyonya Vanka tidak perlu khawatir, keadaan Nyonya Keyna sudah normal hanya saja Nyonya Keyna masih belum sadarkan diri. Kemungkinan Nyonya Keyna akan sadar dalam beberapa jam mendatang," ucap Dokter Vega.
Mendengar itu, semuanya pun lega dan berterimakasih kepada tuhan karena telah menyelamatkan Keyna.
"Untuk cucu saya bagaimana, Dok?" tanya Mama Bella.
"Selamat karena Nyonya memiliki jagoan yang sangat tampan dan sehat," ucap Dokter Vega.
Semua orang bersuka cita mendengar jagoan Devan dan Keyna, begitupun dengan Devan yang sangat bahagia dengan apa yang baru saj ia dengar dimana istri dan anaknya selamat.
"Apa saya boleh masuk ke dalam, Dok?" tanya Devan.
Dokter Vega pun tersenyum, "Silahkan, Tuan. Kalau ada apa-apa, Tuan Devan dapat memanggil saya. Kalau begitu saya permisi," ucap Dokter Vega.
Setelah Dokter Vega pergi, Devan dan keluarga lainnya pun masuk ke dalam ruangan Keyna di rawat.
Di sana terlihat jelas Keyna yang tengah berbaring lemah dengan alat-alat yang melekat pada tubuh Keyna.
"Sayang, terimakasih karena mau bertahan meskipun bukan karena aku, takut aku bahagia," gumam Devan.
Tak lama, perawat pun datang dan meletakkan bayi mungil nan tampan di box bayi yang ada di dekat ranjang Keyna.
Devan menoleh dan menatap lekat bayi tampannya lalu menghampiri bayi tersebut.
"Selamat datang sayangnya Papa," gumam Devan dan mengecup bibir mungil tersebut.
Devan tidak bisa mengalihkan pandangannya pada bayi mungil tampan tersebut, ia tersenyum hangat nan tulus pada anaknya.
Devan memilih menjauh karena ia akan kalah melawan dua wanita terkuat dalam sejarah hidupnya.
Devan kembali pada Keyna dan menggenggam serta mengecup berkali-kali tangan sang istri dan berharap agar Keyna segera sadar.
"Aduh, cucu Mama kok ganteng banget sih. Mirip Sam alami, Van," ucap Mama Vanka.
"Kan anaknya Devan, jadi wajar dong Ma kau mirip Devan. Kalau mirip orang lain kan malah aneh," ucap Devan.
"Hust, kamu diem aja gak usah bicara apa-apa. Mama masih marah sama kamu," ucap Mama Vanka dan Devan memilih diam tidak bersuara sama sekali.
"Ini mah lebih mirip ke Devan, Keyna cuma dapat putihnya aja," ucap Mama Bella.
"Eh, iya juga ya. Padahal Keyna yang hamil dan ngerasain sakitnya, tapi malah anaknya mirip Devan," ucap Mama Vanka.
"Itu artinya bibir Devan unggul," ucap Papa Alex.
"Iya lah kalau gak unggul gak mungkin bakal ganteng banget kayak gini," ucap Kak Kelvin.
"Papa kamu udah kamu kabarin kalau Keyna di rumah sakit?" tanya Mama Bella.
"Udah kok, Ma. Sebentar lagi Papa datang kok," ucap Kak Kelvin.
"Yaudah, tapi ingat ya jangan kasih tahu masalah tadi," ucap Mama Bella.
"Iya, Ma. Kelvin ingat itu," ucap Kak Kelvin dan melirik Devan.
Devan hanya mampu tersenyum kaku melihat lirikan tajam Kak Kelvin, anggap saja Devan tengah mencari muka pada keluarga Keyna agar ia tidak di pisahkan dari Keyna.
Devan bisa saja membunuh Kak Kelvin yang berani meliriknya bahkan memukulnya tadi, tapi Devan sengaja tidak melakukannya.
Beberapa saat kemudian, keluarga lain pun datang yakni Papa Erwin, Kak Acha, Kak Jeffry dan jangan lupakan Kikan dan Celine yang juga mendapat kabar jika Keyna telah melahirkan di rumah sakit tersebut.
Semua kabar mengenai Keyna yang melahirkan di rumah akut sendiri diberitahukan melalui Mike baik itu dari keluarga Devan ataupun keluarga Keyna termasuk Papa Alex, Mama Vanka, Mama Bella dan Kak Kelvin.
"Gimana keadaan Keyna?" tanya Papa Erwin yang baru saja datang.
"Keyna baik-baik aja, Pa. Cuma dia belum sadarkan diri," ucap Mama Bella.
"Huh, Papa udah khawatir setengah mati saat tahu Keyna melahirkan lebih awal dari waktu yang seharusnya," ucap Papa Erwin.
"Maafin Devan, Pa. Semua ini salah Devan karena Devan gak bisa jaga Keyna dengan benar dan Keyna sekarang justru terbaring lemah di rumah sakit," ucap Devan.
"Kamu gak salah, ini memang sudah kehendak Tuhan dan kita tidak ada yang tahu bagaimana selanjutnya," ucap Papa Erwin dan diangguki Devan.
__ADS_1
"Pa, ini lih cucunya ganteng banget," ucap Mama Bella.
Papa Erwin pun mengalihkan pandangannya dari Devan ke bayi mungil yang masih tertidur di box yang ada di samping ranjang Keyna.
"Halo, cucu Kakek," sapa Papa Erwin.
"Ganteng banget anak kamu, Van," ucap Kak Acha.
"Iya, Kak," ucap Devan.
"Mirip Presdir Devan banget, Keyna gak kebagian apa-apa," ucap Kikan.
"Itu artinya Presdir Devan bucin banget sama Keyna sampai-sampai anak yang dikandung Keyna mirip sama Presdir Devan dan Keyna gak kebagian apa-apa," ucap Celine.
"Beneran?" tanya Mama Vanka.
"Hehehe, gak tau juga sih. Tapi, kata guru aku dulu kayak gitu," ucap Celine.
"Berarti kamu yang bucin sama Rangga dong soalnya anak kamu mirip sama Rangga bukan sama kamu," ucap Kikan.
"Itu beda ya, kan anak aku mirip aku sama Rangga ya dibagi rata gitu. Jadi aku sama Rangga sama-sama bucin gitu loh, Kan," ucap Celine.
"Ada-ada aja kalian ini," ucap Mama Kak Acha.
Tak lama setelah itu, beberapa keluarga pun pulang. Hanya tersisa Devan, Papa Alex, Papa Erwin, Mama Vanka dan Mama Vanka di sana.
Saat mereka semua tengah sibuk dengan bayi mungil tersebut, tiba-tiba saja Devan merasakan sesuatu yang bergerak di tangannya dan tentu saja membuat ia menoleh pada Keyna.
Tentu saja Devan senang saat melihat Keyna sadar, Devan langsung memencet tombol tersebut untuk memanggil dokter Vega dan tak lama setelah itu Dokter Vega datang lalu memeriksa keadaan Keyna.
"Keadaan Nyonya sudah membaik, tapi Nyonya Keyna masih harus banyak istirahat karena lukanya masih belum kering," ucap Dokter Vega dan diangguki Devan.
"Terimakasih Dok," ucap Mama Vanka.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Vega.
Devan pun langsung menghampiri Keyna, "Sayang, apa ada yang sakit? mana yang sakit hem?" tanya Devan.
"Pergi!" teriak Keyna.
Teriakan Keyna membuat semua orang yang ada di sana terkejut bahkan bayi mungil di sampingnya pun terkejut dan menangis histeris.
"Keyna," panggil Papa Erwin dengan nada dinginnya yang menandakan jika Papa Erwin tengah marah.
Keyna tentunya terkejut saat mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring di telinganya apalagi saat Papa Erwin memanggilnya dengan suara yang selalu Keyna takutkan.
"Cup cup, anak Papa jangan nangis lagi ya," ucap Devan dan menenangkan anaknya.
Tapi, sayang. Usahanya gagal karena bukannya diam, anaknya justru semakin menangis kencang.
"Dev, berikan padaku," ucap Keyna.
"Kamu pasti masih sakit dan belum sembuh, jadi kamu istirahat aja ya biar baby nya aku aja yang jaga," ucap Devan.
"Kayaknya baby-nya haus deh, Van. Biarin baby-nya minum dulu," ucap Mama Vanka.
"Oh, jadi anak Papa haus ya," ucap Devan dan memberikan anaknya pada Keyna.
"Kamu bisa?" tanya Mama Vanka.
"Ehm, belum bisa, Ma," ucap Keyna.
"Kalian berdua keluar dulu," ucap Mama Bella yang menyuruh Papa Alex dan Papa Erwin untuk keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Papa Alex dan Papa Erwin keluar barulah Mama Vanka dan Mama Bella menghampiri Keyna, "Kenapa?" tanya Mama Bella saat melihat Keyna yang tidak membual baju bagian atasnya.
"I-itu, Devan masih ada di sini," ucap Keyna.
"Kalau Devan mah gak masalah itung-itung latihan biar nanti di rumah kalau kamu butuh bantuan, Devan bisa bantu sayang," ucap Mama Vanka.
Akhirnya Keyna pun bisa menyusui anaknya dengan bantuan Mama Vanka dan Mama Bella tentunya.
Setelah Keyna nyaman, Mama Vanka dan Mama Bella pergi menyusul Papa Alex dan Papa Erwin, sehingga saat ini hanya tersisa Devan dan Keyna di ruangan tersebut.
"Ish," rintih Keyna.
Devan tentunya tidak tega saat melihat wajah kesakitan Keyna, "Apa sakit? gimana kalau aku cari ibu susu aja biar kamu gak sakit kayak gini," tanya Devan panik.
"Aku masih bisa menyusui anakku, jadi tidak perlu mencari ibu susu," ucap Keyna dingin.
Devan hanya mampu menghela napas karena sejak Keyna bangun, ia selalu berbicara sinis pada Devan dan Devan memaklumi hal itu.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1