
Sudah seminggu sejak pertanyaan dari Devan mengenai anak dan Keyna tidak pernah menjawabnya setelah pertanyaan itu Keyna langsung menunduk dan Devan pun menyuruhnya untuk melupakannya.
Bagaimana Keyna bisa melupakan pembicaraan itu, menurut Keyna pembicaraan itu adalah pembicaraan yang sangat sensitif di setiap rumah tangga.
Meskipun Keyna dan Devan menikah secara tiba-tiba, tapi dalam lubuk hati Keyna juga menginginkan kehadiran seorang anak apalagi hubungan mereka sudah 3 bulan dan sampai saat ini Keyna belum pernah berhubungan intim dengan Devan layaknya suami istri pada umumnya.
Keyna hanya belum siap entah apa yang membuat hati Keyna belum siap memberikannya, namun jika Devan menginginkannya Keyna akan siap memberikannya.
Tapi, semua ini terlalu mendadak bagi Keyna dan Keyna bingung harus bagaimana.
Setelah pembicaraan seminggu lalu sikap Devan cukup berbeda, ia mulai acuh ke Keyna bahkan Devan selalu pulang malam, tentunya Keyna merasa bersalah sepertinya Devan sangat menginginkan seorang anak, tapi ia malah menolaknya seperti saat ini Keyna harus sendirian di kamar padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 dini hari, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kehadiran Devan.
"Huh, apa dia marah padaku?" tanya Keyna dengan raut wajah sedihnya.
Keyna pun mencoba untuk memejamkan matanya, tapi ia tidak bisa alhasil Keyna memutuskan untuk keluar dari kamar, saat Keyna menuruni tangga ia melihat Mike yang baru dan Dennis, Keyna pun segera berlari ke arah mereka, "Devan mana? kenapa dia belum pulang seharusnya Devan pulang dengan kalian?" tanya Keyna.
"Tuan, sudah pulang Nyonya," ucap Dennis.
"Kapan?" tanya Keyna.
"Sudah dari tadi Nyonya," ucap Mike.
"Dari tadi?" tanya Keyna.
"Iya, Nyonya. Tuan sudah pulang dari siang tadi," ucap Dennis.
"Terus, dia sekarang dimana?" tanya Keyna.
"Tuan sedang di taman belakang Nyonya," ucap Dennis.
"Yasudah, terima kasih," ucap Keyna lalu menuju taman belakang.
Sesampainya di taman belakang ia melihat Devan yang sedang berbicara di telepon entah dengan siapa, namun sepertinya serius.
Sedangkan Devan yang merasa ada seseorang di belakangnya pun langsung melihat Keyna yang menatapnya secara intens, lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Ada apa?" tanya Devan.
"Ehm, tidak ada apa-apa, kamu akhir-akhir ini sepertinya sibuk ya," ucap Keyna.
"Aku tidak perlu menjawab bukan, karena kamu pasti tau jawabannya, hari ini aku tidak pulang jadi jangan menungguku," ucap Devan lalu meninggalkan Keyna di taman belakang sendirian.
Keyna mencari keberadaan Devan mulai dari kamar bahkan ruang kerjanya, namun tetap tidak ada, "Nish, kau lihat Devan tidak?" tanya Keyna.
"Tuan Devan sudah pergi Nyonya," ucap Ganish.
"Em, kalau gitu aku ke kamar dulu ya," ucap Keyna lalu masuk ke kamarnya.
"Apa tindakanku salah karena menolaknya?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
*********
Disisi lain, Devan memang sengaja menghindar dari Keyna, ia masih marah karena Keyna menolaknya, ia berada di taman belakang untuk menenangkan pikirannya hingga deringan telepon mengusik aktifitasnya, "Ada apa, Wilson?" tanya Devan.
__ADS_1
"Tuan, tahanan nomor 54 mengeluhkan sakit di perutnya," ucap Wilson.
"Nomor tahanan 54, maksudmu j*lang satu mata itu?" tanya Devan.
"Iya, Tuan," ucap Wilson.
"Hubungi Dokter Chiko," ucap Devan.
"Baik Tuan," ucap Wilson.
Devan yang sedari tadi merasakan kehadiran seseorang pun melihat jika disana ada sang istri, tapi Devan sangat malas harus berhadapan dengan Keyna saat ini dan ia memutuskan untuk pergi ke markas.
"Mike, untuk urusan perusahaan pastikan perempuan munafik itu tidak akan mengganggu dan kita biarkan saja dia bahagia, aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan terakhirnya," ucap Devan.
"Baik Tuan," ucap Mike.
Sesampainya di markas, Devan melihat Wilson yang menghampirinya, "Bagaimana? apa Dokter Chiko sudah datang?" tanya Devan.
"Sudah Tuan, saat ini dokter Chiko sedang memeriksa tahanan nomor 54," ucap Wilson dan diangguki oleh Devan.
Setelah beberapa saat kemudian, Dokter Chiko pun menghampiri Devan "Bagaimana?" tanya Devan dengan mengangkat alis kanannya.
"Dia saat ini sangat lemah dan untung saja kandungannya baik-baik saja tidak ada masalah, dia harus istirahat dan tidak boleh kecapean apalagi sampe stress," ucap Dokter Chiko.
"Dia hamil?" tanya Devan secara to the point.
"Iya Tuan, dia hamil," jawab Dokter Chiko.
"Bagus terus berapa usia kehamilannya?" tanya Devan.
"Baik, kalau begitu saya permisi Tuan," pamit Dokter Chiko lalu pergi dari markas tersebut.
"Keren juga pilihanmu Mike karena dalam waktu secepat itu sudah jadi," ucap Devan lalu menghampiri tempat Aurel.
Ya, tahanan nomor 54 itu ialah Aurel, perempuan yang sudah mengenaskan bahkan ia hanya tinggal menjemput ajal saja dan ia hanya menatap sendu pada Devan.
"Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?" tanya Aurel lirih.
"Aku ini orang baik sebab itu aku membiarkanmu hidup, ah iya daging Nenekmu sangat lezat sampai kelompok Eater memakannya dengan lahap," ucap Devan tanpa dosa.
"Ma-maksudmu Nenek aku dimakan," ucap Aurel.
"Yap, tebakan yang sangat benar," ucap Devan.
"Dasar kanibal," ucap Aurel.
"Wah wah santai, bukan aku yang makan tapi orang lain ya bisa dibilang teman," ucap Devan.
"Kau itu harus jaga kesehatan bagaimanapun aku berbaik hati dengan membiarkanmu masih hidup sampai saat ini," lanjut Devan.
"Bunuh aku, aku sudah tidak ada gunanya hidup di dunia ini semuanya sudah hilang dari hidupku," ucap Aurel.
"Tapi, aku tidak ingin membunuhmu dan mungkin sebentar lagi kau akan punya teman di sel ini, tapi kau harus sabar untuk menunggu temanmu yang satu ini," ucap Devan lalu pergi meninggalkan Aurel dan menuju ruangan pribadinya yang ada di markas
__ADS_1
"Tuan, untuk penyelundupan senjata sudah diterima dan kita sudah mendapat bayarannya," ucap Mike.
"Bagus, oh iya Mike, kemarin Mr. Domani ingin kita menyelundupkan k*kain dengan bayaran yang sangat fantastis bukan, jadi urus itu dan kabari aku perkembangannya," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
Mereka membahas mengenai beberapa kerjasama hingga deringan telepon mengganggu mereka, "Ada apa?" tanya Devan.
"Sepertinya mansion akan diserang Tuan," ucap Dennis.
"Diserang? Apa maksudmu?" tanya Devan.
"Saya sedang di ruangan dan melihat ada sesuatu yang mendekat ke arah mansion Tuan," ucap Dennis.
"Aku akan segera kesana," ucap Devan.
"Mike, kita ke mansion sekarang!" perintah Devan dan diangguki Mike.
Devan pun langsung menuju mansion dan saat ia sudah sampai di mansion Devan dapat melihat beberapa orang tergeletak di lantai, Devan segera masuk dan melihat seseorang duduk di sofa ruang tamunya, "Halo Tuan Devan yang terhormat senang bisa bertemu dengan anda," ucap Dion.
"Ada apa?" tanya Devan dengan menaikkan alis kanannya.
"Tidak ada, aku hanya membawa itu sebagai hadiah untuk pernikahan sahabatku ini, aku sangat kecewa karena kau tidak mengundangku dan aku kesini ingin bertemu dengan istrimu, tapi anak buahmu melarang ku dan aku sedih akan hal itu," ucap Dion.
"Apa aku terlihat peduli," ucap Devan.
"Wah, aku sangat terluka dengan perkataanmu kawan," ucap Dion.
"Kita sudah sepakat bukan untuk tidak saling mengenal dan mengganggu, tapi aku rasa kau tidak bisa menepati kesepakatan itu," ucap Devan.
"Astaga! Tuan Devan Radya Erland, aku ini orang yang sangat anti melanggar kesepakatan yang telah di buat, aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu atas pernikahanmu dan memberikan hadiah kalau bisa juga bertemu dengan istrimu, aku dengar istrimu ini cantik," ucap Dion.
"Kau bisa pergi dari mansion ku sebelum aku mengusirmu dengan tidak sopan," ucap Devan.
"Baik-baik, aku akan pergi dan sepertinya kau butuh pertunjukan untuk hidupmu yang monoton ini Tuan Devan," ucap Dion.
"Maaf, Tuan Dion anda bisa pergi," ucap Mike.
"Kau beruntung memiliki anak buah yang sangat setia padamu, Mike aku pergi dulu kalau kau sudah bosan bekerja dengan Tuanmu kau bisa kabari aku," ucap Dion.
"Ah, tunggu pertunjukkannya kan belum selesai dan pertunjukan itu adalah hadiah dariku untukmu, semoga kau suka Tuan Devan Radya Erland," lanjutnya.
Devan menautkan kedua alisnya tak mengerti maksud Dion hingga teriakan seseorang yang berasal dari kamarnya mulai mengalihkan perhatiannya dan menyadarkan Devan dengan kata-kata Dion.
Teriakan itu ialah teriakan dari Keyna dan Devan yakin akan hal itu.
"Aaaa!" teriak Keyna dari dalam kamarnya.
"****!" umpat Devan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.