Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Menyerang


__ADS_3

"Bukannya tadi kau menggodaku kenapa sekarang kau memohon padaku?" tanya Devan.


"Tuan, maafkan atas kelancangan saya tadi," ucap Selena.


"Baru sekarang kau minta maaf, tapi sayang aku bukan orang pemaaf, jadi simpan saja kata maafmu itu," ucap Devan lalu pergi, namun langkahnya terhenti lantaran Selena menahan kakinya.


"Tuan, maafkan saya. Saya tau, saya salah tolong jangan sakiti Ibu dan Adik saya, saya tidak memiliki siapapun kecuali mereka Tuan, hiks hiks hiks" ucap Dara dengan tangisan yang tidak bisa ia tahan lagi.


"Terus apa peduliku?" tanya Devan dan menghempaskan tangan Selena yang masih menahan kakinya.


"Tuan, saya mohon," ucap Selena.


"Kau tau bukan siapa itu Devano Radya Erland?" tanya Devan dan diangguki Selena.


"Hahahaha dan kau masih menggodaku tadi, seharusnya kau pilih-pilih sebelum memutuskan untuk menggoda orang," ucap Devan


"Mike bawa dia bertemu dengan keluarganya," ucap Devan.


"Baik Tuan, silahkan Nona," ucap Mike.


"Terima kasih Tuan," ucap Selena dan mengikuti langkah Mike.


Setelah itu Selena pun masuk ke sebuah gudang yang disana sudah ada Ibu dan Adiknya, "Ibu Ryan," panggil Selena lalu menghampiri mereka berdua dan memeluknya.


"Selena kamu kok bisa disini?" tanya Ibu Selena.


"Selena dari tadi nyariin kalian berdua kalau begitu ayo kita pulang," ajak Selena.


"Maaf Nona, anda tidak bisa pergi," ucap Mike.


"Maksudmu apa? aku sudah tidak ada urusan dengan Tuan Devan, jadi sekarang aku bisa pergi," ucap Selena lalu membawa Ibu dan Adiknya pergi, namun gagal karena pintu tersebut terkunci.


"Kenapa pintu dikunci cepat buka," ucap Selena.


"Hei! apa kau tidak dengar perintahku?" tanya Selena kepada Mike.


"Siapa yang berani memerintah anak buahku?" tanya Devan yang baru saja masuk kedalam gudang tersebut.


"Tuan Devan, tadi saya hanya menyuruh dia untuk membukanya karena saya sudah tidak ada urusan dengan Tuan Devan, jadi saya akan pulang bersama Ibu dan Adik saya," ucap Selena.


"Siapa yang bilang tidak ada urusan?" tanya Devan.


"Maksud Tuan Devan apa bukannya tadi tuan Devan membiarkan saya bertemu Ibu dan Adik saya?" tanya Selena.


"Ya, aku memang membiarkanmu bertemu dengan keluargamu kan," ucap Devan.


"Iya Tuan," ucap Selena.


"Terus apa aku bilang setelah bertemu keluargamu kau boleh pergi tidak kan," ucap Devan.


"Lalu Tuan, saya dan keluarga saya bagaimana?" tanya Selena.


"Kau tidak perlu khawatir aku ada tempat terbaik buat kalian," ucap Devan lalu meminta senjata ke salah satu anak buahnya.


"Tuan kenapa tuan Devan memegang pistol?" tanya Selena yang mulai ketakutan.


Bukannya menjawab Devan justru mengarahkan pistol tersebut ke Selena, "Ini adalah hukuman untuk orang yang berani menyentuhku," ucap Devan.


"Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya salah, tolong jangan bunuh saya hiks hiks hiks," ucap Selena.

__ADS_1


"Tuan maafkan anak saya dia bersalah, tapi tolong jangan bunuh dia," ucap Ibu Selena.


"Lalu kalau saya tidak membunuh dia berarti sebagai gantinya kalian yang saya bunuh," ucap Devan.


"Tidak Tuan, bunuh saja saya. Jangan sakiti Ibu dan Adik saya," ucap Selena.


"Oh so sweet," ejek Devan.


Dor...


"Aaaaa!" teriak Ryan lalu ia pun tergeletak di lantai.


"Ryan," panggil Dara dan Ibu Dara.


"Gak seru kalau aku bunuh orang yang dari tadi banyak omong kan," ucap Devan.


"Tuan tolong jangan sakiti keluarga saya, Tuan tolong bawa Ryan ke dokter," ucap Selena.


"Untuk apa aku tembak dia kalau akhirnya aku bawa dia ke dokter," ucap Devan dan langsung melepaskan tembakannya.


Dor...


"Ibu!" panggil Selena yang melihat ibunya tergeletak dan menutup matanya.


"Ibu jangan tinggalin Selena, Ibu, Ryan bangun hiks hiks hiks," panggil Selena yang tidak dapat menahan tangisannya.


Selena pun melihat ke arah Devan, "Wow aku mendapat tatapan tajam dari seorang sampah," ucap Devan.


Selena yang sudah emosi pun langsung dan menghampiri Devan, namun Rudy salah satu anak buah Devan menghadangnya, "Jangan halangi dia mungkin sebentar lagi dia akan menyerangku," bisik Devan kepada Mike.


Steve pun mengisyaratkan kepada Rudy untuk menyingkir, setelah Rudy menyingkir Selena pun menghampiri Devan dan mengarahkan sebuah kayu ke lengan Devan yang membuat lengannya terluka, "Ini balasan untuk kau Devanj*ng" ucap Selena.


"Terima kasih sudah membuat luka ini, aku memang sejak tadi menunggu untuk luka ini," ucap Devan dan tersenyum.


"Dasar gila psychopath," ucap Selena


.


"Wow julukan yang bagus, aku suka julukan itu," ucap Devan.


Dor...


Devan pun melepaskan tembakannya bukan hanya sekali melainkan berkali-kali hingga darah mengalir deras dari tubuh Selena lebih tepatnya pada bagian kaki dan perut.


"Aku berharap kau akan hidup bahagia," ucap Selena dengan pelan, namun Devan dapat mendengarnya.


"Ini akibat jika kau mengganggu orang yang salah," ucap Devan.


"Tuan, saya akan bawakan baju ke ruang kerja Tuan," ucap Mike.


"Ah tidak perlu Mike, aku akan langsung ke kamar," ucap Devan.


"Tapi, bukankah nanti Nona akan tau Tuan," ucap Mike.


"Memang itu tujuanku, jangan lupa seperti biasa bereskan mereka dan aku rasa hari ini adalah harinya Leon," ucap Devan lalu pergi.


"Sepertinya hari ini Tuhan sedikit berbeda, tapi saya begitu senang melihat Tuan Devan yang akhir-akhir sering tersenyum," gumam Mike lalu melakukan perintah Devan.


Devan sendiri saat ini menuju kamarnya dan saat masuk kedalam ia masih melihat para pelayan yang berdiri untuk menjaga Keyna yang saat ini masih tertidur, "Kalian bisa pergi," ucap Devan.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap para pelayan lalu keluar.


Devan mulai mengobati lukanya meskipun Devan tidak merasakan sakit, tapi ia tetap berpura-pura sakit agar Keyna bangun dan benar saja belum selesai Devan mengobati dirinya sendiri, tiba-tiba Keyna sudah terbangun dan melihat ke arah Devan.


Keyna sendiri yang melihat tangan Devan terluka pun terkejut, "Tangan kamu kenapa?" tanya Keyna.


"Bukan apa-apa," ucap Devan dan menghempaskan tangan Keyna yang saat ini memegang tangannya.


"Udah deh gak usah ngeyel biar aku obatin," ucap Keyna lalu mengobati luka Devan.


"Gimana bisa sampe luka kayak gini sih? kamu habis berantem ya?" tanya Keyna.


Devan hanya salah tingkah dengan panggilan Keyna ke Devan yaitu *kamu* 'Apaan sih Dev biasanya dia juga manggil kayak gitu,' ucap Devan dalam hati.


"Udah kamu ganti baju aja dulu biar besok aku cuci bajunya," ucap Keyna dan Devan pun mengikuti kata Keyna.


Setelah mengobati Devan, Keyna pun kembali ke mimpinya dan Devan mengikutinya, namun tiba-tiba Devan merasakan sebuah tangan yang memeluknya dan ia pun membuka matanya, "Kenapa?" tanya Devan yang melihat Keyna menatap ke arahnya.


"Gak ada apa-apa, emangnya gak boleh ya kalau aku ngeliatin kamu?" tanya Keyna.


Bukannya menjawab Devan kembali menutup matanya dan melanjutkan tidurnya, sedangkan Keyna hanya tersenyum melihat tingkah laku Devan yang memang cuek meskipun begitu ia tidak mempermasalahkan hal itu, "Selamat malam," ucap Keyna lalu menutup matanya dan terlelap.


Pagi harinya, Keyna telah bersiap dan turun menyiapkan makanan untuk Devan "Nona," panggil salah satu pelayan yang bernama Bi Nani.


"Hari ini mau masak apa, Bi?" tanya Keyna.


"Kalau pagi, Tuan Devan jarang makan Nona. Biasanya Tuan hanya makan roti setelah itu berangkat kerja dan Tuan akan makan pada malam hari Nona," ucap Bi Nani.


"Benarkah terus kenapa pas di rumah Mama dia makan pagi?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.


Ya, mereka saat ini memang berada di rumah milik Devan bukan lagi di kediaman Erland. Mereka memilih untuk tinggal di rumah tersebut karena Devan memang lebih sering berada di rumah pribadinya daripada di rumah keluarganya sebab itu mereka sekarang berada di sini.


"Itu karena Nyonya besar menyuruh Tuan Devan untuk sarapan meskipun Tuan Devan terlihat cuek dan dingin, tapi tidak dengan keluarganya nyonya dan Tuan Devan juga termasuk anak yang sangat berbakti pada orangtua sebab itu Tuan Devan tidak pernah menolak apa yang diinginkan Nyonya Vanka," ucap Bi Nani dan diangguki Keyna.


"Masuk akal sih," gumam Keyna.


"Berarti ini kalian gak masak pagi?" tanya Keyna.


"Kami masak untuk Nona," ucap Bi Nani.


"Aku?" tanya Keyna dan diangguki Bi Nani.


"Kalau nyonya ingin sesuatu akan kami siapkan," ucap Bi Nani.


"Aku mau omlet boleh?" tanya Keyna.


"Tentu Nona, akan kami siapkan," ucap Bi Nani.


"Kalau begitu aku ke atas dulu, nanti sebelum aku kerja, aku akan makan omletnya," ucap Keyna lalu pergi.


"Beruntungnya Tuan Devan memiliki Nona Keyna," ucap Bi Nani diangguki para pelayan lainnya.


"Iya Nan, bener kata kamu kalau Tuan Devan beruntung banget,"ucap salah satu dari mereka yang bernama Tisya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2