
Hari ini adalah hari terberat bagi Keyna karena ia harus merelakan ditinggal keluarganya ke negara B bahkan Kak Kelvin dan juga Kak Anggi ikut pergi.
Sejak kemarin malam, Keyna dan Devan sengaja menginap di rumah keluarga Papa Erwin agar pagi harinya mereka bisa mengantar keluarga Keyna ke Bandara, "Ma," panggil Keyna dan memeluk erat Mama Bella.
"Eh, kok nangis sih sayang," ucap Mama Bella yang melihat bahu Keyna bergetar.
"Keyna mau ikut ya sama kalian," rengek Keyna.
"Kalau kamu belum nikah sih Mama oke-oke aja, tapi kamu harus ingat sekarang kamu udah ada Devan, kamu bukan lagi tanggungjawab Mama sama Papa," ucap Mama Bella yang membuat Keyna kembali terisak.
"Tapi, Keyna gak pernah ditinggal jauh sama Mama sama Papa," rengek Keyna.
"Kamu itu udah punya suami jadi harus dibiasakan ya, lagian Papa sama Mama juga kan gak bisa terus sama kamu," ucap Papa Erwin.
"Hem, iya iya, tapi jangan lupa kabarin loh kalau udah sampai," ucap Keyna.
"Iya, yaudah kita berangkat dulu ya," ucap Papa Erwin.
"Hati-hati, Ma, Pa," ucap Devan.
"Titip Keyna jangan buat dia sedih ya, Van. Papa percaya sama kamu, kamu bisa jaga putri kesayangan Papa," ucap Papa Erwin dan diangguki Devan.
"Dadah Kenzie gantengnya aunty," ucap Keyna dengan melambaikan tangannya dan Kenzie pun membalasnya.
"Udah ga usah sedih masih ada keluargaku kan, lagian nanti kamu masih bisa telpon atau gak video call," ucap Devan.
"Tapi, aku gak pernah ditinggal jauh sama mereka," ucap Keyna dengan suara yang masih bergetar sangat kentara jika ia saat ini menahan tangisnya.
Devan menghela napas panjang dan menghampiri Keyna lalu memeluk sang istri untuk menenangkan Keyna agar tidak menangis, "Hush, udah gak usah nangis gini malu dilihatnya," ucap Devan.
"Laper," rengek Keyna yang berada di pelukan Devan.
"Tadi aja bilangnya gak mau makan, gak lapar," ucap Devan.
"Namanya juga datangnya tiba-tiba, tadi emang gak laper kok," ucap Keyna.
"Yaudah, kita ke rumah Mama atau pulang?" tanya Devan.
"Kita ke rumah Mama aja deh, aku kangen banget pengen peluk Mama," ucap Keyna dan diangguki Devan.
Mereka berdua pun menuju kediaman keluarga Erland, saat mereka berdua sampai di kediaman keluarga Erland. Mereka melihat Papa Alex dan juga Om Frans di halaman rumah mewah tersebut.
"Hai! Dev," sapa Om Frans.
"Kamu masuk gih aku mau ke Papa dulu soalnya ada yang harus aku bicarakan sama Papa," ucap Devan dan diangguki Keyna.
Keyna pun melenggang pergi dari halaman dan masuk kedalam rumah.
"Gimana?" tanya Om Frans.
"Gimana apanya?" tanya Devan.
"Ck, kau ini, aku dengar dari Kak Alex, kau sedang melakukan penyelundupan obat-obatan," ucap Om Frans.
__ADS_1
"Bukankah dari dulu aku memang melakukannya," ucap Devan.
"Tapi, kali ini yang kau hadapi itu Zios salah satu penyelundup tersukses, kau harus memenangkan negosiasi supaya penyelundupan ini berjalan lancar," ucap Om Frans.
"Om Frans tidak perlu khawatir, Devan tau apa yang harus Devan lakukan," ucap Devan.
"Tapi kau pernah mengalahkannya dalam lelang, Papa yakin dia tidak akan tinggal diam karena kau berhasil mengalahkannya saat itu bahkan dia hampir saja bangkrut karena ulahmu itu," ucap Om Frans.
"Ya, Devan tau itu, tapi Devan tidak mempermasalahkannya karena dia bukan tandingan Devan dalam hal ini," ucap Devan dengan sombong.
"Selalu saja begitu," gumam Papa Alex.
"Berapa keuntungan yang akan kau dapatkan dari penyelundupan ini?" tanya Om Frans.
"700 milyar," ucap Devan.
"Wow! nilai yang sangat fantastis," ucap Om Frans.
"Om penasaran seberapa berat barang itu?" tanya Frans Rai.
"Yang jelas penyelundupan ini akan membuat si tua bangka itu bangkrut dan mengemis di kakiku," ucap Devan.
"Apa kau masih dendam dengan anaknya Zios?" tanya Papa Alex.
"Tentu, untuk apa Devan menahan anaknya kalau Devan tidak dendam padanya, Devan akan hancurkan orang yang sudah berkhianat termasuk keluarganya," ucap Devan dengan nada dinginnya dan membuat halaman semakin mencekam.
"Papa akui kau lebih kejam daripada Papa," ucap Papa Alex.
"Oh iya, keluarganya Keyna sudah berangkat?" tanya Papa Alex.
"Jaga Keyna, mereka pasti berat meninggalkan Keyna," ucap Papa Alex dan diangguki Devan.
"Dev, aku dengar kau juga membunuh Dion, itu benar?" tanya Om Frans.
"Iya, Om," jawab Devan.
"Wah! akhirnya ya padahal dari dulu Om sudah gemas ingin melenyapkan dia, untung saja dia sudah tidak ada," ucap Om Frans.
"Kalian jangan mengobrol terus, kalian tidak lapar apa!" teriak Mama Vanka dari pintu.
"Itu singa betina sudah mengeluarkan amarahnya, sekarang kita masuk kedalam," ucap Papa Alex dengan pelan agar tidak terdengar Mama Vanka.
"Kak Vanka kata Kak Alex, Kak Vanka kayak singa betina yang mengeluarkan amarah!" teriak Om Frans lalu masuk kedalam meninggalkan Papa Alex dan Devan yang saling tatap.
"Apa kau bilang? aku seperti singa betina hah?" tanya Mama Vanka dengan nada yang sangat tidak santai.
"Pa, semoga selamat sampai kedalam rumah kalau begitu Devan masuk dulu," ucap Devan lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang tidak muda lagi itu.
"Sayang, maaf, tapi jangan percaya kata Frans dia hanya iri denganku yang sangat mencintaimu," ucap Papa Alex.
"Maksud Kakak, Frans gak sayang sama Lidya?" tanya Lidya yang baru saja datang dengan membawa beberapa alat masak.
"Bu-bukan gitu, maksud Kakak gak gitu," ucap Papa Alex dengan gugup.
__ADS_1
"Sudah kita tinggalkan pria ini, lebih baik kita masuk semuanya sudah siap didalam," ajak Mama Vanka dan pergi meninggalkan Papa Alex sendirian di halaman.
"Huh, salah lagi," gumam Papa Alex.
Disisi lain, saat ini didalam rumah megah tersebut sedang berkumpul semua keluarga besar Erland, entah apa yang terjadi, tapi yang Keyna tau saat ini sangat ramai, "Kak, aku pengen deh jadi model kayak kakak," ucap Clara.
"Kenapa?" tanya Keyna.
"Gak tau, tapi aku liat Kakak jadi model rasanya kayak seru gitu," ucap Clara.
"Kalau jadi model bukan hanya seru yang kamu dapat, tapi juga lelah, kamu tau gak Kakak dulu hampir nyerah jadi model," ucap Keyna.
"Kenapa Kak?" tanya Clara.
"Karena saingan Kakak banyak yang berbakat daripada Kakak, bahkan dulu ya nilai tes Kakak hampir tidak memenuhi syarat, tapi untung saja Kakak bisa masuk," ucap Keyna.
"Clara sebenarnya pengen jadi pramugari, tapi Mama gak mau, Mama bilang nanti kalau pesawatnya jatuh gimana dan juga Papa malah nyuruh Clara belajar bisnis sama Kak Rinta juga," ucap Clara.
"Kakak juga setuju sama Mama kamu, kalau jadi pramugari nanti takut pesawatnya jatuh," ucap Keyna.
"Kakak ini ada-ada aja, tapi Clara gak mau ngelanjutin bisnis keluarga," ucap Clara.
"Kenapa kamu tidak mau padahal kamu hanya tinggal melanjutkan bukan?" tanya Keyna.
"Nah! karena itu Kak, Clara gak mau. Clara takut nanti Clara dalam kondisi terpuruk, Clara gak bisa bangkit karena Clara tidak tau gimana susahnya membangun," ucap Clara.
"Kakak paham maksud kamu, tapi kenapa kamu tidak coba dulu, Kakak rasa kamu mampu untuk meneruskannya," ucap Keyna.
"Huh, entahlah Clara juga gak tau yang jelas Clara gak bisa berjanji sama Papa dan Mama," ucap Clara dan Keyna hanya tersenyum dengan pemikiran Clara.
"Kak, maksud Kakak apa?" tanya Aldy kepada Devan yang sedang duduk santai dan mengobrol dengan Kak Jeffry.
"Maksud apa?" tanya Devan.
"Aldy dengar Kakak membunuh Dion?" tanya Aldy.
"Pelankan suaramu," ucap Devan.
Devan menyadari jika didalam ruangan itu bukan hanya ada keluarga, tapi juga Keyna yang tidak tau apa-apa.
"Oke, bicara di taman saja kalau begitu," ucap Aldy lalu menuju taman belakang.
"Membunuh? maksudnya Devan membunuh seseorang?" tanya Keyna.
"Masa sih, ya gak mungkinlah, Aldy itu lagi bercanda sama Devan biasalah Aldy kan orangnya memang kayak gitu," ucap Tante Lidya dan untung saja Keyna percaya.
"Apa maksud Kakak?" tanya Aldy yang tidak bisa menahan emosinya saat berada di taman. Sedangkan, Devan hanya menatap santai pada Aldy.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.