Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Aib Keluarga


__ADS_3

Pagi harinya, Keyna, Kikan dan Celine siap-siap untuk menemui orangtua Celine, mereka menggunakan kereta menuju desa, meskipun dadakan akhirnya mereka berhasil dan saat ini berada dalam perjalanan.


"Kok aku deg-degan ya," ucap Kikan.


"Kok kamu yang deg-degan sih Kan, harusnya itu aku yang deg-degan karena nanti pasti orangtuaku bakal kecewa banget sama aku," ucap Celine.


"Hehehe, aku juga gak tau kok aku tiba-tiba deg-degan kayak gini," ucap Kikan.


"Gapapa, Lin, nanti kita jelasin baik-baik, wajarlah kalau orangtua kamu marah," ucap Keyna.


"Tapi, aku takut kalau seandainya mereka bilang aku bukan lagi anak mereka gimana?" tanya Celine.


"Kita usaha dulu ya," ucap Keyna.


"Terus kalau seandainya orangtua kamu tanya siapa Ayahnya kamu jawab apa, Lin?" tanya Kikan.


"Gak tau, aku belum kepikiran kalau itu," ucap Celine.


"Udahlah gak usah mikir yang kayak gitu dulu sekarang kita istirahat aja, soalnya perjalanan masih jauh," ucap Kikan.


Beberapa saat berlalu, mereka bertiga pun sampai di desa yang sangat terjaga dan terlihat asri, rumah warga dikelilingi persawahan luas yang menyejukkan mata.


"Mana rumah kamu, Lin?" tanya Kikan.


"Kita jalan aja terus nanti di dekat sungai itu rumahku," ucap Celine.


Mereka bertiga pun berjalan menuju rumah Celine dan saat sampai di rumah yang sangat sederhana dimana bangunannya terbuat dari kayu, sebenarnya keluarga Celine adalah keluarga yang berada karena mereka memiliki segalanya, tapi mereka lebih memilih untuk tinggal di desa dan membiarkan semua aset mereka yang ada di kota, keluarga Celine lebih memilih mengelola peternakan dan persawahan yang ada di desa sebab itu keluarga Celine terkenal sebagai keluarga terkaya dan terpandang di desanya, meskipun rumah mereka terlihat sederhana.


"Celine," panggil Mama Celia, Mama dari Celine.


"Mama," jawab Celine lalu berlari dan memeluk Mama Celia.


"Kamu kenapa gak bilang kalau mau kesini, kalau tau gitu kan Mama siapin makanan kesukaan kamu?" tanya Mama Celia.


"Iya, Celine lupa mau ngasih tau Mama. Soalnya Celine udah kangen banget sama Mama," ucap Celine.


"Mama juga kangen sama kamu, eh kamu bawa siapa aja, Lin?" tanya Mama Celia yang melihat kena dan juga Kikan.


"Oh iya, Bunda kenalin ini Keyna sama Kikan sahabat Celine," ucap Celine.


"Jadi ini sahabat yang sering kamu cerita itu ya, cantik-cantik ternyata," ucap Mama Celia.


"Iya dong, Ma," ucap Celine.


"Yaudah, kalau begitu kalian masuk kedalam, maaf ya rumahnya jelek," ucap Mama Celia.


"Iya, gapapa kok Tante," ucap Keyna


Keyna akui memang rumah tersebut nampak sederhana baik itu dari luar maupun dari dalam, tapi rumah tersebut sangat rapi bahkan Keyna tidak melihat barang yang berantakan atau kotoran berada disana.


"Papa mana, Ma?" tanya Celine.


"Kenapa kamu cari Papa?" tanya Papa Baim.


"Celine kangen banget sama Papa," ucap Celine lalu memeluk Papa Baim.


"Papa juga, kamu gak bilang dulu kalau mau pulang tau gitu tadi Papa jemput tadi," ucap Papa Baim dan Celine hanya menunjukkan giginya dengan senyum manisnya.


"Kamu istirahat dulu gih," ucap Papa Baim.


"Ini aku ngomongnya sekarang atau nanti aja ya?" tanya Celine pada Kikan dengan suara yang teramat pelan.


"Nanti aja gimana, kalau kamu di usir kan gak lucu," ucap Kikan dan diangguki Celine.

__ADS_1


Mereka bertiga pun masuk kedalam kamar Celine, "Aduh, makin takut nih aku," ucap Celine.


"Santai Lin, jangan sampai keluarga kamu makin curiga kalau kamu gak tenang kayak gini," ucap Kikan dan diangguki Celine.


"Terus aku harus kasih tau orangtuaku kapan?" tanya Celine.


"Besok pagi aja gimana, ya buat jaga-jaga gitu siapa tau orangtua kamu marah dan usir kita, jadi kalau besok kan enak gak capek gitu, tapi kalau sekarang capek banget loh," ucap Kikan.


"Jadi, kamu doain supaya aku diusir nih ceritanya," ucap Celine.


"Ya, gak lah Lin, kan maksudku itu buat jaga-jaga kan siapa tau, tapi aku berharapnya ya orangtua kamu gak mempermasalahkan sih," ucap Kikan.


"Nanti malam kita jalan-jalan keliling desaku yuk, disini bagus banget loh pemandangannya apalagi kalau malem kita bisa lihat pemandangan kota," ajak Celine.


"Boleh-boleh, aku tadi waktu sampai desa kamu juga pengen banget jalan-jalan," ucap Kikan dengan semangat.


"Yaudah kita bersih-bersih aja dulu terus kita jalan-jalan," ucap Celine yang diangguki Keyna dan Kikan.


Setelah bersih-bersih, mereka pun menikmati pemandangan yang ada dihadapan mereka, meskipun saat ini jam menunjukkan pukul setengah 6, tapi pemandangan sudah terlihat jelas, kota tampak terang dari desa dan hal itu membuat Keyna dan juga Kikan terpesona karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka berdua melihat hal seperti ini secara langsung.


"Makasih ya kalian udah mau bantuin aku, aku gak tau lagi sih gimana kalau gak ada kalian berdua mungkin aku udah menyerah dan mengakhiri hidup," ucap Celine.


"Kok ngomong gitu sih, Lin. Kamu tau gak kita berdua itu seneng banget loh bisa bantuin kamu," ucap Kikan.


"Lihat sayang, kamu pasti seneng ya karena punya aunty yang baik banget, namanya aunty Keyna sama aunty Kikan," ucap Celine sambil memegang perutnya.


"Halo baby, disana lagi ngapain, lagi main bola ya, jangan buat Mama kamu sakit ya, kalau kamu buat Mama kamu sakit nanti Mama kamu kasihan loh mana Mama kamu kalau marah nakutin kayak monster," ucap Kikan.


"Enak aja! kamu bilang tadi aku kalau marah nakutin kayak monster. Kamu udah bilang yang gak-gak ke anak aku loh Kan, awas aja kamu ya," ucap Celine


"Lah emang kamu kalau marah nakutin kayak monster, tapi untung aja aku sama Keyna orangnya sabar kalau gak aku udah kayak asisten kamu yang lainnya kali, Lin," ucap Kikan.


"Asisten aku mah gak ada yang bener," ucap Celine.


"Hehehe, biasa-lah," ucap Celine.


Tanpa mereka ketahui seseorang mendengar semua pembicara mereka bertiga, "Jadi si Celine udah hamil diluar nikah," gumam orang tersebut dan menyeringai.


Keyna, Kikan dan Celine pun berjalan menuju rumah Celine karena hari mulai larut, "Loh Papa kenapa ada diluar emangnya gak dingin?" tanya Celine saat melihat Papa Baim ada diluar rumah karena setahu Celine Papa Baim jarang keluar malam.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Celine, Papa Baim justru menatap tajam ke arah Keyna, Kikan dan Celine lalu berjalan mendekati Celine dan menampar pipi Celine hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Plak...


"Maksud Papa apa nampar Celine?" tanya Celine yang merasakan sakit bagian pipinya.


"Kamu mau tanya kenapa Papa nampar kamu iya, kamu tanya sama diri kamu sendiri apa salah kamu sampai Papa nampar kamu," ucap Papa Baim.


"Celine gak ngerti maksud Papa," ucap Celine.


"Masa sih gak ngerti, Lin," ucap seorang perempuan yang keluar dari rumah Celine.


"Berlin," gumam Celine saya melihat perempuan tersebut.


"Ups, sorry nih ya, tapi gue gak sengaja denger pembicaraan kalian bertiga dan lo tau gue kaget banget waktu lo bilang soal anak yang lo kandung dan karena gue gak percaya nih ya kan. Gue takut kalau gue salah denger makanya gue tanya dong ke Paman Baim, eh ternyata Paman Baim gak tau juga soal kehamilan lo, ehm btw selamat ya lo udah mau jadi ibu," ucap Berlin yang merupakan sahabat ralat maksudnya mantan sahabat Celine.


Berlin tidak menyukai Celine sejak Sekolah Menengah Atas karena hampir semua cowok disana menyukai Celine padahal saat Sekolah Menengah Pertama Berlin-lah yang menjadi primadona, apalagi semenjak Celine menjadi model makin tumbuh kebencian Berlin terhadap Celine.


"Sekarang kamu jawab pertanyaan Papa, apa kamu hamil?" tanya Papa Baim.


"Papa, hiks hiks maafin Celine," jawab Celine yang membuat keluarga Celine kecewa.


Di sana cukup ramai yang melihat pertengkaran satu keluarga tersebut, semua yang ada disana memandang jijik kearah Celine karena telah hamil diluar nikah.

__ADS_1


Plak...


Tamparan keras kembali didapatkan Celine, namun kali ini bukan dari Papa Baim melainkan dari Mama Celia padahal rasa sakit tamparan dari Papa Baim belum sepenuhnya hilang, tapi ini ditambah lagi dengan tamparan dari Mama Celia, "Kamu anak tidak tau diri, Mama benar-benar kecewa dan malu punya anak kayak kamu," ucap Mama Celia dengan menggoyangkan tubuh Celine.


"Maafin Celine, Ma. Celine tau Celine udah salah," ucap Celine.


"Jangan panggil Mama karena saya tidak sudi kamu panggil Mama," ucap Mama Celia.


"Tante jangan gitu dong kasihan Celine-nya," celetuk Kikan.


"Maaf sebelumnya, tapi apa tidak seharusnya kita bicarakan baik-baik masalah ini," ucap Keyna.


"Ini tidak bisa dibicarakan baik-baik karena anak ini sudah membuat malu keluarga," ucap Papa Baim.


"Tapi, bagaimanapun Celine tetap anak kalian dan selamanya akan begitu," ucap Kikan.


"Saya tidak pernah memiliki anak seperti dia, dia itu hanyalah aib keluarga," ucap Papa Baim.


"Memalukan," ucap Cika adik dari Celine.


"Panggil Bobby, Nando dan Dirga!" perintah Papa Baim pada Cika dan diangguki Cika.


Setelah beberapa saat kemudian, Bobby, Nando dan Dirga pun datang, "Ada apa Pak?" tanya Bobby.


"Bawa mereka bertiga ke gudang Desa," ucap Papa Baim.


Celine pun terkejut dengan perkataan Papa Baim dan sontak saja ia langsung melihat ke arah Papa Baim, Celine tau jika siapapun yang masuk kedalam gudang desa artinya ia memiliki kesalahan yang teramat fatal, Celine terima jika hanya Celine yang dimasukkan kedalam sana, tapi Keyna dan Kikan tidak memiliki kesalahan apa-apa mereka tidak seharusnya masuk kedalam sana.


"Pa, Celine tau, Celine salah, hukum Celine jangan hukum Keyna dan Kikan karena mereka tidak tau apa-apa dan mereka tidak membuat kesalahan apapun," ucap Celine.


"Saya tidak peduli, mereka kau bawa itu artinya mereka juga bersalah dan berhenti panggil saya Papa karena saya tidak sudi menjadi Papa mu," ucap Papa Baim.


Mereka bertiga diseret untuk masuk kedalam gudang desa, mereka bertiga menjadi tontonan warga sekitar. Banyak yang menatap mereka bertiga benci dan kasihan, tapi meskipun begitu mereka tetap membicarakan kesalahan yang dilakukan Celine bahkan secara terang-terangan memperingatkan anak-anak perempuan mereka untuk tidak seperti Celine yang hamil diluar nikah.


"Jangan beri mereka makan biarkan mereka mendekam disini kalau bisa sampai mereka meninggal," ucap Papa Baim.


"Paman jangan begitu, anak anda sedang mengandung harusnya dia mendapatkan makanan agar kandungannya sehat," ucap Keyna.


"Oke, beri ibu hamil itu makanan, hanya ibu hamil dan uang dua itu jangan kasih makan biarkan saja mereka cepat meninggal," ucap Papa Baim lalu keluar dari gudang.


Gudang tersebut cukup sempit dengan barang-barang yang tak terawat, "Sesek banget," gumam Kikan.


"Maaf, karena aku kalian jadi kayak gini," ucap Celine yang tentunya merasa bersalah pada Keyna dan Kikan.


"Gapapa gak usah kayak gitu," ucap Keyna.


Orang yang membawa mereka masuk tadi pun membuka pintu dan menghampiri mereka bertiga, "Ada apa?" tanya Keyna.


Bukannya menjawab mereka justru mengikat tangan serta kaki Keyna, Kikan dan Celine, "Kalian udah kurung kita disini dan sekarang kalian malah mengikat tangan kita bertiga," ucap Kikan.


"Ck, dasar perempuan-perempuan tidak tau diri," maki Dirga lalu mereka bertiga pun keluar dari gudang tersebut dan kembali menguncinya, udara malam sungguh membuat mereka bertiga kedinginan.


"Sumpah aku gak bisa nafas disini gak ada udara segar, huh huh huh," ucap Kikan.


"Kan, kamu gapapa?" tanya Keyna yang mulai khawatir dengan kondisi Kikan.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2