
Setelah beberapa saat kemudian, Dion dibuat bingung karena tidak terjadi apa-apa, "Kenapa lampunya tidak mati?" tanya Dion ke anak buahnya.
"Saya juga tidak tau Tuan, akan saya pastikan terlebih dahulu," ucap anak buahnya.
Belum sempat anak buah Dion beranjak pergi tiba-tiba datang anak buah Devan dengan membawa beberapa orang yang sudah lemah dan berdarah.
"Apa mereka yang kau cari?" tanya Devan.
Dion yang awalnya fokus pada anak buahnya yang sudah terkapar pun langsung menoleh ke arah Devan dengan mata yang penuh emosi, "Wow, santai saja tidak perlu emosi seperti itu, kau ingin bermain curang bukan, maka kau memilih lawan yang salah. Kau bukan melawan seorang sampah, tapi kau melawan seorang Devan Radya Erland yang tidak pernah terkalahkan apalagi hanya dengan rencana curang mu itu," ucap Devan.
"Kau," ucap Dion dengan marah.
"Dulu kau panggil aku Tuan, sekarang kau berani memanggilku dengan panggilan 'kau', wah sangat mengharukan," ucap Devan.
"Lepaskan mereka!" perintah Dion pada anak buah Devan, namun perkataannya dihiraukan oleh anak buah Devan.
"Bahkan kedudukanmu tidak pantas untuk memerintah anak buahku, kau itu hanya pantas untuk memerintah anak buahmu yang kau pungut dari tempat kumuh," ucap Devan.
"Devan, jangan terlalu jujur kasihan dia dan anak buahnya," ucap Om Frans.
"Benar kata Frans jangan terlalu jujur," ucap Papa Alex.
"Kalian mau apakan mereka?" tanya Devan pada keluarganya.
"Lepaskan saja," ucap Papa Alex.
Semua yang ada disana pun melihat ke arah Papa Alex dengan tatapan tidak percaya, Papa Alex yang terkenal kekejamannya ya sebelah dua belas dengan Devan menyuruh Devan untuk melepaskan orang yang sudah mengganggu ketenangan keluarga mereka.
"Papa yakin?" tanya Devan.
"Iya, lepaskan saja, Papa sedang tidak ingin ada masalah dengan pengkhianat itu, tapi jika dia melakukan kekacauan lagi, Papa yang akan membuat dia dan anak buahnya membayar segala perbuatannya, Papa akan mencari kemana pun mereka berada dan menghukumnya atas tindakan yang dilakukan saudara bodohnya itu," ucap Papa Alex dengan tegas dan jika Papa Alex sudah mengatakan itu tidak ada yang bisa membantahnya.
Devan bisa saja menolak ucapan dari Papa Alex, tapi ia juga tidak ingin mengulur waktu dan akhirnya Devan pun sependapat dengan Papa Alex meskipun dengan berat hati, "Untuk kali ini kau dan anak buahmu lolos, tapi jika kau melakukannya lagi, aku tidak yakin kau dan anak buahmu itu akan selamat, lebih baik sekarang kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran yang membunuhmu hari ini," ucap Devan.
"Aku akan tetap membalas kalian semua ingat itu!" ancam Dion lalu pergi dari kediaman keluarga Erland.
"Dasar Sampah yang tidak berguna," ucap Om Danar.
"Makan juga sampah mana ada yang berguna," ucap Papa Alex.
Disisi lain, Dion yang berada di dalam mobil mulai uring-uringan karena rencananya untuk mengancam keluarga Erland gagal, ia tau jika hari ini keluarga Erland berkumpul sebab itu Dion melakukan rencana ini, tapi tidak disangka jika rencananya gagal karena Devan.
"Kalian b*doh! bagaimana bisa kalian ketahuan oleh mereka heh?" tanya Dion dengan emosi yang meluap-luap.
"Maaf, Tuan, tadi saat kami akan menyelinap ke ruang tamu, tiba-tiba ada yang menarik kami dan memukul kami hingga seperti ini," ucap salah satu anak buahnya.
"Ya, itu karena kalian yang ceroboh. Dasar tidak berguna, kalau kalian lebih hati-hati pasti aku sudah mendapatkan saham dari keluarga Erland!" teriak Dion.
"Maaf, Tuan," ucap mereka dengan menundukkan kepalanya.
"Aaaaaa!" teriak Dion.
__ADS_1
***
"Bagaimana kau tau kalau Dion dan anak buahnya akan berbuat sesuatu, Dev?" tanya Om Danar.
"Itu gampang Om dan itu tidak mungkin aku beritahukan disini karena ada seseorang yang bisa saja membocorkannya ke Dion," ucap Devan dengan melirik Aldy.
"Astaga, Kak. Aku itu emang temennya si Dion, tapi aku gak mungkinlah ngelakuin hal itu, aku ini orang yang setia dengan keluargaku, Kak," ucap Aldy.
"Dy, kamu cari temen yang lain aja deh, kamu makin gak bisa dipercaya setelah temenan sama mantan anak buahnya, Devan," ucap Om Danar.
"Pa, Aldy itu gak mungkin ya khianatin keluarga Aldy sendiri," ucap Aldy.
"Halah, gak percaya, Om," ucap Om Frans.
"Astaga, Aldy ke Mama aja pasti Mama percaya," ucap Aldy lalu masuk kedalam rumah.
"Kamu cari tau, siapa yang nyebarin info ini ke Dion, Van," ucap Om Danar.
"Om Danar tidak perlu khawatir serahkan semuanya ke, Devan," ucap Devan.
"Kamu udah tau siapa pelakunya?" tanya Papa Alex saat melihat Devan yang begitu santai.
"Hem," jawab Devan.
"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, Van, karena dia sudah berani mengusik acara keluarga Devan hari ini," ucap Papa Alex.
"Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tau," ucap Kak Jeffry.
"Yaudah kita masuk kedalam," ucap Papa Alex.
Mereka pun langsung masuk kedalam menyusul Aldy yang sudah terlebih dahulu masuk tadi.
***
Disisi lain, cukup lama Keyna dan yang lainnya menunggu hingga beberapa saat kemudian Aldy pun datang dengan raut wajah yang sulit di artikan, "Muka lo kenapa?" tanya Kak Ella.
"Aldy lagi kesel sama Papa, Kak," ucap Aldy.
"Kesel kenapa?" tanya Kak Rinta.
"Masa aldy dituduh berkhianat sih," ucap Aldy.
"Berkhianat? kok bisa?" tanya Kak Ella.
"Tadi itu ada Dion di depan, dia udah rencanain sesuatu terus dia juga kayak ngancem gitu ke Kak Devan, tapi rencananya gagal karena Kak Devan udah tau duluan, nah masa Papa malah nuduh aku yang ngasih tau ke Dion kalau ada kumpul keluarga hari ini," ucap Aldy.
"Kalau Kakak juga bakal kayak Papa, muka kamu itu muka yang gak bisa di percaya apalagi fakta kalau kamu berteman dengan Dion, lengkap sudah kecurigaan Kakak," ucap Kak Ella.
"Astaga, Kak, Aldy gak kayak gitu orangnya, Aldy tau informasi apa aja yang harus Aldy kasih ke Dion dan kalau Infomasi soal keluarga, ya gak mungkinlah Aldy bilang ke Dion" ucap Aldy.
"Disini gak ada yang percaya sama kamu jadi udah kamu jaga energi kamu dan gak usah membela diri kamu," ucap Kak Rinta.
__ADS_1
"Kakak, tau kan kalau sampai Kak Aldy bener berkhianat wah hilang sudah nyawa Kak Aldy," ucap Clara.
"Huh, Kak Keyna percaya kan?" tanya Aldy.
"Percaya apa?" tanya Keyna.
"Kalau aku bukan seorang pengkhianat," ucap Aldy.
"Kakak gak ngerti apa yang kamu bicarakan, maksudnya pengkhianat? pengkhianat apa?" tanya Keyna.
Seketika semua orang yang ada disana pun langsung sadar bahwa pembicaraan mereka didengar oleh Keyna, "Sayang, kamu tadi denger semua pembicaraannya ya?" tanya Mama Vanka.
"Iya, Ma, tapi Keyna gak ngerti," ucap Keyna.
"Udah gak usah kamu pikirin itu tadi cuma bercandaan aja," ucap Mama Vanka.
"Bercandaan apa?" tanya Papa Alex yang baru saja masuk dengan yang lainnya.
"Apa sih pengen tau aja," ucap Mama Vanka.
"Oh iya, gimana, Dra? kamu udah pasti belum buat nikah sama Vania?" tanya Om Frans.
"Udah Om, mungkin beberapa Minggu lagi Andra bakal ke rumahnya Vania," ucap Andra.
"Kalau begitu nanti kita satu keluarga aja yang kesana pasti kamu bakal diterima," ucap Om Frans.
"Ya pasti diterimalah masa enggak orang udah sebar benih juga," sindir Om Danar.
"Astaga, Papa ini sama anaknya suka banget nyindirnya, ya walaupun emang bener sih," ucap Tante Rany.
"Andra yang muda aja udah mau jadi Ayah lah kamu, Van, gimana udah beberapa bulan kok belum ada kabar gembira sih?" tanya Om Frans.
Keyna yang mendengarnya hanya tersenyum canggung, ia selalu saja tidak tau harus merespon bagaimana jika yang dipertanyakan mengenai keturunan.
"Doain aja, Om, lagian Devan sama Keyna juga masih ada kerjaan takutnya nanti kalau Keyna hamil dan gak bisa bagi waktunya malah jadi boomerang buat ketan sama Devan," ucap Devan.
"Kalau kamu dikasih kesempatan buat punya baby, kamu mau berapa, Van?" tanya Tante Lidya.
"Kalau Devan, terserah Keyna, dia mau hamil atau gak dan kalau memang dia pengen punya anak ya Devan serahkan semuanya ke Keyna, dia pengennya berapa karena itu tubuhnya jadi dia yang paham bagaimana kesiapan tubuhnya," ucap Devan.
"Wah, Kak Devan hebat untuk pertama kalinya Clara dengerin ucapan panjang Kak Devan biasanya cuma ham-hem-ham-hem," ucap Clara.
"Tante juga setuju sama kamu, Ra, akhirnya Devan bicara cukup panjang," ucap Mama Vanka dan Devan hanya menggelengkan reaksi keluarganya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1