
Pagi harinya, Dokter dapat bernapas lega karena Devan dapat melewati masa kritisnya, meskipun Devan sempat berhenti bernapas beberapa saat.
Tapi, tak lama setelah itu, Devan kembali bernapas dan bertahan hingga masa kritisnya berlalu.
Devan saat ini di rawat intensif bahkan Dokter tidak memperbolehkan siapapun untuk mengunjungi Devan sampai keadaan Devan benar-benar pulih.
"Bagaimana keadaan Tuan Devan, Dokter?" tanya Mike.
"Tuan Devan sudah melalui masa kritisnya, tapi kita tetap harus waspada karena bisa saja keadaan Tuan Devan kembali drop seperti kemarin dan saya juga mengatakan ini untuk kenaikan Tuan Devan. Tolong untuk tidak masuk ke dalam dan tidak boleh ada yang mengunjungi Tuan Devan karena keadaan Tuan Devan yang sempat berhenti bernapas membuat keadaan Tuan Devan lebih sensitif terhadap sesuatu," ucap Dokter.
"Baik, Dok," ucap Mike.
Setelah itu, Dokter pun pergi. Mike tidak menghubungi siapapun karena ia belum mendapat perintah dari Devan.
.
Keyna saat ini berada di kamar, sudah beberapa hari Devan tidak pulang ke rumah bahkan tidak ada kabar dari sang suami.
"Devan dimana? kenapa dia belum pulang sampai 4 hari? apa ada masalah?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
Lamunan Keyna buyar saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok
"Iya, sebentar," ucap Keyna lalu membukakan pintu kamarnya.
"Mike, ada apa? apa Devan udah pulang?" tanya Keyna.
"Belum, Nyonya. Tuan Devan sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Mike.
"Pekerjaan apa? kenapa dia pergi saat tengah malam apalagi malam itu ada orang yang menembak di rumah ini?" tanya Keyna.
"Untuk itu, saya tidak dapat memberitahukannya Nyonya karena pekerjaan ini rahasia," ucap Mike.
"Apa ini pekerjaan mafia?" tanya Keyna.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa memberitahukannya," ucap Mike.
"Lalu ada apa kamu ke sini?" tanya Keyna yang kesal karena Mike merahasiakan kemana perginya Devan.
"Saya hanya ingin memberikan ini," ucap Mike dan memberikan sebuah kotak pada Keyna.
"Ini apa?" tanya Keyna.
"Silahkan Nyonya lihat secara langsung," ucap Mike.
Keyna pun mengambil kotak tersebut dan membukanya, "Ini adalah stempel milik Tuan Devan, Tuan Devan menyampaikan jika ia tidak bisa menandatanganinya dan Nyonya bisa menggunakan stempel itu sebagai pengganti tandatangan Tuan Devan," ucap Mike.
Keyna menatap tajam Mike, "Kenapa Devan tidak bisa datang sendiri dan menandatanganinya? kenapa dia harus memberikan stempel ini?" tanya Keyna yang berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa memberitahukannya pada Nyonya, tapi saya hanya melakukan apa yang Tuan Devan perintahkan pada saya, jika Nyonya butuh sesuatu, Nyonya dapat menghubungi saya atau Nyonya bisa mengatakannya pada pelayan. Untuk tempat tinggal Nyonya tidak perlu khawatir karena Tuan Devan sudah memberikan rumah ini atas nama Nyonya Keyna, kalau begitu saya permisi," ucap Mike dan pergi meninggalkan Keyna.
Setelah kepergian Mike, Keyna pun tidak dapat menahan beban tubuhnya dan ia menangis tepat di pintu.
"De-devan setuju untuk bercerai hiks hiks, tapi kenapa? bukankah Devan ingin bertahan?" tanya Keyna yang di sertai dengan tangis.
"Nyonya," panggil Bi Nani.
"Bibi hiks hiks," panggil Keyna yang masih menangis.
"Nyonya kenapa?" tanya Bi Nani.
__ADS_1
"Devan gak mungkin ninggalin Keyna kan, Bi?" tanya Keyna.
"Kenapa Tuan Devan sampai meninggalkan Nyonya? Tuan Devan tidak akan meninggalkan Nyonya, Tuan Devan sangat mencintai nyonya, jadi Tuan Devan tidak akan meninggalkan Nyonya," ucap Bi Nani.
"Tapi, Devan beneran udah ninggalin Keyna, Bi. Hiks hiks hiks," ucap Keyna yang semakin histeris bahkan membuat baby Arsen menangis di dalam.
Baru saja Bi Nani akan membawa Keyna masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja Mama Vanka datang dan menghampiri Keyna.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama Vanka.
"Mama hiks hiks hiks," panggil Keyna lalu memeluk Mama Vanka saat Mama Vanka berada di depannya.
"Iya, sayang. Ini Mama, kamu kenapa hem?" tanya Mama Vanka dan mengisyaratkan Bi Nani untuk menenangkan baby Arsen.
"Devan, Ma," ucap Keyna.
"Devan kenapa?" tanya Mama Vanka.
"Devan ninggalin Keyna, Ma," ucap Keyna.
"Maksud kamu?" tanya Mama Vanka.
Keyna pun menceritakan semuanya, malam dimana terdengar suara tembakan di rumah ini, "Setelah 4 hari Devan belum pulang dan tadi Mike datang memberikan stempel ini ke Keyna. Keyna memang meminta cerai dari Devan dan Keyna hanya butuh tandatangan Devan, tapi Keyna berharap Devan mau bertahan dan mengerti kalau Keyna waktu itu masih marah hiks hiks," ucap Keyna.
"Mama yakin, Devan gak mungkin ninggalin kamu sayang. Devan itu sayang banget sama kamu," ucap Mama Vanka.
"Tapi, nyatanya Devan tega ninggalin Keyna dan baby Arsen hiks hiks," ucap Keyna.
"Astaga Keyna kenapa?" tanya Mama Bella.
"Nanti aku jelasin ya, sekarang Keyna biar istirahat dulu," ucap Mama Vanka dan diangguki Mama Bella.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Keyna sampai nangis kayak gitu?" tanya Mama Vanka.
"Kita bicara di luar aja," ucap Mama Vanka.
"Sini cucu Oma La," ucap Mama Bella dan menggendong baby Arsen dari gendongan Bi Nani.
Ya, Mama Vanka dan Mama Bella sepakat untuk menyebut diri mereka Oma La yaitu Mama Bella dan Oma Ka yaitu Mama Vanka. Sedangkan untuk Papa Alex dan Papa Erwin menjadi Opa Al dan Opa Win.
Saat di ruang tamu, Mama Vanka dan Mama Bella duduk di sofa dan saling mengobrol. Mama Vanka menceritakan semua yang Keyna tadi ceritakan padanya.
Mama Bella pun marah mendengar apa yang baru saja Mama Vanka ceritakan padanya mengenai Devan.
"Devan kok gitu sih padahal Papanya Keyna udah ngasih dia kesempatan, tapi apa dia justru hancurkan kesempatan itu. Emang gak bisa dibiarkan Devan itu, biar aja Devan dan Keyna pisah," ucap Mama Bella.
Entah karena apa tiba-tiba saja baby Arsen menangis dan meronta-ronta dari gendongan Mama Bella.
"Loh cucu Oma kenapa kok nangis hem?" tanya Mama Bella dan baby Arsen semakin memberontak di gendongannya.
"Sini sama Oma Ka aja," ucap Mama Vanka dan mengambil alih baby Arsen dari gendongan Mama Bella.
"Tuh anaknya diam kayaknya baby Arsen ini gak mau kalau Devan dan Keyna pisah deh," ucap Mama Vanka.
"Iya juga sih," ucap Mama Bella.
"Gini ya jeng, menurutku ini ada yang tidak beres. Karena itu, aku udah panggil Mike untuk jelasin semuanya," ucap Mama Vanka dan tak lama setelah itu Mike datang.
"Nyonya memanggil saya," ucap Mike.
"Ya, dimana Devan sekarang?" tanya Mama Vanka.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa memberitahukannya pada Nyonya," ucap Mike.
"Apa Devan yang menyuruhmu? Mike ingat, saya ini orangtua Devan, apa saya tidak berhak tahu dimana keberadaan anak saya? saya yang melahirkan dan membesarkannya, apa saya harus meminta izin terlebih dahulu untuk bertemu anak saya iya? kalau Devan tidak mengizinkan apa saya harus mengemis terlebih dahulu padanya iya, Mike?" tanya Mama Vanka yang begitu emosi karena tidak bisa bertemu Devan.
"Bu-bukan begitu Nyonya," ucap Mike.
"Apanya yang bukan begitu hah? sekarang tunjukkan dimana Devan?" tanya Mama Vanka yang membentak Mike.
Baby Arsen yang ada di gendongan Mama Van bukannya menangis atau terjebak karena bentakan Mama Vanka, baby Arsen justru tertawa gembira dan bertepuk tangan serta berceloteh seperti menirukan Mama Vanka yang memarahi Mike.
"Lihat cucu saya juga marah karena dia tidak bertemu dengan Papa nya," ucap Mama Vanka.
"Baik, saya akan membawa Nyonya bertemu dengan Tuan Devan. Tapi, saya mohon supaya Nyonya Keyna tidak tahu karena ini adalah perintah Tuan Devan," ucap Mike.
"Kalau itu gampang yang penting saya mau ketemu sama Devan," ucap Mama Vanka dan diangguki Mike.
"Bi, ini tolong cucu saya di jaga ya," ucap Mama Vanka dan memberikan baby Arsen pada Bi Nani.
"Baik, Nyonya," ucap Bi Nani.
Akhirnya Mama Vanka dan Mama Bella pun pergi bersama dengan Mike untuk menemui Devan. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah sakit dan mereka pun menuju salah satu kamar yang ada di sana.
"Kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Mama Vanka.
"Tuan Devan ada di dalam. Tapi, maaf Nyonya, Tuan Devan tidak bisa bertemu dengan Nyonya karena keadaan Tuan Devan yang tidak memungkinkan untuk bertemu dengan siapapun," ucap Mike.
Mama Vanka dan Mama Bella melihat ke dalam kamar inap tersebut melalui kaca yang tidak terlalu besar di dinding kamar inap tersebut.
Mama Vanka hampir saja terjatuh jika saja Mike tidak menahannya, "Mike, apa yang terjadi pada Devan?" tanya Mama Vanka yang sudah tidak dapat menhana tangisnya.
"Tuan Devan tertembak dan Tuan Devan hampir saja kehilangan nyawanya, tapi Tuan mampu bertahan dan Dokter masih menunggu hingga masa kritis Tuan Devan benar-benar berlaku sepenuhnya karena itu Tuan Devan masih belum bisa di kunjungi oleh siapapun," ucap Mike.
"Mike, ini pasti bohong kan. Gak mungkin Devan di dalam hiks hiks hiks," ucap Mama Vanka.
"Maaf, Nyonya. Tapi, ini memang benar terjadi," ucap Mike.
Mama Bella masih terpaku melihat sang menantu yang terbaring lemah di ranjang ruang sakit dengan alat medis di sekelilingnya.
"Keyna tidak tahu kalau Devan di sini?" tanya Mama Bella.
"Tidak, Nyonya. Sebelum Tuan Devan tidak sadarkan diri, Tuan Devan meminta agar Nyonya Keyna tidak tahu keadaannya," ucap Mike.
"Kalau begitu rahasiakan keadaan Devan dari Keyna dan dari yang lain," ucap Mama Bella.
"Jeng," Mama Vanka tentu terkejut karena Mama Bella ingin menyembunyikan keberadaan Devan.
"Kita rawat bersama Devan sampai dia sembuh," ucap Mama Bella.
"Tapi, kenapa yang lain gak boleh tahu?" tanya Mama Vanka.
"Saya gak mau buat yang lain sedih dan akhirnya banyak drama yang akan terjadi," ucap Mama Bella.
Mau tidak mau Mama Vanka pun setuju dengan apa yang dikatakan Mama Bella.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1