
Devan saat ini tengah sibuk dengan berkas-berkasnya di ruang kerjanya, hari ini Devan memilih untuk bekerja dari rumah karena ia memang sedang tidak ingin pergi ke kantor.
Devan belum keluar dari ruang kerja sejak pukul 8 tadi pagi bahkan Devan melewatkan makan siangnya dan hari juga mulai gelap, namun Devan tetap berada di ruang kerjanya dan meminta semua orang untuk tidak mengganggunya.
Semua orang tentunya khawatir dengan Devan karena semakin hari Devan menjadi gila kerja dan tidak mempedulikan kesehatannya.
Namun, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Devan sudah melarang mereka untuk mengganggunya.
Saat Devan tenga sibuk dengan kerjanya tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dibuat dengan keras oleh seseorang.
Devan yang awalnya fokus pada berkasnya pun langsung menoleh dan menatap tajam Mike.
"Kau ingin aku bunuh ternyata, sudah kubilang untuk tidak menggangguku," ucap Devan dengan tatapan membunuhnya.
"Ma-maafkan saya Tuan, tapi ada yang harus saya sampaikan pada Tuan," ucap Mike yang merasa gugup karena ucapan Devan yang begitu menakutkan baginya.
"Aku tidak peduli, saat aku bilang untuk tidak menggangguku maka tidak ada pengecualian dan jika kau melanggarnya maka kau akan mendapatkan hadiah dariku," ucap Devan.
"Ta-tapi, Tuan...," ucapan Mike terhenti karena aura mencekam ruangan tersebut saat Devan berdiri dan menghampiri dirinya.
Tanpa basa basi, Devan langsung m*nc*k*k Mike, "Kau yang melakukan kesalahan, jadi aku tidak salah melakukan ini," ucap Devan dan semakin mengencangkan tangannya pada leher Mike.
"Tu-tuan, sa-saya hanya ingin memberitahukan pada Tu-tuan, jika keberadaan Nyo-nyona Keyna sudah di-diketahui," ucap Mike.
Ucapan Mike tentunya mampu membuat Devan yang begitu marah menjadi terkejut dan langsung melepaskan tangannya pada leher Mike.
"Apa maksudmu?" tanya Devan yang berharap semoga apa yang ia dengar adalah benar.
"Huk huk, iya Tuan. Dennis sudah mengetahui keberadaan Nyonya Keyna, Tuan," ucap Mike.
"Kita ke sana sekarang," ucap Devan dengan semangat.
"Tapi, hari sudah mulai gelap Tuan dan perjalanan ke tempat Nyonya cukup jauh," ucap Mike.
"Apa aku terlihat peduli," ucap Devan dan keluar dari ruang kerjanya.
"Huh, harusnya aku ngasih tahu besok aja. Ini udah sore dan sampai di tempat Nyonya Keyna pasti malam," gumam Mike, meskipun begitu, mau tidak mau Mike pun mengikuti Devan.
Devan saat ini sudah berada di dalam mobil dengan Mike dan Dennis, selama perjalanan menuju tempat Keyna, Devan terus saja mengomeli Dennis karena mengemudikan mobil dengan pelan padahal Dennis sudah mengemudi dengan cepat sesuai perintah Devan, tapi Devan masih saja merasa kurang cepat.
Kurang lebih 6 jam perjalanan mereka untuk sampai di tempat Keyna dan akhirnya mereka pun sampai di depan apartemen tempat Keyna tinggal dengan Kikan.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Devan.
"Iya, Tuan. Dari yang saya dan yang lainnya temukan jika Nyonya Keyna tinggal di sini," ucap Mike.
Devan tidak yakin dengan tempat tinggal Keyna karena ia melihat apartemen tersebut yang kecil dan juga terlihat tidak terawat bahkan apartemen tersebut seperti rumah susun yang ada di pinggiran kota.
"Bagaimana bisa Keyna tinggal di tempat kumuh seperti ini?" tanya Devan.
"Saya juga kurang tahu, Tuan. Tapi, tempat ini salah satu tempat yang cukup baik di kota C," ucap Dennis.
"Seperti ini baik," ucap Devan.
"Iya, Tuan," ucap Dennis.
"Sudah lupakan, sekarang tunjukan dimana Keyna berada," ucap Devan.
Dennis pun membawa Devan ke sebuah apartemen yang dari luar terlihat tidak layak untuk di tempati.
Devan pun segera mengetuk pintu apartemen tersebut, tidak menunggu lama pintu tersebut pun terbuka dan memperlihatkan seorang perempuan yang Devan kenal.
"Presdir De-devan," panggil Kikan dengan gugup karena melihat Devan yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Kau tidak perlu mengatakan jika Keyna tidak ada di dalam karena aku tidak akan percaya," ucap Devan.
"Ta-tapi, kenapa Presdir Devan bisa ada di sini?" tanya Kikan.
__ADS_1
Baru saja Devan akan menjawab, tiba-tiba saja suara seorang perempuan yang sangat ia kenal nyaring di telinganya.
"Kan! siapa?" tanya Keyna dengan suara yang cukup lantang.
"I-ini...," ucapan Kikan terhenti saat ia melihat Devan menaikkan alisnya.
Kikan lun menghela napas karena jujur ia bingung harus bagaimana sekarang ini, "Sebentar, Key!" teriak Kikan.
"Saya akan izinkan Presdir Devan masuk, tapi saya tidak yakin apa Keyna mau melihat Presdir Devan atau tidak," ucap Kikan.
"Ya, saya tahu," ucap Devan.
"Kalau begitu Presdir Devan bisa masuk," ucap Kikan dan diangguki Devan.
"Kalian berdua bisa cari penginapan dekat sini," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
Setelah itu, Mike dan Dennis pun pergi lalu Devan segera masuk ke dalam mengikuti langkah kaki Kikan yang menurut Keyna.
"Siapa, Kan? kok lama banget?" tanya Keyna yang tengah asik dengan cemilannya dan menonton televisi.
'Maaf, Key,' ucap Kikan dalam hati.
"Kan," panggil Keyna dan menoleh pada Kikan.
Keyna tentunya terkejut saat melihat seseorang yang ia kenal berada di belakang Kikan, meskipun Devan berada di belakang Kikan tetap saja Keyna dapat melihat dengan jelas karena tubuh Kikan tidak dapat menyembunyikan tubuh kekar Devan.
"Kan," panggil Keyna lagi.
"Maaf Key, kalian berdua urus masalah kalian dulu ya. Aku ke tempatnya Kak Tita dulu," ucap Kikan lalu keluar dari apartemen.
Saat ini Keyna hanya berdua dengan Devan, Keyna berdiri dan berniat untuk masuk ke dalam kamar, ia tentunya berusaha untuk menghindar dari Devan, Keyna masih belum bisa bertemu dan berbicara dengan Devan.
Namun, niatnya harus gagal karena Devan yang menahan lengan Keyna dan mendudukkan Keyna di tempat semula.
'Jadi, keputusan Devan adalah perceraian, Devan ke sini pasti untuk bercerai denganku kan,' ucap Keyna dala hati.
Entahlah Keyna bingung dengan perasaan, seharusnya ia senang karena itu artinya ia akan terbebas dari Devan. Tapi, sebaliknya Keyna justru merasa sedih dan tidak rela jika Devan menceraikannya.
"Oke, aku akan tandatangani suratnya," ucap Keyna.
"Surat? surat apa?" tanya Devan.
"Surat perceraian," ucap Keyna.
Ucapan Keyna mampu membuat perasaan Devan manjadi tidak tenang padahal ia tidak ada niatan untuk menceraikan Keyna sama sekali.
"Surat perceraian? siapa yang mau cerai?" tanya Devan.
"Ku ke sini untuk cerain aku kan," ucap Keyna.
"Hah! gak ada yang mau cerain kamu," ucap Devan.
"Terus kata kamu tadi apa harus menyelesaikan semua ini kalau bukan cerai?" tanya Keyna.
"Maksudku tadi itu, ya masalah yang buat kamu pergi dari rumah dan ninggalin aku," ucap Devan.
"Oh masalah itu, aku rasa gak ada yang harus di selesaikan karena semuanya udah selesai," ucap Keyna.
"Kenapa semuanya udah selesai? kamu minta adanya perceraian?" tanya Devan.
"Gak ya, bukan aku. Tapi, kamu," ucap Keyna.
"Aku sudah katakan bukan kalau aku tidak akan menceraikanmu apapun itu masalahnya," ucap Devan.
"Terus?" tanya Keyna.
__ADS_1
"Maaf," ucap Devan.
"Maaf, karena selama ini aku gak bisa jadi suami yang ku inginkan, aku terlalu cuek sama kamu bahkan waktu kamu hamil pun aku masih cuek dan gak peduliin kamu. Sekarang aku mau berubah, aku mau kamu beri aku kesempatan untuk merubah sikapku, aku aku kita mulai dari awal dan berusaha masing-masing untuk menjadikan rumah tangga kita layaknya pasangan yang sangat mencintai," ucap Devan.
"Maksudku berusaha menjadi pasangan yang mencintai satu sama lain, aku akan membantu kamu untuk mencintaku. Jangan pedulikan omongan orang karena mereka tidak tahu apa yang sudah kita lalui untuk bersama, mau ya berjuang bersamaku lagi," lanjut Devan.
"De-devan," panggil Keyna.
Keyna tentu saja tidak percaya dengan apa yang baru saja Devan katakan karena ini adalah kata-kata yang selalu Keyna ingin dengar sejak bersama dengan Devan.
"Ya, sayang," jawab Devan.
Lagi-lagi ucapan Devan membuat Keyna tidak percaya, 'Aku rasa telingaku bermasalah deh, gak mungkin kan Devan tadi bilang sayang. Padahal gak ada Mama Vanka di sini,' ucap Keyna dalam hati.
"Gak ada yang salah, mulai sekarang kamu harus terbiasa ya kalau aku panggil sayang," ucap Devan dan mengecup pelipis Keyna.
"Awsh," rintih Keyna saya merasakan tendangan yang cukup kuat dari perutnya.
Keyna pun langsung mengusap perutnya, gak itu juga yang membuat Devan mengalihkan pandangannya pada perut buncit Keyna.
Karena terlalu senang bertemu dengan Keyna, Devan tidak melihat dengan jelas perut buncit Keyna tadi.
"Kenapa? perut kamu sakit? kamu mau melahirkan? sekarang kita ke rumah sakit ya," tanya Devan.
"Aku gapapa kok, aku udah biasa lagian ini masih belum waktunya lahiran," ucap Keyna.
"Maaf," ucap Devan.
"Maaf untuk apa?" tanya Keyna.
"Maaf, karena aku gak bisa temenin kamu selama kamu hamil, kamu pasti kesusahan karena sendirian," ucap Devan.
"Gapapa, lagipula aku gak sendirian. Ada Kikan yang temenin aku," ucap Keyna.
"Hem, mulai sekarang kita mulai dari awal?" tanya Devan.
"A-aku belum yakin, aku masih belum memikirkan untuk kembali dengan kisah yang baru," ucap Keyna.
"Gapapa, aku ngerti kok. Aku juga gak akan maksa kamu untuk setuju dengan apa yang aku katakan tadi, kalau kamu butuh waktu untuk nerima aku lagi gak masalah berapa lama waktunya. Tapi, tong jangan pergi lagi dariku," ucap Devan.
"I-iya," ucap Keyna.
"Terimakasih," ucap Devan dan memeluk Keyna.
"Dev, jangan kenceng-kenceng, perutku sakit," ucap Keyna.
Devan pun langsung melepaskan pelukan tersebut, "Maafin Papa ya sayang," ucap Devan dan mengecup perut buncit Keyna.
Lagi-lagi Keyna merasakan tendangan yang cukup kuat dari perutnya, "Sayang, jangan buat Mama sakit ya," bisik Devan pada perut buncit Keyna.
Seperti keajaiban, tendangan pada perut keyna pun perlahan melemah dan Keyna tidak merasakan sakit lagi.
"Udah malam, kamu tidur ya," ucap Devan dan diangguki Keyna.
"Tapi, Ki-kikan," ucap Keyna.
"Iya, aku akan suruh di temenin kamu," ucap Devan.
"Terimakasih," ucap Keyna.
"Sama-sama sayang," ucap Devan dan mengecup kening Keyna.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.