
"Kenapa hem kok gak mau tidur?" tanya Devan pada baby Arsen yang sejak tadi terus saja berceloteh.
Devan pun melihat sang istri yang ada di sampingnya baby Arsen dengan mengusap lembut kaki mungil anaknya.
"Sayang, kamu tidur duluan aja ya. Biar baby Arsen aku yang jaga," ucap Devan.
"Kau aja yang istirahat, kamu bagi pulang kerja," ucap Keyna dan keluar dari kamar tentunya setelah menyiapkan segala keperluan Devan.
Ya, memang sudah dua Minggu Keyna mendiamkannya, namun meskipun begitu Keyna tidak melupakan kewajibannya sebagai istri yaitu menyiapkan segala kebutuhan Devan.
Devan terlebih dahulu membersihkan tubuhnya dan setelah itu ia mencari keberadaan istrinya.
"Keyna dimana, Bi?" tanya Devan.
"Nyonya Keyna ada di taman, Tuan," ucap Bi Nani.
Devan pun menuju taman dan benar saja sang istri ada di sana dengan baby Arsen di gendongannya.
"Udah malam, kenapa di luar hem?" tanya Devan.
Keyna tidak menjawab pertanyaan Devan dan ia justru masih setiap menatap lekat baby Arsen.
"Udah malam, kita masuk ke dalam ya," ucap Devan.
Lagi-lagi Keyna tidak menjawabnya dan ia berlalu dari tempat tersebut meninggalkan Devan sendirian di sana.
'Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali seperti dulu dan memaafkan aku?' tanya Devan dalam hati.
Devan menyusul Keyna ke kamar, saat Devan masuk ke dalam kamar. Ia melihat Keyna yang sudah berbaring di kasur dan baby Arsen yang tidur di box bayi.
Devan pun menghampiri baby Arsen, "Selamat tidur jagoan Papa," gumam Devan.
Setelah itu, Devan pun menghampiri sang isteri dan berhadapan dengan Keyna, "Selamat tidur sayang, maafkan karena sudah membuatmu kecewa," gumam Devan dan mengecup kening Keyna.
Devan pun menuju ranjang dan berbaring menghadap Keyna lebih tepatnya menghadap punggung Keyna karena memang Keyna tidur dengan memunggunginya.
Sedangkan, Keyna yang belum tidur pun membuka matanya saat merasakan ranjangnya bergerak dimana Devan sudah berada di belakangnya.
Keyna menangis dalam diam karena ia tidak ingin Devan menganggapnya lemah dan juga berpikir jika ia sudah memaafkannya, Keyna ingin menunjukkan pada Devan, jika ia benar-benar kecewa dan marah.
Pagi harinya Devan bangun dan melihat Keyna sudah tidak ada di sampingnya bahkan baby Arsen pun tidak ada, Devan sudah tebak jika Keyna mengajak jalan-jalan baby Arsen karena memang itu adalah kebiasaan Keyna yang selalu mengajak jalan-jalan baby Arsen keliling kompleks perumahan.
Devan pun bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan tentunya semuanya sudah di siapkan Keyna.
Devan pun turun ke bawah dan melihat Keyna dan juga baby Arsen yang baru saja jalan-jalan, "Selamat pagi jagoan Papa," ucap Devan dan mengecup seluruh wajah baby Arsen.
Baby Arsen yang merasa kegelian pun langsung berceloteh tidak jelas dan juga menggeliatkan tubuhnya.
"Aku pergi dulu ya," pamit Devan pada Keyna dan hanya diangguki Keyna.
__ADS_1
Devan pun mengecup bibir Keyna meskipun tidak ada balasan dari Keyna, tapi Devan tetap melakukannya setiap ia akan pergi kerja. Namun, Devan tetap senang karena Keyna tidak menolak kecupannya.
Keyna saat ini tengah bermain dengan baby Arsen, "Sayang, semoga keputusan Mama ini adalah keputusan yang tepat ya. Mama harap keputusan Mama untuk pisah dari Papa kamu berjalan lancar dan bisa buat kita berdua bahagia," ucap Keyna.
Namun, setelah itu baby Arsen justru menangis dan tentu saja hal itu membuat Keyna terkejut pasalnya baby Arsen tiba-tiba saja menangis, Keyna pun langsung menggendong baby Arsen untuk menenangkan baby Arsen.
"Kenapa hem? baby tidak setuju ya dengan keputusan Mama untuk pisah dari Papa?" tanya Keyna.
Lagi-lagi baby Arsen menangis histeris dan meronta-ronta dari gendongan Keyna, "Sayang, kenapa hem?" tanya Keyna dengan lembut.
Baby Arsen terus saja meronta-ronta dari gendongan Keyna hingga Bi Nani pun datang, "Ada apa, Nyonya? tangisan Tuan muda terdengar sampai kamar belakang," tanya Bi Nani.
"Ini, Bi. Arsen tiba-tiba aja nangis dan gak mau saya gendong," ucap Keyna yang masih menenangkan baby Arsen.
"Maaf Nyonya, biar saya coba," ucap Bi Nani dan Keyna pun memberikan baby Arsen pada Bi Nani.
Secara ajaib, baby Arsen pun terdiam saat berada di gendongan Bi Nani dan hal itu membuat Keyna merasa sakit hati melihatnya padahal baby Arsen anaknya, tapi baby Arsen justru berhenti menangis saat dengan Bu Nani.
"Mungkin Tuan muda ngantuk Nyonya karena itu Tuan muda rewel," ucap Bi Nani.
"O-oh iya mungkin, kalau gitu kita ke kamar aja, Bi," ucap Keyna dan diangguki Bi Nani.
Keyna menatap lekat wajah tampan baby Arsen yang sudah terlelap di ranjang, "Kamu kenapa sayang? kamu gak mau Mama pisah sama Papa, tapi kenapa sayang?" tanya Keyna.
"Sayang," panggil Devan.
"Ada apa?" tanya Keyna.
"Itu tadi, sekarang udah gak pengen," ucap Keyna dan kembali menatap baby Arsen.
"Harusnya kalau kamu pengen langsung bilang ke aku," ucap Devan.
Saat Devan menghampiri Keyna tiba-tiba saja Keyna memberikan sebuah kertas padanya, "Ini apa?" tanya Devan.
"Kamu bisa lihat sendiri," ucap Keyna dengan menatap Devan.
Ini adalah pertama kalinya Keyna menatap Devan setelah ia tahu identitas asli Devan yang merupakan seorang mafia.
Devan pun melihat isi tulisan kertas tersebut, Devan terkejut saat melihat apa isinya.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya Devan yang berharap apa yang ia baca tadi tidak benar.
"Ya, seperti yang tertulis kertas itu," ucap Keyna.
"Gak, aku gak akan biarkan kita berpisah," ucap Devan.
"Itu terserah kamu, tapi yang jelas aku ingin kita berpisah. Aku harap kamu tandatangani kertas tersebut agar aku bisa mengajukan gugatan perceraian di pengadilan secepatnya," ucap Keyna.
"Kamu bilang terserah aku kan, kalau begitu akh tidak akan menandatangani kertas itu," ucap Devan dan menyobek kertas tersebut, Keyna berusaha untuk tetap tenang agar Devan mau menandatangani surat tersebut.
__ADS_1
"Kita harus bicarakan ini baik-baik," ucap Devan dan menarik Keyna pelan menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruang kerjanya, Devan menduduki Keyna di kursi kebesarannya dan ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan perut Keyna lalu Devan memeluk perut Keyna.
"Maaf, aku tahu aku salah. Tapi, tolong jangan tinggalkan aku, jangan minta pisah karena aku gak akan bisa," ucap Devan.
"Tapi, aku udah gak bisa lagi sama kamu," ucap Keyna.
"Apa karena aku seorang mafia iya? kalau memang karena itu, aku minta maaf karena aku tidak bisa meninggalkannya, aku punya tanggungjawab yang besar sebagai ketua di sana," ucap Devan.
"Ternyata kamu ketua, kalau begitu alasan untuk aku meminta pisah sudah benar, kalau memang kamu tidak mau maka aku lama langsung mengajukan gugatan atau mungkin aku bis mengajukan pembatalan pernikahan karena aku merasa ditipu oleh suamiku sendiri bukan," ucap Keyna.
"Tolong jangan lakukan itu, aku sayang sama kamu. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta, tapi tolong jangan tinggalkan aku," ucap Devan.
"Kalau begitu tinggalkan dunia mafia," ucap Keyna.
"Maaf, tapi aku gak bisa," ucap Devan.
"Itu artinya keputusannya adalah perpisahan," ucap Keyna.
"Kamu tega anak kita tidak memiliki Ayah?" tanya Devan.
"Aku ingin pisah, artinya antara aku sama kamu sudah tidak ada apa-apa lagi dan bukan antara kamu dan Arsen. Arsen adalah anak kamu dan selamanya akan begitu, jadi dia masih bisa bertemu dan bermain dengan kamu hanya saja kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Kamu bisa mencari pasangan yang mau menerima kamu apa adanya bukan seperti aku yang tidak bisa menerima kamu karena kamu adalah ketua mafia," ucap Keyna.
"Kalau memang keputusan kamu ingin maka aku akan melakukannya," ucap Devan.
Devan tentu saja berat untuk menyetujui keputusan Keyna, tapi ia tidak bisa melarang Keyna jika memang Keyna ingin berpisah.
Entah apa yang terjadi pada Keyna, ia merasakan sakit pada hatinya saat Devan menyetujui keputusannya yang ingin berpisah.
'Ini adalah keputusan kamu, Key. Kamu harus senang dan untuk perasaan kamu pada Devan nanti akan hilang dengan sendirinya setelah kamu berpisah,' ucap Keyna dalam hati.
Mereka berdua pun kembali ke kamar setelah kesepakatan yang terjadi, "Kalau begitu, aku akan tidur di kamar tamu," ucap Keyna.
Baru saja Keyna akan keluar dari kamar setelah memastikan baby Arsen terlelap, Devan sudah menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Keyna.
"Untuk kali ini saja biarkan kita tidur satu ranjang," ucap Devan.
"Tapi, kesepakatan kita tadi," ucap Keyna.
"Iya, aku tahu itu. Hanya untuk kali ini saja sebelum kita resmi berpisah," ucap Devan.
Karena tidak tega akhirnya Keyna pun mengiyakan permintaan Devan, untuk malam ini mereka berdua tidur satu ranjang hanya tidur tanpa melakukan apapun.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.