
"I-iya," jawab Keyna.
"Kenapa kamu tidak bilang ke aku?" tanya Devan.
"Maaf, hiks hiks. Aku pikir kamu marah makanya aku gak bilang," ucap Keyna.
Devan pun menarik Keyna kedalam pelukannya, "Sudah, aku tidak akan membahas masalah ini, sekarang lebih baik kamu istirahat, kamu terlihat ketakutan tadi," ucap Devan.
Sebenarnya Keyna sedikit kecewa karena Devan tidak mau menjawab apakah dia marah atau tidak padanya, tapi Keyna benar-benar merasa matanya tidak dapat bekerjasama dan Keyna pun akhirnya tertidur dalam pelukan Devan.
Pagi harinya, Keyna terbangun dan tidak melihat Devan disebelahnya, setelah itu Keyna pun menuju dapur dan bertanya kepada para pelayan, "Bi Nani tau dimana Devan, padahal ini masih pagi loh?" tanya Keyna.
"Tuan, sudah berangkat Nyonya, Tuan juga melarang Nyonya untuk bekerja hari ini karena Nyonya harus istirahat sampai kondisi Nyonya pulih," ucap Bi Nani.
Seketika Keyna teringat mengenai masalah yang ia hadapi saat ini, "Bi, Keyna boleh peluk Bi Nani gak?" tanya Keyna.
"Bo-boleh Nyonya, tapi apa tidak menjijikkan Nyonya memeluk pelayan seperti saya?" tanya Bi Nani.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Bi Nani, Keyna pun langsung memeluk Bi Nani dan menangis kencang dalam pelukan itu, "Bi, Keyna takut banget," ucap Keyna.
"Nyonya tidak perlu takut karena masih banyak yang sayang dan selalu ada untuk Nyonya, salah satunya Tuan, Tuan pasti akan membantu Nyonya," ucap Bi Nani.
Keyna menggelengkan kepalanya, "Justru Devan yang membuat Keyna takut, Bi," ucap Keyna.
Saat Keyna tengah memeluk Bi Nani tiba-tiba suara cempreng mengusik pendengaran Keyna, Keyna pun melepas pelukan tersebut dan melihat siapa yang datang, "Kak Keyna!" teriak Clara dan berlari menghampiri Keyna lalu Clara pun memeluk Keyna dengan erat.
"Cla-clara Kakak kayak mau mati kalau kamu peluknya kayak gini," ucap Keyna.
Clara pun lantas melepaskan pelukannya.
"Hehehe, Clara kangen banget loh sama Kak Keyna, emangnya Kak Keyna gak kangen apa sama Keyna," ucap Clara.
"Kangen lah, masa Kakak gak kangen sama cewek cerewet kayak kamu," ucap Keyna.
Keyna pun melihat siapa yang datang bersama Clara dan ternyata Clara datang bersama seorang perempuan dan Clara tidak tau siapa perempuan tersebut.
"Dia siapa Cla? temen kamu ya?" tanya Keyna.
"Bukan Kak, kenalin Kakak ini namanya Kak Maya calonnya Kak Andra," ucap Clara.
"Oh, hai, maaf ya aku gak tau kalau kamu calonnya Andra," ucap Keyna.
"Iya, kak gapapa kok," ucap Maya.
"Cantik ya," ucap Keyna.
"Makasih Kak," ucap Maya dengan malu-malu.
"Tapi, kenapa kamu kesini tumben sekali?" tanya Keyna.
"Kak Keyna mah, Clara ini kangen loh sama Kak Keyna terus waktu Clara mau ke rumah Kak Keyna eh ketemu Kak Andra sama Kak Maya makanya sekalian aja clara ajakin Kak Maya dan untung aja Kak Andra ngebolehin biasanya aja langsung kayak gini," ucap Clara dan diakhir kalimatnya memperagakan gaya Andra saat menatap tajam ke arah Clara.
Sontak hal itu membuat Keyna dan Maya tertawa, "Masa sih Andra kayak gitu, kayaknya kalau sama aku gak deh," ucap Maya.
"Kan udah sama pawangnya Kak. Ya, sama kayak Kak Devan yang kalau ngomong plus ekspresi datarnya, tapi kalau sama pawangnya mah langsung hilang sudah semua itu," ucap Clara dan Keyna hanya tersenyum menanggapinya, tidak mungkin kan Keyna mengatakan yang sebenarnya pada Clara.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah menentukan tanggal pernikahanmu sama Andra?" tanya Keyna.
"Udah dong, Kak," ucap Clara dan Keyna pun tersenyum mendengarnya.
"Kapan?" tanya Keyna.
"Hem, mungkin sekitar dua Minggu lagi," ucap Maya.
"Wah! cepet banget," ucap Keyna.
__ADS_1
"Kak Keyna sama Kak Devan dulu juga cepet banget loh, bahkan lebih cepetan kalian berdua daripada Kak Andra sama Kak Maya," ucap Clara.
"Eh, iya ya hehehe, Kakak lupa," ucap Keyna.
"Maaf ya, aku mau tanya boleh," izin Keyna.
"Tanya apa Kak?" tanya Maya.
"Hem, kamu lagi hamil ya?" tanya Keyna dengan hati-hati takut Maya tersinggung.
Maya menampilkan senyuman manisnya dan Keyna pun sebagai perempuan merasa terhipnotis, pantas saja Andra ingin menikahi Maya karena Maya sangat manis jika tersenyum dan juga cantik tentunya.
"Iya, Kak," ucap Maya.
"Berapa usia kehamilan kamu?" tanya Keyna.
"Baru 4 Minggu Kak," ucap Maya.
"Wah! selamat ya, aku gak sabar deh nunggu si baby lahir nanti mau aku culik aja dia," ucap Keyna.
"Kakak bikin sendiri dong sama Kak Devan masa nyulik anaknya Kak Andra sama Kak Maya, terus nanti anaknya Kak Andra sama Kak Maya biar Clara aja yang nyulik si baby gitu, jadi Kak Andra sama Kak Maya bisa bikin lagi baby-nya" ucap Clara.
"Yeeh, itu mah mau kamu," ucap Keyna.
Keyna sendiri sebenarnya sempat berfikir mengenai apa yang dikatakan Clara, apa ia harus meminta Devan, tapi Keyna masih belum siap untuk itu.
.
Pagi harinya, Devan sudah bersiap menuju markas karena Mike telah membawakan apa yang Devan inginkan, sebelum Devan pergi ia terlebih dahulu menghampiri Keyna yang masih tertidur.
"Aku akan cepat selesaikan semuanya," bisik Devan lalu mengecup kening Keyna dan setelah itu ia pun pergi.
Devan pergi menuju markas dengan Mike. Sedangkan Dennis berjaga di mansion, "Apa dia sudah kalian bawa ke ruang bawah tanah?" tanya Devan.
Setelah beberapa saat, Devan pun sampai di markas, disana cukup ramai anak buahnya karena memang anggota kelompoknya cukup banyak anggotanya, selama menuju ruang bawah tanah banyak anggotanya yang menyapa Devan, tapi Devan tetaplah Devan yang dingin, cuek terhadap sekitarnya, Devan hanya melirik tanpa tersenyum ataupun membalas sapaan mereka.
Sesampainya di ruang bawah tanah, Devan melihat seorang wanita yang diikat dengan kursi dan terlihat sangat mengenaskan, Devan membawa botol yang berisikan air panas lalu ia menyiramkannya ke tubuh wanita tersebut.
Wanita tersebut awalnya sedang tertidur, namun saat Devan menyiraminya menggunakan air panas sontak saja wanita tersebut bangun dan merasakan perih di kulitnya, "Awh, panas," ucap wanita tersebut.
"Akhirnya kau bangun juga, dasar tidak berguna," ucap Devan.
Wanita tersebut mendongak dan melihat keberadaan Devan, "Presdir," lirih wanita tersebut.
"Jangan menatapku karena kau tidak punya hak dan tidak pantas untuk menatap bahkan melirikku, kau itu salah satu manusia yang masuk dalam daftar hitam ku jadi kau harus hati-hati terutama saat menatapku," ucap Devan dengan dingin.
"Presdir, maafkan saya, tolong saya, saya tidak ingin disini, saya ingin keluar, masih banyak yang harus saya lakukan Presdir," pinta wanita tersebut.
"Apa aku terlihat peduli dengan permintaanmu itu? jawabannya adalah tidak, aku tidak peduli mau kau disini ataupun dimana pun," ucap Devan.
"Presdir, saya akan membantu Presdir untuk mendekati Sisy, saya janji saya akan bantu Presdir asalkan Presdir membantu saya," ucap wanita itu.
"Kelly, namamu itukan, aku katakan padamu kalau kau salah, aku tidak menyukai si j*lang itu, aku sudah memiliki wanita dan kau tahu wanitaku siapa, ah aku yakin kau tidak tahu karena jika kau tau kau pasti akan menjilat ke dia sejak dulu," ucap Devan.
"Presdir, tapi kata Sisy Presdir ...," ucap Miss Kelly, ya, wanita itu ialah Miss Kelly manager di First entertainment.
"Kau percaya dengan ucapan bodoh j*lang itu? apa kau ingin tahu siapa wanitaku?" tanya Devan.
"Si-siapa?" tanya Miss Kelly.
"Kau akan tahu nanti, sekarang kau harus mendapatkan hadiah karena kelakuanmu, Mike bawa dia ke ruang hukuman dan taruh air keras di dekatnya," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
"Kau tahu kenapa aku menaruh air keras dan bukannya menyirammu padahal akan lebih mudah jika langsung mengenai kulitmu? karena akan lebih menyiksa dan menyenangkan jika kau menghirup uapnya, kau tahu jika menghirup uapnya saja sudah berbahaya buat kesehatan karena bisa menyebabkan iritasi pada hidung dan juga tenggorokan bahkan bisa mengganggu paru-paru dan usus. Jadi intinya aku tidak ingin menyakitimu sekaligus, tapi aku akan menyakitimu secara perlahan," ucap Devan membuat semua orang yang ada disana merinding.
__ADS_1
"Mike, bawa dia!" perintah Devan dan diangguki Mike.
"Aku akan ke penjara bawah tanah, aku sangat rindu dengan para tahananku, ah dan kau tidak perlu khawatir karena nanti kau juga akan menjadi sepeti mereka," ucap Devan lalu meninggalkan area ruang bawah tanah.
Devan saat ini sampai di penjara bawah tanah, "Bagaimana? apa ada kendala?" tanya Devan pada salah satu anak buahnya.
"Tuan, tidak ada Tuan semuanya lancar," ucapnya.
"Oh dia ibu hamil itu, senang bisa berjumpa denganmu, bagaimana apa anakmu baik-baik saja, kau harus bersabar ya karena aku sedang berusaha untuk mencari siapa Ayahnya," ucap Devan dan tersenyum licik.
"Aku tidak peduli siapa ayahnya, cukup keluarkan aku dari sini," ucap Aurel dengan nada sedihnya.
"Hem, aku juga menginginkan itu, tapi entahlah aku rasa tempatmu yang paling bagus itu disini bukan diluar," ucap Devan.
"Lebih baik kau bunuh saja aku, aku sudah muak dengan semua ini," ucap Aurel.
"Pasti itu, kau tidak perlu khawatir kau hanya perlu menunggu saja, oh iya, nomor tahanan mu sekarang ganti jadi 88, bagus kan," ucap Devan.
"Kau memang tidak punya hati," ucap Aurel.
"Ya, aku sangat setuju dengan ucapanmu," ucap Devan.
"Kita akan bertemu beberapa hari lagi dengan Ayah dari anak itu, jadi semangat ya," ucap Devan.
Devan pun beranjak dari tempat tersebut, tapi sebelum pergi Devan menatap mata seseorang yang sedari tadi menatap tajam Devan, Devan pun mengeluarkan smirk nya tanpa menghampiri orang tersebut.
Devan saat ini berada di ruang kerjanya yang ada di markas, "Bagaimana, Mike? apa semuanya berjalan dengan semestinya?" tanya Devan.
"Iya, Tuan saat ini wanita itu sedang tidak sadarkan diri, dia juga sudah dibawa ke penjara bawah tanah," ucap Mike.
"Bagus," ucap Devan.
"Tuan, untuk First Entertainment saya sudah mengambil alihnya," ucap Mike.
"Cepat juga padahal aku mengatakan untuk tidak terburu-buru, tapi tidak apa-apa, besok kita akan ke First entertainment dan memulai semuanya. Mike, pastikan tidak ada masalah," ucap Devan.
"Baik, Tuan, tapi untuk rapat para investor apa harus saya lakukan besok?" tanya Mike.
"Iya, lakukan, aku harus mengenalkan diriku pada para investor bukan," ucap Devan.
"Tapi, Tuan salah satu investor ada Tuan Baron," ucap Mike dan Devan pun sontak menatap tajam Mike.
"Terus kenapa kalau ada Baron? apa aku ada masalah dengan dia?" tanya Devan.
"Ti-tidak, Tuan," ucap Mike.
"Pastikan semua besok hadir termasuk Baron, sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi aku harus membuat kejutan untuknya bukan," ucap Devan dan diangguki Mike.
"Oh iya, apa kau sudah mengetahui siapa Ayah dari anak yang dikandung si j*lang itu?" tanya Devan.
"Sudah Tuan, Ayahnya merupakan pria nomor 2, sesuai dengan perintah Tuan, saya sudah melakukan tas dan hasil yang paling akurat itu nomor 2," ucap Mike.
"Dua hari lagi bawa pria itu kemari, dia harus mengunjungi calon anaknya bukan," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
"Bagus, permainan yang seru akan dimulai," ucap Devan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1