Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Kau Yakin?


__ADS_3

Devan juga bingung bagaimana bisa Dion ada disini terus dimana para pelayan dan penjaga, ya, pria itu adalah Dion mantan anak buahnya yang saat ini menjadi musuhnya.


Devan merasa ada yang tidak beres, Devan segera menekan tombol yang ada di jam tangannya yang merupakan tanda agar Mike dan Dennis segera menuju tempat Devan saat ini.


Devan memanggil Mike dan Dennis untuk membawa Keyna ke tempat yang aman, Devan tidak ingin Albert melukai Keyna sedikitpun.


"Kenapa? apa kau menunggu anak buahmu itu? hahaha...mereka tidak akan bisa kesini karena mereka memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada disini, kau tahu kenapa?" tanya Dion.


Devan sendiri tidak menjawab pertanyaan Dion dan hanya menatap tajam ke arah Dion.


"Karena semuanya saat ini sedang pergi dengan perintahku, ups maksudku perintah palsu mu," ucap Dion.


"Perintah palsu apa maksudmu?" tanya Devan.


"Nanti kau juga akan tahu, aku disini sebenarnya hanya ingin menyapamu dan juga istrimu, aku ingin sekali melihat istrimu yang cantik ini. Apa kau sudah bercinta dengannya di ranjang, kalau belum bisalah kita berbagi, nanti aku akan memberikan istriku juga, menurutku istrimu ini sangat menggoda dibandingkan dengan istriku," ucap Dion.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan, bukankah kau sudah aku peringatkan untuk tidak melakukan hal-hal diluar batas?" tanya Devan.


"Memang, tapi aku masih kesal karena ancaman ku waktu itu gagal, padahal aku sudah punya rencana yang begitu luas biasa dan aku yakin berhasil, tapi ternyata semuanya gagal, dan kali ini akan aku pastikan kalau rencanaku ini akan berhasil," ucap Dion.


"Kau memang seorang pemimpi, kau pantas dinobatkan sebagai manusia dengan mimpi yang sangat tinggi," ucap Devan.


"Kau tahu, Dev. Banyak orang yang mengatakan jika mimpi itu harus dikejar agar menjadi kenyataan dan sekarang aku mengejarnya agar mimpiku ini menjadi kenyataan," ucap Dion.


Keyna hanya mendengarkan apa yang Devan dan pria asing itu katakan, Keyna masih setia memeluk tubuh Devan, Devan pun begitu, ia masih setia memeluk erat tubuh Keyna.


"Aku peringatkan sekali lagi, lebih baik kau pergi sebelum aku benar-benar murka," ucap Devan.


"Wah santai, Dev. Padahal aku hanya ingin menyapamu dan istrimu," ucap Dion.


"Oh, hai Keyna, namanya Keyna kan Dev," sapa Dion dengan senyum mesumnya.


"Sepertinya pelukan dari istrimu sangat nyaman apa kau mau berbagi denganku, Dev?" tanya Dion dan semakin mendekat ke arah Devan dan juga Keyna, Devan semakin mengeratkan pelukannya.


"Tuan," panggil Mike yang membuat Dion berhenti dan melihat ke arah Mike dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kau kemana saja?" tanya Devan.


"Maaf, Tuan. Sepertinya tadi saya dan beberapa pelayan dijebak sehingga tidak berada disini," ucap Mike.


"Seharusnya kau itu tidak pulang, Dev. Kau mau tau rencanaku, jadi begini rencanaku itu membiarkan istrimu di rumah sendirian dan aku akan menyapanya, hanya aku dan istrimu mungkin kita bisa saling menyapa dikamar begitu. Itu rencana awalku, tapi aku tidak tahu jika kau sudah pulang dan alhasil begini sekarang, padahal dari kemarin aku sudah membayangkan bagaimana hebatnya istrimu ini kalau di ranjang," ucap Dion.


"Mike, bawa Keyna ke ruang putih dan jaga dia jangan sampai Keyna terluka sedikitpun kalau sampai Keyna terluka maka kau yang akan menerima akibatnya!" perintah Devan dan diangguki Mike.


Mike pun mengambil alih Keyna, tapi Keyna masih belum melepaskan pelukannya dari Devan, "Key, sekali aja turutin kataku ya, kamu ikut dengan Mike, kamu akan aman dengan Mike jadi kamu tidak perlu khawatir, Mike tidak akan melakukan hal gila terhadapmu kalau memang Mike melakukannya, ini kau bawa tombol ini, aku akan segera menemui mu jika Mike berani melakukan hal itu," ucap Devan dengan lembut dan mampu menghipnotis Keyna.


Akhirnya Keyna pun mau pergi bersama Mike, meskipun sebenarnya Keyna sangat berat meninggalkan Devan, ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada Devan.


Setelah Keyna tidak terlihat lagi barulah Devan mendekat ke arah Dion, "Kau tahu aku daritadi berbaik hati padamu karena ada istriku, tapi kali ini aku tidak akan berbaik hati pada siapapun termasuk dirimu," ucap Devan.


"Dev, sebenarnya masalah kita itu sepele, kalau kau ingin masalah kita selesai gampang, kau tinggal memberikan beberapa persen saham di perusahaanmu untukku, simple bukan, hanya itu tidak lebih," ucap Dion.


"Kau mau saranku?" tanya Devan.


"Apa?" tanya Dion.


"Kau itu harus bekerja di perusahaan terlebih dahulu terus bangun perusahaan sendiri dan kalahkan perusahaan ku dan juga All grup udah cuma itu tugasmu kau tidak perlu mengemis padaku untuk memberimu saham perusahaan ku, kalau kau ingin setara denganku kau bisa bangun perusahaanmu sendiri. Harusnya setelah kau berkhianat dariku kau itu jadi orang dengan pemikiran yang baik ternyata tidak, ingat Dion, meskipun hatimu busuk setidaknya otakmu masih berfungsi, tapi ini dua-duanya tidak berfungsi dengan baik dan sama-sama busuk," ucap Devan.


"Hehehe, kau lucu ternyata, kukira saat menjadi anak buahku kau pintar ternyata tidak, kau harusnya mencerna perkataanku bukan menyimpulkannya begitu saja, tunggu apa kau berkhianat karena kau ingin menjadi ketua dan meminta sama perusahaan ku?" tanya Devan.


"Kalau kau memang tidak ingin memberikannya tidak perlu bertele-tele, aku akan menghabisimu sekarang," ucap Dion.


"Kau yakin?" tanya Devan.


Devan pun mengeluarkan senjata api barunya dan mengarahkan pada anak buah Dion lalu menembakkan peluru ke arah mereka hingga mereka terjatuh dan mengeluarkan banyak darah, "Kau tahu ini senjata baru dan edisi terbatas, kau lihat bukan senjata ini dalam sekali tembakan membuat anak buahmu tidak berdaya, apa kau juga ingin merasakannya," ucap Devan.


"Apa kau ingin pamer kepadaku?" tanya Dion.


"Ya, mungkin bisa dibilang begitu, aku ingin pamer kepadamu, itulah yang harus kau lakukan setelah berkhianat dariku, pamerkan apa yang kau punya, tapi pamerkan yang aku tidak punya kalau bisa pamerkan yang belum pernah ada di dunia ini, bukan dengan mengemis padaku, aku dan keluargaku selama ini baik denganmu karena ayahmu itu dulu merupakan pelayan yang sangat setia di keluarga Erland, bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan keluarga Erland," ucap Devan.


"Itulah ayahku, bodoh, mau-maunya dia jadi budak keluarga Erland, aku tidak ingin seperti ayahku yang mati karena keluargamu, justru sebaliknya aku ingin keluargamu mati di tanganku," ucap Dion.

__ADS_1


"Akan sangat sulit itu, tapi sekarang semuanya bisa saja karena sekarang kita seimbang 1 lawan 1," ucap Devan.


Dion baru menyadari jika anak buahnya sudah tidak bernyawa disana, ia melihat ke belakangnya dan benar saja anak buahnya benar-benar mengeluarkan banyak darah dan mengenaskan, Dion sedikit takut karena ia tau Devan hanya menembak sekali anak buahnya, tapi mereka sudah menjadi seperti ini.


"Aku akan membalas mu ingat itu," ucap Dion dan beranjak dari mansion mewah Devan.


Namun, sebelum Dion pergi dari rumah mewah tersebut, Devan terlebih dahulu memukul kepala belakang Dion dan membuat Dion tidak sadarkan diri, lalu Dennis dan beberapa anak buah Devan pun datang.


"Bawa dia ke markas dan kalian urus mereka," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap mereka.


Devan pun menuju ruang putih untuk menghampiri Keyna dan Mike, ia masuk kedalam ruang putih tersebut.


Sedangkan, Keyna yang sedari tadi khawatir dengan keadaan Devan pun hanya bisa menunggu, ia sedikit terkejut terdapat ruangan serba putih di mansion ini, saat memikirkan ruangan ini tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan Devan.


Keyna segera berlari ke arah Devan dan memeluk erat Devan, "Kamu gapapa kan? apa kamu terluka? ada yang sakit gak?" tanya Keyna.


"Hem, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana apa ada yang terluka?" tanya Devan dan mendapat gelengan kepala dari Keyna.


Keyna dan Devan sudah berada didalam kamarnya, "Mereka tadi siapa kok mereka terlihat menakutkan gitu? dan juga mereka tadi mengatakan hal-hal yang tidak-tidak," tanya Keyna.


"Mereka bukan siapa-siapa, jadi jangan pikirkan mereka, ini sudah malam dan lebih baik sekarang kamu tidur," ucap Devan.


"Baiklah," jawab Keyna.


"Key," panggil Devan.


Keyna yang masih membuka matanya pun langsung menghadap ke arah Devan, "Iya," jawab Keyna.


"Apa kamu daritadi di rumah sendirian dan tidak ada para pelayan ataupun penjaga di rumah?" tanya Devan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2