Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Jebakan Untuk Rodrigo


__ADS_3

Keyna saat ini berada didalam kamar sendirian, "Sendirian lagi bosen aku, kalau di rumah pasti aku milih tidur sama Mama," gumam Keyna.


"Apa aku tidur di kamarnya Bi Nani aja ya," lanjutnya lalu keluar dari kamar dan menuju kamar para pelayan yang berada di belakang rumah mewah tersebut.


Sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Keyna pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu hingga beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka, "Nona Keyna, ada apa Nona? apa Nona butuh sesuatu?" tanya Bi Tisya.


"Ehm i-itu...," ucapan Keyna terhenti lantaran BI Nani datang.


"Loh, Nona Keyna ada apa?" tanya Bi Nani.


"Ehm, Bi. Keyna boleh gak malam ini tidur sama Bi Nani, Devan ada urusan dan Keyna gak berani tidur sendirian?" tanya Keyna.


"Boleh Non, yaudah ayo masuk Non, tapi maaf ya Non karena kamar Bibi tidak sebagus kamar Nona sama Tuan Devan," ucap Bi Nani.


"Gapapa Bi, Keyna malah suka kamar yang sederhana kayak gini," ucap Keyna.


Keyna mengikuti Bi Nani masuk ke dalam kamar, kamar yang tadinya cukup ramai tiba-tiba menjadi hening dan semua orang yang ada disana langsung melihat ke arah Keyna dan berdiri, "Maaf, Nona. Kami tidak tau kalau Nona Keyna ada disini," ucap Salma.


"Gapapa kok, kalian santai aja, anggap aku temen kalian juga," ucap keyna.


"Mana berani kita Nona," ucap Bi Tisya.


"Hem, kalai begitu kalian jangan terlalu sopan gini, yang ada aku nya malah gak nyaman lagi di sini. Aku cuma mau tidur disini aja soalnya aku gak berani tidur sendirian," ucap Keyna.


"Silahkan Nona, Nona bisa pilih mau tidur di tempat yang mana," ucap Bi Tisya.


"Aku tidur di tempat ini aja," ucap Keyna dengan duduk di salah satu kasur sederhana.


Devan sebenarnya sudah memberikan fasilitas yang megah untuk para pelayan, tempatnya di sebelah kanan mansion, tapi baru seminggu ditempati banyak para pelayan yang memilih kembali ke kamar belakang mansion dan Devan tidak melarang karena semuanya pilihan para pelayan, yang jelas Devan sudah memberikan kamar yang bagus untuk mereka.


Kamar megah tersebut sekarang digunakan untuk para bodyguard, tapi kadang para pelayan juga ada disana.


"Tapi, Nona kasur itu yang paling kecil disini, bagaimana kalau Nona Keyna tidur di kasur saya saja biar saya yang tidur disana," ucap Ganish.


"Gapapa Nish, aku pengen disini kok," ucap Keyna.


Keyna pun duduk di kasur tersebut, "Apa Nona butuh sesuatu?" tanya Bi Nani dan Keyna pun menggelengkan kepalanya.


"Yasudah kalau begitu Nona bisa tidur," ucap Bi Nani.


Keyna pun merebahkan tubuhnya di kasur sederhana tersebut, dimana kasur tersebut sangat berbeda dengan kamarnya yang sangat empuk.


Keyna merasa sedang pijat bahkan sofa di ruang tamu dan kamarnya lebih empuk daripada kasur ini, tapi entah kenapa Keyna sangat nyaman mungkin karena suasananya.


"Kalian tidur jam berapa biasanya?" tanya Keyna karena para pelayan masih duduk di kasurnya dan mengobrol satu sama lain.


"Maaf Nona, kami akan pelan kan suara kami agar Nona bisa tidur," ucap Bi Tisya.


"Keyna gapapa kok Bi, Keyna cuma tanya aja soalnya penasaran," ucap Keyna.

__ADS_1


"Kalau kita sih, tidak ada batasan Nona, nanti tiba-tiba ngantuk aja kalau ngobrolnya lama," ucap Bi Nani.


"Kalo gitu aku boleh gabung?" tanya Keyna.


"Nona, yakin mau gabung dengan obrolan kami yang tidak jelas?" tanya Bi Nani.


"Iya, aku bosen dan gak bisa tidur," ucap Keyna lalu diangguki oleh Bi Nani.


Hingga beberapa saat kemudian, Keyna pun mulai mengantuk dan akhirnya ia terlelap di kasurnya, "Nona Keyna sudah tidur, sekarang kita juga tidur jangan sampai suara kita bangunin Nona Keyna," ucap Bi Nani dan diangguki oleh semuanya lalu mereka pun mulai menuju alam mimpi masing-masing.


***


Devan saat ini sedang menuju sebuah club, hingga beberapa saat kemudian Devan sampai di club, "Bagaimana?" tanya Devan.


"Tuan Rodrigo sudah ada di dalam Tuan," ucap Dennis, mereka pun akhirnya masuk kedalam club tersebut.


Dennis sendiri merupakan pengawal pribadi Devan, semua hal yang berhubungan dengan kekerasan maka Dennis adalah andalannya.


Devan memilih tempat VIP supaya ia bisa leluasa melancarkan aksinya, "Dennis, lakukan," perintah Devan.


"Baik, Tuan," ucap Dennis lalu menuju tempat Rodrigo dan anak buahnya.


Dennis langsung menendang meja yang ada didepan mereka dan seketika musik pun berhenti dan menjadi suasana di dalam club menjadi hening.


"Hei! apa yang kau lakukan? apa kau sudah gila?" tanya Rodrigo.


"Oh, aku hanya kesal dan marah karena pacarku ada disebelah mu," ucap Dennis.


"Hah! lihat pacarmu saja tidak mau denganmu jadi untuk apa kau merebutnya dariku, ingat anak muda jaman sekarang seganteng apapun kau itu akan tetap kalah dengan uang," ucap Rodrigo.


"Kau sepertinya punya uang banyak ya, tapi kau tidak perlu khawatir aku akan mencari uang untuk merebut kekasihku," ucap Dennis.


"Aku sarankan kalau kau mau cari uang cari yang cepet aja seperti pinjam uang ke perusahaan atau gak nyuri," ucap Rodrigo.


"Dari gaya bicara anda yang sangat santai tadi, sepertinya anda pernah melakukan hal tersebut?" tanya Dennis.


"Oh, tentu. Aku pernah mencuri uang dari istriku sendiri dengan bodohnya dia memberikan uang itu dan kau tau uang itu ku gunakan untuk apa, ya untuk menyewa para gadis yang masih segel hahaha dan untuk pinjaman aku sarankan kau ke Tuan Devan, tapi ya gitu kau jangan macam-macam dengannya atau tidak kau yang akan kena akibatnya," ucap Rodrigo.


"Apa kau pernah menipu Tuan Devan?" tanya Dennis.


"Oh jangan ditanya lagi, aku pernah meminjam uang darinya dan dia setuju untuk menginvestasikan uangnya ke perusahaan ku sangat pintar bukan, uang yang aku pinjam langsung ku buat liburan dengan keluargaku dan sisanya ku buat untuk judi. Kau tau, banyak perusahaan yang ingin bekerjasama denganku, tapi aku tolak karena aku ingin perusahaan Tuan Devan yang menawarkan kerjasama dan membeli saham perusahaan ku, eh tiba-tiba Tuan Gabriel datang dan menjanjikan sebuah tawaran yang menarik akhirnya sahamku ku berikan pada Tuan Gabriel pintar bukan," ucap Rodrigo.


"Apa yang dijanjikan Tuan Gabriel mu itu?" tanya Dennis.


"Tubuh para wanita, tentunya yang masih virgin," ucap Rodrigo.


"Wah, keren juga," ucap Dennis.


"Sayang aku jadi takut, aku kembali denganmu saja," ucap Laura dan berlari ke arah Dennis.

__ADS_1


"J*lang, aku belum bersenang-senang denganmu, biarkan aku bersenang-senang dulu baru kau boleh kembali ke pacar bodoh mu ini," ucap Rodrigo.


"Tuan Rodrigo, saya dengar anda sudah memiliki anak apa itu benar? jika itu benar, jadi untuk apa anda bersenang-senang dengan pacar saya kalau anda sudah punya anak dan istri?" tanya Dennis.


"Kau ini bodoh atau bagaimana istriku sudah kendor, untuk apa aku memakai dia lebih baik aku cari yang lain saja dan untuk anak aku memang punya 3 anak, tapi aku hanya menganggap 2 masih hidup yang satunya entah kemana," ucap Rodrigo.


"Kenapa?" tanya Laura.


"Ya, karena dia itu anak diluar nikah artinya dia anak haram untuk apa aku anggap dia sebagai anak," ucap Rodrigo.


"Ayo sayang kita tinggalkan dia," ajak Dennis.


Dennis dan Laura pun menuju ruang VIP tempat dimana ada Devan dan anak buah lainnya.


"Bagus, akting kalian," ucap Garry.


"Benarkah, wah sepertinya aku cocok jadi aktris," ucap Laura.


"Bagaimana Mike?" tanya Devan.


"Nama Tuan Rodrigo sedang menjadi trending topik di media sosial Tuan," ucap Mike.


"Bagus, aku sangat suka tayangan live-nya hari ini dan akhirnya sekarang seluruh negeri tau bagaimana busuknya si tua bangka itu," ucap Devan.


"Bagaimana bisa Tuan Devan kepikiran untuk menayangkan secara live pengakuan dari Tuan Rodrigo bahkan Tuan Devan menayangkannya di seluruh stasiun televisi nasional dan swasta?" tanya Laura.


Ya, Devan telah merencanakan ini semua lebih tepatnya jebakan untuk Rodrigo karena sudah bermain-main dengannya, dimana Devan menyiapkan kamera di setiap sudut club dan saat Dennis mulai menjalankan aksinya maka kamera tersebut pun menyala dan anak buah Devan sebelumnya sudah menyambungkannya ke seluruh stasiun televisi sehingga saat Rodrigo mengatakan hal tersebut semua orang tau, terutama yang ada di pusat karena terdapat layar besar yang menayangkan video tersebut.


"Sangat sederhana, tua bangka itu orang yang sangat munafik kalau aku secara langsung bilang ke dia, dia pasti banyak alasan jadi biarkan saja seluruh negeri tau," ucap Devan.


"Kalau ingin buat orang yang sombong hancur cara sederhananya buat dia sendiri yang mengakui kesombongannya, maka setelah itu banyak yang tidak percaya dengannya." lanjut Devan.


"Lalu selanjutnya bagaimana Tuan?" tanya Mike.


"Selanjutnya, tunggu Gabriel bertindak dan setelah itu kita ambil alih perusahaan jelek itu, anggap saja kita sebagai penyelamat bagi karyawan lain," ucap Devan.


"Tapi, untuk apa Tuan Devan ingin mengambil alih perusahaan Tuan Rodrigo jika perusahaan tersebut akan hancur?" tanya Laura.


"Jika ingin musuh hancur kita harus hancurkan hal yang paling berharganya," ucap Devan.


Semua orang yang ada disana masih belum mengerti maksud dari Devan, tapi mereka tidak ingin bertanya kembali sebab takut jika Devan akan marah.


"Tuan, apa hari ini Tuan akan pulang?" tanya Mike.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2