
Malam harinya, Devan pulang dan melihat mansion yang terlihat sepi, "Dimana Keyna?" tanya Devan.
"Nyonya, sedari tadi berada di kamar, Tuan," ucap Ganish.
"Apa dia sudah makan?" tanay Devan.
"Belum Tuan, Nyonya seharian belum makan," ucap Ganish.
"Nanti bawakan makanan ke kamar," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Ganish.
Devan pun melangkahkan kakinya menuju kamar dan saat masuk kedalam ia melihat Keyna yang tidur, Devan berjalan menghampiri Keyna, Devan tiba-tiba saja memeluk sang istri dan akhirnya mengganggu Keyna yang sedang tertidur, "Dev, kenapa?" tanya Keyna dengan suara khas bangun tidurnya.
"Tidak apa-apa aku hanya membangunkan mu," ucap Devan.
"Membangunkan ku, ada apa memangnya?" tanya Keyna.
"Kamu belum makan kan," ucap Devan.
"Aku gak lapar," ucap Keyna.
"Oh, yaudah," jawab Devan lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Ck, dasar gak peka di bujuk lagi kek," gumam Keyna.
Devan mendengar apa yang dikatakan Keyna dan ia hanya tersenyum di dalam kamar mandi, setelah beberapa saat akhirnya Devan pun keluar dari kamar mandi dan tidak melihat keberadaan Keyna, Devan memutuskan untuk turun dan dia melihat Keyna berada di meja makan, "Tadi katanya gak lapar, kenapa malah ada disini sekarang?" tanya Devan.
"Kenapa? emangnya gak boleh aku disini?" tanya Keyna.
"Kalau gak boleh udah dari dulu kamu ku buang jauh dari sini," ucap Devan lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
"Kenapa sih Devan selalu ke ruang kerjanya? dasar gak tau waktu, kalau di rumah itu istirahat bukan malah kerja," omel Keyna.
Disisi lain, Devan kembali fokus ke pekerjaannya, "Mike, panggil Dennis!" perintah Devan.
"Baik, Tuan," jawab Mike lalu keluar memanggil Dennis.
Beberapa saat kemudian, Dennis pun masuk kedalam ruang kerja Devan, "Tuan memanggil saya," ucap Dennis.
"Hem," jawab Devan tanpa melihat ke arah Dennis.
"Ada apa, Tuan?" tanya Dennis.
"Bagaimana apa lukamu sudah kering?" tanya Devan dan tetap tidak melihat ke arah Dennis.
Dennis pun tersenyum, meskipun Devan orang yang kejam dalam memberikan hukuman, tapi Devan akan sangat perhatian dan peduli pada orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Luka saya sudah mulai mengering," ucap Dennis dan diangguki oleh Devan.
"Kalau kau ingin melakukan sesuatu pikir panjang dulu jangan seperti tadi hampir saja aku ingin membunuhmu di mansion ini," ucap Devan.
"Baik, Tuan," jawab Dennis.
"Aku peringatkan lagi jika kau melakukan hal bodoh seperti tadi, bukan hanya pergelangan tanganmu yang harus kau lukai, tapi juga seluruh tubuhmu, paham," ucap Devan.
"Iya, Tuan," jawab Dennis.
Ya, hukuman yang dilakukan Dennis adalah menyayat pergelangan tangannya, hukuman untuk anak buahnya yang berhasil membuat suasana Devan marah yaitu dengan melukai pergelangan tangannya, bahkan Mike pun tak jarang mendapatkan hukuman itu, tidak ada yang berani membantah karena jika mereka membantah, maka Devan sendiri yang akan melukai tubuh mereka.
"Oh iya, bagaimana dengan obat penenang yang aku suruh?" tanya Devan.
"Obatnya sudah ada Tuan, tapi kita harus mengujinya terlebih dahulu," ucap Dennis.
"Uji pada salah satu tahanan yang ada di penjara bawah tanah, aku mau seminggu lagi obat itu harus ada," ucap Devan.
"Baik, Tuan," jawab Dennis.
"Kau siapkan tempat pemakaman yang layak karena aku akan memakamkan seseorang," ucap Devan dan diangguki Dennis.
Banyak hal yang dirahasiakan Devan baik itu dari anak buahnya ataupun keluarganya, Devan merahasiakan yang memang harus ia rahasiakan agar tidak membuat mereka khawatir terutama untuk keluarganya.
Devan pun akhirnya keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamarnya, namun matanya tidak sengaja melihat obat bius dengan nama 'Chloroform' Obat bius ini memiliki bentuk cair, dengan menghirup aroma cairan Chloroform, seseorang bisa langsung tidak sadarkan diri dalam beberapa jam, cairan ini memiliki warna bening dan tidak berbau, menjadikannya sebagai obat bius yang cukup kuat karena mampu bereaksi sangat cepat meski tidak memiliki bau. Devan tidak asing dengan obat bius tersebut karena ia juga sering menggunakan untuk tahanannya.
"Kenapa ada obat bius disini? apa ada yang membersihkan ruang putih?" tanya Devan pada dirinya sendiri, tapi ia mengacuhkannya, Devan akan menanyakannya pada Mike nanti, saat ini ia harus melihat Keyna terlebih dahulu.
Saat Devan akan keluar dan menemui Mike, ia merasa ada yang aneh dengan Keyna, "Kenapa dia tidak bergerak, biasanya kalau aku sentuh dia pasti gerak gak jelas?" tanya Devan.
Devan kembali menghampiri Keyna dan mencoba menggoyangkan tubuh Keyna, tapi tidak ada respon, namun tiba-tiba Devan teringat obat bius yang ia temukan saat keluar dari ruang kerjanya menuju kamarnya.
"Oh, ****!" umpat Devan.
Devan memanggil Bi Nani untuk masuk kedalam kamar, "Iya, Tuan memanggil saya," ucap Bi Nani.
"Hem, jaga Keyna, jangan sampai dia terluka," ucap Devan lalu keluar dari kamar dan menuju tempat cctv, saat Devan baru saja masuk kedalam cctv ia melihat anak buahnya yang sudah tidak ada ditempatnya dan menampilkan seorang pria dengan memakai penutup wajah.
"Siapa kau?" tanya Devan dengan penekanan di setiap pertanyaannya.
"Bukan urusanmu, Tuan," ucapnya.
Devan segera menghampiri pria itu dan menghajarnya, "Ck, kau sangat sombong padaku, tapi nyatanya kau tidak lebih hebat dariku, bahkan bisa dibilang kau ini masih level 0, tidak sebanding denganku," ucap Devan.
"Kau boleh menghina kemampuanku dalam bertarung karena aku tidak mengandalkan itu, tapi aku mengandalkan otakku," ucap pria tersebut.
"Apa yang kau andalkan, kau mengandalkan otakmu yang bodoh itu, hahaha kalau kau pintar seharusnya kau ambil obat bius mu," ucap Devan.
__ADS_1
Pria itu pun menatap devan, "Kau yakin yang menaruh itu aku bukan orang lain?" tanya pria itu.
"Apa maksudmu?" tanya Devan dengan mengerutkan keningnya.
"Apa kau yakin aku yang menaruhnya?" tanyanya.
"Iya, kalau bukan kau siapa? dan untuk apa kau ada disini? apa kau ingin menghilangkan barang bukti?" tanya Devan.
"Kau benar aku memang disini untuk menghilangkan barang bukti, tapi bukan berarti aku yang memberikannya obat bius itu," ucap pria itu.
Bukannya menjawab, Devan justru mengerutkan keningnya karena perkataan pria itu yang mengatakan seolah-olah bahwa bukan dia pelaku yang dicari oleh Devan.
"Apa yang kau ketahui?" tanya Devan.
"Hahaha, lebih baik kau jaga istrimu bukannya mengurusku, apa kau yakin istrimu baik-baik saja disana?" tanya pria itu.
Beberapa saat kemudian, Mike dan Dennis pun datang, "Tuan," panggil Dennis.
"Urus dia bawa ke ruang bawah tanah," ucap Devan.
Devan pun pergi dari tempat tersebut menuju kamarnya dan benar saja saat ia masuk kedalam kamarnya, ia melihat Bi Nani yang sudah tidak sadarkan diri dan melihat Keyna yang digendong oleh seorang pria.
Dengan cepat Devan menghampiri Keyna dan memukul pria itu, untung saja saat Keyna terjatuh Devan dengan cepat mengambil alih agar Keyna tidak terjatuh ke lantai.
Belum sempat Devan menaruh Keyna ke ranjang tiba-tiba pria itu bangkit dan menghampiri Devan berniat untuk merebut Keyna, namun Devan menahan Keyna dengan kencang sehingga pria itu sulit untuk mengambil Keyna.
Devan merasa jengah dengan pria itu, dengan cepat Devan mengambil pistol yang ada di bawah bantalnya yang mengarahkannya ke arah pria itu lalu tanpa basa-basi Devan menembak pria itu tepat di mata sebelah kanan, sontak pria itu menjerit kesakitan.
Suara tembakan dari Devan pastinya membuat penghuni mansion terkejut dan menuju kamar Devan, banyak dari mereka yang terkejut dengan kondisi kamar yang berantakan.
Devan yang melihat banyak pelayan datang pun segera membawa Keyna ke arah mereka, "Jaga Keyna bawah ke tempat aman dan jangan sampai dia terluka," ucap Devan dan diangguki para pelayan.
Saat ini di kamar hanya ada Devan dan pria yang mata sebelah kanannya mengeluarkan banyak darah, "Kau harusnya mati, Dev," ucap pria itu.
"Juan, kau pikir aku akan mudah untuk kau kalahkan, kau tau aku sampai bingung siapa yang melukai istriku karena banyak sekali musuhku, aku saja sampai bingung dan waktu aku melihatmu. Ah jadi untuk rencana kali ini kau yang melakukannya, sekarang aku tanya siapa yang menyuruhmu, tapi tidak mungkin kau disuruh kan kau memang tidak suka denganku sejak dulu," ucap Devan.
"Kau tahu, rencanamu ini sangat bodoh bagaimana bisa kau meninggalkan obat bius yang aku gunakan itu," ucap Devan.
"Sengaja," ucap Juan dan Devan pun mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?" tanya Devan.
"Aku memang sengaja meninggalkan obat bius itu di sana," ucap Juan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.