Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Kehendak Tuhan


__ADS_3

"Sayang," panggil Mama Vanka.


"Iya, Ma. Ini jusnya," ucap Keyna dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu bersama Mama Vanka.


"Kamu sakit sayang?" tanya Mama Vanka saat melihat wajah pucat Keyna.


"Gak kok, Ma. Mungkin Keyna cuma kelelahan aja apalagi baby Arsen kemarin kan rewel banget," ucap Keyna.


"Sabar ya sayang, Mama tahu kamu kuat," ucap Mama Vanka.


"Iya, Ma," ucap Keyna.


Sudah satu bulan Devan pergi tanpa kabar bahkan Devan tidak pernah pulang sama sekali, Keyna pernah marah pada Mike karena Keyna ingin bertemu dengan secara langsung. Tapi, Mike mengatakan jika Devan tidak dapat diganggu dan ditemui oleh siapapun.


"Sayang," panggil Mama dan membuyarkan lamunan Keyna.


"I-iya, Ma. Ada apa?" tanya Keyna.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Mama Vanka.


"Iya, Keyna baik-baik aja kok," ucap Keyna.


"Apa kamu bahagia?" tanya Mama Vanka.


"iya, Ma. Keyna bahagia," ucap Keyna dan memaksakan senyumnya.


"Sayang, kamu bahagia?" tanya Mama Vanka lagi.


Untuk kali ini, Keyna tidak menjawab dan tersenyum atas pertanyaan Mama Vanka, Keyna justru menangis tanpa mampu berkata-kata.


Mama Vanka pun langsung memeluk Keyna, "Mama tahu kamu gak baik-baik aja, sayang. Kalau ada apa-apa tolong jadikan Mama sebagai tempat kamu bercerita sayang," ucap Mama Vanka.


"Ma, semua ini salah Keyna. Keyna yang terlalu egois, sekarang Keyna tahu bagaimana rasanya jika Keyna berpisah dengan Devan, bukan hanya Keyna yang tersisa, tau juga baby Arsen. Buktinya baru beberapa hari Devan pergi banyak orang yang tanya dimana Ayahnya baby Arsen, Keyna gak bisa kalau harus pisah dari Devan, Ma," ucap Keyna.


"Sayang, Mama yang minta maaf karena Mama memaksa kamu untuk bertahan dengan Devan padahal kamu ingin pisah dengan Devan," ucap Mama Vanka.


"Mama gak salah, ini semua pelajaran bagi Keyna. Keyna harus memikirkan resiko yang akan Keyna dapatkan setelah Keyna mengambil keputusan itu," ucap Keyna.


"Baby Arsen, udah tidur sayang," ucap Mama Vanka.


"Iya, Ma. Biar Keyna taruh di kamar dulu ya," ucap Keyna.


"Iya, sayang," ucap Mama Vanka.


Keyna pun menggendong baby Arsen dan menuju kamarnya, setelah Keyna tidak terlihat barulah Mama Vanka menghubungi seseorang.


^^^Aku udah gak sanggup lihat Keyna sedih.^^^


Jadi, kita kasih tahu aja gimana keadaan Deva ke Keyna?


^^^Iya, kayaknya itu lebih baik deh.^^^


Yaudah, kalau gitu aku ke rumah sakit nanti kamu bawa Keyna ke rumah aja ya.

__ADS_1


^^^Okey.^^^


Setelah itu, Mama Vanka pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan bertepatan dengan Keyna yang baru saja datang.


"Sayang," panggil Mama Vanka.


"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Keyna.


"Kamu mau ikut Mama?" tanya Mama Vanka.


"Sekarang?" tanya Keyna.


"iya, sekarang. Ada yang mau Mama kasih lihat ke kamu," ucap Mama Vanka.


"Tapi, baby Arsen gimana? nanti kalau baby Arsen rewel dan aku gak ada gimana, Ma?" tanya Keyna.


"Kan ada Bi Nani dan pelayan lainnya lagipula kita perginya gak akan lama kok," ucap Mama Vanka.


Keyna pun menyetujui ajakan Mama Vanka dan mereka berdua pun langsung menuju tempat yang akan Mama Vanka dan Keyna kunjungi yaitu rumah sakit tempat Devan di rawat.


Saat sampai di rumah sakit, Keyna tentunya bertanya-tanya untuk apa mereka ke rumah sakit bahkan Keyna sempat berpikir jika Mama memiliki penyakit uang di sembunyikan dari keluarga lainnya.


"Mama? kok Mama bisa ada di sini?" panggil Keyna saat melihat Mama Bella di depan sebuah kamar inap VIP di rumah sakit tersebut.


"Huh, sayang. Sebenarnya ada yang mau Mama kasih lihat ke kamu," ucap Mama Vanka.


"Apa, Ma?" tanya Keyna.


"Tapi, Mama harap kamu tidak marah," ucap Mama Vanka dan semakin membuat Keyna penasaran.


Keyna pun menghampiri Mama Bella, "Kamu lihat orang yang ada di dalam itu," ucap Mama Bella.


Keyna pun mengalihkan pandangannya yang awalnya dari Mama Bella ke orang yang ada di dalam kamar inap VIP tersebut melalui jendela yang ada di dinding kamar tersebut.


Keyna terus memperhatikan orang tersebut hingga saat ia tahu siapa yang ada di sana pun langsung membuatnya sadar dan menatap Mama Vanka dan Mama Bella secara bergantian.


"Ma, kenapa Devan ada di sana?" tanya Keyna.


Mama Bella pun menceritakan semuanya yang terjadi pada Devan, Mama Bella ingin Keyna tahu kebenarannya dan setelah itu Mama Bella menyerahkan semua keputusannya pada Keyna.


Keyna yang mendengar penjelasan Mama Bella tentunya terkejut karena kejadian pada malam itu justru melukai Devan dan dengan bodohnya Keyna berpikir yang tidak-tidak pada Devan karena meninggalkannya tanpa kabar apapun.


"Ma, semua ini salah Keyna hiks hiks," ucap Keyna dan lagi-lagi ia tidak bisa menahan tangisnya.


"Sayang, kamu gak salah. Ini semua sudah kehendak Tuhan," ucap Mama Vanka.


"Key, benar apa kata mertua kamu, ini semua sudah takdir. Kita tidak bisa menghentikannya meskipun kita tahu apa yang akan terjadi bukan, yang harus kamu lakukan sekarang adalah kuat. Kamu harus kuat agar Devan juga kuat dan mau bertahan," ucap Mama Bella dan diangguki Keyna.


"Apa boleh Key masuk ke dalam?" tanya Keyna.


"Maaf sayang, Devan tidak bisa bertemu siapapun karena keadaan Devan yang belum ada perkembangan sampai sekarang dan Dokter melarang orang untuk menjenguk Devan," ucap Mama Vanka.


Mau tidak mau Keyna pun menyetujui apa yang dikatakan Mama Vanka itupun karena ia ingin Devan cepat sembuh.

__ADS_1


Sudah empat hari Keyna bolak balik ke rumah sakit untuk menemui Devan yang masih aja setia menutup matanya.


"Devan bangun, ah sayang bangun. Kamu mau kesempatan kan, ini aku kasih kamu kesempatan kalau kamu bangun," ucap Keyna pelan dan menatap wajah tampan yang tampak pucat tersebut.


"Dokter," panggil Keyna.


"Iya, ada apa, Nyonya?" tanya Dokter Deri.


"Apa Dev belum ada perkembangan sampai sekarang?" tanya Keyna.


"Maaf karena sampai sekarang Tuan Devan belum menunjukkan tanda-tanda akan melewati masa kritisnya," ucap Dokter Deri.


"Eh, gapapa Dokter. Tolong jaga Devan ya, nanti kalau Devan sudah membaik langsung beritahu saya," ucap Keyna.


"Baik, Nyonya," ucap Dokter Deri dengan menganggukkan kepalanya.


Dokter Deri pun langsung masuk ke dalam kamar inap Devan dan menutup jendela agar tidak ada orang yang melihatnya.


"Tuan Devan," panggil Dokter Deri.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Devan yang masih menutup matanya.


"Iya, Tuan. Nyonya Keyna sudah pergi," ucap Dokter Deri.


Ya, Devan memang sudah sadarkan diri sejak dua hari yang lalu dan tidak ada yang tahu karena Devan yang melarang Dokter Deri untuk memberitahukannya pada siapapun bahkan Mike pun tidak tahu.


"Apa dia sering ke sini?" tanya Devan.


"Iya, Tuan. Nyonya Keyna sering menemui Tuan belakangan ini," ucap Dokter Deri.


"Lain kali tutup saja jendelanya, aku tidak ingin diusik siapapun," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap Deri.


Baru saja Devan akan bersuara tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan Mama Vanka dan Mama Bella di sana.


Kedua wanita tersebut pun berteriak histeris lalu menghampiri Devan dan memeluk Devan, "Ma," panggil Devan karena kedua wanita tersebut memeluknya cukup erat.


"Eh, iya Mama lupa kamu kan baru aja sadar kan. Dokter gimana keadaan anak saya?" tanya Mama Vanka.


Dokter Deri pun menatap Devan dan Devan menganggukkan kepalanya lalu Dokter Deri memberitahukan semuanya mengenai keadaan Devan yang sudah membaik dan hanya butuh bantuan istirahat beberapa hari di rumah sakit.


"Akhirnya ya jeng, kalau gitu saya kabarin menantu saya deh, dia pasti seneng banget kalau tahu Devan udah sadar," ucap Mama Vanka.


Setelah itu, Mama pun mengabari Keyna dan saat memberitahukan kabar tersebut Mama Vanka ikut menangis karena Keyna yang menangis mendefinisikan kabar Devan, Mama Vanka lalu menghampiri Devan setelah mengabari Keyna.


"Mama seneng banget kamu udah sadar, Van," ucap Mama Vanka dan Devan hanya tersenyum mendengarnya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2