
"Iya, harus itu Key, sama satu lagi Presdir Marva Grup itu terkenal kejam dia gak segan-segan buat mempermalukan kamu kayak binatang kalau kamu buat masalah sama dia. Pokoknya dia kalau lagi marah nakutin, jangan kan marah kalau dia diem aja nih ya di depan kita kamu pasti takut kayak ketemu sama malaikat maut," ucap Kikan.
"Udah ah makin hari kamu makin ngelantur Kan, aku ganti baju dulu ya," ucap Keyna dan diangguki Kikan.
Selesai pemotretan, Keyna dan Kikan menuju ke restoran yang ada di dekat tempat pemotretan, "Key, kamu tau Sisy gak, sekarang tuh katanya dia lagi liburan di Negeri C," ucap Kikan.
"Loh, bukannya dia udah liburan ya? kok dia liburan lagi?" tanya Keyna.
"Aku juga gak tau, tapi denger-denger dia nanti malam balik," ucap Kikan.
"Emang kapan dia liburannya kok nanti malam dia balik?" tanya Keyna.
"Katanya sih baru kemarin malam," ucap Kikan yang membuat Keyna terkejut.
"Cepet banget, biasanya dia kalau liburan lamanya minta ampun, eh sekarang malah cepet baliknya," ucap Keyna.
"Kamu gak tau kenapa Sisy baliknya cepet, Key?" tanya Kikan.
"Mana aku tau Kan, orang aku baru tau kalau Sisy liburan aja dari kamu," ucap Keyna.
"Jadi aku denger-denger Sisy rela balik cepet karena dia pengen ketemu sama Presdir dari Marva Grup," ucap Kikan.
"Emang ganteng banget ya Presdir dari Marva Grup, sampai Sisy rela balik cepet?" tanya Keyna.
"Buuwaaanget Presdir Marva Grup itu kayak bunga mawar yang sangat indah untuk dipandang, Key. Tapi, juga sangat berbahaya kalau di pegang," ucap Kikan.
"Kamu mah selalu hiperbola kalau masalah cowok, Kan," ucap Keyna.
"Hiperbola? hiperbola itu apa, Key? kayaknya aku gak bawa bola deh," tanya Kikan.
"Astaga Kan, kamu harus belajar lagi deh ya masa hiperbola gak tau, kalah kamu sama anak SD," ucap Keyna.
"Kamu ngerendahin aku Key, asal kamu tau ya Key, aku itu berprestasi tau gak," ucap Kikan dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Berprestasi apa Kan, contohnya aja deh?" tanya Keyna.
"Kamu tau Key, dulu nih ya kalau di sekolahku ngadain lomba aku pasti ikut dan menang, Key," ucap Kikan dengan bangga.
"Aku kirain prestasi apa Kan, kalau akademik kamu gimana?" tanya Keyna sambil menaikkan alisnya.
"Ya, kalau itu gak usah ditanyain lagi Key, jelek banget nilai akademik aku, sampai Mamaku dulu tuh pas aku pulang hobinya marah-marah terus ke aku," ucap Kikan.
"Kenapa?" tanya Keyna karena Kikan yang sejak tadi menatapnya.
"Ada yang kamu sembunyiin dari aku?" tanya Kikan.
"Gak ada kok," ucap Keyna.
"Kamu bohong," ucap Kikan.
"Maksud kamu apa?" tanya Keyna.
"Kamu bohongin aku, Key," ucap Kikan.
"Bohong apa? aku gak bohongin kamu," tanya Keyna.
"Kamu udah nikah?" tanya Kikan.
Pertanyaan Kikan tentunya membuat Keyna terkejut pasalnya Keyna belum mengatakan yang sebenarnya pada Kikan.
"Kamu tau darimana?" tanya Keyna.
"Dari pembicaraan kamu sama Celine waktu di toilet tadi," ucap Kikan.
__ADS_1
Ya, memang tadi saat di kantor Keyna dan Celine sempat ke toilet dan memang mereka membicarakan mengenai pernikahan Keyna.
"Maafin aku, Kan. Aku gak bermaksud buat ngerahasiain semuanya," ucap Keyna.
Bukannya marah, Kikan justru tersenyum. "Aku tau kok, kamu pasti gak enak ya sama aku karena aku pernah gagal nikah 6 kali dan setiap ada orang terdekatku yang nikah aku selalu trauma dan jadi benci sama mereka bahkan aku jauhin mereka?" tanya Kikan.
"I-iya, karena itu aku gak mau kamu benci sama aku dan buat kamu trauma lagi. Aku mau kita kayak gini terus, aku minta maaf karena udah sembunyiin semuanya sama kamu, Kan" ucap Keyna.
"Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, Key. Karena rasa gak enak kamu, jadinya aku kayak jahat banget gitu," ucap Kikan.
"Gak kok Kan, kamu gak jahat. Aku yang terlalu jahat sampai gak ngasih tau kamu bahkan aku gak ngundang kamu," ucap Keyna.
"Gapapa kok, Key. Kalaupun kamu ngundang aku, aku juga gak akan datang ke pernikahan kamu, aku terlalu takut aja," ucap Kikan.
"Maaf," ucap Keyna yang merasa bersalah karena telah membohongi Kikan.
"Gapapa kok, Key. Anggap aja ini pembelajaran buat persahabatan kita," ucap Kikan.
"Kamu gak marah?" tanya Keyna.
"Gak sama sekali, aku gak mau egois. Orang-orang yang salah yang salah ya aku karena terlalu gegabah dalam mengambil keputusan," ucap Kikan.
"Beneran?" tanya Keyna dan diangguki Kikan.
"Selamat ya atas pernikahan kamu," ucap Kikan dengan tersenyum.
"Makasih," ucap Keyna.
"Sama-sama," ucap Kikan.
Mereka pun mengobrol hingga jam menunjukkan pukul 6 sore, "Aku pulang dulu ya, Kan," pamit Keyna.
"Yaudah, sana pulang takut nanti suami kamu nyariin lagi," ucap Kikan.
"Aku udah pesen taksi kok, mungkin bentar lagi sampai," ucap Kikan.
"Beneran, gak bareng aku aja kamu Kan, biar gak ngeluarin uang," ucap Keyna.
"Udah gapapa, mendingan kamu cepet pulang sebelum suami kamu pulang duluan," ucap Kikan.
"Ya udah aku duluan, Kan," pamit Keyna lalu keluar dari restoran.
Keyna sendiri sudah berada di mobil karena sebelumnya Keyna sudah memberitahu Gita jika ia akan makan bersama dengan Kikan, "Pak Nardy, nanti berhenti di supermarket bentar ya, Pak," ucap Keyna.
"Nona ingin sesuatu, nanti biar saya yang membelikannya," ucap Gita.
"Gak perlu, aku beli perlengkapan pribadiku kok," ucap Keyna dan diangguki Gita.
Setelah beberapa saat kemudian, Keyna pun sampai di supermarket dan mengambil barang-barang yang ia butuhkan, setelah selesai Keyna langsung membayarnya dan menuju ke mobil dengan diikuti Gita.
"Pak, kita pulang ya," ucap Keyna.
"Baik, Non," ucap Pak Nardy.
Mereka pun menuju kediaman Erland karena memang ini permintaan Mama Vanka, sesampainya di rumah mewah tersebut, Keyna pun langsung masuk, "Sayang, kamu darimana aja sih? lama banget Mama nunggunya?" tanya Mama Vanka.
"Maaf, ya Ma lama soalnya tadi Keyna pergi ke supermarket dulu," ucap Keyna.
"Kenapa kamu ke supermarket? harusnya kamu tinggal bilang ke pengawal kamu atau gak kamu tinggal bilang ke para pelayan yang ada di rumah nanti pasti dibeliin, jadi kamu gak usah repot-repot buat ke supermarket sendiri?" tanya Mama Vanka.
"Gapapa, kok Ma. Keyna juga pengen beli sendiri soalnya kan ini perlengkapan pribadinya Keyna," ucap Keyna.
"Yaudah, kalai gitu kamu mandi pasti kamu capek banget ya," ucap Mama Vanka.
__ADS_1
"I-iya Ma, oh iya Devan belum pulang, Ma?" tanya Keyna.
"Devan kayaknya masih ada kerjaan deh, biasalah dia itu gila kerja sampai lupa kalau sekarang dia udah punya istri, tenang aja kamu sayang nanti biar Mama marahin, Devan," ucap Mama Vanka.
"Gak usah Ma, Keyna cuma tanya aja kok mungkin emang kerjaan Devan banyak lagian Keyna gak mempermasalahkan itu kok," ucap Keyna.
"Yaudah, kamu mandi sana pasti kamu capek Bangetayu," ucap Mama Vanka.
Keyna pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Devan, ia langsung membersihkan dirinya dan saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Devan yang duduk di sofa.
"Kamu baru pulang? kamu mau mandi biar aku siapin airnya?" tanya Keyna, namun tidak mendapat jawaban dari Devan.
Devan justru berjalan ke arah Keyna, "Ada apa? kenapa kamu menatapku?" tanya Keyna yang menghilangkan rasa gugupnya.
"Lain kali kalau keluar pakai baju lengkap jangan hanya memakai handuk," ucap Devan dengan suara seraknya lalu masuk kedalam kamar mandi.
Keyna masih belum sadar dengan apa yang Devan katakan, namun beberapa saat kemudian Keyna pun menyadari maksud Devan dan melihat ke tubuhnya yang saat ini hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan pada tubuhnya, Keyna tidak tau jika Devan sudah pulang sebab itu ia memilih untuk memakai handuk saja saat keluar.
Selesai menggunakan baju yang lengkap, Keyna pun menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan makanan, namun semua makanan ternyata sudah siap sedia, "Loh Mama, gak nungguin Keyna, padahal kan Keyna mau bantu masak," ucap Keyna.
"Gapapa, sayang lagian Mama tadi dibantu sama Bibi kok, kamu juga harus nyiapin keperluan Devan kan," ucap Mama Vanka dan diangguki Keyna.
"Wah, enak nih kayaknya makanannya," ucap Clara.
"Iya dong, kan masakannya Mama," ucap Mama Vanka.
Keyna yang melihat seorang gadis di depannya hanya mengerutkan keningnya karena ia tidak tau siapa gadis tersebut, "Ini pasti kak Keyna ya, Ma?" tanya Clara.
"Iya, gimana cantik gak?" tanya Mama Vanka.
"Cantik Ma, gak salah sih kalau kak Devan kepincut sama Kak Keyna, oh iya Kak kenalin aku Clara ponakannya Kak Devan," sapa Clara dengan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Keyna.
"Clara ini anak dari adik Mama, Key. Rumahnya juga disebelah kita cuma beda beberapa rumah aja sih," ucap Mama Vanka yang diangguki Keyna.
"Kak Keyna, gimana?" tanya Clara.
"Gimana apanya?" tanya Keyna.
"Gimana setelah nikah sama, Kak Devan?" tanya Clara.
"Ya, gak gimana-gimana emangnya harus gimana?" tanya Keyna.
"Ck, Kak Keyna gak pernah di kasarin sama Kak Devan kan?" tanya Clara.
"Kalau ngomong seenak jidatnya aja," ucap Devan dan memukul pelan kepala Clara.
"Tuh kan Kak, Kak Devan itu suka mukul. Emang Kak Keyna gak pernah dipukul gitu?" tanya Clara.
"Gak, Kakak gak pernah dipukul," ucap Keyna.
"Kak Devan kok gak asik sih masa Kak Keyna gak pernah dipukul sih malah Clara yang dipukul," ucap Clara dengan kesal.
"Awas aja kalau sampai Devan berani pukul Keyna, Mama gorok leher kamu, Dev. Biar tau rasa terus nanti tubuhnya Mama buang ke kandang buaya," ucap Mama Vanka dengan tatapan tajam ke arah Devan yang membuat Devan ngeri sendiri.
"Astaga, Ma. Nakutin aja, ya gak lah Ma, lagian ngapain juga Devan mukul Keyna, Mama jangan sampai kemakan sama omongan itu anak kecil deh," ucap Devan.
Keyna baru menyadari jika Devan tidaklah se kaku dan se dingin yang ia pikir, buktinya ia melihat sisi lain dari Devan jika bersama keluarganya dan hal itu membuat Keyna merasa nyaman.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.