Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Bukan Tugasmu


__ADS_3

Devan tidak menjawab pertanyaan Keyna justru ia berdiri dan masuk kedalam kamar mandi "Aneh," gumam Keyna.


Keyna pun merebahkan dirinya di ranjang king size-nya, hari ini Keyna sangat lelah padahal ia hanya di rumah mengobrol dengan Celine dan Kikan.


Saat Keyna tengah bergelut dengan pikirannya tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Devan yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah dan bagian atas dibiarkan terbuka.


Meskipun ini bukan pertama kalinya Devan memperlihatkan dada bidangnya, tapi tetap saja hal itu membuat jantung Keyna berdetak lebih kencang bahkan saat Devan tidur ia pun tidak mengenakan atasan dan hanya bertelanjang dada.


Keyna pernah memperingatkan Devan untuk memakai baju jika tidur, tapi semuanya sia-sia. Sebab itu, Keyna sudah tidak lagi berbicara dengan Devan mengenai hal itu.


Setelah Devan selesai, ia pun merebahkan tubuhnya disamping Keyna yang berpura-pura menutup matanya, Keyna tidak bisa memunggungi Devan saat tidur karena Devan pernah marah pada Keyna yang memunggunginya saat tidur dan sejak kejadian itu, Keyna sudah tidak pernah lagi tidur dengan memunggungi Devan.


Keyna semakin tegang saat merasakan kulit Devan, ia pikir Devan akan segera tidur, tapi kenyataannya Devan justru memeluknya sehingga saat ini Keyna berada di pelukan hangat dari seorang Devan Radya Erland.


Kenyataan berusaha untuk mengontrol detak jantungnya dan setelah itu ia mencoba untuk membuka matanya dan saat ia membukanya, Keyna melihat dada bidang Devan yang tidak tertutup apapun.


Tanpa sadar Keyna juga membalas pelukan dari Devan dan semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


Devan sendiri hanya tersenyum samar saat melihat Keyna yang membalas pelukannya dan ia pun mengecup kening Keyna, "Good night my wife," bisik Devan tepat ditelinga Keyna dan mengecup beberapa kali kening Keyna.


Pagi harinya, Keyna membuka matanya dan tidak melihat Devan disebelahnya, "Dia kemana?" tanya Keyna lalu melihat jam yang ada di dinding.


"Masih jam 5, tapi Devan kok udah gak ada," gumam Keyna.


Tanpa pikir panjang Keyna lalu bangun dan menuju lantai satu dan betapa terkejutnya Keyna saat melihat barang-barang yang ada di ruang tamu hancur dan ada beberapa pelayan yang membersihkannya, "Loh, Bi, ini kenapa kok bisa rusak semua?" tanya Keyna.


"Ada orang yang tidak dikenal masuk kedalam rumah, Nyonya," ucap Bi Nani.


"Terus Devan kemana, Bi?" tanya Keyna.


"Tadi Tuan Devan keluar sebentar ada urusan, Nyonya," ucap Bi Nani dan diangguki Keyna.

__ADS_1


Keyna pun membantu membersihkan beberapa barang yang ada di sana, "Tidak perlu Nyonya, biar pelayan yang membersihkannya. Lebih baik Nyonya kembali ke kamar dan istirahat, nanti setelah semuanya selesai saya akan panggil Nyonya," ucap Bi Nani.


"gak, Bi. Biar aku juga bantu, lagian aku udah gak mau istirahat kok," ucap Keyna.


"Tapi, nanti Tuan Devan marah karena melihat Nyonya membantu membersihkan ruang tamu," ucap Bi Nani.


"Gapapa, Bi, biar itu aku urus. Tapi, nanti setelah aku bantu beres-beres ya," ucap Keyna dan Bi Nani pun menganggukkan kepalanya pasrah karena Keyna salah satu orang yang sedikit keras kepala seperti Devan.


Keyna pun membantu para pelayan untuk membersihkan hingga sebuah suara membuatnya menghentikan acara bersih-bersihnya, "Sedang apa kamu?" tanya Devan dengan nada dingin dan sangat berbeda dengan Devan yang Keyna kenal.


Keyna dibuat takut dan merinding bahkan mendengar suara Devan saja membuat Keyna seakan berada di jurang, "A-aku bantu bersihin ini," ucap Keyna dengan gugup takut jika Devan marah.


"Kalau begitu kalian semuanya mulai hari ini dipecat," ucap Devan dan membuat semua yang ada disana terkejut karena tiba-tiba Tuan mereka memecat mereka.


"Tuan, jangan pecat kami Tuan, kami tidak tau harus bekerja dimana jika kami dipecat Tuan," ucap Bi Nani.


"Saya tidak peduli, kalian segera kemasi barang-barang kalian dan jangan injakkan kaki kalian disini lagi karena mulai hari ini kalian sudah bukan lagi pelayan di rumah ini," ucap Devan.


"Kau tau kenapa aku memperkejakan mereka?" tanya Devan dengan menunjuk para pelayan lalu ia berjalan mendekat ke arah Keyna.


Keyna semakin terpojok dengan tatapan tajam dari Devan lantas Keyna menggelengkan kepalanya bahkan Keyna baru sadar jika Devan memanggilnya menggunakan 'kau' padahal sebelumnya Devan memanggilnya dengan sebutan 'kamu'.


"Aku mempekerjakan mereka untuk melayanimu karena aku menikahimu untuk menjadi istriku bukan menjadi pelayanku," ucap Devan.


Keyna semakin kuat memegang ujung bajunya karena aura yang Devan keluarkan sangat menakutkan, "Tapi, aku cuma membantu mereka," ucap Keyna.


"Tetap saja, itu bukan tugasmu jadi untuk apa aku mempekerjakan mereka kalau kau membantu mereka, lebih baik kau saja yang melakukan semua pekerjaan mereka, bukan," ucap Devan.


"Maaf, tapi jangan pecat mereka, aku gak akan lagi kayak gini," ucap Keyna.


Keyna tidak tega jika para pelayan harus di pecat, dapat Keyna lihat para pelayan yang tersenyum mendengar Keyna meminta agar Devan tidak memecat mereka.

__ADS_1


Devan pun menghela nafas panjang lalu menghampiri Keyna dan memeluknya, "Hem, aku gak akan memecat mereka, tapi ingat jangan pernah ngelakuin hal ini. Jika kamu kayak gini lagi aku akan benar-benar memecat mereka," ucap Devan.


Keyna pun mendongak dan menatap Devan dengan senyuman yang menawan lalu mengangguk membuat Devan gemas dan mengecup pipi Keyna dan hal tersebut membuat detak jantungnya kembali tidak normal.


Keyna segera memukul lengan Devan saat menyadari jika para pelayan dan beberapa pengawal berada di ruang tamu bahkan mereka melihat semuanya, "Ka-kalau gitu aku ke kamar dulu," ucap Keyna dan segera berlari menuju kamar karena merasa malu.


Devan yang melihatnya hanya tersenyum samar bahkan hampir tidak terlihat, Devan melihat ke arah para pelayan, "Kalian tidak mengatakan yang sebenarnya ke Keyna, bukan?" tanya Devan.


"Tidak, Tuan," ucap Bi Nani.


"Bagus, jika kalian mengatakannya bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi kalian juga kehilangan keluarga kalian," ucap Devan dan diangguki para pelayan.


"Mike, apa dia sudah kau tangani?" tanya Devan.


"Sudah, Tuan. Dia saat ini berada di ruang kerja dengan anaknya," ucap Mike.


"Sepertinya dia memang ingin tau bagaimana rupa asli seorang Devan, baik aku akan penuhi apa yang dia mau, bawa mereka ke ruangan sebelah dan berikan minuman yang menyegarkan tenggorokan mereka, oh iya jangan lupa tambahkan Strychnine karena semua tikus yang ada harus segera dibasmi tanpa sisa," ucap Devan dengan seringai yang menakutkan bahkan membuat para pelayan bergidik ngeri.


Devan pun menunggu di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang tamu, namun ruangan tersebut cukup kecil dan sempit hingga beberapa saat kemudian Devan melihat seorang pria dengan rambut yang di penuhi oleh uban dan seorang perempuan yang seumuran dengan Keyna.


"Maaf, mengganggu waktu Tuan Devan," ucap pria tersebut dengan senyum yang memuakkan bagi Devan.


Tak lupa perempuan di sebelahnya yang seolah ingin memperlihatkan kehormatannya ke arah Devan dengan menggunakan baju yang kekurangan bahan sangat memuakkan.


"Ada apa sampai anda disini pagi buta ah salah maksud saya dini hari dan merusak semua barang-barang saya?" tanya Devan dnegan nada dinginnya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2