
Kurang lebih sudah 2 Minggu kejadian Keyna dengan Dion dan untungnya Keyna perlahan mulai melupakan kejadian tersebut, karena kejadian itu pula Mama Vanka selalu memberikan petuah untuk Devan agar menjaga Keyna sampai-sampai Devan hafal jam berapa Mama Vanka akan menelpon dan memberikan petuah.
"Dev, aku nanti ke apartemennya Celine ya," izin Keyna.
"Hem," jawab Devan.
Setelah mendapat izin dari Devan, Lea Keyna pergi ke apartemen Celine setelah Devan berangkat kerja tentunya, sesampainya di apartemen Celine. Keyna terkejut karena melihat apartemen Celine yang berantakan.
"Astaga! Celine kamu apa-apaan sih, kenapa apartemen kamu berantakan gini mirip kapal pecah," omel Keyna.
"Keyna hiks hiks," Celine berlari kearah Keyna dan menangis di pelukan Keyna.
"Hei, kamu kenapa, Lin? kamu lagi ada masalah?" tanya Keyna yang mulai khawatir dengan keadaan Celine.
"Loh, Celine kenapa kok nangis sih? kamu apain Celine, Key? kok sampai nangis kayak gini?" tanya Kikan.
"Aku gak tau, aku baru aja dateng terus udah Celine nangis kayak gini," ucap Keyna.
"Lin, kamu kenapa? ada yang sakit? kalau emang iya mana yang sakit? kita langsung ke rumah sakit aja yuk, kamu kan ngeluh katanya perut kamu sakit," tanya Kikan.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Kikan, tangisan Celine justru semakin kencang dan membuat Keyna maupun Kikan bingung dengan sikap Celine, mereka takut terjadi sesuatu terhadap Celine.
"Lin, kita ke rumah sakit aja gimana daripada kamu kayak gini?" tanya Keyna.
"Gimana ini, aku takut banget," lirih Celine yang masih berada di pelukan Keyna.
"Takut kenapa?" tanya Keyna.
"Cerita, Lin. Kita berdua gak bakal tau apa yang terjadi kalau kamu gak cerita," ucap Kikan.
"Akuhamil," ucap Celine dengan menekankan nada suaranya, namun ia juga mempercepat perkataannya.
"Hah!" pekik Keyna dan Kikan.
Keyna dan Kikan sendiri bukannya tidak mendengar dengan jelas perkataan Celine, tapi mereka hanya ingin memastikan saja, mereka takut jika mereka berdua hanya saja mendengar.
"Kamu ngomong apa sih gak jelas gitu?" tanya Kikan.
Lagi-lagi tangisan Celine semakin menjadi-jadi bahkan pelukannya semakin erat dan membuat Keyna merasakan sesak.
"Jangan kenceng-kenceng, Lin. Aku gak bisa nafas tau," ucap Keyna dan akhirnya Celine pun melonggarkan pelukannya, tapi ia tidak melepaskannya.
"Sekarang kamu jelasin semuanya secara pelan-pelan ya," ucap Keyna dan membawa Celine menuju sofa yang ada di ruang tamu.
"Kamu kenapa?" tanya Kikan.
"A-aku hiks hiks." Belum sempat Celine menjelaskan semuanya, ia kembali menangis di pelukan Keyna.
"Yaelah nih bocah belum juga dijawab udah nangis aja," omel Kikan.
"Hush, biarin dulu Kan, mungkin Celine butuh waktu buat cerita," ucap Keyna.
Beberapa saat kemudian, Celine mulai tenang barulah Kikan dan Keyna mulai menanyakan masalah Celine dengan baik-baik, "Kamu udah tenang, kamu udah bisa cerita kalau belum juga gapapa?" tanya Keyna.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Keyna, Celine justru pergi dari ruang tamu dan menuju kamarnya, "Astaga Celine nih ya, malah kita ditinggal disini gak tau apa kalau daritadi jiwa-jiwa penasaranku udah memberontak," omel Kikan.
Keyna yang melihat Kikan mengomel hanya tersenyum karena sejujurnya Keyna juga penasaran apa hal yang membuat Celine jadi seperti ini.
Celine keluar drai kamarnya dan meletakkan sebuah benda di atas meja yang ada didepan Keyna dan Kikan, Kikan langsung mengambil benda tersebut dan terkejut dengan apa yang ia lihat begitupun dengan Keyna.
"Lin, jangan bilang ini gara-gara yang di negara X?" tanya Kikan dengan menutup mulutnya karena tidak percaya.
"Iya," jawab Celine yang kembali meneteskan air matanya.
"Udah kamu jangan nangis lagi ya, masih ada kita, kamu gak sendirian kok, udah kamu harus tenang jangan nangis lagi sama jangan mikir yang berat-berat inget kamu sekarang gak sendirian, kamu harus jaga kesehatan kamu sama dedek bayinya," ucap Keyna.
Ya, Celine hamil karena perbuatan yang dilakukan pria yang ada di negara X beberapa waktu yang lalu, benda yang Celine taruh di meja tadi adalah testpack yang menunjukkan jika dirinya hamil.
"Kamu udah periksa belum?" tanya Kikan.
"Belum," jawab Celine dengan menggelengkan kepalanya.
"Gimana kalau kita ke rumah sakit setelah ini soalnya aku gak ada kerjaan hari ini besok baru mulai kerja gimana?" tanya Keyna.
"Emangnya gapapa, Key? gue bisa kok sendirian nanti periksanya," tanya Celine.
"Gapapa, aku malah seneng bisa nemenin kamu," ucap Keyna.
"Yaudah yok," ucap Kikan.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk ke rumah sakit, "Aku kok takut banget ya," ucap Celine.
Akhirnya tiba saat Celine melakukan pemeriksaan, "Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan semuanya normal, kandungan pasien juga tidak ada masalah, karena kandungan kamu masih memasuki trimester pertama jadi ibu hamil harus jaga kesehatan karena trimester pertama kandung ibu jamil masih lemah jadi harus usahakan minum vitamin makan buah-buahan jangan terlalu capek," ucap Dokter.
"Kandungannya udah berapa Minggu, dok?" tanya Kikan.
"Kandungannya masih 2 Minggu jadi harus bener-bener dijaga loh," ucap Dokter dan diangguki Celine.
"Dok, udah bisa lihat jenis kelamin anaknya belum?" tanya Keyna.
"Ya, belum lah Key, kandungannya Celine aja masih 2 Minggu masa iya udah tau jenis kelaminnya ngajak bercanda nih anak," ucap Kikan.
"Kan aku nanya Kan, namanya juga gak tau gimana sih kamu ini masa gitu aja emosi," ucap Keyna.
"Tapi, pertanyaan kamu itu gak berbobot banget loh Key," omel Kikan, Keyna hanya mengerutkan bibirnya karena omelan dari Kikan.
Keyna, Kikan dan Celine saat ini sudah berada di apartemen Celine, "Lin, maaf ya aku tanya kayak gini, kamu gak mau cari Ayah dari anak yang lagi kamu kandung?" tanya Kikan.
"Aku bingung Kan, sebenarnya aku pengen nyari Ayah dari anak aku, tapi aku gak tau carinya dimana terus juga aku takut sama orangtuaku," ucap Celine yang membuat Keyna dan Kikan terkejut karena mereka melupakan keluarga Celine.
"Astaga, aku lupa sama orangtua kamu, terus gimana? kapan kamu mau ngasih tau ke orangtua kamu?" tanya Keyna.
"Yang pasti secepatnya karena perutku nantinya juga akan membesar dan gak mungkin aku ngasih tau mereka pas perutku udah besar kan," ucap Celine.
"Kamu kalau mau ngasih tau keluarga kamu jangan lupa kabarin kita ya nanti biar kita berdua temenin kamu," ucap Kikan.
"Iya, bener kata Kikan nanti biar kita berdua temenin kamu bilang ke orangtua kamu, tapi kalau saranku dalam Minggu ini kamu harus segera ngasih tau deh," ucap Keyna dan diangguki Celine.
__ADS_1
"Gimana kalau besok aja?" tanya Kikan.
"Iya boleh, lebih cepat lebih baik bukan," ucap Keyna.
"Tapi, nanti kalau kalian capek gimana waktu ke rumah orangtuaku, kan rumah orangtuaku jauh dari kota?" tanya Celine.
"Gapapa, sekali-kali biar kita pernah ke rumah kamu," ucap Kikan.
"Yaudah, kalau gitu sekarang kamu istirahat aja kan besok mau ke ruang orangtua kamu," ucap Keyna.
Setelah dari apartemen Celine, Keyna pun kembali ke mansion dan melihat mansion yang masih sepi dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Devan, "Semoga aja Devan ngizinin aku besok," gumam Keyna.
"Ngizinin apa?" tanya Devan yang berada di belakang Keyna.
"I-itu aku besok mau izin ke rumah orangtuanya Celine, boleh?" tanya Keyna dan diangguki Devan.
"Tapi, rumah orangtuanya Celine di desa dan butuh waktu 4 atau 5 jam kalau dari kota," ucap Keyna yang merasakan suasana menjadi mencekam karena tatapan tajam Devan kearahnya.
Benar saja setelah mendengar perkataan Keyna, Devan pun menatap tajam ke arah sang istri, "Kenapa jauh sekali?" tanya Devan.
"Ya, aku juga gak tau," ucap Keyna.
"Berangkatnya pakai apa?" tanya Devan.
"Rencananya pakai kereta," ucap Keyna.
"Huh, kalau begitu besok dengan pengawal," ucap Devan.
"Dev, aku disana sama Celine sama Kikan gak bakal terjadi apa-apa kalaupun terjadi apa-apa aku pasti langsung kabarin kamu," ucap Keyna.
"Tapi, nanti kejadian mobilmu dikepung lagi gimana?" tanya Devan dengan nada dinginnya dan membuat Keyna kembali mengingat kejadian itu.
Devan yang menyadari perubahan raut wajah Keyna pun membawa sang istri kedalam pelukannya.
"Oke, aku biarkan kamu berangkat dengan temanmu, tapi kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku terus dan jangan jauh-jauh dari ponselmu sama jangan lepas anting dan cincinmu," ucap Devan yang masih memeluk Keyna, tapi Devan merasakan pergerakan Keyna yang mengangguk.
Ya, Devan sudah membelikan anting dan cincin untuk Keyna dimana cincin dan anting tersebut terdapat alat pelacak serta perekam sehingga Devan tidak perlu bingung jika harus mencari keberadaan sang istri.
Lagipula anting yang dikenakan Keyna tidak dapat dilepas kecuali Devan yang melepaskannya.
"Makasih, ya," ucap Keyna.
"Hem," jawab Devan.
Meskipun jawaban Devan mengesalkan, tapi Keyna tetap senang karena Devan mengizinkannya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1