
Saat tengah terlelap tiba-tiba saja terdengar suara tembakan yang cukup keras dari bawah, Devan dan Keyna pun langsung terbangun.
"Ada apa?" tanya Keyna yang panik mendengarnya.
"Kamu tenang dulu ya, aku mau pastikan dulu," ucap Devan dan menelpon Dennis.
^^^Ada apa?^^^
Sepertinya seseorang menembakkan gas air mata di setiap sudut rumah, Tuan.
^^^****! kau dimana?^^^
Saya sedang melihat tembakan tersebut Tuan dan yang lainnya mengamankan rumah.
Tak lama setelah itu terdengar teriakan seorang pria yang kembali mengejutkan Devan dan Keyna.
Devan pun memutuskan sambungan telepon tersebut lalu ia menatap Keyna yang terlihat takut mendengarnya.
"DEVAN!" teriak orang tersebut.
"Kamu sama baby Arsen ke ruang kerjaku dulu ya," ucap Devan.
Keyna pun turun dari ranjang dan menghampiri baby Arsen lalu menggendong baby Arsen.
Lalu Devan menuntun pun Keyna yang tengah menggendong baby Arsen untuk ke ruang kerjanya yang ada di dekat kamar.
"Tapi, kamu gimana?" tanya Keyna.
"Aku gapapa, kamu di sini jangan kemana-mana dan jangan bukakan pintu, tapi kamu tidak perlu khawatir karena yang buka ruangan ini hanya aku. Aku sayang banget sama kamu, Key," ucap Devan dan mengecup kening Keyna.
"Hati-hati, Dev," ucap Keyna.
"Iya, aku akan hati-hati. Terimakasih dan maaf, Key," ucap Devan dengan menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Devan pun keluar dari ruang kerjanya dan turun ke bawa untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Selamat malam, Tuan Devan ah atau Tuhan Devan," sapa pria yang tidak asing bagi Devan.
"Terserah kau mau panggil apa, tapi setelah di pikir-pikir sudah lama sekali aku tidak melihatmu," ucap Devan.
"Tentu saja, Tuan Devan lama tidak melihat saya karena selama ini saya bersembunyi di tempat yang sangat baik," ucap pria tersebut.
"Kau sudah menerima Kue ulangtahun dariku bukan," ucap Devan dan membuat pria tersebut menatap tajam Devan.
"Ya, kau benar. Aku sudah tahu keberadaan mu sejak dulu, tapi ya memang aku sedang tidak ingin ada urusan denganmu, jadi aku tidak mengganggumu lebih tepatnya malas saja berurusan denganmu bahkan aku hampir lupa jika kau harus aku urus," ucap Devan.
"Kembalikan Kakakku," ucap pria tersebut.
"Joseph? ah sayang sekali dia sudah bersama dengan kakakmu yang lain, Yas," ucap Devan.
"Aku diam selama ini karena Kakakku yang melarang ku untuk berhadapan denganmu, tapi nyatanya apa sekarang Kakak ku yang kau bunuh!" teriak Yassa yang merupakan adik dari Joseph.
__ADS_1
Ya, pria yang membuat keributan di rumah Devan adalah Yassa adik kandung dari Joseph, pria yang pernah dimata-matai oleh Baron dan pria yang sudah menculik Keyna.
"Ah sekarang aku tahu kenapa Joseph tidak membiarkan kau berhadapan denganku karena dia takut kekalahannya dilihat olehmu dan dia juga mungkin takut kalau ternyata kau tahu jika Joseph adalah orang yang lemah," ucap Devan.
"Kakak ku tidak lemah bodoh! kau saja yang tidak punya perasaan sampai seenaknya membunuh orang!" teriak Yassa.
"Mungkin apa yang kau katakan itu benar, ya tapi tidak semua benar karena aku punya perasaan hanya untuk orang-orang tertentu," ucap Devan.
"Apa istriku yang kau maksud?" tanya Yassa.
"Ya, begitulah. Aku yakin kau tahu karena Kakak mu itu bukan," ucap Devan.
"Ya, aku tahu karena Kakak ku pernah menculiknya," ucap Yassa.
"Karena tindakan gegabah dan bodohnya itu, akhirnya dia bertemu dengan Kakaknya yang lain hahaha," ucap Devan.
"Karena itu, aku ingin balas dendam karena kau sudah membunuh Kakak ku," ucap Yassa menodongkan pistolnya pada Devan.
Tindakan Yassa tentunya membuat semua orang yang ada di sana terkejut bahkan Mike dan anak buah lainnya juga menodongkan pistolnya pada Yassa.
"Enak ya jadi kau, saat kau dalam bahaya masih banyak anak buah yang amu melindungi orang sepertimu," ucap Yassa.
"Ya, kalau kau mau menembakkan pistol itu padaku silahkan. Aku akan menyuruh anak buahku untuk menurunkan senjatanya," ucap Devan.
"Ya, aku akan menembak mu tidak peduli setelah itu aku mati atau tidak selama aku bisa membunuhmu maka aku akan membunuhmu," ucap Yassa.
Devan pun memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menurunkan senjatanya, "Sekarang kau bisa menembak ku dan akan kupastikan anak buahku tidak akan menembak mu," ucap Devan.
Dor
Suara tembakan begitu nyaring dan tepat mengenai dada Devan, seketika Devan terjatuh.
"Tuan," panggil Mike.
"Biarkan dia hidup, jangan tembak dia," ucap Devan yang menahan sakit pada dadanya dan Yassa pergi tanpa setelah melihat Devan tertembak pistolnya.
"Mike," panggil Devan.
"Iya, Tuan," ucap Mike.
"Ini, suruh Bi Nani untuk membukakan pintu agar Keyna dan Arsen bisa keluar dari ruang kerjaku dan berikan stempel ku pada Keyna karena aku tidak bisa menandatanganinya," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Devan.
"Satu lagi, jangan sampai Keyna tahu semua yang terjadi terutama keadaanku," ucap Devan.
"Tapi, Tuan...," ucapan Mike terhenti saat melihat Devan yang sudah tidak sadarkan diri.
Mike dan anak buah Devan lainnya pun membawa Devan ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Keyna tentunya.
Sedangkan, Keyna sendiri panik saat mendengar suara tembakan yang begitu nyaring.
__ADS_1
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi perasaannya tidak tenang apalagi saat melihat baby Arsen yang mulai terganggu tidurnya dan mulai rewel.
Hingga beberapa saat kemudian, Bi Nani pun masuk ke dalam ruang kerja Devan, "Bibi, ke apa Bibi bisa masuk ke sini?" tanya Keyna.
Ya, Keyna masih ingat betul saat Devan mengatakan jika ruang kerjanya hanya bisa dibuka oleh Devan.
"Itu tidak penting Nyonya, sekarang Nyonya dan Tuan muda selamat," ucap Bi Nani.
"Devan kemana, Bi?" tanya Keyna yang tidak melihat Devan.
"Tuan Devan ada urusan diluar Nyonya," ucap Bi Nani.
"Tadi siapa, Bi? kenapa Key denger suara tembakan gitu?" tanya Keyna.
"Bukan siapa-siapa, Nyonya. Nyonya silahkan kembali istirahat," ucap Bi Nani dan keluar dari kamar tersebut.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kenapa Bi Nani tadi gugup gitu?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa sayang? kok nangis terus sih daritadi? tidur ya sayang, nanti Papa pulang kok," tanya Keyna dan berusaha untuk menenangkan baby Arsen.
Tapi, tetap saja baby Arsen tidak mau diam bahkan tangisannya semakin kencang, "Bi Nani!" teriak Keyna dan turun ke bawa menemui Bi Nani.
"Iya, Nyonya," ucap Bi Nani.
"Bi, Arsen daritadi gak mau diam hiks hiks," ucap Keyna yang akhirnya ikut menangis.
Entahlah apa yang terjadi pada Keyna, tapi ia merasa sesuatu yang mengganjal di dalam perasaan dan tanpa ia duga, ia juga ikut menangis.
"Nyonya tengah dulu ya, ini pasti Tuan muda keganggu tidurnya makanya Tuan muda nangis dan gak berhenti tangisannya," ucap Bi Nani.
"Beneran, Bi?" tanya Keyna.
"Iya, Nyonya," ucap Bi Nani.
Disisi lain, Devan langsung di periksa Dokter karena tembakan yang Devan dapatkan cukup dalam bahkan darah terus mengalir.
Namun, sebelum kesadaran benar-benar hilang Devan tersenyum, 'Aku harap kamu bahagia dengan yang aku dapatkan, aku memang laki-laki yang paling buruk di dunia. Maka itu, semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku, aku akan bertemu dengan Tuhan dan mengakui semua kesalahanku. Selamat tinggal dunia,' ucap Devan dalam hati dan akhirnya Devan tidak sadarkan diri.
"Dokter," panggil suster saat melihat Devan yang tidak sadarkan diri.
"Tuan Devan," panggil Dokter.
Dokter pun terus berusaha agar Devan dapat melalui masa kritisnya, tapi Tuhan berkehendak lain.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1
*Banyak typo, maaf ya🙏