Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Bercanda


__ADS_3

Sudah 3 hari Devan tidak pulang dan tentu saja itu membuat Keyna semakin khawatir dan takut, ia memikirkan hal-hal yang tidak penting.


"Apa aku akan diceraikan Devan setelah dia pulang? mungkin dia sekarang sudah punya perempuan lain, apa aku harus mengemasi barang-barangku?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.


"Nyonya, Tuan sudah datang," ucap Bi Nani.


"Ah, iya, Bi," ucap Keyna dan Keyna pun berdiri dan menuju halaman rumah untuk menyambut Devan.


Keyna melihat Devan yang keluar dari mobil dengan sangat gagah dan lagi-lagi pikiran Keyna mulai berkelana, 'Aku gak mau jadi janda, aku baru aja nikah masa udah jadi janda sih, tapi kalau emang keputusan Devan kayak gitu ya aku gak bisa apa-apa,' ucap Keyna dalam hati.


"Ada apa?" tanya Devan yang melihat Keyna melamun di hadapannya.


"Hah! gak ada apa-apa kok, kamu mau makan atau mandi dulu?" tanya Keyna.


"Mandi dulu," ucap Devan.


"Yasudah, kalau gitu aku siapin dulu airnya," ucap Keyna lalu pergi meninggalkan Devan.


"Ada apa dengannya? apa selama aku pergi ada sesuatu yang dia sembunyikan atau ada yang dia lakukan secara diam-diam dibelakang ku?" tanya Devan kepada Bi Nani.


"Tidak ada Tuan, tapi memang selama anda tidak pulang ke rumah, Nyonya beberapa kali menangis di kamarnya," ucap Bi Nani dan diangguki Devan.


Devan pun segera beranjak menuju kamarnya. Sedangkan, Keyna sendiri yang sedang menyiapkan air untuk mandi Devan terkejut saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Kenapa hem?" tanya Devan.


Keyna semakin gugup, meskipun ini bukan pertama kalinya ia dan Devan sedekat ini, tapi tetap saja dalam jarak sedekat ini Keyna merasa gugup.


"Ke-kenapa apanya? aku gak kenapa-napa kok," tanya Keyna yang terlihat jelas jika ia saat ini gugup.


"Mau buat Devan junior gak?" tanya Devan dan tanpa Devan sadari pertanyaan Devan mampu membuat wajah Keyna merah merona.


"Udah jangan dipikirin aku hanya bercanda kok," ucap devan lalu membuka pakaiannya dan hal itu sontak membuat Keyna terkejut dan malu sekaligus, Keyna sendiri langsung keluar dari kamar mandi.


'Tadi dia bilang bercanda, kayaknya memang benar aku ini hanya istri di atas kertas dan dia pasti sudah punya perempuan lain yang bisa membuatnya puas di atas ranjang dan perempuan itu pasti bukan aku,' ucap Keyna dalam hati.


Keyna segera menghapus air matanya yang tidak bisa ia tahan lagi untuk tidak menetes, ia tidak ingin terlihat lemah didepan siapapun apalagi jika didepan Devan.


"Bi, makanannya udah siap?" tanya Keyna yang saat ini berada di dapur setelah menyiapkan semua keperluan Devan.


"Iya, Nyonya. Semuanya sudah siap," ucap Bi Nani.


"Apa Nyonya sakit? kenapa Nyonya terlihat pucat sekali?" tanya Ganish yang baru saja datang.


"Gapapa kok, mungkin cuma kecapean aja, setelah semuanya selesai nanti, aku istirahat kok," ucap Keyna.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Devan pun datang dengan wajah lebih segar dan tetap mempesona, Devan dan Keyna makan tanpa ada yang berbicara satupun, ini adalah peraturan yang Devan buat jika sedang makan tidak boleh ada pembicaraan.


Selesai menyantap makanannya Devan langsung pergi ke ruang kerjanya tanpa berbicara terlebih dahulu dengan Keyna, Keyna yang melihatnya merasa sakit hati padahal ia ingin membicarakan semua ini ke Devan, Keyna hanya menatap sendu punggung tegap sang suami.


"Bi, Keyna ke kamar dulu ya," pamit Keyna.


Keyna pun memilih pergi ke kamarnya biarkanlah hubungannya dan Devan untuk saat ini, "Mungkin saat ini pernikahanku sama Devan sudah berada di ujung tanduk, tinggal tunggu Devan menceraikan ku dan mungkin ini hukuman untukku karena dulu aku sering membatalkan kencan buta yang diatur Mamaku, kalau seandainya dulu aku mau sama salah satu dari teman kencan buta yang diatur sama Mama pasti aku gak akan kenal Devan bahkan aku juga gak akan nikah sama Devan dan jadi seperti ini," gumma Keyna dan tanpa ia sadari air matanya mengalir.


Keyna pun perlahan mulai terlelap dan beberapa saat kemudian Devan masuk kedalam kamarnya, ia melihat Keyna yang tertidur pun tersenyum, tapi senyuman tersebut tidak bertahan lama karena Devan melihat mata sembab Keyna, "Apa yang terjadi? kenapa kamu menangis?" tanya Devan pada Keyna yang sedang tertidur.


Keyna sama sekali tidak terganggu padahal wajah Devan cukup dekat dengannya, jika Keyna saat ini membuka matanya, Devan pastikan Keyna akan gugup seperti tadi saat berada di kamar mandi.


Setelah mengecek Keyna, Devan pun keluar dari kamarnya, "Dennis kita lihat senjata api baruku," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap Dennis.


Devan pun sampai di ruang bawah tanah, "Wow! tidak salah aku memesan senjata api terbaik ini," ucap Devan dengan mengangkat senjata api baru miliknya.


"Biarkan senjata ini disini, aku akan menggunakan untuk keperluanku lalu untuk markas, pesankan yang lain saja," ucap Devan dan diangguki Dennis.


"Oh iya, bagaimana dengan obat penenangnya?" tanya Devan.


"Maaf, Tuan. Untuk obat penenangnya masih dalam pencarian karena sedikit sulit untuk mencari obat penenang yang dalam dosis besar, tapi tidak membuat orang meninggal," ucap Dennis.


"Baiklah, aku paham, memang agak sulit jadi aku beri waktu untukmu," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap Dennis.


Dennis hanya mengikuti apa yang diperintah Devan, ia tidak ingin membantahnya meskipun sebenarnya Dennis juga penasaran apa yang direncanakan oleh Tuannya itu, tapi ia masih sayang dengan nyawanya.


"Mike, bagaimana keadaan markas apa disana tidak ada masalah?" tanya Devan.


"Tidak ada Tuan, semuanya aman," ucap Mike.


"Lalu bagaimana dengan wanita hamil itu?" tanya Devan.


"Dia hanya sering muntah dan merasa seluruh badannya pegal, dia juga sepertinya mulai merasakan ngidam Tuan," ucap Mike.


"Turuti saja semua keinginannya, biarkan dia merasakan bagaimana hamil, setelah itu kita tindak lanjuti dia, lalu bagaimana dengan ayah dari anak itu?" tanya Devan.


"Sampai saat ini kita belum tau siapa ayah dari anak itu, kita akan mengetahuinya setelah anak itu lahir," ucap Mike.


"Apa tidak bisa saat wanita itu hamil?" tanya Devan.


"Sebenarnya bisa Tuan, tapi mengingat kondisinya nanti akan menimbulkan beberapa komplikasi, sebab itu dokter menyarankan untuk memeriksanya setelah anak itu lahir," ucap Mike.

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan perempuan itu atau anaknya," ucap Devan.


"Satu lagi bagaimana dengan rekan kerja istriku?" tanya Devan lagi.


"Mereka masih sering menghina Nyonya, Tuan, saya juga mendapat kabar jika mereka tidak akan memasukkan Nyonya kedalam list kerjasama kita," ucap Mike.


"Mereka mau main-main denganku, bukannya aku sudah bilang untuk menambahkan beberapa model dan aku juga sudah memasukkan Keyna kedalam list, bagaimana bisa mereka seenak menggantinya?" tanya Devan.


"Sepertinya mereka melakukan kecurangan Tuan, mereka memanipulasi data dari seorang model dan merubahnya menjadi Nyonya," ucap Mike.


"Wanita tua itu memang ingin hancur, aku baik hati membiarkannya hidup, tapi dia sendiri yang memilih untuk mengakhiri hidupnya," ucap Devan.


"Setelah kerjasama ini selesai, segera bawa wanita tua itu ke markas!" perintah Devan.


"Baik, Tuan," ucap Mike.


Devan merasa ponselnya berdering dan Devan pun segera mengangkat sambungan telepon tersebut yang ternyata dari Mama Vanka, "Halo kenapa, Ma?" tanya Devan.


"Kamu udah pulang belum?" tanya Mama Vanka.


"Udah, Ma, ini Devan lagi di rumah, kenapa memangnya, Ma?" tanya Devan.


"Ya, gak kenapa-napa, Mama kan cuma pengen tau takutnya nanti menantu Mama sendirian lagi. Dev, menurut Mama sepertinya ada yang disembunyikan dari menantu Mama deh, Mama lihat dia semakin hari semakin gak bersemangat gitu terus nih ya Mama juga sering lihat Keyna nangis kalau malam hari, kamu lagi gak ada masalah sama Keyna kan?" tanya Mama Vanka.


"Gak ada Ma, Devan gak ada masalah apapun sama, Keyna," ucap Devan.


"Pokoknya Mama udah sayang banget sama Keyna, Mama juga udah menganggap Keyna kayak anak Mama sendiri, kalau kamu ada masalah sama menantu Mama, kamu harus cepat selesain masalahnya, Mama gak mau sampai nanti kamu sama Keyna pisah apalagi kalau Keyna tau rahasia kamu," ucap Mama Vanka.


"Iya, Ma. Devan usahain buat gak pisah sama Keyna," ucap Devan.


"Bagus, kalau sampai kamu buat Mama kecewa lihat aja ya," ancam Mama Vanka lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Mike, besok kita ke First entertainment kita selesaikan masalah ini, mereka ingin main-main denganku rupanya, akan aku layani permainan mereka," ucap Devan dan diangguki Mike.


"Sekalian kita ke markas sore harinya, aku ingin sekali membunuh salah satu dari tahananku," lanjut Devan.


"Baik, Tuan," ucap Mike.


Membunuh seolah hal yang wajar dan biasa bagi Devan, bahkan saat ia mengucapkan kata itu tidak ada rasa bersalah sama sekali bahkan dengan entengnya Devan mengarah senjata ke arah tahanan yang ada di markasnya.


Banyak orang yang berusaha untuk membunuh Devan, tapi akhirnya mereka yang berakhir mengenaskan, Devan adalah iblis bagi kaum yang tidak mau mengikuti perintahnya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2