
"Siapa?" tanya Devan.
"Sini," ucap Keyna.
Devan pun mendekatkan dirinya kepada istrinya itu, "Aku curiga kalo dia itu Mike," bisik Keyna.
"Kenapa kamu mencurigainya?" tanya Devan.
"Ya, siapa tau. Nih ya dari semua yang ada disini sepertinya hanya Mike yang memandang aneh ke aku," ucap Keyna.
"Memandang aneh? maksudnya" tanya Devan dan Keyna menganggukkan kepalanya.
"Masa aku pernah tanya Mike, tapi jawabannya gak enak gitu, makanya aku menyimpulkan sendiri kalau Mike itu gak suka sama aku," ucap Keyna.
"Apa alasannya Mike tidak menyukaimu?" tanya Devan.
"Aku juga gak tau pasti sih, tapi kalau menurutku karena Mike itu cemburu," ucap Keyna.
"Cemburu? untuk apa Mike cemburu padamu?" tanya Devan.
"Jadi sepertinya Mike itu menyukaimu dan dia gak suka kalau aku dekat sama kamu karena setiap aku ada di dekatmu, raut wajah Mike sangat kentara sekali kalau dia gak suka gitu," ucap Keyna.
Devan pun mendekatkan dirinya kepada istrinya itu dan menyentil dahi Keyna, Keyna yang mendapat serangan secara tiba-tiba pun terkejut dan mengaduh kesakitan, "Sakit tau, kenapa di sentil sih?" tanya Keyna.
"Ya, habisnya kamu ngomong yang aneh kayak gitu," ucap Devan.
"Kan itu cuma menurutku kalau gak yaudah, apa jangan-jangan kamu juga suka dengan Mike? itu artinya aku menghalangi kisah kalian dong, oh tunggu atau jangan-jangan kamu menikah denganku supaya orang-orang gak tahu kalau kamu sama Mike itu memiliki hubungan jadi orang-orang beranggapan kalau kamu itu udah punya istri dan menjadi pria normal?" tanya Keyna dan kembali mendapatkan sentilan di dahinya.
Keyna kembali mengusap dahinya, padahal sakit saat sentilan yang pertama belum sepenuhnya hilang, tapi Devan kembali menyentil dahinya, "Aw, sakit Devan," ucap Keyna.
"Makanya jangan mikir gak jelas kayak gitu," ucap Devan lalu membawa Keyna kedalam pelukannya dan berbaring di ranjang.
Pagi harinya, Keyna bangun terlebih dahulu, "Dev, bangun ih, kenapa sih kalau tidur kayak orang mati susah banget di banguninnya?" tanya Keyna pada dirinya sendiri dengan menggoyangkan lengan kekar suaminya.
"Berisik," ucap Devan dengan suara khas bangun tidurnya.
Setelah itu, Devan pun bangun dan menuju kamar mandi dan selesai rutinitasnya di kamar mandi Devan keluar menghampiri Keyna yang sudah memakai polesan tipis di wajah cantiknya.
key aku yang sudah siap pun langsung menuju meja makan tanpa menunggu Devan, padahal Devan baru saja ingin meminta Keyna memasangkan dasi untuknya, tapi Keyna justru meninggalkannya sendirian di kamar.
Pada saat di meja makan, Keyna melihat Mike, entah rasa penasaran atau bagaimana Mike mendekatkan diri ke arah Mike.
"Ada apa Nyonya? apa ada yang perlu saya bantu?" tanya Mike dan mendapatkan gelengan dari Keyna.
"Aku cuma penasaran aja," ucap Keyna.
"Penasaran apa Nyonya?" tanya Mike.
Mike juga mulai merasa takut, khawatir, dan juga gugup, ia takut Tuannya datang dan melihat dirinya yang berdekatan dengan Nyonyanya.
"Mike, apa kau pria normal?" tanya Keyna dan membuat Mike mengerutkan keningnya.
"Maksud Nyonya?" tanya Mike.
"Huh, maksudku apa kau pria normal yaitu menyukai lawan jenis? kau tertarik dengan perempuan atau gak?" tanya Keyna.
Mike semakin bingung dengan pertanyaan yang diajukan sang Nyonya, "Ya, saya pria normal Nyonya, memangnya kenapa?" tanya Mike dan mendapatkan gelengan kepala dari Keyna.
__ADS_1
"Kamu masih membahas itu," ucap Devan yang mengejutkan Keyna sekaligus Mike.
Mike merasa nyawanya dalam bahaya, ia segera menjauh dari Keyna, namun langkah terhenti karena tiba-tiba Keyna menghentikan langkahnya, "Ada apa Nyonya?" tanya Mike.
Devan sendiri hanya melihat tingkah laku aneh istrinya, Devan bingung dengan pemikiran Keyna. Bagaimana bisa ia berpikiran jika Mike pria tidak normal dan malah menuduh Mike berhubungan dengannya, sangat aneh bukan.
"Nyonya, silahkan duduk dan menyantap makanannya," ucap Mike, namun Keyna tetap menatap Mike.
"Sudahlah, kau ingin terlambat kerja," ucap Devan.
Keyna pun menatap Devan, Devan yang ditatap hanya mengangkat bahunya. Setelah menatap Devan, Keyna kembali menatap Mike dengan tatapan yang entahlah, padahal Mike memiliki kepintaran untuk menebak bagaimana ekspresi dan pikiran seseorang, tapi ia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Keyna.
Cup...
Hingga tindakan Keyna kepada Mike membuat semua orang yang ada disana terkejut tak terkecuali Mike dan juga Devan, Mike masih ingat bagaimana terlukanya pergelangan Dennis dan ia juga yakin bahwa ia akan mendapatkan luka yang sama seperti milik Dennis.
Ya, Keyna secara terang-terangan mengecup pipi Mike walaupun tak sepenuhnya menyentuh kulit Mike.
Setelah Keyna mengecup pipi kanan Mike, Keyna pun kembali menatap Mike yang masih terkejut, "Apa kau tergoda karena aku mengecup pipimu?" tanya Keyna.
"Kamu sudah gila ya," ucap Devan dan menarik Keyna hingga duduk di kursi yang ada di meja makan.
Devan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Keyna lakukan, ia pikir Keyna hanya akan bertanya saja, tapi setelah tindakan baru tadi Devan marah dan menarik Keyna lalu tatapannya lekat ke arah Mike dan beralih ke Keyna, "Kenapa kau mengecup pipi Mike?" tanya Devan dengan nada dingin yang menakutkan.
"Aku hanya penasaran aja, apa Mike merasa tergoda karena sudah aku kecup atau malah Mike justru biasa aja saat aku kecup tadi," ucap Keyna dengan polos.
'Nyonya benar, saya merasakan debaran jantung yang sangat kencang, tapi bukan karena kecupan dari Nyonya melainkan karena tatapan tajam Tuan Devan dan juga hukuman yang akan menanti saya,' ucap Mike dalam hati.
Cup...
"Untuk menghilangkan kecupanmu tadi," ucap Devan dan kembali menyatukan bibir mereka.
Beberapa saat kemudian, Devan pun melepaskan pagutannya, "Jangan pernah melakukan itu lagi kalau gak kamu akan mendapat hukuman," ucap Devan yang sangat menakutkan bagi Keyna.
Seolah tersihir akan ucapan Devan, Keyna pun menganggukkan kepalanya dengan patuh pada Devan.
"Mike, itu pria normal yang tidak normal itu kamu, sudah makan jangan protes atau aku akan menghukummu," ucap Devan.
Devan pun menatap Mike seolah memberitahu padanya untuk melaksanakan hukumannya dan Mike yang paham pun langsung pergi dari ruangan tersebut.
Setelah drama rumah tangga tadi pagi, akhirnya Keyna saat ini sudah berada di kantornya, Keyna sendirian karena Kikan baru saat ini berada di rumah neneknya yang berada di luar kota untuk menjaga neneknya yang sedang sakit.
Saat Keyna sedang berjalan tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dengan pelan, sontak Keyna langsung melihat siapa yang menepuk bahunya, "Keyna," sapa Jordan.
"Oh, hai Dan," jawab Keyna.
"Kamu mau ke ruangan ya?" tanya Jordan.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Keyna.
"Hem, ada yang mau aku omongin sih, tapi kalau memang kamu masih sibuk gapapa nanti aja," ucap Jordan.
"Kalau gitu sekarang aja deh Dan, mumpung masih ada waktu akunya, takutnya nanti aku sibuk sampai lupa sama yang mau kamu omongin lagi," ucap Keyna dan diangguki Jordan.
"Yaudah kita ke kantin aja gimana?" tanya Jordan dan diangguki Keyna.
Mereka berdua saat ini berada di kantin, Jordan meninggalkan Keyna karena ia mengatakan jika belum makan dan otomatis Jordan membeli makanan terlebih dahulu hingga beberapa saat kemudian Jordan datang dengan membawa dua makanan dan menaruh di depan Keyna.
__ADS_1
"Kenapa kamu kasih ke aku?" tanya Keyna.
"Gapapa, makan aja, sebagai tanda terima kasih aku," ucap Jordan.
"Tapi, aku udah makan, Dan," ucap Keyna lalu menaruhnya di depan Jordan.
"Loh, kok tumben kamu udah makan biasanya aja susah kalau mau sarapan," ucap Jordan dan Keyna hanya mengangkat bahunya.
"Btw, kamu mau ngomongin apa?" tanya Keyna saat Jordan sudah menghabiskan makanannya.
"Kamu nanti malam ada acara gak?" tanya Jordan.
"Nanti malam, hem aku juga gak tau sih, kenapa memangnya?" tanya Keyna.
"Kamu mau gak nemenin aku pemotretan nanti malam, tapi kalau kamu gak mau juga gapapa kok, aku gak maksa," ucap Jordan.
"Emangnya dimana pemotretannya kok sampe kamu minta temenin?" tanya Keyna.
"Aku juga gak tau katanya nanti baru dikabarin," ucap Jordan.
"Nanti deh kalau emang aku gak sibuk aku kabarin kamu," ucap Keyna dan diangguki Jordan.
"Kamu kesini kenapa kok tumben?" tanya Keyna.
"Aku cuma mau ngomong itu aja ke kamu," ucap Jordan dan sontak membuat Keyna melotot mendengarnya.
"Hah! kamu cuma mau ngomong itu aja sampe harus kesini, kenapa gak telpon aja?" tanya Keyna.
"Ya, gapapa sih pengen aja," ucap Jordan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu itu definisi manusia kalau ada cara yang lebih sulit kenapa harus pake cara yang lebih mudah," ucap Keyna dan membuat mereka berdua tertawa.
"Pacaran aja lo berdua," ucap Celine yang baru saja datang.
"Ganggu aja lo," jawab Jordan ketus.
"Biasa aja dong, nih anak kalau ada gue selalu aja kayak gitu gak asik orangnya, kalau sama Keyna aja manis banget pake aku kamu lagi," ucap Celine.
"Biarin," ucap Jordan.
"Kalian ini selalu aja berantem kalau ketemu, oh iya aku duluan ya ini aku takut telat ke ruangannya, dah," pamit Keyna lalu pergi dari kantin meninggalkan Celine dan Jordan.
"Kenapa lo liat gue? naksir lo ama gue?" tanya Jordan.
"Ogah, najis banget gue naksir ama lo," ucap Celine.
"Terus ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Jordan.
"Gue tau kali kalau lo itu suka kan sama Keyna," ucap Celine yang membuat Jordan terkejut mendengarnya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1