
Saat ini, Keyna sedang menunggu Devan untuk menjemputnya, mereka bertiga sepakat untuk bertemu di pasar malam yang ada di dekat taman kota, cukup lama Keyna menunggu hingga suara seseorang mengejutkannya.
"Ngapain lo disini? mau nyari pelanggan ya lo?" tanya Nesty.
"Kok tumben kamu sendirian, Sisy sama Laras mana?" tanya Keyna.
"Kenapa kalau gue sendirian masalah buat lo?" tanya Nesty.
"Gak kok, kamu mau pulang ya?" tanya Keyna.
"Bukan urusan lo, o ngapain disini jangan bilang kalau lo emang mau cari pelanggan orang-orang kaya ya?" tanya Nesty.
"Hehehe, aku lagi nunggu dijemput," ucap Keyna.
"Bareng gue aja daripada lo nunggunya lama, gue lihat lo udah hampir satu jam disini," ucap Nesty yang pastinya membuat Keyna menatap bingung ke arah Nesty.
"Biasa aja tuh muka mau gue colok juga apa," ucap Nesty.
"Eh, engh. Kamu kok tumben nawarin aku, biasanya kan kamu males banget bahkan ogah ketemu aku?" tanya Keyna.
"Gue ini manusia, kadang harus pura-pura baik atau jahat didepan orang-orang, ck, lo bareng gue aja sih lama banget jawabnya?" tanya Nesty dengan kesal.
"Aku kan udah mau dijemput jadi aku gak bareng kamu deh, nanti kapan-kapan aku mau kok bareng sama kamu," ucap Keyna.
"Ck, daritadi kek jawabnya, buang-buang waktu gue aja lo itu dan satu lagi gue gak mungkin ngajak lo bareng lagi," ucap Nesty lalu pergi meninggalkan Keyna sendirian.
Beberapa saat kemudian, mobil Devan pun terlihat dan dengan cepat Keyna berlari kearah mobil Devan.
Baru saja Keyna ingin membuka pintu belakang tiba-tiba kaca depan terbuka dan menampilkan Devan yang sedang berada di kursi kemudi.
"Duduk didepan," ucap Devan dan diangguki Keyna.
Keyna pun duduk di sebelah Devan, selama perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali 'hening' itulah kata yang tepat saat ini diantara Keyna Devan.
Saat ini mereka berada di parkiran pasar malam, "Ngapain sih kita disini? kenapa tidak pilih tempat yang lebih bagus?" tanya Devan.
"Hem, ini kemauan Celine jadi gak mungkinkan aku nolak, dia kan lagi hamil, katanya ini keinginan baby nya," ucap Keyna.
Keyna pun masuk ke area pasar malam dan mencari keberadaan para sahabatnya hingga ia melihat Celine yang duduk bersama seorang pria di dekat penjual gulali, Keyna tidak bisa melihat dengan jelas karena Celine dan juga pria tersebut memunggungi Keyna.
"Celine," panggil Keyna.
Celine yang mendengarnya pun sontak membalikkan badannya dan melihat Keyna yang datang bersama Devan, "Keyna," panggil Celine lalu memeluk Keyna.
"Ck, padahal tadi mereka bertemu, tapi sekarang peluk-pelukkan kayak gak ketemu satu abad aja," cibir Devan.
"Dev," panggil seorang pria yang berada disebelah Celine.
Keyna pun melepaskan pelukan dari Celine karena mendengar suara pria tersebut yang memanggil nama Devan, Keyna pun segera melihat pria yang berada di sebelah Celine, "Dia Ayah dari anak kamu, Lin?" tanya Keyna.
"Iya, Key, kenalin ini Rangga, Rangga kenalin ini Keyna sahabat aku," ucap Celine.
__ADS_1
"Kayaknya aku pernah ketemu sama Ayahnya si baby deh," ucap Keyna.
"Kamu kenal sama Rangga?" tanya Celine.
"Hem, kamu kan temannya Devan," ucap Keyna.
"Iya, gue temennya Devan. Dev, gimana kabar lo? lo kangen gak sama gue? gue kangen banget loh sama lo, o gapapa kan selama gak ketemu gue?" tanya Rangga yang menghampiri Devan.
Sedangkan, Devan memutar bola matanya malas karena bertemu Rangga. Devan sebenarnya tahu saat Keyna mengajak triple date pasti teman laknatnya itu ikut.
"Gak usah lebay," ucap Devan.
"Tunggu kalian temenan, berarti kalian saling kenal dong?" tanya Celine dan diangguki Rangga.
"Aku juga yang minta bantuan ke Devan buat cari kamu terus dia akhirnya ngasih tau aku kalau ternyata kamu itu sahabatnya Keyna," ucap Rangga.
"Kikan, mana?" tanya Keyna.
"Gak tau tuh anak, tadi dia katanya udah sampe, tapi sampai sekarang belum kelihatan," ucap Celine.
"Halo semuanya, maaf ya telat, tadi aku ke toilet sebentar," ucap Kikan.
"Ayang beb lo mana kok gak ada?" tanya Celine.
"Dia lagi ngangkat telpon dulu, kayaknya ada hal penting deh," ucap Kikan.
Beberapa saat kemudian, seorang pria pun datang kearah Kikan, "Maaf, sayang, tadi sekretaris aku telpon," ucap pria tersebut.
"Tapi, semuanya udah selesai kan?" tanya Keyna.
"Devan, Rangga," panggil pria tersebut.
"William," panggil Rangga yang tak kalah terkejut melihat William.
"Kamu kenal sama mereka?" tanya Kikan.
"Iya, kita kan teman satu angkatan di kampus iya gak Ga, Dev," ucap William dengan percaya diri.
"Gue sih iyain aja, tapi gak tau nih kalau si pak bos" ucap Rangga.
"Lo masih aja musuhin gue, Dev. Yaelah sorry lah, lagian kan gue juga emosi waktu itu," ucap William.
"Lo sih keterlaluan padahal Devan gak salah apa-apa, tapi loo malah nyalahin Devan," ucap Rangga.
"Yaudah sih, itu kan masa lalu sekarang gue juga udah lupa. Dev, sorry ya waktu itu gue cuma emosi aja," ucap William.
Devan hanya diam mendengar perkataan William hingga secara tiba-tiba Devan memukul wajah William sampai William terjatuh dan bibirnya sobek.
Melihat hal tersebut Keyna, Kikan dan Celine benar-benar terkejut bahkan mereka sampai teriak dan membuat beberapa pengunjung memperhatikan mereka.
"Lagi Dev, gue gemes banget sama dia dari dulu," ucap Rangga.
__ADS_1
"Presdir Devan, apa yang anda lakukan? apa kekasih saya melakukan kesalahan sampai anda memukulnya hingga berdarah seperti ini?" tanya Kikan yang membantu William untuk berdiri.
"Tanyakan saja pada kekasihmu dia memang pantas mendapatkannya," ucap Rangga.
"Rangga!" peringat Celine.
"Hehehe," Rangga hanya tersenyum mendengar peringatan dari Celine.
"Devan gak salah memang aku pantas kok dipukul sama dia," ucap William.
.
Setelah kejadian yang menegangkan tadi, saat ini mereka semua berada di kursi panjang yang ada di tempat tersebut, awalnya mereka ingin langsung bermain, tapi melihat kondisi William yang menyedihkan akhirnya mereka memutuskan untuk mengobati luka William terlebih dahulu baru mereka akan bermain, lebih tepatnya para perempuan yang memutuskan karena para pria hanya menurut saja.
Setelah luka William diobati mereka pun memilih beberapa permainan yang akan mereka naiki, lagi-lagi para perempuan yang memutuskan dan yang paling heboh tentunya. Sedangkan, para pria yang berada di dibelakang hanya diam saja.
"Dev, gue bener-bener minta William, gue nyesel udah mukul lo waktu itu," ucap William.
"Hem," jawab Devan singkat, padat dan jelas.
"Lo kenapa ngelakuin itu ke Devan?" tanya Rangga.
"Otak gue diracuni sama Lita dan gue baru tahu kebenarannya setelah setelah gue gak sengaja denger obrolannya Lita sama pacarnya," ucap William.
# Flashback On #
Devan dan William dahulu memang saling kenal, mereka satu kelas saat kuliah. Selama mereka kenal tidak ada masalah hingga semester akhir William mulai berubah dan sering menatap tidak suka kearah Devan.
Devan yang memang dasarnya tidak pedulian pun tidak memikirkannya karena bagi Devan tidak penting hingga saat berada di kantin tiba-tiba William datang dan memukul Devan secara brutal bahkan meludahi muka Devan.
William juga mengucapkan sumpah serapah kepada Devan, entah apa yang ada dipikiran William saat itu, Devan pun membalas pukulan William hingga William tidak sadarkan diri.
Untunglah saat itu semester akhir dan Devan telah menyelesaikan semuanya hingga ia tidak perlu dikeluarkan, sampai saat wisuda, William terus saja menatap tajam kearah Devan dan beberapa saat setelah wisuda William meminta untuk bertemu dengan Devan di gudang, Devan pun datang ke gudang dan ternyata disana sudah ada William.
"Apa mau lo?" tanya Devan.
"Gue mau lo mati Devano Radya Erland, sialan lo, gue muak banget lihat muka br*ngs*k lo itu," maki William.
"Apa maksud lo, lo marah-marah, tapi lo gak bilang apa kesalahan gue, bodoh?" tanya Devan dengan menekan kata 'bodoh'.
"Mati aja lo, Dev," ucap William.
Setelah itu, masuklah beberapa orang berbadan tegap dan memukul Devan hingga Deva pun tidak sadarkan diri, saat itu Devan tidak tau jika dibelakang ada orang suruhan William.
# Flashback Off #
"Sekarang apa alasan lo ngehajar Devan kayak gitu? gue gak habis pikir sama tindakan bodoh lo itu, padahal dulu lo sama Devan gak ada masalah apapun juga?" tanya Rangga.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.